NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 - PERTEMUAN ES DAN API

Kediaman Gubernur Distrik Selatan, Lord Arkan, berdiri angkuh di atas bukit yang dikelilingi oleh tembok setinggi tiga meter. Di setiap sudut, obor menyala terang, dijaga oleh prajurit yang mengenakan zirah merah marun. Mereka bukan sekadar penjaga biasa; mereka adalah Pasukan Matahari Terbit, praktisi bela diri yang menguasai elemen panas.

Kaelan berdiri di dahan pohon willow yang menjuntai di luar tembok. Sosoknya yang berambut putih dan berpakaian hitam pekat benar-benar menyatu dengan kegelapan malam. Dengan Domain Kesunyian, ia memetakan posisi setiap penjaga.

"Dua belas di gerbang luar, enam di koridor utama, dan dua... di depan kamar pribadi," bisik Kaelan.

Namun, ada satu detak jantung yang berbeda. Detak jantung itu lambat, berat, dan terasa panas bahkan dari jarak lima puluh meter. Itu adalah Panglima Baros, pengawal pribadi Gubernur yang dikenal dengan julukan Tangan Besi Membara.

Kaelan melompat. Ia tidak mendarat dengan dentuman, melainkan meluncur seperti sehelai bulu yang jatuh. Ia melewati tembok tanpa memicu satu pun sensor getaran. Menggunakan Sutra Rembulan, ia merayap di langit-langit koridor, bergantung terbalik seperti kelelawar saat sekelompok patroli lewat di bawahnya.

Saat ia mencapai pintu jati besar kamar Gubernur, suhu udara tiba-tiba meningkat drastis.

"Aku sudah mencium bau hawa dingin yang busuk sejak kau menginjakkan kaki di halaman, Tikus Perak," sebuah suara berat menggelegar dari balik pintu.

Pintu itu hancur berkeping-keping oleh hantaman tinju yang diselimuti api orange kemerahan. Kaelan bersalto ke belakang, mendarat dengan anggun saat gelombang panas menyapu wajahnya.

Panglima Baros berdiri di sana. Tubuhnya raksasa, kulitnya berwarna perunggu, dan uap panas keluar dari pori-pori kulitnya. Di tangannya, sebuah kapak besar mulai membara hingga berwarna putih panas.

"Sekte Gerhana Biru benar-benar mengirim seorang bocah cantik untuk membunuh Tuanku?" Baros menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang kuning. "Sayang sekali wajah cantikmu akan meleleh malam ini."

Tanpa peringatan, Baros menerjang. Kapaknya diayunkan dalam gerakan vertikal yang membelah lantai marmer. Letupan api keluar dari bekas sabetannya.

Kaelan tidak mundur. Ia menarik sepasang belati hitamnya. Saat logam meteorit itu bersentuhan dengan kapak membara, suara mendesis yang memekakkan telinga terdengar. Uap putih tebal seketika menyelimuti ruangan akibat pertemuan suhu ekstrem.

"Teknik Pernapasan Bulan Dingin: Aliran Sungai Beku," gumam Kaelan.

Kaelan bergerak di dalam kabut uap yang ia ciptakan sendiri. Baginya, uap itu adalah pelindung, sementara bagi Baros, itu adalah penghalang pandangan. Kaelan menggunakan kelenturan tubuhnya untuk menyerang dari sudut-sudut yang mustahil. Belatinya mengincar celah di bawah ketiak dan belakang lutut Baros.

Clang! Clang! Clang!

Baros menggeram frustrasi. Setiap kali ia mencoba memukul Kaelan, lawannya itu seolah-olah berubah menjadi bayangan air yang licin. "Berhenti bergerak, bocah!"

Baros menghentakkan kakinya ke lantai, melepaskan teknik Ledakan Bumi Membara. Lantai di sekitar mereka meledak, mengirimkan gelombang api ke segala arah.

Kaelan melompat tinggi, namun panasnya api itu mulai membakar ujung rambut putihnya. Di udara, ia memutar tubuhnya dan melepaskan kemampuan uniknya: Benang Perajut Jiwa.

Sepuluh benang transparan meluncur dari jemarinya, namun kali ini benang-benang itu tidak mengincar leher Baros. Benang-benang itu melilit pilar-pilar batu di ruangan tersebut. Dengan satu tarikan kuat, Kaelan menggunakan momentum itu untuk meluncur ke arah Baros seperti anak panah yang lepas dari busurnya.

Belati kanan Kaelan beradu dengan kapak Baros, menciptakan percikan api, namun belati kirinya menyelinap di bawah dagu sang raksasa.

"Es tidak bisa dibakar oleh api yang terlalu pelan," bisik Kaelan tepat di telinga Baros.

Kaelan mengalirkan seluruh Qi Embun Berbisanya ke dalam belati itu. Seketika, lapisan es hitam menjalar dari leher Baros ke seluruh wajahnya. Api di tubuh sang panglima meredup, lalu padam sepenuhnya. Baros mematung, matanya terbelalak saat jantungnya membeku dalam satu detak.

Raksasa itu tumbang dengan dentuman keras, tubuhnya kini sedingin es di puncak gunung.

Gubernur Arkan, yang bersembunyi di pojok ruangan dengan gemetar, melihat Kaelan mendekat. Kaelan tidak menunjukkan emosi. Baginya, ini hanyalah tugas. Tanpa kata-kata, ia menyelesaikan misinya.

Kaelan berjalan keluar menuju balkon, menatap rembulan yang mulai tertutup awan mendung. Di bawah sana, alarm mulai berbunyi, namun ia sudah menghilang ke dalam pelukan malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!