NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anna tiba di Indonesia

Natan meletakkan buku filsafat yang baru saja ia beli dari toko buku tempat Clara bekerja ke atas meja kerja asisten pribadinya. Sampulnya masih licin, belum tersentuh waktu.

Andre, asistennya, yang sejak tadi berdiri sambil membawa tablet laporan, mengernyit heran.

“Apa ini, Tuan?” tanyanya, menatap buku itu seolah benda asing

.

“Buku,” jawab Natan singkat.

“Iya, saya tahu itu buku,” balas Andre pelan, masih bingung. “Maksud saya… buku buat apa?"

Sepanjang yang ia tahu, bosnya ini lebih suka laporan keuangan, data pasar, dan grafik pertumbuhan saham. Membaca buku filsafat? Itu di luar kebiasaan.

Natan menatap buku itu sekilas. Jemarinya menyentuh sampulnya, seolah ada sesuatu yang ingin ia rasakan kembali.

Natan lantas tersenyum sebelum akhirnya membuka suaranya“Udah. Nggak usah banyak tanya,” katanya akhirnya. “Mulai hari ini, simpan semua buku yang aku kasih.”

Andre terdiam sesaat, lalu mengangguk. “Baik, Tuan.”

Tanpa menoleh lagi, Natan melangkah masuk ke ruangannya. Pintu tertutup pelan.

Andre menatap buku itu sekali lagi. “Aneh banget,” gumamnya pelan. Tapi tetap ia ambil dan menyimpannya rapi di lemari khusus.

Di dalam ruangannya, Natan berdiri menghadap jendela besar yang memperlihatkan keindahan kota. Pantulan dirinya di kaca terlihat dingin dan tenang. Padahal yang bergejolak bukan sedikit.

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam di toko buku Teras Kata.

Clara merapikan meja kasir dan bersiap pulang. Seperti biasa, Bu Jasmine menggantikannya sampai toko tutup pukul sepuluh malam. Sejak awal bekerja, Clara memang pernah meminta izin untuk bekerja sampai toko ditutup, tetapi Pak Ardi dan istrinya menolak. Selain terlalu larut untuk anak kuliahan, Clara juga perempuan dan harus pulang sendirian.

“Ini, Nak Clara. Ibu tadi bikin jus jambu,” ucap Bu Jasmine sambil menyerahkan botol minum berisi jus segar.

“Terima kasih, Bu,” jawab Clara sopan. Ia menyimpan botol itu di dalam tasnya.

Bu Jasmine tersenyum hangat. Ia melihat perbedaan dari Clara hari ini, wajahnya lebih segar, matanya lebih terang. Namun ia tak berniat bertanya.

“Hati-hati di jalan."

Clara mengangguk dan berpamitan. Beberapa menit berjalan, Clara kini duduk sendirian di halte, menunggu bus. Angin malam bertiup pelan, membawa bau aspal dan debu kota.

Tak lama, bus datang. Clara masuk dan mencari tempat duduk akan tetapi sudah penuh. Ia akhirnya berdiri, berdesak-desakan dengan penumpang lain.

Ia sedikit risih ketika menyadari seorang laki-laki jangkung berdiri tepat di belakangnya.

Aduh… apa aku turun aja ya di halte berikutnya? batinnya cemas.

Clara mencoba mengalihkan kegelisahannya dengan membuka ponsel. Ia melihat foto-foto kedua orang tuanya. Senyum kecil terbit di wajahnya.

Tiba-tiba..

Citttt!

Bus berhenti mendadak, tubuh Clara terdorong ke depan. Ia hampir terjatuh ke samping kanan, tapi sebuah tangan sigap menangkap bahunya.

“Ya ampun!” seru seorang ibu di dalam bus. “Kenapa sih, Pak, ngerem mendadak begitu!”

“Maaf, Bu! Tadi ada orang nyebrang,” jawab sopir.

“Mau bunuh diri kali!” sahut penumpang lain.

Clara tersadar dari shock nya. Ia menoleh sekilas ke pria yang tadi menahannya, lalu buru-buru menarik lengannya.

“Terima kasih,” ucapnya pelan.

Pria itu hanya mengangguk.

Clara kembali berdiri, kini berpegangan erat pada gantungan di atasnya. Namun entah kenapa, ia merasa pria itu masih menatapnya. Dari pantulan kaca jendela bus, bayangan tinggi itu tampak jelas di belakangnya.

Jantungnya berdegup tak beraturan.

Kenapa aku jadi overthinking begini… batinnya.

Tengkuknya terasa panas dingin, sepuluh menit terasa seperti setengah jam.

Akhirnya bus berhenti di halte tujuannya.

Clara turun dengan cepat, ia menoleh ke bus yang kembali melaju dan laki-laki itu masih berdiam di tempat semula. Clara menghela napas lega dan mengusap-usap dadanya

Ternyata cuma perasaanku saja… pikirnya, mencoba menenangkan diri.

Ia berjalan menyusuri gang menuju rumah. Malam terasa lebih sunyi dari biasanya, tapi ia berhasil sampai dengan selamat.

Begitu masuk rumah, Clara langsung membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.

Hari ini terasa sangat panjang.

Dan tanpa sadar, ia pun pergi ke alam mimpi.

Di bandara Soekarno Hatta malam itu ramai, namun langkah dua perempuan yang berdiri berhadapan di area kedatangan internasional terasa seperti pusat dari seluruh perhatian.

“Welcome to Indonesia, Anna.”

Suara itu keluar ringan dari bibir seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun ke atas. Rambutnya tersisir rapi, coat krem elegan membalut tubuhnya, dan lipstik merah menyala membuat senyumnya tampak lebih tegas dari yang seharusnya.

“Thank you, Tante Megan,” sahut Anna.

Ia tampil mencolok dengan coat hitam panjang, inner mock neck ketat yang membingkai lehernya, hot pants yang memperlihatkan kaki jenjangnya, serta sepatu bot hitam setinggi lutut. Wajahnya khas Eropa tajam, dingin, dan percaya diri. Di belakangnya, seorang asisten mendorong troli berisi koper-koper mewah.

Anna melepas kacamata hitamnya perlahan, matanya menyapu sekitar.

“Dia nggak ikut ke sini?” tanyanya sambil celingukan, nada suaranya ringan tapi mengandung tuntutan.

Megan menghela napas tipis sebelum kembali memasang senyum ramah.

“Noel masih di kantor. Mungkin sebentar lagi pulang,” jawabnya halus. “Do you want to go home first?”

Sudut bibir Anna terangkat samar, senyum yang lebih mirip sindiran.

“Oh… maybe this engagement is just a joke for him?” katanya dalam bahasa Inggris yang terdengar lembut namun menusuk.

Megan menelan ludah. Ia tetap tersenyum, meski rahangnya menegang.

“Of course not,” balasnya diplomatis. “Dia hanya...sibuk.”

Anna tak menjawab lagi. Ia melangkah maju, sepatu botnya berderap tegas di lantai bandara. Megan hanya bisa mengikuti dari belakang, membukakan pintu mobil mewah keluarga Baskara dengan gerakan sopan.

Anna masuk tanpa menoleh, tanpa basa-basi.

Pintu tertutup.

Dasar sialan… kalau saja bukan demi tujuanku, tak akan kubiarkan harga diriku diinjak-injak seperti ini, geram Megan dalam hati. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya menyala tipis.

Ia segera masuk ke sisi mobil lainnya.

Mobil mewah itu melaju meninggalkan bandara, membelah jalanan malam Jakarta menuju hotel bintang lima tempat Anna akan menginap beberapa hari ke depan.

Setelah mengantarkan Anna, Megan kembali ke rumah besar keluarga Baskara dengan langkah yang tak lagi selembut biasanya. Sepatu haknya beradu keras dengan lantai marmer, menciptakan gema kecil yang memantul di langit-langit tinggi ruang foyer.

Wajahnya menahan kesal. Bibir merahnya mengeras.

Seorang pelayan yang tanpa sengaja menjatuhkan sendok teh di dekat meja konsol langsung menjadi sasaran.

“Kerja yang benar! Hal sepele saja tidak becus,” ucap Megan tajam tanpa benar-benar melihat wajah pelayan itu.

Pelayan tersebut hanya menunduk dalam-dalam, memungut sendok dengan tangan gemetar.

Megan melangkah menuju ruang tamu utama dan menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk dengan angkuh. Ia menyilangkan kaki, satu tangan bertumpu di sandaran, napasnya masih naik turun.

Tak lama kemudian, Alexander Baskara muncul dari arah ruang kerja pribadinya. Pria itu sudah tak muda lagi, rambutnya mulai memutih di sisi pelipis, namun tubuhnya masih tegap. Ia tersenyum kecil melihat istrinya.

“Ada apa, sayang?” tanyanya santai sambil duduk di samping Megan. “Kenapa pulang malah marah-marah?”

Tangannya merangkul pundak wanita yang jauh lebih muda itu dengan gerakan possessif yang lembut.

“Aku kesal, Mas,” keluh Megan, wajahnya berubah manja dalam sekejap. “Anna itu nggak ada sopan santunnya sama aku.”

Alexander terkekeh pelan.

“Namanya juga pewaris,” jawabnya ringan, seolah itu sudah cukup menjelaskan segalanya.

Megan mendecak.

“Tapi sampai kapan aku harus merendahkan diri begini? Dia bahkan sering menyindir-nyindir aku.”

Alexander menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke sofa, matanya menatap lurus ke depan. Ia mengusap rambut cokelat Megan dengan lembut.

“Kamu harus sabar. Nanti juga jinak kalau Noel resmi menikah dengannya.”

Megan terdiam, masih menahan gengsi.

Alexander melanjutkan, suaranya kini lebih rendah, penuh ambisi.

“Bayangkan saja. Pewaris perusahaan besar di Eropa Tengah menikah dengan putraku. Kita punya pendukung besar untuk kemajuan perusahaan, Nama Baskara akan naik lagi. Kita tak perlu repot kerja mati-matian.”

Senyumnya melebar.

“Ongkang-ongkang kaki saja, uang akan mengalir.”

Kata-kata itu membuat Megan terdiam sejenak. Ia membayangkan pesta-pesta mewah, barang-barang branded. Meskipun sekarang hal itu juga bisa dilakukan di keluarga Baskara tapi jika dibandingkan dengan keluarga Anna yang punya kekayaan dan kejayaan yang tinggi khususnya di Eropa Tengah. tentu saja sangat berbeda dengan keluarga Baskara saat ini.

Perlahan, sudut bibirnya terangkat.

Ia menyandarkan tubuhnya ke dada Alexander. Meski usia telah menggerogoti, tubuh pria itu masih kokoh, masih memberi rasa aman atau setidaknya rasa stabilitas.

“Aku cuma nggak suka diperlakukan seperti pelayan,” gumam Megan pelan.

Alexander mengangkat dagunya sedikit.

“Kamu bukan pelayan. Kamu istri Alexander Baskara.”

Tatapannya berubah dingin.

“Dan semua ini akan jadi milik kita… selama Noel tetap patuh.”

Di luar, malam Jakarta tetap ramai.

Namun di dalam rumah itu, permainan kekuasaan jauh lebih sunyi dan jauh lebih berbahaya.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!