Reyhan, pengusaha sukses dengan masa kecil yang pahit, terpaksa menikahi Alya wanita yang pernah ia tinggalkan saat hamil enam tahun lalu. Pernikahan kontrak yang dingin mulai berubah ketika kehadiran putra mereka, Arka, anak jenius dengan IQ 152, perlahan meruntuhkan tembok hati Reyhan.
Di tengah proses belajar menjadi ayah dan suami, luka masa lalu Reyhan mulai sembuh. Ditambah kelahiran putri kecil mereka, Kirana, keluarga yang dulu hancur ini perlahan menemukan keutuhannya.
Kisah tentang kesempatan kedua, penyembuhan luka, dan cinta tanpa syarat yang akhirnya ditemukan setelah sekian lama hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Kecemburuan Pertama
Senin pagi, rutinitas kembali seperti biasa. Reyhan mengantar Arka ke sekolah sebelum berangkat ke kantor, sementara Alya membereskan rumah dan menyiapkan segala sesuatu untuk hari itu.
Tapi pagi ini ada yang berbeda.
Ketika Reyhan mengantar Arka, seorang wanita muda sekitar akhir dua puluhan berdiri di gerbang sekolah. Ia mengenakan blazer rapi dan rok pensil, rambut panjang tergerai, makeup sempurna. Wanita itu tersenyum ramah begitu melihat Reyhan.
“Pak Reyhan?” sapanya dengan nada ceria.
Reyhan menoleh, sedikit bingung. “Ya? Maaf, Anda…”
“Oh, maaf! Saya Karina, guru baru di kelas Arka.” Wanita itu mengulurkan tangan dengan senyum lebar. “Saya ingin kenalan dengan orang tua murid. Arka anak yang luar biasa! Sangat cerdas!”
Reyhan menjabat tangannya dengan sopan. “Terima kasih. Senang mendengar itu.”
“Saya dengar Arka sangat dekat dengan Bapak. Jarang sekali ada ayah yang rutin antar-jemput anak setiap hari.” Karina tersenyum senyum yang sedikit terlalu lama, terlalu manis.
“Itu tanggung jawab saya,” jawab Reyhan dengan nada datar, nada profesional yang biasa ia pakai di kantor.
“Wah, Bapak suami yang sangat baik. Istri Bapak pasti beruntung.”
Reyhan hanya tersenyum tipis, tak menanggapi lebih jauh.
Arka yang berdiri di samping Reyhan menatap Karina dengan tatapan curiga. Matanya menyipit, seperti sedang menganalisis sesuatu.
“Ayah, aku masuk duluan ya. Udah mau telat,” kata Arka tiba-tiba sambil menarik tangan Reyhan.
“Oh, iya. Hati-hati ya, Nak. Belajar yang baik.”
Arka memeluk Reyhan sekilas, lalu berbisik pelan di telinga ayahnya cukup pelan agar Karina tak mendengar. “Ayah, guru itu… senyumnya aneh. Kayak orang yang lagi bohong.”
Reyhan hampir tertawa mendengar analisis Arka yang terlalu dewasa. Ia mengusap kepala anaknya dengan lembut. “Udah sana masuk. Jangan mikirin yang aneh-aneh.”
Arka mengangguk, lalu berlari masuk sekolah tapi sesekali menoleh ke belakang, menatap Karina dengan tatapan waspada.
Reyhan berpamitan dengan sopan, lalu masuk ke mobil dan berangkat ke kantor.
Tapi ia tak tahu Karina menatap mobilnya dengan senyum yang tak sampai ke mata.
Reyhan Mahardika. CEO muda, tampan, kaya raya. Dan sepertinya… sudah menikah. Sayang sekali.
Pukul dua siang
Hari ini Reyhan ada meeting penting yang tak bisa ditinggalkan, jadi Alya yang menjemput Arka.
Ketika ia sampai di sekolah, ia melihat Karina sedang berbicara dengan beberapa orang tua murid di dekat gerbang. Wanita itu tertawa riang, gesturnya energik dan menarik perhatian.
Alya tak terlalu memikirkannya sampai Karina menghampirinya dengan senyum lebar.
“Ibu Alya, ya? Ibunya Arka?” tanya Karina dengan nada ramah.
Alya mengangguk. “Iya, benar. Anda…”
“Saya Karina, guru baru Arka. Wah, Arka anak yang luar biasa! Jenius banget! Tadi pagi saya sempat kenalan sama suami Ibu juga. Pak Reyhan, kan?”
Alya tersenyum, tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya mendengar cara Karina menyebut nama Reyhan terlalu… akrab.
“Iya, suami saya.”
“Wah, Ibu beruntung banget punya suami kayak Pak Reyhan. Tampan, perhatian, dan jelas sukses. Jarang lho ada ayah yang mau rutin antar-jemput anak.”
Alya tersenyum sopan, tapi senyumnya tak sampai ke mata. “Terima kasih. Suami saya memang sangat peduli dengan Arka.”
“Pasti Ibu dan Pak Reyhan pasangan yang romantis ya?” Karina tertawa tawa yang terdengar… menggoda?
Sebelum Alya sempat menjawab, Arka keluar dari gerbang dan langsung menghampiri ibunya.
“Mama!” panggilnya sambil memeluk pinggang Alya.
“Sayang, gimana sekolahnya?” tanya Alya sambil mengusap kepala Arka.
“Baik. Ayo pulang, Ma. Aku laper.”
Alya mengangguk, lalu berpamitan dengan Karina dengan sopan meski perasaan tak nyaman terus mengganggunya.
Di perjalanan pulang, Arka tiba-tiba berkata, “Ma, aku nggak suka sama Bu Karina.”
Alya menoleh pada Arka yang duduk di sampingnya. “Kenapa?”
“Dia… aneh. Senyumnya palsu. Terus tadi pagi dia ngomong sama Ayah dengan nada yang… nggak sopan.”
Alya merasakan dadanya sesak. “Nggak sopan gimana?”
“Kayak… kayak dia lagi… menggoda! Iya, menggoda Ayah!”
Alya terdiam. Ia tak ingin mengakui, tapi ia merasakan hal yang sama tadi.
“Arka, jangan mikirin yang aneh-aneh. Bu Karina cuma ramah aja.”
“Tapi Mama… Mama nggak suka kan sama Bu Karina?”
Alya tak bisa menjawab. Karena jujur… ia memang tak suka.
Pukul tujuh malam
Reyhan pulang dengan wajah lelah meeting hari ini sangat melelahkan. Tapi begitu melihat Alya, kelelahannya sedikit terobati.
“Alya, aku pulang,” sapanya sambil melepas sepatu.
“Selamat datang. Makan malam udah siap,” jawab Alya, tapi nadanya… datar. Tak sehangat biasanya.
Reyhan mengerutkan kening. “Kamu… kenapa? Ada yang salah?”
“Nggak ada kok.” Alya tersenyum, tapi senyumnya tak sampai ke mata.
Reyhan tahu ada yang tak beres. Ia mengikuti Alya ke dapur, berdiri di belakangnya. “Alya, cerita sama aku. Ada apa?”
“Nggak ada apa-apa, Rey. Aku cuma… capek.”
“Bohong. Aku kenal kamu sekarang. Kalau kamu capek, kamu tetap senyum. Tapi sekarang… kamu nggak senyum.”
Alya berhenti mengaduk masakan, menghela napas panjang. Lalu ia berbalik, menatap Reyhan dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Rey… kamu kenal guru baru Arka? Namanya Karina?”
Reyhan berpikir sejenak. “Oh, yang tadi pagi? Iya, kenapa?”
“Dia… gimana orangnya?”
Reyhan mengangkat bahu. “Biasa aja. Ramah, profesional. Kenapa memangnya?”
Alya menggigit bibir bawahnya tanda ia sedang gugup atau marah. “Dia… tadi ngomong padaku. Bilang kamu tampan, perhatian, sukses. Terus dia tanya apakah kita pasangan yang romantis.”
Reyhan terdiam. Lalu ia tersenyum tipis bukan senyum menganggap remeh, tapi senyum… geli.
“Alya… kamu cemburu?”
Wajah Alya langsung merah. “A-aku nggak cemburu!”
“Kamu cemburu,” kata Reyhan sambil melangkah lebih dekat. “Dan itu… lucu banget.”
“Ini nggak lucu, Rey!” protes Alya sambil mundur, tapi punggungnya sudah menyentuh meja dapur.
Reyhan terus maju sampai jarak mereka sangat dekat. Ia meletakkan kedua tangannya di meja, mengurung Alya di antara kedua lengannya.
“Alya, dengerin aku baik-baik,” bisiknya dengan nada serius tapi lembut. “Aku nggak peduli seberapa cantik, ramah, atau apapun wanita lain. Aku cuma peduli sama kamu. Cuma kamu.”
Jantung Alya berdegup kencang. “Tapi… tapi dia”
“Dia bukan siapa-siapa,” potong Reyhan tegas. “Kamu adalah istri aku. Ibu dari anak aku. Wanita yang aku cintai. Nggak ada yang bisa gantiin kamu, Alya. Nggak ada.”
Air mata Alya menggenang entah karena lega, bahagia, atau masih sedikit cemburu.
“Rey…”
“Dan kalau kamu cemburu lagi di masa depan,” lanjut Reyhan sambil tersenyum nakal, “langsung bilang aja ke aku. Jangan dipendam. Karena aku… suka lihat kamu cemburu. Lucu.”
“Rey! Aku serius!” Alya memukul dada Reyhan pelan, tapi tak bisa menyembunyikan senyumnya.
Reyhan tertawa, lalu menarik Alya ke dalam pelukannya. “Aku juga serius. Aku cuma mau kamu tahu… nggak ada wanita lain yang bisa bikin aku merasa kayak gini. Cuma kamu.”
Alya membenamkan wajahnya di dada Reyhan, menghirup aroma cologne yang menenangkan. “Maaf… aku jadi kayak istri posesif.”
“Aku suka kamu posesif. Artinya kamu peduli sama aku.”
Alya tertawa pelan tawa yang akhirnya tulus. “Kamu… menyebalkan.”
“Tapi kamu sayang aku kan?”
“Iya… aku sayang kamu.”
Reyhan tersenyum lebar, lalu mencium puncak kepala Alya dengan lembut ciuman penuh kasih sayang.
Esok pagi
Pagi harinya, ketika Reyhan mengantar Arka, Karina kembali menyapa dengan ramah. Tapi kali ini Reyhan lebih berhati-hati.
“Selamat pagi, Pak Reyhan!” sapa Karina dengan senyum lebar.
“Pagi,” jawab Reyhan singkat, nada bicaranya profesional dan dingin.
“Wah, Bapak rajin sekali. Setiap hari antar Arka. Istri Bapak pasti sangat bersyukur.”
“Iya. Saya sangat mencintai istri saya. Dan anak saya.” Penekanan pada kata “mencintai” sangat jelas.
Karina tersenyum, tapi senyumnya sedikit pudar. “Oh… tentu. Keluarga yang harmonis pasti.”
Reyhan mengangguk, lalu berjongkok di depan Arka. “Nak, belajar yang baik ya. Nanti siang Papa jemput.”
“Oke, Yah. Papa… nanti bilang ke Mama aku sayang Mama ya.”
Reyhan tersenyum. “Kenapa nggak bilang langsung tadi pagi?”
“Aku udah bilang. Tapi aku mau Papa yang bilang juga. Biar Mama lebih senang.”
Reyhan tertawa, lalu mengacak rambut Arka. “Oke. Papa janji.”
Ia memeluk Arka sebentar, lalu berdiri dan berpamitan dengan sopan tanpa memberi kesempatan pada Karina untuk mengobrol lebih lama.
Di mobil, Reyhan langsung mengirim pesan pada Alya:
[Reyhan]: Arka titip pesan: Dia sayang Mama. Dan aku juga sayang kamu. Sangat sayang. Jangan cemburu lagi ya. Kamu satu-satunya wanita dalam hidup aku.
Di rumah, Alya membaca pesan itu dengan senyum lebar senyum yang membuat hatinya terasa ringan.
Ia membalas:
[Alya]: Aku juga sayang kamu, Rey. Dan… maaf kemarin aku cemburu. Aku akan usaha lebih percaya.
[Reyhan]: Nggak apa-apa. Aku seneng kok kamu cemburu. Artinya kamu sayang aku. Dan Alya… kamu adalah satu-satunya. Selamanya.
Alya merasakan air matanya menggenang, tapi air mata bahagia.
Rey… terima kasih sudah bikin aku merasa dicintai.
Sore hari
Sore harinya, Reyhan pulang dengan satu buket bunga mawar merah lagi.
Alya menatapnya dengan bingung. “Rey… kenapa beli bunga lagi? Kan kemarin baru kasih.”
“Karena aku pengen. Dan karena… aku mau istri aku tahu kalau aku serius.” Reyhan menyerahkan bunga itu dengan senyum lembut. “Mulai sekarang, setiap minggu aku akan kasih kamu bunga. Biar kamu nggak lupa kalau aku sayang sama kamu.”
Alya merasakan tenggorokannya menyesak. “Rey… kamu nggak perlu”
“Aku perlu,” potong Reyhan lembut. “Karena aku pengen kamu bahagia. Aku pengen kamu nggak ragu lagi. Aku pengen kamu tahu… kamu adalah prioritas aku.”
Air mata Alya jatuh, tapi ia tersenyum. “Terima kasih, Rey. Terima kasih sudah… mencintai aku.”
Reyhan menarik Alya ke dalam pelukannya. “Nggak ada yang perlu di-terima kasih-in. Mencintai kamu adalah hal termudah yang pernah aku lakukan.”
Dan sore itu, di ruang tamu dengan bunga mawar merah di tangan Alya, mereka berdua merasakan sesuatu yang sangat sederhana tapi sangat berharga.
Cinta yang tulus.
Kepercayaan yang tumbuh.
Keluarga yang semakin utuh.