“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 5 - CH 26 : Awal Mula Bara’s Kitchen
Pukul 14.00 WIB. Ruko Bara's Kitchen sedang berada dalam fase paling damai: Jam istirahat siang setelah rush hour pesanan ojek online.
Sinar matahari menembus kaca etalase depan, menyoroti debu-debu halus yang menari di udara. Suara mesin mixer yang biasanya meraung kasar kini diam membisu. Di balik meja kasir, Bara sedang sibuk menekan kalkulator dengan kecepatan kilat, wajahnya berkerut serius menghitung selisih harga mentega yang naik seribu rupiah per kilogram.
Di sudut ruangan, Lintang sedang duduk selonjoran di atas tikar plastik sambil mengecat kuku tangannya dengan kuteks warna merah menyala. Sementara Mang Ojak sedang melipat tumpukan dus packaging dengan gerakan ritmis yang sudah sangat terlatih.
"Mas Bara, ini wi-fi ruko lu belum bayar ya? Lemot banget sumpah, gue mau checkout keranjang Shopee aja loading-nya muter mulu kayak gasing," gerutu Lintang, meniup-niup kukunya yang basah.
"Sengaja gue batesin bandwidth-nya. Kalo dibikin kenceng ntar lu pada kerjaannya nonton drakor doang," sahut Bara tanpa menoleh dari layar kalkulatornya. "Fokus kerja, Tang. Bentar lagi shift sore mulai."
Lintang mencibir, memutar bola matanya malas. Gadis itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah pria paruh baya di sebelahnya.
"Mang Ojak," panggil Lintang iseng.
"Iya, Neng? Kenapa? Kuteksnya tumpah?" Mang Ojak menoleh.
"Nggak. Gue tiba-tiba kepo deh," Lintang menopang dagu dengan satu tangannya yang belum dicat. "Gue kan masuk ke ruko ini baru sekitar delapan bulanan yang lalu. Nah, lu kan ibaratnya sesepuh founding father di sini nih. Kok bisa sih lu betah kerja sama Bos Tiran pelit ini dari zaman ruko ini masih sepi? Lu ketemunya di mana dah? Lewat JobStreet?"
Mendengar pertanyaan itu, Bara menghentikan gerakan jarinya di atas kalkulator. Dia melirik sekilas dari balik meja kasir, tapi tidak menyela.
Mang Ojak terkekeh pelan, meletakkan dus kardus yang sudah dilipatnya. Pria paruh baya itu tersenyum bernostalgia.
"Boro-boro JobStreet, Neng. Den Bara mah dulu mana ngerti open recruitment pake HRD segala," kekeh Mang Ojak. "Abah ketemu Den Bara tuh di Pasar Induk. Sekitar... yah, hampir tiga tahun yang lalu lah. Waktu itu Abah belum kerja di F&B, profesi Abah mah tukang ojek pangkalan."
Lintang melongo. Kuteks di tangannya nyaris menyenggol bajunya. "Hah?! Ojek pangkalan? Serius lu, Mang? Terus gimana ceritanya dari tukang ojek bisa di- convert jadi asisten koki?"
"Waktu itu tuh siang-siang bolong, panasnya nyengat banget..." Mang Ojak mulai bercerita, matanya menerawang menembus waktu.
[TIGA TAHUN LALU - BEBERAPA BULAN SETELAH MASA DUKA BARA]
Pasar Induk Kota X sangat ramai dan sumpek. Bau sayur busuk, ikan segar, dan asap knalpot bercampur menjadi satu.
Di salah satu sudut pangkalan ojek, Mang Ojak yang saat itu mengenakan jaket kulit imitasi yang sudah mengelupas, sedang duduk mengipasi wajahnya pakai kardus bekas. Motor Supra bututnya terparkir di sebelahnya. Penumpang sedang sepi, dan persaingan dengan ojek online sedang ganas-ganasnya.
Tiba-tiba, dari arah los sembako, muncullah seorang pemuda kurus dengan rambut sedikit gondrong yang berantakan, mengenakan kaos oblong hitam dan celana jeans pudar. Kantung matanya sangat hitam, dan wajahnya datar tanpa ekspresi, memancarkan aura orang yang sudah lelah hidup tapi menolak untuk mati. Itu adalah Bara Mahendra di bulan-bulan pertamanya banting setir menjadi penjual roti rumahan.
Pemuda itu menyeret dua karung tepung terigu masing-masing seberat 25 kilogram dengan napas tersengal-sengal. Di lehernya tergantung kantong plastik besar berisi balok-balok mentega curah dan ragi.
"Ojek, Bang! Ojek!" tawar teman-teman Mang Ojak di pangkalan.
"Berapa ke Ruko Jalan Kenanga?" tanya Bara, suaranya serak dan dingin.
"Wah, Ruko Kenanga mah lumayan jauh, Bang. Bawaan abang juga berat tuh dua karung. Lima puluh ribu lah," jawab salah satu tukang ojek.
Mata Bara seketika melotot, urat di lehernya menonjol. "Lima puluh ribu mata lu! Jaraknya cuma tiga kilometer! Ongkos bensin motor lu cuma tujuh ribu perak! Tiga puluh ribu, mau nggak?!"
Tukang ojek itu mencibir. "Dih, pelit amat. Bawa aja sendiri tuh karung pake gerobak dorong!"
Bara mendecih kesal. Dia sudah siap mengangkat karung itu sendiri dan berjalan kaki, saat Mang Ojak tiba-tiba berdiri dan mendekat.
"Tiga puluh ribu ayo, Jang. Abah anterin. Nggak apa-apa," tawar Mang Ojak ramah, tersenyum hangat meski giginya sudah tidak lengkap. "Biar tepungnya Abah yang iketin di jok belakang Supra. Ujang duduk di depan aja mepet Abah."
Bara menatap pria tua itu dengan curiga, namun karena bahunya sudah nyaris putus, dia akhirnya mengangguk. "Tiga puluh ribu pas. Nggak ada tip tambahan."
"Iya, Jang, aman."
Sepanjang perjalanan yang panas dan macet itu, Bara mengamati Mang Ojak. Pria tua ini mengendarai motor dengan sangat hati-hati agar tepung Bara tidak jatuh. Sesampainya di Ruko Bara's Kitchen yang saat itu masih sangat kosong, kumuh, dan hanya berisi satu oven gas bekas serta meja kayu Mang Ojak dengan inisiatif membantu memanggul karung tepung itu masuk ke dalam tanpa diminta.
Bara berdiri di depan pintu, mengelap keringatnya. Dia melihat ke sekeliling rukonya. Dia baru saja merintis bisnis online ini. Roti sobek dan brownies buatannya mulai laku di grup Facebook dan WhatsApp warga sekitar. Tapi ada satu masalah besar: Bara sendirian. Dia yang mengadon, dia yang memanggang, dia yang membalas pesan pembeli, dan dia juga yang harus mengantar pesanan ke rumah pembeli pakai sepeda butut.
Tubuh Bara sudah berada di ambang batas hancur. Dia butuh kurir. Dia butuh asisten. Tapi dia tidak punya banyak uang untuk menggaji orang profesional.
Bara menatap Mang Ojak yang sedang menepuk-nepuk debu tepung dari celananya.
"Pak," panggil Bara mendadak.
"Iya, Jang? Ini tepungnya udah Abah taruh di pojok ya. Aman dari tikus," Mang Ojak tersenyum, bersiap menerima uang tiga puluh ribunya.
"Sehari ngojek dapet berapa bersihnya?"
Mang Ojak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Yah... nggak nentu, Jang. Kadang lima puluh ribu, kadang cuma bawa pulang dua puluh ribu kalau lagi sepi."
Bara terdiam sejenak. Otak kapitalisnya berhitung cepat.
"Bapak mau kerja sama saya?" tawar Bara to the point. Nada suaranya datar, tanpa basa-basi. "Ruko ini jualan roti. Orderan mulai banyak, tapi saya nggak bisa anter barang sendiri. Tugas bapak cuma anter pesanan pelanggan pakai motor Supra bapak, sekalian bantu-bantu nyapu ruko."
"Kerja... ikut Ujang?" Mang Ojak melongo.
"Gaji mungkin belum bisa gede. Di bawah UMR. Tapi bapak dapet uang bensin operasional harian, dan... bapak dapet makan siang gratis tiap hari dari saya," Bara memberikan penawaran terbaiknya yang sangat realistis. "Kalau setuju, besok pagi jam enam bapak standby di sini."
Mang Ojak menatap wajah pemuda itu. Di balik wajahnya yang galak, kantung matanya yang hitam, dan sikapnya yang sangat perhitungan, Mang Ojak bisa melihat gurat keputusasaan dan kegigihan yang luar biasa. Pria tua itu tersenyum.
"Bismillah, Jang. Abah terima. Daripada ngojek nggak pasti, mending Abah ikut Ujang. Namanya siapa, Jang?"
"Bara."
[MASA SEKARANG]
"Nah, gitu ceritanya, Neng," Mang Ojak menutup ceritanya sambil tertawa geli. "Gara-gara nganterin dua karung tepung terigu, Abah malah keterusan jadi kurir, kang sapu, sampe tukang kupas telur di sini."
Lintang tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. Kuteks di jarinya sampai melenceng.
"Sumpah, Mas! Lu nge-rekrut karyawan kayak lagi nawar ikan di pasar! Gak ada elegan-elegannya sama sekali!" ejek Lintang, menunjuk wajah bosnya. "Mang Ojak di-scam berkedok makan siang gratis! Pantesan sekarang dia dikerjain mulu suruh packing ratusan kotak sendirian."
Bara mendengus pelan, tapi tidak bisa menyembunyikan senyum tipis di sudut bibirnya. Dia berjalan keluar dari balik meja kasir, membawa sebotol air dingin.
"Itu namanya simbiosis mutualisme, Tang. Mang Ojak butuh gaji pasti, gue butuh tenaga. Dan buktinya dia betah kan sampe sekarang?" bela Bara santai. Dia menepuk bahu Mang Ojak sekilas. "Kalau nggak ada Supra bututnya Mang Ojak zaman dulu, pesenan brownies gue nggak bakal nyampe ke customer tepat waktu."
"Betul itu, Neng. Lagian Den Bara mah kelihatannya aja galak sama pelit, aslinya mah baik pisan," Mang Ojak mengangguk-angguk membela bosnya. "Pas zaman Abah sakit tipes tahun lalu, Den Bara yang nebusin obatnya."
"Halah, palingan obatnya potong gaji kan ujung-ujungnya?" cibir Lintang.
Bara hanya nyengir tanpa membantah, kembali meneguk air mineralnya. Suasana ruko itu terasa hangat dan nyaman. Mereka bertiga, dari latar belakang yang sama sekali tidak nyambung, telah membentuk sebuah keluarga disfungsional namun solid di dalam ruko bau vanila tersebut.
Mang Ojak kembali menyusun kardus, wajahnya masih memancarkan aura nostalgia.
"Tapi beneran deh, masa-masa awal kita buka ruko ini kerasa banget perjuangannya," gumam Mang Ojak pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Apalagi kalau inget... Ibuk."
Gerakan tangan Bara yang sedang menutup botol air mineral mendadak terhenti di udara.
Lintang yang tadinya masih cengengesan, perlahan menutup mulutnya, merasakan perubahan suhu di dalam ruko yang mendadak terasa dingin. Bukan karena AC, melainkan karena perubahan aura bosnya.
"Ibuk?" Lintang membeo pelan, menatap Mang Ojak.
Mang Ojak yang tidak menyadari perubahan suasana itu, melanjutkan dengan polosnya. "Iya, ibunya Den Bara. Neng Lintang mah belum pernah ketemu ya? Waktu bulan-bulan pertama Abah kerja di sini, Ibuk teh sering banget mampir ke ruko."
Mang Ojak tersenyum hangat, mengingat sosok wanita paruh baya yang sangat lembut itu. "Ibuk sering dateng siang-siang, bawain rantang susun isi sayur lodeh, tempe mendoan, sama sambel terasi buat makan siang kita. Ibuk juga yang sering ngingetin Den Bara biar jangan kebanyakan begadang."
Mang Ojak lalu menghentikan lipatan kardusnya. Dia menoleh ke arah Bara dengan raut wajah murni penuh rasa rindu dan penasaran.
"Ngomong-ngomong... Den Bara, Ibuk teh ke mana ya sekarang?" tanya Mang Ojak dengan polos. "Udah mau tiga tahun Abah nggak pernah liat Ibuk lagi dateng jenguk ke ruko. Ibuk pulang ke kampung apa gimana, Den? Kapan-kapan ajak ke sini lagi atuh, Abah kangen sayur lodeh buatan Ibuk."
Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Bara yang sedang menutup botol air mineral mendadak terhenti.
Lintang yang tadinya masih cengengesan, perlahan menutup mulutnya. Dia bersiap melihat bosnya meledak marah atau melempar botol, seperti biasanya jika ada yang berani mencampuri urusan pribadinya.
Namun, hal itu sama sekali tidak terjadi.
Bara perlahan meletakkan botol air mineralnya di atas meja. Tidak ada urat leher yang menonjol, tidak ada aura intimidasi. Sebaliknya, sorot mata Bara mendadak meredup. Ada kilatan kesedihan sekaligus kerinduan yang sangat dalam memancar dari mata sang koki tiran tersebut.
Pikiran Bara langsung melayang pada panggilan telepon yang baru saja diterimanya pagi tadi. Suara batuk ibunya yang parau dari seberang telepon masih terngiang jelas. Ibunya sedang sakit di kampung.
Bara menarik napas pelan, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman tipis. Senyuman tulus yang sangat jarang dia perlihatkan di ruko ini.
"Ibu baik kok, Mang," jawab Bara, suaranya terdengar jauh lebih lembut dan tenang dari biasanya. "Ibu emang lagi di kampung sekarang. Tadi pagi kebetulan nelpon, ngabarin kalau badannya lagi kurang enak. Masuk angin biasa katanya."
Mang Ojak mengangguk-angguk lega, menepuk dadanya pelan. "Syukur Alhamdulillah atuh kalau Ibuk nggak kenapa-napa. Abah teh kangen berat."
"Palingan lusa gue mau tutup ruko setengah hari," lanjut Bara, mengalihkan pandangannya ke luar kaca etalase ruko. "Gue mau bawa Si Putih ke kampung. Mau ngejemput Ibu buat dibawa ke mari aja, sekalian cek ke dokter. Biar gampang gue rawat disini."
Lintang tertegun di tempatnya duduk. Untuk pertama kalinya sejak dia bekerja di sini, dia melihat sosok bos yang selalu dia anggap sebagai wujud asli kapitalisme tak berperasaan, kini terlihat layaknya seorang anak laki-laki biasa yang sangat menyayangi ibunya.
"Siap, Den! Nanti Abah bantu sapu dan pel ruko sampe kinclong biar Ibuk nyaman tidurnya!" seru Mang Ojak bersemangat.
Bara hanya mengangguk pelan. Tatapannya masih tertuju ke jalanan di luar, menyembunyikan rasa cemas yang perlahan menggerogoti hatinya.
Maaf ya, Bu. Lusa Bara bisa pulang. batinnya berjanji dalam diam.