seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10: Pernyataan di Lantai Marmer
Senin pagi di Mahesa Group biasanya diawali dengan aroma kopi mahal dan derap langkah terburu-buru para karyawan yang mengejar absen. Namun, pagi ini, ada sesuatu yang berbeda.
Desas-desus tentang pengunduran diri Shafira Azzahra telah menyebar seperti api di atas ilalang kering. Meja di divisi keuangan yang biasanya rapi dengan catatan kecil berisi pengingat waktu dhuha itu kini tampak kosong, menciptakan lubang besar di hati rekan-rekan kerjanya.
Riana menatap kursi kosong Shafira dengan mata berkaca-kaca. Ia baru saja akan meletakkan setangkai bunga mawar putih di sana sebagai tanda perpisahan, ketika pintu lobi utama terbuka lebar.
Bukan hanya satu sosok yang muncul, melainkan tiga.
Dave Mahesa berjalan di tengah dengan langkah tegap, namun kali ini wajahnya tidak sedingin biasanya. Di sebelah kanannya, Shafira melangkah dengan anggun. Ia mengenakan hijab berwarna biru navy yang dipadukan dengan blazer abu-abu—tetap sederhana, namun memancarkan aura ketegasan yang baru. Dan yang paling mengejutkan seluruh isi kantor adalah sosok di sebelah kiri Dave: seorang pria tua berseragam batik rapi, yang wajahnya sangat familiar bagi siapa pun yang sering melihat taman di belakang gedung itu. Pak Rahman.
Suara bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.
"Itu kan tukang kebun rumah Tuan Devan?"
"Kenapa dia masuk lewat pintu utama bersama Pak Dave?"
"Apa Shafira benar-benar punya 'hubungan' khusus sampai ayahnya dibawa ke sini?"
Dave tidak berhenti di lobi. Ia terus melangkah menuju podium kecil di tengah aula lantai satu, tempat yang biasanya digunakan untuk pengumuman besar perusahaan. Ia memberi isyarat kepada staf humas untuk menyalakan pengeras suara.
"Perhatian semuanya," suara Dave menggelegar, tenang namun penuh otoritas.
Seluruh aktivitas berhenti. Ratusan pasang mata tertuju pada panggung kecil itu. Shafira menunduk sedikit, merasa cemas dengan perhatian yang begitu besar, namun ia merasakan tangan ayahnya menepuk pundaknya pelan, memberinya kekuatan.
"Saya ingin meluruskan beberapa hal terkait peristiwa yang terjadi akhir pekan lalu," lanjut Dave.
Matanya menyapu ruangan, tajam dan tak terbantahkan. "Ada kabar bahwa salah satu staf terbaik kami, Shafira Azzahra, telah berhenti. Saya di sini untuk menyatakan bahwa itu tidak benar. Shafira adalah pilar penting di divisi keuangan, dan mulai hari ini, ia dipromosikan menjadi Senior Financial Analyst dengan wewenang langsung di bawah pengawasan saya."
Helaan napas kaget terdengar serentak. Namun, Dave belum selesai.
"Dan di sebelah saya ini," Dave menatap Pak Rahman dengan hormat yang tulus, "adalah Bapak Rahman. Beliau telah mengabdi pada keluarga Mahesa selama dua puluh tahun. Beliau adalah orang yang mengajarkan saya secara tidak langsung bahwa sebuah bangunan hanya akan berdiri kokoh jika dasarnya kuat dan jujur.
Saya ingin mulai hari ini, tidak ada lagi perbedaan perlakuan berdasarkan jabatan atau latar belakang keluarga di perusahaan ini. Siapa pun yang menghina martabat karyawan saya, berarti ia menghina saya."
Pernyataan itu seperti bom yang meledak di tengah keangkuhan Mahesa Group. Shafira merasakan matanya panas. Ia tidak pernah menyangka Dave akan melakukan pembelaan publik sevulgar ini. Ia melihat rekan-rekannya mulai bertepuk tangan, dimulai dari Riana yang berteriak kecil kegirangan.
Namun, di tengah sorak-sorai itu, sebuah tepuk tangan yang lambat dan sarkastik terdengar dari arah lift VIP.
Bu Sarah melangkah keluar, didampingi oleh Clara yang tampak sangat modis dengan gaun rancangan terbaru. Wajah Bu Sarah merah padam, bibirnya membentuk garis tipis yang penuh kemarahan.
"Luar biasa, Dave. Benar-benar pertunjukan yang mengharukan," ujar Bu Sarah, suaranya cukup keras untuk didengar semua orang. "Sejak kapan CEO Mahesa Group menjadi begitu sentimentil terhadap... pelayan?"
Suasana mendadak senyap. Pak Rahman menunduk dalam, rasa sungkan menyergapnya. Shafira segera menggenggam tangan ayahnya, matanya menatap Bu Sarah dengan berani.
"Ma, ini bukan tempatnya untuk berdebat," bisik Dave, mencoba menahan amarah yang mulai naik ke ubun-ubun.
"Justru ini tempat yang paling tepat!" sahut Bu Sarah. Ia mendekati Shafira, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Kau pikir dengan membawa ayahmu ke sini dan mencuci otak putraku, kau bisa naik kelas? Kau tetaplah putri seorang tukang kebun. Hijabmu itu... tidak bisa menutupi asal-usulmu yang rendah."
"Cukup, Ma!" bentak Dave. Kali ini ia tidak bisa menahan diri. "Jika Mama terus bicara seperti itu, Mama bukan hanya mempermalukan diri sendiri, tapi juga mempermalukan Ayah yang sedang sakit di rumah. Shafira tidak pernah meminta ini. Aku yang memintanya kembali karena aku sadar perusahaan ini butuh orang jujur, bukan orang yang hanya tahu cara menghabiskan uang untuk gaya hidup!"
Clara, yang sejak tadi diam, mulai angkat bicara dengan nada manja yang dibuat-buat. "Dave, jangan bicara begitu pada Tante Sarah. Dia hanya ingin yang terbaik untukmu. Lagipula, apa kata kolega bisnis kita nanti kalau tahu kau lebih membela staf biasa daripada ibumu sendiri?"
Shafira menarik napas panjang. Ia melangkah maju satu tindak, berdiri tepat di depan Bu Sarah. Tidak ada amarah di wajahnya, hanya ketenangan yang menghujam.
"Ibu Sarah," ujar Shafira lembut. "Saya menghormati Ibu sebagai ibu dari atasan saya. Saya juga menghormati Ibu sebagai wanita yang luar biasa. Namun, kemuliaan seseorang di mata Tuhan tidak ditentukan oleh siapa ayahnya atau apa pekerjaannya. Ayah saya memang tukang kebun, tapi tangannya yang kotor itulah yang memberi saya makan dari harta yang halal. Bagi saya, itu jauh lebih berharga daripada tahta yang dibangun di atas kesombongan."
Shafira menoleh ke arah Dave. "Pak Dave, terima kasih atas pembelaannya. Saya akan kembali bekerja sekarang. Ayah, ayo kita pulang dulu, biar Farhan tidak menunggu."
Shafira mengajak ayahnya pergi, melewati Bu Sarah dan Clara tanpa rasa takut sedikit pun. Dave terpaku melihat punggung gadis itu. Ada rasa kagum yang makin dalam, namun juga rasa takut. Ia tahu, ibunya tidak akan berhenti di sini.
"Dave," Bu Sarah berbisik tepat di telinga putranya saat Shafira sudah menjauh. "Kau mungkin menang hari ini. Tapi ingat, posisi CEO-mu bisa kucabut kapan saja melalui dewan komisaris jika kau membuat malu keluarga. Pilihannya ada padamu: gadis itu, atau kerajaan Mahesa."
Bu Sarah pergi dengan langkah angkuh, meninggalkan Dave yang berdiri sendirian di tengah aula. Ia melihat ke arah tangannya yang gemetar. Ia baru saja menyatakan perang terhadap keluarganya sendiri demi seorang gadis yang bahkan belum tentu memiliki perasaan yang sama dengannya.
Di dalam hatinya, Dave bertanya-tanya: Sampai kapan aku bisa melindunginya?
Sementara itu, di lantai keuangan, Shafira duduk di mejanya. Ia membuka laci dan menemukan sebuah mushaf kecil yang selalu ia bawa. Ia membukanya secara acak dan matanya tertuju pada satu ayat: "Dan bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar."
Air matanya jatuh mengenai lembaran kertas suci itu. Ia tahu, episode kehidupan berikutnya akan jauh lebih berat. Clara bukan hanya sekadar wanita manja, dan Bu Sarah bukan sekadar ibu yang protektif. Mereka adalah badai yang siap meruntuhkan mahkota yang ia jaga.
.