NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 33

"Tidakkah kau merasa kita seperti sedang diawasi oleh ribuan mata yang tak terlihat?" Pandu memecah keheningan saat mereka berjalan menuju pintu palka "Mawar Hitam".

Laras berhenti sejenak, tangannya menyentuh lambung kapal yang kini terasa hangat dan sedikit bergetar, seolah-olah kapal itu sedang bernapas. "Bukan diawasi, Pan. Kita sedang dirasakan. Seperti saraf yang merasakan sentuhan di kulit. Bagi mereka, kita sekarang adalah bagian dari tubuh yang sama."

"Aku lebih suka disebut kru kapal daripada sel kulit galaksi," gerutu Dio, meski ia tetap tersenyum tipis sambil menekan panel kontrol organik yang kini merespons hanya dengan sentuhan batin. "Ngomong-ngomong, Lar, frekuensi dari Palung Jawa baru saja sinkron dengan sinyal Europa. Sempurna. Bumi benar-benar sudah 'terhubung' secara total."

Saat mereka masuk ke dalam kokpit, interior kapal kini jauh lebih luas dari sebelumnya. Cahaya biru lembut mengalir di sepanjang dinding, menggantikan kabel-kabel tembaga yang dulu berantakan. Kursi pilot tidak lagi memiliki sabuk pengaman; kursi itu kini melengkung mengikuti bentuk tubuh Laras, memberikan kenyamanan yang hampir bersifat intim.

"Ke mana tujuan kita sekarang?" tanya Pandu sambil duduk di samping Laras. "Paman Aan bilang wilayah timur, tapi aku punya firasat kau ingin melihat sesuatu yang lain."

Laras menatap layar pandang utama. Di sana, di luar atmosfer Bumi yang kini tampak lebih jernih tanpa polusi karbon, bayangan kapal-kapal Pencipta masih menggantung dengan anggun seperti awan perak.

"Aku ingin pergi ke tempat di mana semuanya dimulai," bisik Laras. "Pusat Jantung Arca di Palung Jawa. Aku bisa merasakan sesuatu di sana... sesuatu yang tidak sinkron. Seperti ada nada yang sumbang di tengah simfoni ini."

Dio mengerutkan kening, jemarinya menari di atas layar holografik. "Kau benar, Lar. Ada anomali gravitasi di koordinat itu. Kecil, hampir tidak terasa, tapi pola frekuensinya bukan milik kita, bukan milik Europa, dan pasti bukan milik Para Pencipta."

"Lalu milik siapa?" Pandu menegang, tangannya refleks mencari gagang senjata yang kini sebenarnya sudah tidak diperlukan.

Laras menggerakkan jarinya, dan "Mawar Hitam" meluncur mulus meninggalkan atap gedung, melesat menuju arah tenggara. "Itu yang akan kita cari tahu. The Hollow mungkin sudah pergi, dan Para Pencipta mungkin sudah tiba. Tapi ada pihak ketiga yang selama ini diam-diam bersembunyi di balik bayangan kedua raksasa itu."

Kapal itu menembus awan dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan Jakarta yang kini tampak seperti permata hijau di kejauhan. Di bawah mereka, samudra Hindia membentang luas, dan jauh di kedalamannya, sesuatu yang sangat tua dan sangat lapar mulai menyadari kehadiran mereka.

"Siapkan sistem selam bio-Arca, Dio," perintah Laras, matanya kembali berpendar dengan cahaya emas yang baru saja ia dapatkan. "Kita akan turun ke tempat yang paling gelap, dan kita tidak akan turun sebagai tamu."

"Mawar Hitam" menukik tajam, membelah permukaan air Samudra Hindia tanpa menciptakan percikan besar. Kapal itu tidak lagi bertarung melawan tekanan air; ia menciptakan gelembung vakum di sekeliling lambungnya, meluncur turun ke kegelapan abadi Palung Jawa seolah-olah air adalah udara tipis.

"Satu kilometer... tiga kilometer... tujuh kilometer," Dio membacakan angka kedalaman dengan suara yang semakin mengecil. "Lar, tekanan di luar sana seharusnya sudah meremukkan kita, tapi sensor Arca menunjukkan air di sekitar kita justru menjadi lebih... padat secara energi. Seperti kita sedang menembus jeli."

Cahaya biru dari lambung kapal mulai menerangi dinding tebing palung yang curam. Di kedalaman ini, seharusnya hanya ada kesunyian dan kegelapan, namun Laras melihat sesuatu yang mustahil. Di dasar palung, di antara celah-celah tektonik, terdapat struktur yang tidak terbuat dari kristal putih Para Pencipta maupun logam hitam The Hollow.

Itu adalah struktur perunggu yang berkarat, tertutup oleh karang kuno dan simbol-simbol yang menyerupai aksara nusantara purba yang telah terdistorsi oleh waktu.

"Itu bukan buatan alien," bisik Pandu, wajahnya menempel pada kaca kokpit. "Itu... itu milik kita. Dari zaman sebelum sejarah dicatat."

"Bukan milik kita yang sekarang, Pan," Laras mengoreksi, suaranya terdengar seperti resonansi logam. "Itu milik mereka yang mencoba menjadi Pencipta sebelum Para Pencipta kembali. Lihat itu."

Di tengah struktur perunggu raksasa itu, sebuah mesin kuno masih berdenyut. Namun, denyutnya berbeda. Ia tidak harmonis. Ia terasa seperti isak tangis yang tertahan. Mesin itu sedang menyedot energi dari "Jantung Bumi" secara paksa melalui kabel-kabel organik yang tampak seperti urat syaraf raksasa yang tersiksa.

"Anomali itu," Dio menunjuk ke layar taktis. "Mesin ini sedang mengirimkan sinyal ke suatu tempat di luar tata surya kita. Sinyal itu bukan pesan diplomatik. Itu adalah koordinat lokasi 'Jantung' yang belum terproteksi."

Tiba-tiba, dari balik bayangan struktur perunggu itu, muncul beberapa sosok mekanis berukuran kecil yang bergerak lincah seperti hiu. Mereka tidak menggunakan energi Arca; mereka menggunakan energi nuklir kuno yang kotor, memuntahkan radiasi di tengah kemurnian samudra.

"Pihak ketiga," gumam Pandu. "Sisa-sisa peradaban lama yang bersembunyi di bawah laut selama ribuan tahun. Mereka sedang mencoba menjual lokasi Bumi kepada pihak lain sebelum Para Pencipta sepenuhnya mengambil alih."

"Mereka adalah pengkhianat biologis," Laras berdiri, tangannya memancarkan cahaya emas yang menyakitkan mata. "Mereka ingin Bumi tetap menjadi tambang, bukan kebun."

Salah satu robot hiu itu menembakkan torpedo kinetik. Guncangan melanda "Mawar Hitam", namun lambung organiknya hanya berdenyut, menyerap energi ledakan dan mengubahnya menjadi cahaya.

"Dio, kunci frekuensi mesin perunggu itu. Kita tidak akan menghancurkannya," perintah Laras. "Kita akan 'menghubungkannya' kembali ke Bumi. Jika mereka ingin menggunakan energi Jantung, biarkan Jantung itu sendiri yang berbicara kepada mereka."

"Tapi Lar, kalau kita hubungkan secara langsung, sistem saraf mesin itu bisa meledak!"

"Biarkan mereka merasakan beratnya kesadaran planet ini," jawab Laras dingin.

Laras memejamkan mata, memproyeksikan energinya menembus air, masuk ke dalam inti mesin purba tersebut. Seketika, jeritan mekanis bergema di seluruh palung. Kabel-kabel urat syaraf yang tadinya tersiksa kini mendadak tegang, menyalurkan kemarahan bumi langsung ke dalam sirkuit perunggu pengkhianat itu.

Satu demi satu, robot-robot hiu itu meledak karena kelebihan beban informasi. Struktur perunggu di dasar laut mulai runtuh, bukan karena serangan fisik, tapi karena ia tidak mampu menahan beban "kejujuran" dari energi Bumi yang murni.

Di tengah reruntuhan itu, sebuah hologram kecil muncul—sosok manusia tua dengan pakaian yang tampak seperti bangsawan Majapahit namun terintegrasi dengan teknologi siber kuno.

"Kalian tidak mengerti..." sosok itu berkata sebelum citranya hancur. "Para Pencipta tidak datang untuk menanam. Mereka datang untuk memanen... dan kalian baru saja membukakan pintu gudangnya."

Laras terdiam, cahaya emas di tangannya meredup. Pesan itu terasa lebih dingin daripada air di kedalaman sepuluh ribu meter.

"Mawar Hitam" mulai naik kembali ke permukaan, namun suasana di dalam kokpit kini jauh lebih berat daripada saat mereka turun.

"Lar? Apa yang dia maksud dengan memanen?" tanya Pandu pelan.

Laras menatap ke atas, ke arah permukaan laut yang mulai terlihat bercahaya oleh sinar matahari, namun pikirannya tertuju pada kapal-kapal kelopak bunga di langit.

"Kita harus kembali ke Astra Mawar," kata Laras. "Kita perlu bertanya pada Paman Aan... apa yang sebenarnya terjadi pada 'kebun-kebun' lain yang pernah dikunjungi Para Pencipta sebelum Bumi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!