Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Pintu terbuka perlahan
Seorang pria berdiri di ambang pintu. Tinggi, berkulit sawo matang, kemeja rapi tapi sederhana. Wajahnya tenang, sorot matanya lembut
“Assalamu’alaikum” ucapnya sopan
“Wa’alaikumussalam” jawab Abah dan Mama hampir bersamaan
Pria itu melangkah masuk
“Maaf mengganggu. Saya Raka”
Nama itu terasa berbeda ketika terdengar langsung dari pemiliknya
Nadira yang berdiri di sisi ranjang mencoba bersikap biasa
“Wa’alaikumussalam” jawabnya singkat
Abah tersenyum lebar
“Raka, ini Nadira”
Raka menoleh, lalu sedikit menundukkan kepala
“Sudah sering dengar namanya”
Nadira mengangkat alis tipis
“Oh ya”
Raka tersenyum kecil
“Iya. Dari Abah”
“Bah…” Nadira berbisik pelan dengan tatapan protes
Mama tertawa ringan
Raka lalu mendekati ranjang Mama
“Bagaimana kabarnya, Tante”
“Alhamdulillah, lebih baik. Terima kasih sudah datang”
“Sudah seharusnya, Tante. Abah sering membantu saya dulu waktu pertama kali ke sini”
Nadira melirik Abah
“Bantu apa”
Abah menjawab santai
“Dia dulu cari lahan untuk bangun sekolah. Abah yang kenalkan ke beberapa orang”
“Oh” gumam Nadira
Raka berdiri dengan sikap tenang, tidak banyak bergerak
“Saya dengar Nadira baru sampai tadi pagi”
Nadira mengangguk
“Iya”
“Perjalanan jauh ya”
“Lumayan”
Hening sebentar
Mama memperhatikan keduanya dengan mata berbinar
Abah tiba-tiba berkata
“Dira, belikan minum untuk Raka di luar, Nak”
Nadira langsung sadar itu alasan agar mereka bicara
“Bah, di sini ada dispenser” jawabnya cepat
Abah pura-pura tidak dengar
“Beli di luar biar sesuai disini adanya air putih”
Raka tersenyum kecil seolah paham situasinya
“Tidak usah repot, Pak”
Mama ikut menimpali
“Pergilah sebentar. Mama ingin istirahat”
Nadira akhirnya menyerah
“Baiklah”
Ia melangkah keluar ruangan. Raka mengikuti beberapa langkah di belakangnya
Lorong pagi itu cukup sepi
Setelah agak menjauh dari kamar, Raka berbicara lebih dulu
“Saya minta maaf kalau kedatangan saya mendadak”
Nadira menyilangkan tangan
“Jujur saja, sedikit”
Raka tersenyum, tidak tersinggung
“Saya tidak bermaksud membuat tidak nyaman”
“Kenapa datang”
“Menjenguk Tante. Dan…” ia berhenti sebentar “kenalan kalau diizinkan”
Nadira menatapnya langsung
“Kenapa mau kenal dengan orang yang bahkan belum tentu tinggal lama di sini”
Raka terlihat berpikir sebelum menjawab
“Karena menurut saya, orang yang pulang ketika orang tuanya sakit adalah orang yang tahu prioritas”
Jawaban itu membuat Nadira sedikit terdiam
“Itu bukan alasan besar” katanya pelan
“Cukup bagi saya” jawab Raka tenang
Beberapa detik hening
Nadira akhirnya berkata
“Saya baru resign dari pekerjaan saya di Jakarta”
Raka mengangguk pelan
“Saya tahu”
“Tahu dari Abah juga”
“Iya”
“Dan”
“Menurut saya, keputusan besar seperti itu pasti tidak diambil sembarangan”
Nadira memperhatikan wajah pria di depannya. Tidak ada kesan menghakimi. Tidak ada nada menekan
“Kalau nanti saya balik lagi ke Jakarta” tanya Nadira tiba-tiba
Raka tersenyum kecil
“Berarti saya harus siap dengan jarak”
Jawaban itu membuat Nadira sedikit terkejut
“Kok santai sekali”
Raka tertawa pelan
“Karena kenalan bukan berarti mengikat”
Kalimat itu terdengar familiar—mirip ucapan Abah semalam
Nadira tanpa sadar tersenyum tipis
“Mama pasti senang kamu datang” katanya akhirnya
“Yang penting Tante cepat sembuh” jawab Raka
Dari dalam ruangan, terdengar suara Abah memanggil
“Dira”
Nadira dan Raka saling menatap singkat
“Sepertinya interogasi sesi dua dimulai” gumam Nadira
Raka tertawa pelan
“Saya siap”
Dan untuk pertama kalinya sejak mendengar namanya semalam, Nadira tidak merasa terjebak
Nadira dan Raka kembali masuk ke ruang perawatan. Begitu pintu tertutup, Abah Adi langsung tersenyum seperti orang yang tahu sesuatu
“Lama juga beli minumnya” godanya
“Bah, tadi antri” jawab Nadira cepat
Raka menahan senyum
Mama Ayu memperhatikan mereka berdua dengan mata yang tampak jauh lebih hidup dibanding kemarin
“Sudah kenalan baik-baik?” tanya Mama
“Sudah, Tante” jawab Raka sopan
Nadira duduk di kursi dekat ranjang, berusaha terlihat biasa
Abah kemudian berkata santai
“Raka ini dari dulu memang tidak banyak bicara. Tapi kerjanya jelas”
“Bah…” Raka sedikit tersipu
Nadira melirik Abah
“Ini sesi promosi, ya?”
Abah tertawa kecil
“Tidak salah kan kalau Abah cerita yang baik-baik?”
Raka menatap Nadira
“Kalau mau tahu langsung, boleh tanya sendiri”
Nadira mengangkat alis
“Baik. Kenapa pilih jadi arsitek?”
Raka terlihat tidak menyangka pertanyaan itu
“Karena saya suka membangun sesuatu yang bisa dipakai orang lama. Sekolah, rumah, tempat ibadah… menurut saya itu investasi kebaikan”
Mama tersenyum bangga
“Makanya Mama suka”
Nadira melipat tangan
“Berarti kamu suka bangun rumah?”
Raka tertawa kecil
“Secara harfiah, iya”
Abah langsung menyahut
“Nah, cocok. Dira juga nanti butuh rumah”
“Bah!” Nadira hampir tersedak
Mama menahan tawa
Raka tersenyum sopan, tidak ikut menggoda
Beberapa detik hening, lalu Raka bertanya pelan
“Nadira sendiri suka apa?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Nadira berpikir
“Saya suka bekerja” jawabnya singkat
Raka tersenyum tipis
“Maksudnya?”
“Saya suka merasa berguna. Punya tanggung jawab. Punya target”
“Berarti kamu orang yang sulit diam”
Nadira mengangguk
“Mungkin”
Raka mengangguk pelan
“Itu bagus”
“Kenapa bagus?”
“Karena hidup butuh orang yang bergerak”
Jawaban itu tidak berlebihan, tidak memuji terlalu tinggi
Nadira menatapnya lebih lama dari sebelumnya
Mama tiba-tiba berkata lembut
“Raka, kamu tidak keberatan kalau Dira nanti kerja lagi jauh?”
Raka tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak
“Kalau memang itu jalannya dan membawa kebaikan, saya tidak keberatan”
Nadira mengerutkan kening
“Sesantai itu?”
Raka tersenyum
“Jarak bukan masalah kalau tujuannya jelas”
Kalimat itu membuat Nadira terdiam
Abah memperhatikan dengan senyum kecil
“Raka ini,” kata Abah, “orangnya tidak suka memaksa”
“Memaksa apa?” tanya Nadira
“Memaksa keadaan” jawab Raka sendiri
Mama menghela napas pelan
“Baguslah kalau begitu”
Suasana terasa lebih ringan sekarang
Nadira kemudian bertanya
“Proyek sekolahnya sudah sampai mana?”
“Sudah tahap finishing” jawab Raka “Kalau mau lihat nanti, boleh saya ajak”
Nadira refleks menjawab
“Boleh”
Lalu ia terdiam sendiri karena merasa terlalu cepat
Raka tersenyum kecil
“Kalau tidak sibuk”
Mama dan Abah saling pandang diam-diam
Beberapa menit kemudian, perawat masuk memeriksa Mama. Raka berdiri memberi ruang
Setelah perawat selesai, Raka berkata pelan
“Saya pamit dulu, Tante. Nanti kalo waktu saya senggang saya datang lagi”
Mama mengangguk
“Hati-hati”
Raka menoleh pada Nadira
“Senang bisa kenal langsung”
Nadira mengangguk
“Saya juga”
Abah mengantar Raka sampai pintu
Begitu pintu tertutup, Mama langsung menatap Nadira dengan senyum lebar
“Bagaimana?”
“Bagaimana apanya?”
Mama mengangkat alis
“Ma… baru juga kenal lima belas menit”
Abah kembali duduk dan berkata santai
“Lima belas menit pertama itu penting”
Nadira menghela napas
“Dia… tidak seperti yang Dira bayangkan”
“Maksudnya?” tanya Mama cepat
“Lebih tenang”
Mama tersenyum puas
Abah tertawa kecil
“Dan?”
“Dan tidak banyak bicara”
Mama mengangguk
“Bagus. Kalau dua-duanya banyak bicara, nanti berantem terus”
Nadira memutar mata tapi tidak bisa menyembunyikan senyum tipisnya
“Dira cuma tidak mau terburu-buru” katanya akhirnya
Abah menjawab lembut
“Tidak ada yang menyuruh kamu berlari”
Mama menambahkan
“Kenal saja dulu. Seperti kamu kenal Jakarta dulu sebelum betah”
Kalimat itu membuat Nadira terdiam
Benar juga. Ia tidak langsung mencintai kota itu
Ia belajar mencintainya pelan-pelan
Mungkin… begitu juga dengan seseorang
Nadira berdiri dan melihat keluar jendela
Sudah tiga hari Nadira menjaga Mama di rumah sakit
Siang malam ia hampir tidak pulang. Kalau pun pulang, hanya untuk mandi dan mengganti pakaian. Selebihnya, ia duduk di kursi samping ranjang, memastikan Mama minum obat tepat waktu, membantu mengatur bantal, atau sekadar menggenggam tangan Mama saat malam terasa sunyi
Abah beberapa kali berkata
“Dira, istirahatlah. Abah bisa jaga”
Tapi Nadira selalu menggeleng
“Tidak apa-apa, Bah. Dira sudah biasa begadang”
Padahal dulu di Jakarta, ia memang biasa tidur sendiri
Tapi menjaga orang tua rasanya berbeda. Ada takut yang tidak bisa dijelaskan