Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 26 - KATA-KATA YANG SEBAIKNYA TAK DI DENGAR
Ara baru selesai mandi ketika ponselnya bergetar di atas meja belajar.
Rambutnya masih basah, handuk kecil masih melingkar di bahunya, dan ia mengambil ponselnya sambil duduk di tepi kasur dengan cara yang sudah sangat lelah secara menyenangkan setelah seharian yang penuh dengan pentas seni dan semak yang dinamis dan perasaan-perasaan yang belum sepenuhnya ia selesaikan.
Notifikasi dari Gill.
*Nomornya Via.*
Ara menatap tiga kata itu.
Lalu mengetik: *Buat apa.*
Balasan datang cepat. *Penting.*
*Penting gimana.*
*Penting.*
Ara menghela napas ke layar ponselnya. Bukan karena frustrasi, sudah terlalu terbiasa dengan cara Gill menjawab pertanyaan untuk masih frustrasi oleh itu, tapi lebih karena tidak ada informasi tambahan yang bisa ia ekstrak dari kata penting yang diulang dua kali.
Ia membuka chat Via.
*Via, Gill minta nomormu. Boleh aku kasih?*
Balasan Via datang dalam sepuluh detik. *Buat apa.*
*Dia bilang penting.*
*Penting gimana.*
*Dia bilang penting.*
Tiga detik hening. Lalu: *Orang itu memang tidak punya kosakata lain selain penting dan hm.*
*Iya.*
*Kasih aja. Kalau aneh-aneh aku blokir.*
Ara kembali ke chat Gill, mengirimkan nomor Via, lalu meletakkan ponselnya di meja dan melanjutkan mengeringkan rambutnya.
Tiga puluh menit kemudian, ketika rambutnya sudah hampir kering dan ia sudah setengah membaca buku yang sudah seminggu tidak tersentuh, ponselnya bergetar lagi.
Gill.
*Besok datang ke warnet tadi.*
Ara menatap kalimat itu.
*Warnet yang tadi pagi?*
*Iya.*
*Ngapain.*
*Penting.*
Ara meletakkan bukunya.
Menatap langit-langit kamarnya selama tiga detik penuh.
Lalu mengetik: *Gill. Aku butuh informasi yang lebih spesifik dari kata penting.*
*Besok kamu tahu.*
*Itu bukan informasi spesifik.*
*Itu adalah informasi yang cukup untuk keperluan saat ini.*
Ara menatap kalimat itu dengan ekspresi seseorang yang sudah tahu bahwa argumen ini tidak akan menghasilkan lebih banyak informasi tapi belum sepenuhnya mau menyerah.
*Jam berapa.*
*Jam sepuluh.*
*Oke.*
Ia meletakkan ponselnya.
Mengambil bukunya kembali.
Mencoba membaca halaman yang sama yang sudah tiga kali ia baca tanpa benar-benar memproses isinya karena pikirannya sedang menghabiskan kapasitasnya untuk hal lain.
Akhirnya menutup bukunya dan memutuskan bahwa malam ini bukan malam yang produktif untuk membaca.
---
Keesokan harinya, pukul sembilan lima puluh delapan, Ara berdiri di depan warnet yang papan namanya masih sama pudarnya dengan kemarin dan lampunya masih menyala dengan semangat yang tidak proporsional untuk waktu sepuluh pagi hari Minggu.
Ia mendorong pintu masuk.
Dan berhenti.
Di bilik keempat dari kanan, Gill duduk di depan komputer dengan cara yang sangat nyaman untuk seseorang yang rupanya sudah ada di sana cukup lama. Di sebelahnya, di bilik kelima, Marco duduk dengan kepala yang sedikit menunduk ke layar dan mulut yang bergerak pelan membaca sesuatu.
Dan di bilik keenam, dengan postur tegak dan ekspresi yang sudah sangat Ara kenal sebagai ekspresi Via ketika ia sedang berada di tempat yang belum ia putuskan apakah akan ia sukai atau tidak, Via duduk dengan tangan di meja dan menatap layar komputer yang belum ia sentuh.
Ara berdiri di depan pintu warnet selama tiga detik.
Lalu berjalan ke arah Via.
"Via," ia berkata.
Via menoleh. Ekspresinya mengandung campuran yang cukup spesifik dari lega melihat wajah yang ia kenal dan masih belum punya cukup informasi untuk sepenuhnya tenang. "Kamu akhirnya datang."
"Kamu kenapa di sini?"
Via menoleh ke arah Gill di bilik keempat, lalu kembali ke Ara. "Tanya sama orang gila itu."
Ara berpindah ke bilik Gill. "Kita mau ngapain di sini."
Gill mengangkat kepala dari layarnya. Menatap Ara dengan ekspresi yang sangat datar dan sangat tidak menjelaskan apapun. "Bertanding."
"Bertanding apa."
"Masuk dulu."
"Gill."
"Masuk. Aku yang urus semuanya."
Ara menatapnya selama dua detik. Lalu, karena sudah terlalu terbiasa dengan cara Gill memberikan informasi dalam dosis yang ia tentukan sendiri, duduk di bilik ketiga yang masih kosong.
Gill sudah berdiri dan berjalan ke kasir, berbicara dengan penjaga warnet dengan cara singkat dan langsung, dan kembali beberapa menit kemudian dengan empat lembar kertas kecil yang rupanya adalah receipt penyewaan komputer.
Ia meletakkan satu di meja masing-masing, termasuk di mejanya sendiri.
Ara menatap receipt-nya.
Lalu menatap Gill yang sudah kembali duduk di biliknya dan mulai membuka sesuatu di layarnya dengan kecepatan yang sudah sangat terlatih.
"Gill," Ara berkata satu kali lagi.
"Kita main MOBA," Gill menjawab tanpa menoleh. "Game strategi tim lima lawan lima. Aku sudah daftarkan akun untukmu. Password-nya tanggal lahirmu karena itu yang paling mudah kamu ingat."
"Dari mana kamu tahu tanggal lahirku."
"Via kasih tahu."
Ara menoleh ke Via yang duduk di bilik satunya.
Via mengangkat bahu dengan cara yang menyampaikan: aku tidak tahu ini akan berakhir seperti ini tapi informasinya sudah terlanjur keluar.
"Aku tidak bisa main game," Ara berkata ke Gill.
"Aku tahu. Kamu pakai karakter tank. Kerjamu ikut tim dan jangan mati."
"Sesederhana itu?"
"Sesederhana itu." Gill menoleh sebentar. "Kalau tidak tahu harus apa, ikuti posisi aku di peta."
"Tapi—"
"Kamu bisa." Gill sudah kembali ke layarnya. "Via, kamu carry mid?"
"Sudah lama tidak main," Via berkata dari biliknya, tapi tangannya sudah bergerak ke mouse dengan cara yang memperlihatkan bahwa sudah lama tidak main untuk Via berbeda definisinya dari sudah lama tidak main untuk kebanyakan orang.
"Bagus." Gill mengetik sesuatu. "Marco, kamu jungle."
"Siap bos," Marco menjawab dengan semangat yang tidak proporsional untuk pukul sepuluh pagi.
Ara menatap layar di depannya.
Di sana sudah terbuka tampilan game yang Gill maksud, antarmuka yang penuh dengan ikon dan angka dan peta kecil di sudut yang tidak ada satupun dari elemen itu yang langsung bisa Ara baca dengan cepat.
Ia mengambil headset yang sudah tersedia di meja.
Memakainya.
Dan memutuskan bahwa apa pun yang akan terjadi selanjutnya, setidaknya ia sudah ada di sini dan sudah duduk di depan komputer.
Itu sudah cukup sebagai permulaan.
---
Permulaan ternyata tidak cukup.
Game dimulai setelah mereka semua masuk ke dalam lobby dan sistem menambahkan satu pemain random dari antrian untuk melengkapi tim menjadi lima orang. Layar loading muncul, lalu peta pertandingan terbuka, dan Ara mendapati dirinya duduk di depan karakter yang sudah dipilihkan Gill untuknya sebelum pertandingan dimulai.
Karakter tank. Besar, lambat, tapi kuat secara bertahan.
*Kerjamu ikut tim dan jangan mati,* kata Gill.
Ara mengangguk ke dirinya sendiri, menggenggam mouse, dan mulai menggerakkan karakternya.
Yang langsung berjalan ke arah yang salah.
"Ara, lane kanan," Gill berkata dari bilik sebelah, suaranya terdengar tanpa perlu berteriak karena warnet siang ini tidak terlalu ramai.
Ara membalikkan arah.
Mulai berjalan ke lane kanan.
Lalu tidak yakin di mana lane kanan seharusnya berakhir, jadi terus berjalan.
Terus.
Dan terus.
Sampai karakternya tiba di area yang tampaknya adalah wilayah netral di tengah peta, tidak di lane manapun, hanya berdiri di antara semak-semak virtual yang tidak ada hubungannya dengan Fio.
Dari voice chat, ada suara yang Ara tidak kenal, suara dari pemain random yang bergabung di timnya.
"Tank ke mana." Nada yang sudah mengandung pertanyaan dan keluhan dalam proporsi yang hampir sama.
Ara membuka mulutnya untuk menjawab.
Lalu menyadari bahwa ia tidak tahu cara menyalakan voice chat di game ini.
Ia menekan berbagai tombol di keyboard. Tidak ada yang menghasilkan suaranya sendiri masuk ke dalam percakapan.
Mencari tombol mikrofon di antarmuka game. Tidak menemukan dengan cepat.
Karakternya masih berdiri di tengah peta sementara pertarungan mulai terjadi di berbagai penjuru.
"Tank jalan-jalan aja gajelaas," suara random itu terdengar lagi, kali ini nada keluhannya sudah naik setengah oktaf.
Ara akhirnya menemukan cara bergerak yang lebih terarah, mengikuti indikator mini map dengan lebih baik dari sebelumnya, dan mulai berjalan ke arah tim.
Mendekati posisi Gill di map.
Ini bisa.
Ini sebenarnya tidak terlalu sulit kalau ia fokus pada satu hal saja yaitu mengikuti posisi Gill dan tidak berjalan ke tempat yang tidak seharusnya.
Ia bisa melakukan ini.
Dan kemudian dari sisi kiri layar, empat karakter musuh muncul sekaligus.
Ara menatap layar itu.
Empat karakter. Bergerak ke arahnya.
Pikirannya langsung melakukan satu-satunya hal yang terasa logis dalam situasi terancam.
Lari.
Ia membalikkan karakternya dan berlari ke arah yang berlawanan.
Yang kebetulan adalah arah di mana Marco sedang berada.
Marco yang sedang dalam posisi yang tidak mengantisipasi empat karakter musuh tiba-tiba mengejar ke arahnya.
"ARA JANGAN KE SINI—"
Terlambat.
Empat karakter musuh yang mengejar Ara memfokuskan serangan ke Marco yang ada di depannya, dan dalam waktu yang sangat singkat, Marco mati.
Health bar-nya kosong. Layarnya gelap sementara menunggu respawn.
Suara dari voice chat langsung muncul.
Bukan suara Marco. Suara random.
Dan suara itu mengeluarkan kata-kata yang membuat Ara berkedip dua kali karena tidak mengantisipasi bahwa dari mulut seseorang yang belum pernah ia kenal bisa keluar rangkaian kata yang sekombinasi itu dalam satu napas.
Ara berdiam diri.
Karakternya masih hidup karena setelah Marco mati, musuh sudah puas dan pergi ke arah lain, tapi Ara duduk di depan komputernya dengan ekspresi seseorang yang baru saja dimarahi oleh strangers dan tidak tahu harus merespons dengan cara apa.
Ia mau minta maaf.
Tapi masih tidak tahu cara menyalakan voice chat.
Di sampingnya, kursi bergeser.
Gill berdiri dari biliknya dan berjalan ke bilik Ara.
Berdiri di sampingnya.
Menatap layar sebentar, menatap voice chat yang masih aktif dengan suara random yang sudah sedikit tenang tapi masih bergumam tentang tank yang tidak berguna, lalu menatap Ara.
"Tutup kupingmu," Gill berkata.
Ara menatapnya. "Hah?"
"Tutup kupingmu." Gill mengulurkan tangannya ke headset Ara.
Ara, yang sudah cukup mengenal Gill untuk tahu bahwa ketika Gill mengatakan sesuatu dengan nada itu biasanya ada alasan yang cukup kuat di baliknya, melepas headset dan menutup kedua telinganya dengan tangannya.
Gill mengambil headset itu.
Memakainya.
Dan mengatakan sesuatu ke dalam mikrofon headset itu yang Ara tidak bisa dengar karena kupingnya tertutup, tapi bisa ia lihat dari cara mulut Gill bergerak dan cara ekspresi Gill berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah Ara lihat dari Gill di situasi normal.
Lebih hidup.
Lebih ekspresif.
Dan dari kursinya Via, yang masih memakai headset sendiri dan bisa mendengar seluruh apa yang Gill katakan, wajahnya berubah dari ekspresi datar standar menjadi sesuatu yang sangat menyerupai terhibur.
Lalu Via melepas satu sisi headset-nya dan ikut berbicara.
Ara masih menutup kupingnya.
Menatap ke depan dengan ekspresi yang belum tahu apakah situasi ini mengkhawatirkan atau tidak.
Tiga puluh detik berlalu.
Gill melepas headset Ara. Meletakkannya kembali ke kepala Ara.
"Sudah," ia berkata.
Ara menurunkan tangannya dari telinganya. "Apa yang tadi kamu bilang."
"Tidak penting."
"Tapi kamu bilang sesuatu."
"Hal yang perlu disampaikan."
Dari bilik Via, terdengar suara yang tidak pernah Ara dengar dalam volume ini dari Via, suara yang mengandung tawa yang Via coba sembunyikan tapi tidak berhasil sepenuhnya.
"Via," Ara berkata.
Via tertawa, menimbang ini boleh di katakan atau tidak.
"Em.. Semua kata kotor dalam sejarah manusia," Via menjawab, sudah kembali ke layarnya dengan ekspresi yang masih menyimpan sesuatu di sudut bibirnya.
Ara menoleh ke Gill yang sudah berjalan kembali ke biliknya sendiri.
"Gill."
"Ikuti posisiku di map."
"Kamu tak boleh berbicara seperti itu."
"Tapi hal yang membuatnya fokus ke permainan." Gill sudah duduk kembali. "Sekarang main."
Ara menatap layar di depannya.
Di voice chat, suara random itu memang sudah tidak terdengar lagi. Tidak sepenuhnya diam, masih sesekali ada informasi singkat tentang pergerakan musuh, tapi nada keluhannya sudah tidak ada.
Ara memilih untuk tidak mengejar informasi lebih lanjut tentang apa yang tadi diucapkan Gill.
Ada hal-hal yang lebih baik tidak diketahui terlalu detail.
---
Dua puluh menit berikutnya berjalan dengan lebih baik dari dua puluh menit pertama.
Ara tidak menguasai game itu. Masih jauh dari itu. Tapi ia sudah cukup mengerti pola dasarnya, sudah cukup terbiasa dengan kontrol karakternya, dan yang paling penting sudah tidak lagi berlari ke arah yang salah ketika ada musuh karena Gill sudah menjelaskan bahwa tank yang lari dari musuh adalah tank yang mengkhianati fungsi dasarnya sendiri.
Ia tidak mengerti penuh filosofi itu tapi ia berhenti lari.
Yang rupanya cukup untuk membuat perbedaan.
Dari voice chat, informasi singkat mengalir di antara anggota tim, sebagian dari Gill yang memberikan instruksi yang sangat efisien, sebagian dari Marco yang memberikan laporan dengan semangat yang melebihi keperluannya, dan sebagian dari Via yang tidak banyak bersuara tapi ketika bersuara selalu berisi informasi yang tepat di waktu yang tepat.
Ara mengikuti.
Karakternya bergerak ke posisi yang Gill instruksikan. Maju ketika tim maju. Bertahan ketika tim butuh waktu. Tidak melakukan hal-hal gemilang, tapi juga tidak melakukan hal-hal yang membuat tim kesulitan.
Dan kemudian, di fase akhir pertandingan, ketika tim musuh sudah terdesak dan tim mereka sudah mendekati menara utama lawan, sesuatu terjadi yang membuat Ara memperhatikan layar Via dari sudut matanya.
Via bergerak.
Bukan bergerak biasa. Karakter Via di layar bergerak dengan cara yang berbeda dari cara karakter lain bergerak, dengan jalur yang sudah dihitung dan timing yang tidak kebetulan, masuk ke posisi yang sempat membuat Ara berpikir bahwa Via salah arah tapi ternyata adalah posisi yang memotong jalan musuh dengan presisi yang menghasilkan eliminasi dua karakter musuh dalam waktu yang hampir bersamaan.
Tiga kata muncul di layar dalam notifikasi berturut-turut.
*Double Kill.*
Lalu beberapa detik kemudian.
*Victory.*
Suara kemenangan mengisi warnet dari berbagai komputer tim mereka, dan Marco langsung berdiri dari kursinya dengan ekspresi yang jauh lebih dramatis dari yang diperlukan untuk kemenangan game normal hari Minggu.
"YESSS! GIL LO GILA! VIA LO JUGA GILA!"
"Duduk Marco," Gill berkata.
"TAPI KITA MENANG BOS—"
"Aku tahu. Duduk."
Marco duduk dengan semangat yang tidak berkurang hanya karena badannya sudah kembali ke kursi.
Ara menatap layar kemenangannya sendiri yang menampilkan statistik tim, dan matanya langsung pergi ke kolom angka di baris Via.
Kill. Assist. Damage.
Semua angkanya jauh di atas anggota tim lain.
Termasuk di atas Gill.
Ara menatap angka-angka itu.
Lalu menatap Via yang masih duduk di biliknya dengan cara yang sangat santai untuk seseorang yang baru saja mengakhiri pertandingan dengan statistik seperti itu.
"Via," Ara berkata.
Via menoleh.
Ara menunjuk ke layar. Ke angka-angka di kolom Via.
Via menatap ke arah yang ditunjuk. Lalu kembali ke Ara.
Mengangkat ibu jarinya ke atas.
Satu gerakan. Tidak ada ekspresi tambahan, tidak ada penjelasan, tidak ada senyum besar atau kebanggaan yang diperlihatkan. Hanya ibu jari yang diangkat dengan cara yang menyampaikan: iya, itu aku, dan aku tidak melihat ini sebagai sesuatu yang perlu dirayakan secara berlebihan.
Ara menatap Via selama beberapa detik.
Lalu tertawa.
Tertawa yang keluar dengan ukuran penuhnya, cukup keras untuk didengar dari bilik sebelah, karena ada sesuatu yang sangat Via dari cara Via merespons sesuatu yang baru saja ia lakukan dengan sangat baik dengan gerakan paling minimalis yang tersedia.
Dari bilik Gill, ada suara yang keluar, pelan, yang Ara kenali karena sudah cukup sering mendengarnya dalam konteks yang berbeda.
Sesuatu yang bukan tawa tapi bukan bukan tawa.
---
Mie instan.
Itu yang tersedia di warung kecil yang papan menunya ditempel dengan selotip di dinding di sebelah pintu, tiga pilihan rasa dan dua pilihan penyajian, yang buka tujuh hari seminggu dan yang rupanya sudah sangat dikenal oleh Gill dan Marco karena mereka memesan tanpa membaca menu.
Mereka duduk di empat kursi kayu di depan warung itu, dengan mangkuk mie yang masih mengepul di depan masing-masing dan udara siang Eldria yang sudah mulai lebih hangat dari pagi.
Ara mengaduk mie-nya.
Menatap Via yang makan dengan cara yang sama efisiennya dengan cara Via melakukan semua hal.
Lalu menatap Gill.
"Gill," ia berkata.
"Hm."
"Kamu dan Via kenal dari mana."
Gill mengangkat kepala dari mie-nya. Menatap Via sebentar. Lalu kembali ke Ara. "Game."
"Game yang tadi?"
"Game yang sama. Server yang sama. Sudah beberapa bulan."
Ara berkedip. Lalu menatap Via. "Via, kamu mabar sama Gill?"
Via menelan mie-nya. "Aku tidak tahu itu Gill. Di game dia pakai username yang berbeda."
"Username apa," Ara bertanya ke Gill.
"SilverMoon08."
Ara menatap Gill.
*Silver.*
Nama yang tidak pernah ia gunakan di manapun tapi entah kenapa terdengar sangat seperti sesuatu yang Gill akan pilih untuk dirinya sendiri.
"Aku pakai GhostVia," Via berkata, kembali ke mie-nya. "Kami satu tim di beberapa pertandingan ranked. Komunikasi bagus. Tapi tidak pernah bicara di luar game."
"Sampai Gill minta nomormu semalam," Ara berkata.
"Sampai itu." Via mengangkat bahunya. "Ternyata orang yang selama ini aku ajak mabar adalah orang yang sudah aku temui offline."
"Kebetulan yang aneh," Marco berkata dari seberang meja dengan mulut masih setengah penuh mie. "Tapi keren."
"Marco, tutup mulut dulu kalau ngunyah," Via berkata.
"Oh iya." Marco menutup mulutnya. Mengunyah. Menelan. "Keren kan?"
"Mungkin," Via berkata dengan nada yang tidak mengkonfirmasi atau menyangkal.
Ara menatap Gill yang sudah kembali ke mie-nya dengan cara yang sudah selesai menyampaikan semua informasi yang perlu disampaikan dan tidak merasa perlu menambahkan apapun.
"Jadi," Ara berkata, menyusun informasi yang baru ia dapatkan, "kamu tahu Via adalah teman mabar-mu setelah ketemu offline."
"Aku curiga dari cara dia main kemarin malam di warnet. Gaya bermainnya sama."
"Dan kamu langsung minta nomornya untuk konfirmasi."
"Dan untuk mengatur ini." Gill mengangguk sedikit ke arah meja tempat mereka duduk, ke arah warung dan mie dan empat orang yang ada di sana. "Aku ingin main offline."
"Kamu bisa minta Via main offline tanpa mengajak aku," Ara berkata.
Gill menatapnya. "Bisa."
"Tapi kamu mengajak aku."
"Kamu perlu belajar main game."
"Aku tidak perlu—"
"Kamu bilang tidak bisa main game," Gill memotong, nada yang sangat lurus dan sangat tidak bisa dibantah dengan mudah, "dan aku ingin kamu bisa."
Hening singkat di meja itu.
Marco menatap Gill. Lalu menatap Ara. Lalu kembali ke mie-nya dengan cara seseorang yang sudah memutuskan bahwa mie lebih penting dari mempertahankan kontak mata dengan situasi yang sedang berkembang.
Via minum air minumnya.
Ara menatap Gill yang menatap balik dengan ekspresi yang tidak menjelaskan lebih dari yang sudah ia ucapkan tapi sudah sangat jelas menyampaikan bahwa apa yang ia ucapkan itu sungguhan.
*Aku ingin kamu bisa.*
Lima kata.
Yang, seperti banyak hal kecil yang Gill ucapkan tanpa menyadari beratnya, mendarat di suatu tempat yang dalam di Ara dan tidak langsung bergerak dari sana.
Ara mengalihkan pandangannya ke mie-nya.
Mengaduknya sebentar tanpa memakannya.
"Oke," ia berkata akhirnya.
"Oke apa," Gill berkata.
"Oke aku mau belajar." Ara mengangkat kepalanya, menatap Gill. "Tapi kamu yang ajarin."
"Aku sudah melakukan itu tadi."
"Itu bukan mengajar. Itu menyuruh ikut dan berharap aku tidak mati."
"Hasilnya cukup efektif."
"Gill."
"Iya," Gill berkata, kembali ke mie-nya. "Aku yang ajarin."
Ara mengangguk.
Dan di seberang meja, Marco yang sudah mencoba sangat keras untuk tidak mengomentari pertukaran itu akhirnya tidak berhasil menahan senyum yang mengambil alih wajahnya dengan cara yang sangat tidak ia sembunyikan.
Via melihat senyum itu.
Menoleh ke Marco dengan tatapan yang menyampaikan: jangan.
Marco menutup mulutnya.
Tapi senyumnya masih ada.
Dan Via, yang sudah cukup lama mengenal Ara untuk membaca hal-hal kecil yang terjadi di wajahnya ketika Ara sendiri tidak menyadari bahwa wajahnya sedang membaca sesuatu, menatap Ara yang sedang makan mie-nya dengan ekspresi yang sedikit lebih hangat dari biasanya.
Lalu kembali ke mie-nya sendiri.
Tanpa berkata apapun.
Karena ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan berkembang dengan caranya sendiri.