Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
BUM!
Twin-Headed Ogre itu menerjang. Gada raksasanya menghantam lantai tepat di posisi Mathias berdiri sebelumnya, menghancurkan porselen simulasi hingga berkeping-keping. Mathias melesat di udara, pedangnya bersinar terang akibat aliran aura yang padat.
Pertarungan sengit terjadi. Mathias bergerak seperti kilatan cahaya, menebas kaki dan punggung raksasa itu berulang kali. Goncangan akibat benturan pedang dan gada menciptakan gelombang kejut yang bisa dirasakan penonton lewat layar.
Setelah melalui duel yang menguras tenaga selama belasan menit, Mathias berhasil mendaratkan serangan pamungkas tepat di leher kedua kepala Ogre tersebut. Raksasa itu tumbang dan meledak menjadi cahaya.
Waktu di papan artefak menunjukkan 13 menit 30 detik.
Tanpa jeda untuk bernapas, arena kembali bergolak. Tingkat 6 dimulai.
Kali ini, sosok yang muncul adalah Storm Griffin. Monster terbang raksasa tipe magic yang mampu memanipulasi angin. Griffin itu tidak turun ke tanah; ia terus melayang di langit-langit arena, mengirimkan bilah-bilah angin tajam yang mampu membelah batu porselen.
Mathias mulai kewalahan. Ia terus-menerus terlempar oleh ledakan udara. Meskipun simulasi ini tidak menimbulkan luka fisik permanen, namun rasa sakit dan tekanan mentalnya sangat nyata. Napas Mathias mulai tersengal, pandangannya sedikit kabur karena kelelahan mana yang luar biasa.
Saat sang Griffin menukik tajam untuk memberikan serangan terakhir, Mathias menurunkan pedangnya. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat menyerah karena tahu batas tubuhnya sudah tercapai.
Seketika, pilar-pilar di sekeliling arena bersinar terang. Monster Griffin itu lenyap menjadi butiran debu sihir sebelum sempat menyentuh Mathias.
Di lapangan luar, papan peringkat besar yang terbuat dari batu tulis sihir mulai terukir secara otomatis.
...PAPAN PERINGKAT SEMENTARA...
...1. Mathias Brayden | Tingkat 5 | 00:13:30...
Semua orang terdiam sejenak sebelum akhirnya suara riuh kekaguman kembali pecah.
Mathias keluar dari lingkaran sihir dengan wajah pucat dan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
"Mathias, selamat!" seru Thalia kegirangan. Ia segera menghampiri Mathias yang baru saja keluar dari lingkaran sihir dengan napas yang masih tersengal. Thalia memberikan selamat atas penampilan keren Mathias yang baru saja memukau semua orang.
"Kerja bagus," tambah Adel pendek. Matanya menatap Mathias dengan lega, meski jauh di lubuk hatinya, ia tetap waspada pada sekeliling.
Kerumunan murid di lapangan benar-benar kagum. Bisik-bisik pujian memenuhi udara, mengelu-elukan nama Mathias yang kini berada di posisi puncak papan peringkat.
"Sepertinya dia akan menjadi kandidat lulusan terbaik tahun ini," ucap salah seorang murid dengan nada yakin.
"Apa maksudmu? Apakah kau melupakan mereka?" sahut murid lain dengan suara pelan, mencoba mengingatkan temannya. "Masih ada tiga pilar bangsawan yang belum maju. Termasuk Tuan Putri Odelia. Ada rumor bahwa dia memiliki kekuatan magic yang sangat tinggi."
"Tiga? Bukannya empat?" tanya murid pertama sambil melirik ke arah Leon yang masih berdiri menyendiri di pinggiran lapangan.
Murid kedua tertawa kecil, melirik Leon dengan tatapan meremehkan. "Empat? sejak kapan ada empat," ucapnya sambil bercanda, sengaja mengabaikan keberadaan Leon seolah pria itu hanyalah angin lalu yang tidak berharga.
Leon hanya diam mendengar ejekan terang-terangan itu. Batinnya tetap tenang, seolah semua kata-kata pedas itu hanyalah suara nyamuk yang lewat.
ketegangan kembali memuncak saat Profesor Valerius kembali menyebutkan nama-nama peserta berikutnya.
Satu per satu, para calon murid melangkah maju menuju lingkaran sihir dengan wajah yang beragam—ada yang penuh percaya diri, ada pula yang lututnya gemetar hebat.
"Peserta nomor urut 12, maju!" seru sang profesor.
Seorang pemuda dari keluarga bangsawan rendah melangkah masuk. Tidak sampai lima menit, layar artefak menunjukkan ia tumbang di Tingkat 3 setelah diseruduk habis-habisan oleh Iron-Skinned Boar.
Ia keluar dari lingkaran sihir dengan wajah biru keunguan, terengah-engah menahan mual akibat syok mental dari simulasi tersebut.
"Gagal! Selanjutnya!"
Proses seleksi terus berjalan. Panggung pendaftaran kini dipenuhi dengan berbagai ekspresi emosional.
Seorang gadis penyihir tampak menangis tersedu-sedu di pelukan temannya karena hanya mampu mencapai Tingkat 2.
Di sisi lain, beberapa murid pria bersorak gembira meski hanya lolos pas-pasan di Tingkat 4 dengan waktu yang hampir habis.
Mereka bersujud syukur, mencium lantai porselen karena merasa masa depan mereka terselamatkan.
Leon memperhatikan semuanya dengan saksama. Ia melihat bagaimana para peserta yang tidak lolos diminta untuk segera meninggalkan area akademi oleh para penjaga.
Wajah-wajah penuh harapan itu kini berubah menjadi redup dan hancur, kontras dengan mereka yang berhasil mendapatkan lencana sementara sebagai tanda kelulusan.
Sejauh ini, belum ada yang mampu mendekati catatan waktu atau tingkatan yang dicapai oleh Mathias. Papan peringkat masih menunjukkan nama Mathias di posisi puncak dengan dominasi mutlak.
Tiba-tiba, udara di sekitar podium kembali mendingin. Profesor Valerius melihat gulungan perkamennya, lalu matanya melirik ke arah kelompok bangsawan tinggi.
"Selanjutnya... Kaizen von Helvric!"