Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Di rumah kontrakan, Noah yang sedang memantau melalui mikrofon tersembunyi di seragam ibunya, mengepalkan tangan kecilnya.
"Sombong sekali wanita ini," gumam Noah. "Dia bilang dia calon istri Ayah? Mari kita lihat apa dia masih bisa bicara begitu kalau Ayah tahu apa yang dia lakukan di London....Aku tidak akan membiarkan Ayah direbut oleh siapapun....Ayah adalah milikku dan ibu"
Jari-jari Noah bergerak secepat kilat. Ia tidak hanya meretas ponsel Aurel, tapi ia juga masuk ke akun media sosial rahasia milik Aurel.... kemampuan Noah semakin hari semakin pintar.... Di sana, Noah menemukan banyak foto Aurel yang sedang berpesta pora dan menghambur-hamburkan uang keluarga Pratama saat ia berada di London.
"Ibu... bersiaplah," suara Noah masuk ke earpiece Nadine. "Noah akan mengirimkan hadiah ke grup WhatsApp keluarga Pratama sekarang. Tiga... dua... satu... Enter."
Tiba-tiba, suara notifikasi ponsel terdengar serempak dari arah ruang tengah di mana Ardan dan Adelia sedang bersantai. Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan kaget dari Adelia.
"Aurel! Apa-apaan ini?! Foto-foto apa ini?!" suara Adelia terdengar histeris.
Aurel yang masih berdiri di dapur mencoba menindas Nadine langsung pucat pasi. Ia berlari menuju ruang tengah. Sementara itu, Aditya yang juga menerima pesan tersebut di ponselnya, hanya menatap layar dengan dingin sebelum beralih menatap Nadine yang masih tenang memunguti serbet.
Aditya mendekati Nadine, mengabaikan keributan di ruang tengah. "Mona... apa menurutmu, seseorang bisa memalsukan seluruh hidupnya hanya untuk mendapatkan kekuasaan?"
Nadine berdiri, menatap dada suaminya karena ia tak berani menatap mata. "Palsu atau tidak, kebenaran selalu punya cara untuk mencari jalan keluar, Tuan Muda. Seperti air yang mengalir, ia tidak bisa dibendung selamanya."
Aditya terdiam, merasakan getaran aneh lagi di hatinya. "Kamu... benar-benar bukan pelayan biasa."
Nadine mendongak sebentar, membetulkan kacamatanya yang melorot" Saya pelayan anda" jawab Nadine mantap.
"kalau begitu... Saya permisi dulu tuan, masih banyak yang perlu saya kerjakan" pamit Nadine sopan.
Aditya melihat kepergian Nadine dengan dada yang berdebar-debar"tidak mungkin kan Aku tertarik pada pelayan kusam" gumamnya dalam hati. Aditya menggelengkan kepalanya lalu berjalan ke ruang tengah.
___
Suasana di ruang tengah Mansion Pratama seketika berubah menjadi pengadilan dadakan. Layar tablet di tangan Ardan menampilkan foto-foto Aurel yang sedang berpesta pora dengan gaya hidup bebas di kelab malam London, kontras dengan citra gadis santun terpelajar yang selama ini ia jual pada keluarga Pratama.
Aurel berdiri mematung, wajahnya yang tadi kemerahan karena amarah kini pucat pasi seputih kertas. Namun, sebagai wanita yang lihai bersandiwara, ia segera mengeluarkan senjata pamungkasnya, ... air mata buaya.
"Om Ardan, Tante Adelia... tolong dengarkan Aurel!" isaknya sambil berlutut di depan Adelia. "Itu... itu semua jebakan! Foto-foto itu diambil saat perayaan kelulusan teman-teman Aurelb 5 tahun yang lalu. Aurel hanya dipaksa ikut foto. Ada orang yang sengaja ingin menghancurkan reputasi Aurel agar tidak bisa bersanding dengan Aditya!"
Adelia, yang memang sudah sangat menyukai Aurel karena status sosialnya, langsung luluh. Ia mengusap rambut Aurel. "Mas Ardan, lihatlah... Aurel sampai menangis begitu." Zaman sekarang teknologi bisa memalsukan apa saja. Mungkin ini ulah kompetitor bisnis kita yang ingin menyerang keluarga lewat Aurel."
"kamu yang sabar ya Aurel... tante tahu siapa kamu... ibumu dan Ayahmu adalah orang-orang baik... tidak mungkin kelakuanmu menyimpang walaupun kamu tinggal di London yang terkenal dengan kebebasan" ucap Adelia membelai punggung Aurel yang bergetar.
Ardan Pratama mengembuskan napas berat. Meskipun ia curiga, ia tidak ingin mempermalukan calon menantu pilihannya di depan para pelayan. "Sudah, bersihkan air matamu, Aurel. Kita akan selidiki siapa peretas sialan ini. Tapi untuk sementara, jangan bertindak gegabah."
___
Di rumah kontrakan, Noah melihat semua drama itu melalui kamera CCTV yang ia sadap. Matanya yang jernih menatap datar ke arah layar. Ia melihat Aurel yang mulai merasa di atas angin kembali karena pembelaannya diterima oleh kakek dan neneknya.
"Noah, apa kamu akan kirim bukti video yang lebih parah?" tanya Joy yang baru saja masuk membawakan camilan.
Noah menggeleng pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, senyum cerdas yang sangat mirip dengan milik Aditya. "Tidak, Om Joy. Cukup untuk hari ini. Kata Ibu, kalau ikan sudah memakan umpan, jangan ditarik terlalu keras, nanti talinya putus. Biarkan dia merasa aman, tapi hatinya akan tetap tegang karena dia tahu ada seseorang yang sedang mengawasinya."
Noah menekan satu tombol terakhir. Ia mengirimkan sebuah pesan singkat berupa teks ke ponsel pribadi Aurel, tanpa nama pengirim:
"Dinding punya telinga, lantai punya mata. Jangan terlalu nyaman dengan kebohonganmu, Nona Calon Istri. setiap gerak-gerik mu... akan ada yang selalu mengawasi, jadi, berhati-hatilah mulai dari sekarang"
Di ruang tengah, ponsel Aurel bergetar di dalam tasnya. Begitu ia membukanya dan membaca pesan itu, ia tersentak hingga ponselnya nyaris jatuh. Ia menoleh ke sekeliling ruangan dengan ketakutan. Ia merasa seolah ada ribuan mata yang sedang menelanjanginya di balik dinding-dinding mewah mansion itu.
Aditya, yang sejak tadi hanya diam terpaku, menangkap kegelisahan Aurel. Ia bangkit dari kursinya dengan wajah dingin yang tak terbaca.
"Papa, Mama... kepalaku sakit lagi. Aku ingin ke kamar," ucap Aditya datar. Ia tidak sedikit pun menoleh pada Aurel yang mencoba meraih tangannya.
"Apa kamu tidak ke kantor nak...?"tanya Adelia lembut.
"nanti siang aku berangkat "jawab Aditya dingin lalu melangkah menuju sebuah lift yang tidak jauh dengan ruang keluarga untuk menuju lantai teratas di mana, di sana hanya ada ruangan untuknya.
Saat berjalan menuju lift, Aditya berpapasan dengan Nadine yang sedang berdiri diam di pojok lorong, memegang kain lap. Langkah Aditya melambat. Ia menatap Nadine sejenak , sebuah tatapan yang penuh dengan kebingungan dan rasa ingin tahu.
"Mona... bawakan teh jahe yang seperti kemarin itu ke kamarku sekarang. Aku tidak mau diganggu oleh siapa pun, termasuk calon istriku" perintah Aditya dengan nada yang cukup keras agar terdengar sampai ke ruang tamu.
Nadine menunduk hormat. "Baik, Tuan Muda."
Di balik wajah kusam dan kacamata tebalnya, Nadine merasa sedikit lega. Kehadiran Aurel memang mengganggu, tapi setidaknya ia tahu bahwa putranya, Noah, adalah pelindung paling jenius yang ia miliki.
Aurel yang mendengar perintah Aditya itu hanya bisa mengepalkan tangan, menahan geram. Ia menatap punggung Nadine dengan kebencian yang mendalam. “Lihat saja nanti, pelayan busuk. Aku akan mencari tahu apa rahasiamu sampai Aditya begitu tergantung padamu,” batinnya penuh dendam.
Sementara itu, Noah di kontrakan menutup laptopnya. "Ibu, tugas Noah hari ini selesai. Selamat berjuang dengan Ayah di atas sana."