Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Pintu yang Terkunci dan Hati yang Beku
Mobil sedan hitam milik keluarga Karline berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis yang tampak sepi. Karline turun dengan masih mengenakan seragam sekolah lengkap. Wajahnya yang cantik tampak tegang, membawa sekantong buah-buahan segar di tangan kanannya.
"Pak Dirman, tunggu di mobil saja ya. Saya tidak akan lama," ucap Karline sebelum melangkah masuk ke halaman rumah tersebut.
Pintu depan ternyata tidak dikunci. Karline melangkah masuk dan langsung menuju lantai dua, tempat kamar Sarah berada berdasarkan informasi yang ia dapat. Saat ia mendorong pintu kamar yang sedikit terbuka, ia melihat Sarah sedang berbaring lemas dengan kompres di dahinya.
Sarah tersentak kaget. Ia mencoba bangun dengan terburu-buru, wajahnya yang pucat tampak penuh ketakutan. "Kak Rio? Maaf, Rio... aku cuma..."
"Ini aku, Sarah. Tenanglah," potong Karline lembut sambil mendekat ke tempat tidur.
Melihat bahwa yang datang adalah Karline, bahu Sarah seketika merosot lega, namun matanya masih menyiratkan kegelisahan. "Karline? Kok kamu bisa ke sini? Aku... aku pikir Rio yang datang buat marah-marah karena aku belum masak atau apa."
Karline menghela napas panjang, hatinya perih melihat sahabatnya ketakutan di rumahnya sendiri. "Kenapa kamu nggak pernah cerita kalau Rio itu kakakmu, Sar?"
Sarah terdiam. Ia menunduk dalam, jari-jarinya memainkan ujung selimut dengan gemetar. "Aku terlalu takut, Karl. Rio bilang kalau ada yang tahu, dia bakal bikin hidupku di sekolah makin susah. Dia malu punya adik kayak aku yang sering remedial."
Karline tidak ingin menambah beban pikiran Sarah yang sedang demam. Ia langsung mengalihkan pembicaraan dengan mengeluarkan pisau kecil dan apel dari kantongnya. "Sudah, jangan dipikirkan dulu. Sekarang kamu makan buah ini ya, biar cepat sembuh."
Karline memotong buah itu dengan telaten dan menyuapi Sarah perlahan. Sarah menerima suapan itu dengan mata berkaca-kaca. Selama ini, jarang sekali ada yang memperlakukannya selembut ini di rumah ini. Setelah apel itu habis, Sarah tiba-tiba memeluk Karline erat sambil terisak pelan. Karline membalas pelukan itu, mengelus punggung Sarah untuk memberikan kekuatan.
Di saat suasana haru itu menyelimuti kamar, tiba-tiba terdengar suara pintu depan terbuka di lantai bawah, disusul suara langkah kaki beberapa orang dan tawa yang berisik. Itu suara Rio, Dean, dan Raka. Mereka tampaknya baru pulang sekolah dan berniat bersiap-siap untuk pergi nongkrong lagi.
Langkah kaki terdengar menaiki tangga. Rio berjalan melewati kamar Sarah yang pintunya terbuka lebar. Ia sempat melirik ke dalam, melihat Karline yang sedang duduk di pinggir tempat tidur adiknya. Namun, alih-alih masuk atau menanyakan kondisi Sarah yang sedang sakit, Rio hanya membuang muka dan lewat begitu saja menuju kamarnya sendiri di ujung lorong. Tidak ada satu patah kata pun, bahkan tidak ada tatapan simpati.
Karline merasakan amarahnya kembali memuncak, namun ia menahannya demi Sarah. Hari sudah mulai sore, dan ia tidak ingin membuat orang rumahnya khawatir.
"Sar, aku pulang dulu ya. Kamu istirahat. Tolong, setelah aku keluar, kunci pintu kamarmu dari dalam. Jangan biarkan siapa pun mengganggumu," pesan Karline tegas.
Sarah mengangguk lemah. "Makasih banyak ya, Karl."
Karline menutup pintu kamar Sarah dengan rapat dan memastikan sahabatnya itu mengunci pintu sebelum ia melangkah turun ke lantai bawah. Di ruang tamu, ia melihat Dean dan Raka sedang duduk santai di sofa, menunggu Rio bersiap-siap.
Karline berjalan melewati mereka dengan langkah tegas, mengabaikan keberadaan mereka seolah-olah mereka adalah benda mati. Namun, saat ia sampai di dekat meja makan, Rio muncul dari dapur sambil membawa beberapa botol minuman dingin untuk teman-temannya.
Karline berhenti melangkah. Ia berdecih pelan, sebuah suara yang penuh dengan penghinaan.
"Luar biasa," sindir Karline dengan suara yang cukup keras hingga Dean dan Raka menoleh. "Di saat adiknya sedang berjuang melawan demam di atas, kakaknya justru sibuk menyiapkan pesta untuk teman-temannya. Benar-benar pemandangan yang memuakkan."
Rio menghentikan gerakannya, wajahnya mengeras. "Lo jangan ikut campur urusan rumah gue, Karline."
"Aku tidak ikut campur, aku hanya sedang menilai betapa tidak bergunanya kamu sebagai manusia," balas Karline tajam. "Coba bayangkan, Rio. Jika keadaan dibalik, jika kamu yang sedang tergeletak sakit dan sekarat di atas, sementara Sarah berpesta ria dengan teman-temannya di sini, apakah kamu akan terima? Apakah kamu akan merasa dia adik yang baik?"
Rio terdiam membisu. Kata-kata Karline seperti tamparan yang membekukan lidahnya. Ia menunduk, menatap botol minuman di tangannya dengan perasaan campur aduk yang mulai merayap.
Dean berdiri dari sofa, mencoba mendekat. "Karl, tunggu sebentar..."
Karline menatap Dean dengan tatapan yang lebih dingin dari sebelumnya. "Jangan sentuh aku, dan jangan bicara padaku. Kalian semua sama saja. Tidak punya hati nurani."
Tanpa menoleh lagi, Karline berjalan keluar dari rumah itu, membanting pintu depan dengan keras sebagai tanda kemuakan hatinya. Ia masuk ke mobilnya dan meminta Pak Dirman segera melaju.
Di dalam rumah, suasana mendadak sunyi. Raka hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara Rio tetap berdiri mematung di dapur. Dean kembali duduk di sofa, namun pikirannya melayang pada kata-kata Karline. Ia menyadari satu hal, di mata Karline, mereka bukan lagi sekadar senior yang nakal, tapi sudah menjadi sekumpulan orang yang tidak memiliki sisi kemanusiaan. Dan bagi Dean, itu adalah hukuman yang lebih berat daripada SP mana pun.