Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Arga menyesap udara pagi Amsterdam yang dingin melalui celah jendela yang sedikit terbuka. Ia berbalik, menatap lekuk bahu Ayu yang terpapar di balik selimut. Senyum tipis mengulum di bibirnya; rasa puas dan lega membuncah di dadanya. Semalam bukan hanya sekadar penyatuan fisik, tapi sebuah pengakuan tanpa kata bahwa Ayu akhirnya menyerah pada takdir yang ia paksakan.
"Mulai sekarang, aku janji... aku akan selalu terbangun lebih dulu setiap kali kita menghabiskan malam, Ayu. Aku tidak akan mengulang kebodohanku yang dulu," bisiknya lirih, nyaris seperti sumpah.
Ia mendekat, mengecup lembut bahu polos wanita itu sebelum melangkah ke jendela. Menatap langit yang mulai terang, ingatan Arga terseret paksa ke masa lima tahun yang lalu. Masa di mana dunianya runtuh, tepat seminggu setelah Ayu menghilang tanpa jejak.
LIMA TAHUN LALU
Ruang perawatan VIP itu terasa sesak oleh aroma obat.Arga duduk mematung di atas ranjang, tatapannya kosong menembus dinding beton. Ia tampak seperti raga tanpa jiwa.
Di balik kaca pembatas, Andrea terisak di pelukan Rasya. "Pah, kenapa Arga harus selalu bernasib seperti ini?" tangisnya pecah. "Wanita yang dia cintai pergi satu per satu. Apa ini karma atas kesalahan kita di masa lalu?"
"Sabar, Mah. Jangan bicara seperti itu. Ini ujian, bukan karma. Kita hanya perlu tetap di sisi Arga untuk menguatkannya," balas Rasya dengan suara berat, meski hatinya sendiri hancur melihat putra tunggalnya hancur berkali-kali.
Keheningan itu terpecah saat Damar, asisten kepercayaan keluarga, melangkah cepat menyusuri koridor. Ia membawa laptop dan sebuah paper bag yang didekapnya erat.
"Tuan Besar, Nyonya," sapa Damar dengan napas sedikit terengah.
Rasya mengernyit. "Apa yang kau bawa, Mar? Arga tidak bisa menyentuh pekerjaan sekarang. Bukankah semua urusan kantor sudah kuserahkan pada Alvin?"
"Maaf, Tuan. Ini bukan tentang pekerjaan," balas Damar dengan tatapan mantap. "Saya yakin... barang yang saya bawa ini akan menarik Tuan Arga kembali ke kenyataan. Ini akan membuatnya sadar."
Andrea menatap Damar dengan bingung. "Apa maksudmu, Damar?"
"Nanti Tuan dan Nyonya akan tahu sendiri."
Damar masuk ke dalam ruangan. Tanpa memedulikan tatapan kosong Arga, ia membuka laptop, menyambungkan sebuah flashdisk, dan meletakkannya tepat di hadapan tuannya.
"Tuan Arga... Anda harus melihat ini. Sekarang," ucap Damar rendah namun penuh penekanan.
Awalnya, Arga tidak bergeming. Namun, sedetik kemudian, terdengar suara lembut yang selama tiga tahun ini ia rindukan dari speaker laptop.
"Hai, Arga... Ini aku, Yura. Kamu belum lupa kan?" suara itu terkekeh pelan, namun terdengar sangat rapuh.
Mata Arga yang semula mati, seketika terbelalak. Ia menoleh patah-patah ke arah layar. Jantungnya berdentum hebat seolah ingin melompat keluar dari dadanya.
Layar laptop itu bergetar dalam genggaman Damar, menampilkan wajah Yura yang tampak begitu pucat namun tersenyum tulus.
"Jika kamu menonton video ini, artinya aku sudah benar-benar sembuh di tempat yang jauh lebih indah. Arga... aku tidak akan tenang jika belum jujur padamu mengenai kondisiku yang sebenarnya," suara Yura terdengar serak, terputus oleh napas yang tersengal.
Arga terpaku. Matanya tak berkedip menatap layar.
"Ga... kamu masih ingat saat kamu membawaku menemui Om dan Tante untuk menunjukkan keseriusanmu? Sesungguhnya, saat itu aku sangat bahagia. Tapi, aku tidak boleh egois. Aku sudah kotor, Ga. Aku tidak pantas untukmu..." Yura menunduk, air mata jatuh di pipinya yang tirus.
"AKU TERJANGKIT HIV."
DUARRRR!!
Kenyataan itu menghantam Arga seperti petir di siang bolong. Ia tersentak, napasnya memburu. Dengan kasar, Arga merampas laptop itu dari tangan Damar, mendekatkannya ke wajah, dan memutar ulang bagian itu berkali-kali seolah telinganya telah mengkhianatinya. Di belakangnya, Andrea menutup mulut dengan kedua tangan, tangisnya pecah seketika karena tak menyangka nasib tragis yang menimpa calon menantunya.
"Virus ini sudah ada di tubuhku sejak lama, dan dokter mengatakan kondisiku sudah sangat lemah Ga. Itulah sebabnya aku menjauhimu... karena aku terlalu mencintaimu," lanjut video itu.
Yura mulai bercerita tentang masa lalunya yang kelam. Bagaimana sang ayah yang haus judi menjualnya ke pria-pria hidung belang demi melunasi hutang. Bagaimana ia harus menjajakan tubuhnya saat ibunya sedang sakit-sakitan, membuatnya tak punya pilihan selain menyerah pada takdir yang kotor. Arga mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. Amarah dan rasa kecewa membakar dadanya,marah pada dunia, dan kecewa pada dirinya sendiri karena tidak tahu penderitaan Yura selama ini.
Sebelum video itu berakhir, Yura menghapus air matanya dan tersenyum tipis.
"Oh ya, Ga... besok aku akan ke kantor polisi bersama seorang gadis yang sangat cantik. Namanya Ayu. Dia gadis yang sangat baik. Seandainya kamu mengenalnya, kamu pasti akan jatuh cinta padanya. Itu akan membuatku tenang meninggalkanmu..."
Jantung Arga berdenyut nyeri mendengar nama itu disebut. Ayu.
"Dia menolongku saat aku dihajar preman. Jika bukan karena dia, mungkin aku tidak akan bisa membuat video ini. Dia sangat suka memotret, Ga. Sepertinya dia akan jadi fotografer profesional kelak. Di kameranyalah semua bukti kejahatan Bimo CS tersimpan. Doakan aku ya, Ga... semoga laporan kami diterima polisi."
Yura menghela napas panjang, tatapannya seolah menembus layar, menatap langsung ke mata Arga.
"Meskipun aku tahu hidupku tidak akan lama lagi, aku hanya ingin meninggal dengan tenang tanpa bayang-bayang dendam. Pesanku padamu... jangan menangis setelah mendengar kabar ini. Kamu harus lanjutkan hidup dan menerima cinta yang lain. Meskipun aku berharap Ayulah orangnya... aku yakin kamu akan bahagia bersamanya."
Layar menjadi hitam. Keheningan yang mematikan menyelimuti ruangan. Arga terdiam dengan bahu yang bergetar hebat. Sekarang ia mengerti,kenapa selama ini Yura selalu menghindar padanya.
"Mar... kamu dapat video ini dari mana? Dan bagaimana keadaan Yura sekarang?" tanya Arga. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, namun sarat akan ancaman yang mematikan.
Damar terdiam. Ia menunduk dalam, kerongkongannya terasa kering. Ia tahu bahwa kata-kata yang akan ia ucapkan selanjutnya akan menghancurkan kewarasan tuannya.
"Mar!" bentak Arga, kali ini suaranya menggelegar hingga membuat Andrea dan Rasya tersentak.
"Tuan..." Damar akhirnya mengangkat wajahnya, menatap Arga dengan mata yang dipenuhi rasa iba. "Berdasarkan data di dalam file ini, video ini dibuat setahun setelah Nona Yura menghilang dari hidup Anda. Dan mengenai keadaannya sekarang..." Damar mengambil napas berat. "Nona Yura... sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu."
Arga mematung. Otot rahangnya mengeras hingga terlihat jelas di balik kulitnya yang pucat. "Meninggal? Karena penyakit itu?"
Damar menggeleng pelan, dan itulah yang membuat bulu kuduk semua orang di sana berdiri. "Bukan, Tuan. Dia bukan meninggal karena penyakitnya, melainkan..."
Arga membulatkan matanya, menatap Damar dengan tatapan yang seolah ingin menguliti asistennya itu hidup-hidup. "Katakan, Mar! Melainkan apa?!"
"Setelah membuat video itu, Nona Yura pergi ke kantor polisi bersama Nona Ayu untuk membuat laporan. Saat mereka pulang dan sedang menunggu di pinggir jalan, sebuah mobil melaju kencang ke arah mereka. Nona Yura... dia mendorong Nona Ayu agar selamat. Dia mengorbankan dirinya sendiri, Tuan. Dan naas... dialah yang terhantam mobil itu hingga tewas."
HENING.
Dunia Arga seolah meledak menjadi jutaan kepingan tajam. Ia terengah, tangannya yang memegang laptop gemetar hebat sebelum akhirnya ia membanting benda itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
"TIDAAAAAAK!!!"
Apakah setelah ini Arga akan membenci Ayu? Kita tunggu kelanjutnya di bab selanjutnya ya.Jangan lupa,suscribe,like dan komen
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it