Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15: Air Mata Buaya di Bawah Gerimis
Langit Jakarta sore itu berwarna abu-abu pekat, seolah mengerti kebutuhan skenario Rio. Mendung menggantung rendah, menjanjikan hujan yang akan menambah efek dramatis.
Di depan cermin retak kontrakannya, Rio sedang melakukan "gladi resik".
Dia memakai kemeja kerja lamanya yang kerahnya sudah kuning dan sengaja tidak dikancingkan dengan benar. Rambutnya diacak-acak supaya terlihat frustrasi. Wajahnya—yang sebenarnya segar bugar karena baru tidur seharian—sengaja dia beri sedikit bedak bayi supaya terlihat pucat.
"Inget pesen Ibu," Bu Ratna memberikan instruksi dari belakang layaknya sutradara film. "Jangan langsung minta rujuk. Minta maaf dulu. Nangis yang kenceng. Bilang kamu nggak bisa makan, nggak bisa tidur."
"Siap, Bu," Rio mengangguk mantap. Di saku celananya, dia sudah menyelipkan irisan bawang merah yang dibungkus tisu. Senjata rahasia kalau air matanya macet.
"Inget, Yo. Di balik gerbang itu ada mobil Rolls-Royce, ada deposito miliaran, ada hidup enak. Jangan nyerah sebelum dia luluh!"
Dengan restu penuh keserakahan dari Ibunya, Rio berangkat menuju medan perang.
Pukul empat sore, Rio tiba di depan gerbang megah kediaman keluarga Anindita di Menteng.
Gerimis mulai turun rintik-rintik. Sempurna.
Rio berjalan tertatih-tatih mendekati gerbang. Dia melihat CCTV yang berkedip merah. Dia tahu Kara pasti melihatnya dari dalam.
Tanpa ragu, Rio menjatuhkan lututnya ke aspal yang basah. Brak.
Sakit sih, tapi demi lima miliar (atau lebih), lutut lecet bukan masalah.
"KARA!" teriak Rio dengan suara diparau-paraukan. "KARA! KELUAR, SAYANG! AKU MOHON!"
Pak Danu, kepala keamanan yang kemarin membukakan pintu, keluar dari pos satpam dengan wajah garang. "Heh! Anda lagi! Ngapain teriak-teriak di sini?! Mau saya panggil polisi?!"
Rio tidak peduli. Dia tetap berlutut, menengadahkan wajahnya ke langit (biar air hujan membasahi wajahnya, menyamarkan mana air hujan mana air mata palsu).
"Saya nggak akan pergi sebelum istri saya keluar! Kara! Aku tau kamu denger aku! Aku tau kamu masih cinta sama aku!"
Pak Danu sudah siap menyeret Rio, tapi tiba-tiba earpiece-nya berbunyi. Suara Kara terdengar di sana.
"Biarkan saja, Pak Danu. Saya mau liat seberapa jago aktingnya. Buka gerbang kecilnya."
Pak Danu mundur, memberi kode pada Rio.
Pintu gerbang kecil di samping gerbang utama terbuka.
Namun Rio tidak disuruh masuk. Dia hanya diberi akses visual ke halaman depan.
Dari pintu utama rumah mewah itu, Kara berjalan keluar.
Dia tidak berlari menghambur ke pelukan Rio seperti di film-film romantis.
Kara berjalan santai, mengenakan gaun rumah sutra panjang yang melambai tertiup angin. Di sebelahnya, seorang pelayan pria berseragam rapi memegang payung hitam besar, memastikan tidak setetes pun air hujan mengenai kulit mulus Nona Muda mereka.
Kara berhenti tiga meter dari tempat Rio berlutut. Dia menatap Rio dari balik pagar besi, seperti pengunjung kebun binatang menatap hewan langka.
"Kara..." Rio memasang wajah paling menyedihkan. Dia meremas dadanya. "Akhirnya kamu keluar... Aku sakit, Ra. Aku sakit banget tanpamu..."
Rio mulai melancarkan monolog yang sudah dia hafalkan.
"Aku tau aku salah. Aku bodoh. Aku khilaf. Setan apa yang merasuki aku sampai aku nyakitin wanita sebaik kamu?" Rio mengusap matanya (yang pedas kena sisa bawang di tangan). "Tapi tolong, Ra... Kasih aku satu kesempatan lagi. Bukan demi aku, tapi demi cinta kita. Demi kenangan tiga tahun kita. Aku janji bakal berubah. Aku bakal jadi suami yang kamu mau."
"Aku nggak peduli kamu siapa, Ra. Mau kamu miskin, mau kamu kaya, aku tetep cinta sama kamu. Pulang yuk, Sayang? Rumah kita sepi tanpa kamu."
Rio mengakhiri pidatonya dengan isak tangis yang cukup meyakinkan. Dia menunggu reaksi Kara. Dia menunggu Kara luluh, membuka gerbang, dan memeluknya.
Hening sejenak. Hanya suara rintik hujan yang terdengar.
Lalu, Kara tertawa.
Bukan tawa bahagia. Tapi tawa renyah yang menusuk.
"Wow," ucap Kara sambil tepuk tangan pelan. "Bravo. Akting yang bagus. Harusnya kamu masuk casting sinetron azab, bukan kerja di kontraktor."
Rio tercekat. "Ra? Kok kamu ngomong gitu? Aku tulus..."
"Tulus?" Kara melipat tangannya di dada. Senyumnya lenyap, berganti tatapan tajam yang mematikan.
"Rio, Rio... Kamu pikir aku sebodoh itu?"
Kara melangkah maju sedikit, mendekatkan wajahnya ke jeruji gerbang.
"Kamu bilang kamu nggak peduli aku kaya atau miskin? Bullshit."
"Kalau aku masih Kara yang miskin, yang tinggal di kontrakan bau itu, apa kamu bakal hujan-hujanan di sini? Nggak kan? Kamu pasti lagi asik kelonan sama Siska di apartemennya."
Wajah Rio pucat. Skripnya berantakan.
"Kamu datang ke sini, berlutut kayak pengemis, cuma karena satu alasan," lanjut Kara dingin.
"Karena kemarin sore, Ibumu datang ke sini, liat rumah ini, lalu pulang lapor ke kamu. Terus semalam, kamu googling nama 'Gunawan Anindita' di HP kamu, dan kamu sadar kalau kamu baru aja nendang gentong emas."
DEG.
Mata Rio membelalak. Jantungnya berhenti berdetak.
Dia tau?
Kok dia bisa tau gue googling?!
Kara tersenyum miring melihat ekspresi syok Rio. "Aku punya tim IT yang bisa ngelacak jejak digital kamu dalam hitungan detik, Rio. Riwayat pencarianmu isinya: 'Harta kekayaan Gunawan Anindita', 'Hukum gono-gini suami istri', sama 'Cara bujuk istri minta rujuk'."
"Menyedihkan."
Rio merasa telanjang. Semua topengnya dilucuti habis-habisan. Tidak ada lagi ruang untuk berbohong.
"Ra... tapi... tapi aku beneran nyesel..." Rio mencoba membela diri, tapi suaranya mencicit.
"Tentu aja kamu nyesel," potong Kara cepat. "Kamu nyesel karena kehilangan akses ke uangku. Bukan kehilangan aku."
Kara menegakkan tubuhnya, memberi isyarat pada Pak Danu.
"Udah cukup sirkusnya. Saya bosan. Baunya juga mulai nggak enak di sini. Bau sampah basah."
"Pak Danu," perintah Kara. "Tolong 'siram' halamannya. Ada kotoran yang nempel di aspal."
"Siap, Nona!"
Pak Danu dengan sigap menyalakan keran utama sistem penyiraman taman otomatis (sprinkler) yang tekanannya tinggi, ditambah Pak Danu sendiri yang memegang selang cuci mobil.
SROOOOT!
Air menyembur deras dari selang, langsung menghantam wajah dan tubuh Rio yang sedang berlutut.
"Aaaarrgh! Woy! Dingin! Masuk idung!" Rio terbatuk-batuk, gelagapan disemprot air bertekanan tinggi.
"Pergi! Atau saya lepas anjing herder!" ancam Pak Danu sambil terus menyemprot Rio seolah sedang membersihkan lumpur di ban truk.
Kara hanya berdiri di sana, di bawah payung mewahnya, menatap Rio yang basah kuyup, menggigil, dan lari terbirit-birit menjauhi gerbang seperti tikus got yang kepergok.
"Selamat menikmati hidup barumu, Mas Rio," bisik Kara pelan, lalu berbalik badan dan berjalan masuk ke istananya.
Tidak ada belas kasihan.
Tidak ada kesempatan kedua.
Yang ada hanya kepuasan melihat karma bekerja secara instan.
Sementara itu, di ujung jalan, Rio menggigil kedinginan. Baju kemejanya basah kuyup mencetak tubuhnya yang kurus. Bedak bayinya luntur, membuatnya terlihat seperti badut horor.
Hatinya hancur. Bukan karena cinta, tapi karena dia sadar... pintu menuju kekayaan itu sudah tertutup rapat dan digembok mati.
Dia harus pulang ke kontrakan bau itu lagi. Menghadapi tagihan utang, menghadapi Siska yang mulai menjauh, dan menghadapi Ibunya yang pasti akan mengamuk karena rencananya gagal total.
Dan yang paling menakutkan: Besok dia harus kembali ke kantor dengan status SP1 dan digugat cerai.
Neraka Rio yang sesungguhnya baru saja dimulai.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏