Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 — Agenda Kedua —
[Sesi Perkenalan Pasangan!]
[15 / 15 Pasangan Selesai!]
Sesi perkenalan telah berakhir. Semua murid sudah maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri sebagai pasangan.
Di sini aku merasa lega karena ada beberapa pasangan yang juga menyadari keberadaan misinya.
Mereka menyelesaikannya dengan berbagai macam cara. Ada yang berani ciuman di depan kelas tanpa rasa malu, lalu ada yang saling menggombal, dan beberapa lagi melakukan sesuatu layaknya pasangan.
"Terima kasih atas penampilannya, kalian semua. Sekarang kita lanjut bahas agenda kedua."
Yagami-sensei tersenyum tipis, sembari mengatakan sesuatu yang sulit dimengerti.
"Apa maksudnya agenda kedua?"
Mulut Elena sampai tak bisa menutup, kemungkinan otaknya sudah lelah karena memikirkan rencana saat perkenalan tadi.
Aku hanya bisa mengabaikannya dan tetap mengarah ke depan, tempat Yagami-sensei berada.
"Sebelum itu, aku ingin memberi pembaruan peringkat pasangan lebih dulu. Silakan dilihat-lihat!"
Layar hologram yang menampilkan peringkat poin pasangan kembali muncul di depan.
[Peringkat Poin Pasangan:
Nonoa Minori & Shiraishi Izumi — 488 Poin
Mimi Kagami & Rei Takeda — 471 Poin
Umi Shiina & Ayano Junta — 468 Poin]
Baguslah, aku dan Elena tidak ada di peringkat tiga besar.
Meski sempat menarik perhatian karena Yagami-sensei menahan kami setelah perkenalan, untungnya mereka tidak terlalu memikirkannya.
[6. Elena Miyazaki & Naruse Takashi — 446 Poin]
Kami ada di peringkat enam, naik empat peringkat. Tidak buruk.
Kemudian, mataku bergerak mencari peringkat gadis yang dimusuhi Elena.
[9. Sera Nanashi & Satoshi Akanji — 401 Poin]
Dia ada di peringkat sembilan, artinya turun delapan peringkat. Merosot sekali. Itu pencapaian yang sangat bagus, dan kupikir aku akan mengucapkan selamat padanya.
Ah, lupakan saja. Aku harus bersiap pada agenda selanjutnya, yang kemungkinan akan lebih merepotkan.
Namun, belum sempat masuk ke mode fokus... suara gebrakan meja tiba-tiba terdengar.
Keheningan langsung pecah sesaat. Pandangan para murid yang sebelumnya menatap layar peringkat di depan kini teralihkan ke sumber suara. Begitu pula denganku dan Elena.
Kami kompak menatap tempat yang menjadi pusat kebisingan, dan ternyata itu Sera Nanashi. Dia bahkan berdiri dengan tubuhnya yang gemetaran.
"Yagami-sensei, bolehkah saya mengajukan keluhan?"
Suaranya juga bergetar. Dia tidak gugup, dan malahan begitu emosional. Ini tak ada bedanya saat di Mall sebelumnya.
"Ya, silakan. Kau mau protes tentang peringkat saat ini?"
Sementara itu, Yagami-sensei tampak menanggapi dengan santai. Nadanya begitu kalem.
"Kenapa poin kami tidak bertambah, Sensei?"
"Pertanyaan macam apa itu? Bukannya sudah jelas, kalian tidak bisa membedakan tugas dengan misi."
"Tapi, saya tahu dan menjalankan misinya."
"Oh, benarkah? Memangnya kalian ada melakukan apa?"
Sebelumnya aku sudah kecewa pada gadis itu karena Elena bilang dia tidak melakukan apa-apa saat perkenalan. Dan sekarang aku malah tambah kecewa ketika tahu bahwa gadis itu merasa sudah menjalankan misinya.
Aku sudah bisa menebak jawaban apa yang akan dikeluarkannya, jadi tidak ada salahnya menikmati masa angkuhnya yang singkat.
Gadis itu masih dalam posisi berdiri. Matanya kini melotot, tatapannya lebih tajam seperti ingin menuntut sesuatu. Lalu mulutnya terbuka lagi.
"Saya sudah mengungkap rahasia kami. Itu sesuatu yang berbeda juga, kan? Sesuai dengan misinya."
Ah, sial.
Aku ingin tertawa terbahak-bahak ketika mendengar jawabannya. Padahal aku sudah menduganya, tapi tetap saja aku merasa bahwa itu sangat lucu.
Napasku naik turun, dan aku berusaha mengendalikan tubuhku agar tidak menarik perhatian. Entah apa yang akan terjadi jika aku tertawa sekarang.
Sementara itu, aku beralih menatap Yagami-sensei. Ekspresi wajahnya berubah. Tidak ada senyum lagi yang terukir.
Keadaan hening sejenak, sebelum beliau buka suara.
"Sera Nanashi, dan juga Satoshi Akanji. Aku kecewa dengan kalian. Duduklah dan perhatikan dengan benar, kalau tidak aku akan mengurangi poin kalian sebagai hukuman!"
Nadanya begitu dingin. Beliau menyuruh gadis itu untuk kembali duduk dan mengikuti agenda selanjutnya dengan tenang.
Jangankan Yagami-sensei, aku sendiri bahkan kecewa. Peringkat A bukanlah segalanya, jadi kenapa harus bersikap angkuh?
Ingin sekali aku memberi pelajaran pada Sera Nanashi. Tapi, aku tidak bisa melakukannya tanpa alasan.
Dia memang ada menganggu pasanganku sebelumnya, dan sayangnya itu belum bisa jadi alasan kuat. Apalagi Elena sendiri sudah menamparnya duluan.
Yah, sudahlah.
Kegiatan pun berlanjut. Layar hologram sudah berubah.
Ternyata aku melamun beberapa saat. Aku sampai tidak tahu Yagami-sensei menjelaskan apa. Beberapa bagian mungkin terlewatkan.
[Ketentuan Jabatan Kelas:
Ketua dan Wakil Kelas adalah pasangan.
Ketua dan Wakil Kelas bebas memilih bawahannya (Sekretaris, Bendahara, Keamanan, Kebersihan, dan lain sebagainya)
Ketua dan Wakil Kelas mendapat 50-100 Poin Pasangan tiap Minggu, tergantung kinerja.
Ketua dan Wakil Kelas ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama.
Apabila Ketua dan Wakil Kelas tidak bekerja atau merugikan kelas, maka mereka akan diberhentikan lalu Jabatan Kelas ditentukan ulang.]
Aku hanya bisa membaca apa yang sudah tertera di depan. Rupanya Yagami-sensei sedang membahas tentang jabatan kelas.
Keadaan sudah lebih kondusif sekarang, semuanya benar-benar fokus menyimak.
"Elena..."
Aku menoleh ke arah pasanganku, lalu berbisik pelan... memanggilnya.
"Ada apa?"
Dia tidak menatapku, dan hanya ikut merespons bisik-bisikku.
"Kita disuruh ngapain?"
"Kau tidak memerhatikan, ya?"
"Maaf, aku melamun."
"Sudah kuduga, kau pasti memikirkan gadis itu."
"Ti-tidak, kenapa malah ke situ?"
"..."
"E-elena?"
Aku diabaikan. Dia tak lagi merespons.
Apa dia marah?
Sial, ini salahku.
Lagipula kenapa aku begitu memerhatikan Sera Nanashi tadi?
Elena jelas bermusuhan dengannya. Bahkan, dia sampai menahan kepalaku di meja agar tidak melihatnya saat perkenalan.
Kupikir aku harus memberinya penjelasan yang bagus nanti, sekarang aku juga harus ikut menyimak.
Kini pandanganku mengarah ke Yagami-sensei yang tampak bersiap menjelaskan sesuatu. Mulutnya terbuka.
"Baiklah, kurasa kalian semua sudah membaca aturannya. Sekarang tugas kalian sebagai murid kelas 1-B adalah menentukan ketua kelas. Jika dalam tiga hari tidak ada kemajuan, maka poin pasangan kalian akan berkurang."
"Maaf, Yagami-sensei. Apa saya boleh tanya sesuatu?"
Seorang gadis di depanku mengangkat tangan, kalau tidak salah dia Mimi Kagami... yang melakukan perkenalan dengan mencium pasangannya Rei Takeda sebelumnya.
"Silakan, Mimi Kagami!"
"Terima kasih, Sensei. Pertanyaannya, apakah kami yang menentukan sendiri pemilihan ketua kelasnya?"
"Ya, kalian bebas melakukannya dengan cara apa pun selama sesuai aturan. Mau itu suit, taruhan, judi, turnamen kartu... aku tidak peduli. Yang penting dalam tiga hari, ketua kelas sudah terpilih."
"Ba-baik, terima kasih atas jawabannya!"
"Sama-sama, apa ada pertanyaan lain? Sebelum kalian beristirahat."
Kelas jadi hening. Tidak ada yang mengeluarkan suara lagi setelah gadis di depanku menurunkan tangannya.
"Kalau kalian semua diam, akan kuanggap sudah mengerti. Sekarang kalian boleh istirahat!"
Selesai mengatakan itu, Yagami-sensei berjalan keluar. Langkahnya tegas, meninggalkan jejak tak kasat mata yang menarik perhatian di kelas 1-B.
Ada satu kata yang menggambarkan situasi sekarang, yaitu merepotkan.
Tapi yang jelas, aku ingin meluruskan kesalahpahaman Elena lebih dulu. Barulah setelahnya, aku memikirkan sesuatu untuk pemilihan ketua kelas.