NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Saya Wanita Yang Dinikahi, Bukan Sekedar Dipiara

Mobil hitam itu berhenti di depan Adinata Residence 3 menjelang siang.

Petugas keamanan langsung mengenali tamu yang turun dari kursi belakang. Mereka membuka gerbang tanpa banyak tanya.

Nama Ravendra bukan nama yang asing di lingkungan Adinata Residence. Kebiasaan penghuni di sana--meski masih kerabat--tidak saling mengunjungi tanpa kepentingan. Jadi, ketika Ravendra datang ke kediaman Sagara, mudah dipahami bahwa itu bukan hanya sekedar kunjungan seorang paman yang ingin menjenguk keponakannya.

Di ruang tamu utama, Ratri menerima kedatangannya.

“Tuan Sagara sedang di kantor,” kata Ratri dengan sopan.

Ravendra tersenyum tipis.

“Tidak apa. Saya hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Sepertinya akhir-akhir ini dia terlalu sibuk.”

Nada suaranya ringan. Tapi tatapannya menyapu ruangan itu perlahan.

Seolah sedang menilai sesuatu.

Tatapan itu lalu berhenti pada Ratri. Diam sesaat. Membuat perempuan itu tanpa sadar menahan napas. Meski posturnya tetap tegak dan profesional.

"Saya siapkan minum."

Ravendra menggeleng. "Tak perlu--" Dan kalimatnya berhenti begitu saja. Tatapannya menemukan seseorang di koridor. Melintas dengan langkah tidak tergesa, juga tidak terlalu pelan. Ravendra memerhatikan dengan seksama. Membuat Ratri juga melihat ke arah yang sama.

"Nona Shafiya." Ratri memberitahukan.

Ravendra mengangguk. "Saya ingin bicara dengannya."

Ratri diam sejenak. Berpikir, menimbang.

"Apa salah, saya ketemu dengan ibu dari calon anaknya Sagara--dia keponakan saya." Ravendra mematahkan keraguan Ratri dengan ucapan itu.

"Baik." Ratri segera berlalu. Tak butuh waktu lama ia sudah datang lagi bersama Shafiya dan Winda yang mengekor di belakangnya.

Ravendra langsung berdiri, senyumnya berubah lebih ramah.

"Ah, saya akhirnya bertemu dengan penghuni baru rumah ini."

Tatapan itu lalu berhenti beberapa detik di wajah Shafiya.

"Saya harus memanggilmu, apa? Shafiya, atau Elara?" Ravendra masih ingat betul saat Sagara mengenalkan perempuan di depannya dengan nama Elara, di depan Anjani dan Adinata yang lain.

"Nama saya Shafiya Elara Hanum." Suara itu keluar pelan. Tenang, tidak bergetar.

"Anda boleh panggil saya dengan nama yang manapun," lanjutnya, kali ini dengan disisipi senyum tipis.

"Semuanya tetap saya."

"Menarik." Ravendra tersenyum. Ia menemukan hal yang tak biasa pada perempuan di depannya dengan caranya bicara.

"Silakan." Shafiya bahkan menyilakan Ravendra untuk kembali duduk, sebagaimana etika seorang tuan rumah pada tamunya.

"Sagara tidak ada di rumah?" tanya Ravendra tenang setelah ia duduk dengan posisi nyaman.

"Tidak." Shafiya yang duduk tak jauh di depannya, menjawab singkat.

Ratri dan Winda berdiri menyisih di sisi ruangan.

Ravendra mengangguk, seolah itu memang yang ia duga.

“Sayang sekali. Saya sebenarnya hanya ingin berbicara sedikit dengannya.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada yang tetap santai.

“Beberapa keputusan yang dia ambil akhir-akhir ini… cukup mengejutkan.”

Shafiya tidak menjawab. Itu bukan ranahnya.

Ravendra tersenyum lagi. Kali ini lebih tipis. “Bagaimana keadaanmu di sini, Shafiya?" tanyanya tiba-tiba.

“Nyaman?”

“Baik,” jawab Shafiya singkat.

“Bagus.”

Ravendra kembali tersenyum singkat. Dan entah mengapa Shafiya merasa senyum itu tidak sampai. Tidak lahir dari ketulusan.

“Sagara memang orang yang… sangat bertanggung jawab.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian.

“Terkadang bahkan untuk sesuatu yang sebenarnya bukan miliknya.”

Kalimat Ravendra itu jatuh pelan di ruangan yang hening. Membuat keheningan semakin tajam.

Shafiya tidak bergerak. Bukan tidak paham arahnya. Ia hanya merasa belum waktunya bicara.

Tatapan Ravendra kembali padanya. Seolah mengamati reaksi sekecil apa pun.

Namun wajah Shafiya tetap tenang.

Dan justru ketenangan itu membuat mata Ravendra sedikit menyipit.

Menarik.

Perempuan ini tidak mudah digoyahkan.

Ravendra berhenti.

“Sampaikan saja pada Sagara bahwa saya sempat datang.”

Ia lalu bangkit.

Shafiya mengikuti.

"Saya pamit, Shafiya."

"Saya antar Anda ke depan."

Ucapan itu membuat langkah Ravendra terhenti. "Tidak perlu repot, Shafiya." Menatap perempuan itu terarah.

"Kamu jaga saja kehamilanmu." Terdengar seperti perhatian.

Tatapan Ravendra lalu mengitari ruangan yang luas dan hening.

“Rumah ini pasti akan berubah banyak nanti,” katanya lagi.

“Setelah ada bayi di dalamnya.”

Ia berhenti sebentar. Menatap Shafiya dan tersenyum.

“Anak selalu membawa… banyak hal baru ke dalam keluarga.”

Kalimat itu terdengar biasa.

Namun ada sesuatu di dalam nada suaranya yang membuat maknanya terasa berbeda.

“Kadang membawa kebahagiaan,” lanjut Ravendra perlahan.

“Kadang juga… membawa masalah yang tidak pernah diduga sebelumnya.”

Hening.

Shafiya tetap berdiri dengan sikap yang sama tenangnya. Tapi ucapan Ravendra yang sudah dua kali mengusik, membuatnya sampai pada keputusan untuk bersuara.

Sesaat kemudian ia mengangguk. "Menjaga anak ini adalah kewajiban saya," katanya pelan. "Dan mengantar mertua yang datang berkunjung, juga kewajiban saya sebagai menantu."

Kata "menantu" itu jatuh menghantam seperti palu. Bahkan dahi Ravendra sedikit berkerut. "Menantu?"

"Iya." Shafiya mengangguk pelan, tapi mantap. "Saya istrinya Sagara," katanya dengan senyum tipis.. Seolah status itu adalah hal yang benar-benar ia terima.

"Dan Anda adalah pamannya Sagara. Itu artinya, Anda mertua saya." Nada suaranya tetap lembut, sopan, dan juga tegas.

Ravendra diam. Ucapan itu terlalu mengejutkan.

"Kenapa?" Dan Shafiya memanfaatkan keterdiaman itu.

"Apa saya salah menyebut silsilah kekerabatan Anda dengan Sagara?"

"Tidak." Ravendra menjawab cepat.

"Sagara keponakan saya."

"Baik. Mari saya antar, Paman."

Ia sengaja menggunakan panggilan itu sekarang.

Raut wajah Ravendra menunjukkan ketidaksukaan yang tipis.

Namun Shafiya sudah melangkah lebih dulu.

Mereka melangkah hampir beriringan dari ruang tamu utama melintasi koridor yang membawa ke ruangan depan rumah.

"Menarik." Suara Ravendra memecah hening yang sesaat tercipta. "Sagara yang biasanya tak pernah mau terikat. Nyatanya kini, dia menikah."

Ravendra menatap Shafiya sesaat, tersenyum. Senyum meragukan. "Ini di luar Sagara yang saya kenal."

"Nyatanya, saya adalah wanita yang dinikahi." Shafiya menjawab tenang. Bahkan ia balik menatap Ravendra. "Bukan sekedar dipiara."

Ravendra cukup terhenyak mendengarnya.

Dan ternyata Shafiya belum selesai.

"Dan sebagai istri, maka segala apa yang ada pada saya, adalah milik Sagara, terutama anak ini." Tangannya reflek meraba perutnya yang masih rata, yang tersembunyi di balik pakaian tertutup dan sopan.

Shafiya menjawab semua ucapan Ravendra di waktu yang tepat, dan dengan porsi yang pas.

Ravendra diam. Sesaat ia tak bisa berkata apa pun.

Shafiya tersenyum. Bukan senyum menang, juga bukan menghakimi. Hanya senyuman ramah dari seseorang untuk orang lain yang datang.

"Silakan, Paman."

Ia kembali menyilakan dengan sopan, begitu pintu utama rumah sudah terlihat di depan.

..

...

Mobil Ravendra meluncur meninggalkan gerbang Adinata Residence 3.

Ia tidak langsung berbicara. Duduk tenang di kursi belakang, menatap lurus ke depan.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Lalu senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

“Menarik.”

Sopirnya tidak bertanya. Ia sudah terbiasa dengan kebiasaan Ravendra yang sering berbicara pada dirinya sendiri.

Ravendra menyandarkan punggungnya.

Perempuan itu tidak seperti yang ia bayangkan. Tenang. Tidak mudah digoyahkan.

Dan yang lebih menarik lagi--ia tahu persis bagaimana menggunakan posisi yang dimilikinya.

“Menantu…” gumam Ravendra pelan, mengulang kata yang tadi diucapkan Shafiya.

Ia menggeleng kecil.

“Sagara… Sagara…”

Tatapannya menggelap sedikit.

“Kau bahkan tidak tahu apa yang sedang

kau lindungi.”

Mobil terus melaju meninggalkan kawasan residence 3.

Namun satu hal sudah jelas bagi Ravendra.

Permainan ini baru saja menjadi jauh lebih menarik.

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!