“Aku perintahkan kau untuk menjaga Lea dalam kondisi apapun.” — Martin De Gaulle
Begitulah awal mula semuanya.
Sebuah perintah yang mengikat Elios Leopold—tangan kanan sang Godfather. Pria dingin, berbahaya, dan setia tanpa syarat.
Elios selalu ada di sisi Lea—Eleanore Moreau. Menjaga, melindungi, dan memastikan gadis itu tak pernah sendirian. Dari kedekatan yang terus terjalin, perasaan pun tumbuh seiring berjalannya waktu.
Lea menyadari perasaannya lebih dulu. Tapi Elios… tidak.
“Aku akan menjadi apapun yang kau mau. Mama, Papa, saudara dan sahabat. Asal kau yang meminta, aku akan mewujudkannya.” — Elios Leopold
Ucapan itu membuat Lea berharap. Namun, di saat Lea mengucapkan permintaannya, akankah Elios mampu menepatinya?
Dari perlindungan lahir ketergantungan.
Dari kedekatan tumbuh hasrat yang terlarang.
Jika Elios mengabulkan permintaan itu, akankah Lea sanggup menghadapi kegilaan pria berbahaya yang telah menjadikannya satu-satunya tujuan hidup?
Terjerat Hasrat Monsieur Leopold
Yuk baca novel ini guys!
Seperti apa kisah protektif, posesif dan obsesi Monsieur Leopold terhadap bidikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan yang Sama
...“Harapanku selalu sama... dari tahun ke tahun. Tak pernah berubah.” — Eleanore Moreau...
Siang itu, matahari menggantung tinggi di atas Pantai Pink Lombok, memantulkan cahaya keemasan yang membuat pasir berwarna merah muda itu tampak seperti hamparan kelopak mawar yang terbentang hingga ke tepi laut.
Hotel mereka berdiri tak jauh dari garis pantai. Dari balkon kamar, suara ombak terdengar samar, seolah menjadi saksi bisu dari gairah dua orang yang saling melampiaskan hasrat yang tertahan.
“Akh!” erang Lea pelan saat Elios mendaratkan bibirnya tepat ke atas dada Lea. Tubuh bagian atasnya kini sudah tak lagi berbusana, menyisakan celana training yang ia kenakan sejak pagi tadi.
Elios melahap pucuk ranum itu dengan penuh bersemangat. Di siang bolong itu ia seperti sedang melepaskan dahaga melalui dada gadis itu. Dan di saat yang sama—
Ting! Tong!
Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Lea terusik dengan bel yang terus berbunyi itu. Elios tak ingin mempedulikan bel tersebut, tapi Lea memegang kedua bahunya yang kokoh.
“Sepertinya ada sesuatu,” ucap Lea dengan napas yang terengah-engah.
“Biarkan saja.” Elios yang tahu siapa itu, ia berusaha untuk tak mempedulikan bel yang berisik tersebut.
Ting! Tong!
“Akh!” Lea meringis pelan saat Elios menggigit nakal pucuk dadanya. “Eli... nanti kita lanjutkan.”
Mendengarkan ucapan Lea, akhirnya Elios memutuskan untuk menyudahi hasrat yang sedang menggebu-gebu itu. Ini yang kesekian kali hasratnya tertahan dan tak bisa disalurkan dengan sempurna. Selalu ada saja yang mengganggu dan membuat aktifitasnya terjeda.
Lea bergegas mengenakan kaosnya tanpa mengenakan bra, tapi Elios tidak menyukai hal tersebut.
“Pakai bra,” ucap Elios sambil menyerahkan kacamat berwarna pink muda itu.
Lea terkekeh pelan. Ia memasang bra tersebut, lalu mengenakan kaos coklatnya. Dan setelah itu ia bergegas menuju ke pintu kamar.
“Surprise!” seru Sovia sambil meniupkan trompet ulang tahun ke arah Lea.
“Happy birthday, Mademoiselle!” seru Frank dan Brad secara bersamaan.
Lea menerima kejutan tersebut dengan wajah yang sangat girang. Sementara Elios, ia berdiri bersandar di dinding pintu kamar sambil melipat kedua tangannya ke dada. Tatapan bahagia saat melihat gadis yang ia cintai sedang berbahagia.
“Kalian merencanakan ini?” tanya Lea sambil memegang topi kerucut yang dikenakan oleh Sovia kepadanya.
“Semua ini idenya Monsieur,” papar Frank yang sejak tadi memegang cake dengan lilin angka 18 sedang menyala di atasnya.
“Iya, ideku,” gumam Elios pelan. Ia menyesali idenya yang membuat hasratnya kembali terjeda untuk yang kesekian kalinya. Setelah bergumam pelan, ia melangkah mendekat ke arah empat orang itu.
“Jadi,” Frank mendekatkan cake yang ia pegang ke hadapan Lea, “apa keinginan Anda tahun ini?”
Lea melirik ke arah Elios. Sesaat kemudian ia tersenyum simpul. Sebuah senyuman yang bermakna. Ia segera mengatupkan kedua tangannya ke dada, kemudian memejamkan mata sambil mengucapkan harapannya.
“Harapanku selalu sama... dari tahun ke tahun. Tak pernah berubah,” batin Lea penuh harap. “Aku ingin... Elios Leopold menjadi milikku seutuhnya.”
Usai mengucapkan permintaannya dalam diam, Lea meniup lilin tersebut dalam sekali hembusan. Ruangan itu penuh dengan suka cita. Terlebih lagi saat Lea mencolek krim cake tersebut, kemudian ia oleskan ke wajah Elios. Lalu ia bersembunyi ke belakang Sovia.
“Eleanoreee...” geram Elios pelan, namun penuh penekanan. Tak terima dengan keusilan Lea, ia pun mencolek krim cake tersebut dan berusaha meraih tubuh Lea yang kecil bersembunyi di belakang Sovia. Tapi sayang, hampir saja tangan Elios mengenai wajah Lea melalu bahu Sovia, gadis itu mendorong Sovia sehingga Sovia yang terkena krim.
Ruangan itu menjadi heboh seketika. Sovia mencolek krim dan mengoleskannya dengan cepat ke wajah Frank yang saat itu tak bisa berbuat apa-apa. Pasalnya dia yang memegang cake tersebut. Tapi ia tak ingin kalah. Ia meletakkan cake tersebut dan mencolek krim. Lalu berusaha mengejar Sovia.
Brad mematung sendiri menikmati keseruan tersebut. Awalnya ia terkekeh tanpa henti karena lelucon tersebut. Tapi seketika ia sadar, tak ada yang ingin mengajak ia menikmati keseruan tersebut. Ia hanya bisa tersenyum hambar.
Melihat Brad yang tidak menikmati keseruan tersebut, Lea menoleh ke arah Frank dan Sovia yang sibuk kejar-kejaran berdua. Ia paling paham seperti apa rasanya cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ia pun mencolek krim cake tadi, lalu diam-diam mengoleskannya ke wajah Brad.
“Kena!” seru Lea sesaat sebelum ia berlari ke arah Elios dan bersembunyi di balik tubuh kekar pria itu.
“Wah,” Brad menggeleng pelan. “Anda tidak boleh curang, Mademoiselle.”
“Bisa-bisanya Anda bersembunyi di belakang orang yang saya takuti,” imbuhnya sambil menatap usil ke arah Elios.
Dengan sengaja Elios menepi, memberi kesempatan pada Brad untuk mengejar Lea. Ia tahu, hari ini adalah hari kebebasan untuk mereka semua bersenang-senang. Tanpa jabatan. Dan tanpa kekhawatiran.
Siang itu berlalu dengan penuh kegembiraan, sampai Lea menyadari perutnya keroncongan. Mereka memutuskan untuk mengakhiri kegembiraan tersebut dan menuju ke restoran untuk menyantap makan siang.
Makan siang berlalu dengan tenang dan tak lagi ada tembok yang menjulang tinggi di antara Elios dan Lea. Bahkan, tiga orang anak buahnya pun sadar, bahwa hari ini... ketegangan antara Lea dan Elios sudah berakhir. Sayangnya... liburan mereka harus berakhir hari ini.
Siang harinya, saat waktunya tidur siang, Elios mengetuk pelan pintu kamar Lea.
“Lea?” panggilnya sesaat sebelum membuka pintu kamar. Sesaat kemudian ia melihat gadis itu sudah tertidur dengan sangat lelap tanpa beban. Ia tersenyum tipis dan melangkah mendekat ke arah ranjang gadis itu.
Tanpa rasa khawatir, Elios tidur di samping Lea dan memeluk gadis itu dari belakang.
“Tidurlah dengan nyenyak, karena malam ini kau tak akan kubiarkan tidur,” batin Elios bertekad.
...****************...
Bersambung....