NovelToon NovelToon
Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Romansa
Popularitas:891
Nilai: 5
Nama Author: BOCCI

Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐

baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dibalik rak buku 07

Selena memandangi gantungan kunci robot mini itu dengan mata berbinar. "Gila, ini robotnya limited edition kan? Gue pernah liat di katalog, harganya bisa buat beli seblak sebulan!"

"Fokus ke kuncinya, bukan robotnya," potong Zeus ketus, meski sebenarnya dia sendiri yang susah payah mencari gantungan kunci itu agar sesuai dengan hobi Selena.

Selena nyengir lebar, lalu segera menyembunyikan kunci itu di saku terdalam rok sekolahnya. "Siap, Bos Kulkas! Tapi kenapa harus loker? Emangnya gue bakal sesering itu main ke markas?"

Zeus terdiam sejenak. Dia menatap deretan buku tua di sampingnya seolah-olah itu adalah hal paling menarik di dunia. "Gue nggak suka ngulangin perintah. Anggap aja itu tempat aman lo kalau di sekolah lagi nggak kondusif."

Baru saja Selena mau bertanya maksud "nggak kondusif" itu apa, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru mendekat ke arah rak mereka.

"Z-Zeus? Kamu di sana?"

Suara itu lembut, tapi terdengar gemetar. Selena dan Zeus menoleh serentak. Muncul sosok Clarissa, cewek paling kalem di sekolah yang juga merupakan ketua OSIS. Wajahnya pucat pasi, dan dia memegang sebuah amplop hitam dengan logo yang membuat rahang Zeus mengeras seketika.

"Ini... tadi ada yang nempelin di mading depan. Aku langsung cabut sebelum anak-anak lain liat," ucap Clarissa sambil menyerahkan amplop itu pada Zeus.

Zeus membuka amplop itu dengan kasar. Di dalamnya hanya ada selembar foto. Foto Selena yang sedang tertawa sambil memegang plastik santan di supermarket kemarin, dengan coretan silang merah besar di wajahnya.

Di bawah foto itu tertulis: "Mainan baru Alexandra? Kita liat seberapa kuat dia tanpa rantainya."

Atmosfer di pojok perpustakaan yang tadinya hangat mendadak berubah jadi sedingin es. Aura membunuh terpancar dari tubuh Zeus. Dia meremas foto itu sampai hancur dalam kepalannya.

"Kalau gitu gw pergi ya"clarissa pergi Dengan wajah pucat.

Selena yang sempat melirik foto itu merasa jantungnya mencelos. "Itu... foto gue pas beli santan? Kok bisa ada yang ambil?"

Zeus berdiri, membuat kursi perpustakaan berderit nyaring. Dia menatap Selena dengan tatapan yang jauh lebih intens dari biasanya. "Selena, dengerin gue. Mulai detik ini, jangan pernah jalan sendirian. Rora harus selalu ada di samping lo, atau lo harus ada di jangkauan pandangan salah satu dari kita."

"Tapi Zeus, itu cuma foto..."

"Itu bukan cuma foto," potong Zeus tajam. "Itu deklarasi perang dari Geng Red Snake. Mereka tahu lo adalah kelemahan baru yang bisa mereka serang."

Selena tertegun. Kelemahan baru? Jadi bagi Zeus, dia bukan sekadar babu atau "pawang", tapi sesuatu yang cukup berharga sampai bisa dijadikan alat untuk menyerang Thunder?

Zeus mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat di grup inti Thunder.

Zeus: Snake berulah. Perketat penjagaan. Selena dalam target.

Detik itu juga, Selena sadar. Hidupnya yang serasa keren tadi pagi, baru saja berubah menjadi sangat berbahaya. Tapi anehnya, melihat punggung Zeus yang berdiri kokoh di depannya, rasa takut itu perlahan kalah oleh rasa aman yang aneh.

"Ayo," ajak Zeus sambil menarik tangan Selena—kali ini tanpa mempedulikan siapa pun yang melihat mereka keluar dari perpustakaan.

Suasana yang tadinya mencekam karena ancaman foto coretan merah itu mendadak buyar. Selena, dengan segala keajaiban otaknya yang bergeser, malah menatap foto hancur di tangan Zeus sambil menopang dagu.

"Red Snake?" gumam Selena. "Aduh, namanya pasaran banget deh. Kenapa nggak yang lebih menantang gitu? Kayak 'Ular Kadut' atau 'Cacing Pita'?"

Zeus menoleh dengan tatapan tidak percaya. "Selena, mereka ini serius. Mereka bisa celakain lo kapan aja."

"Iya, gue tau," jawab Selena santai, lalu dia melirik logo petir di tangan Zeus. "Tapi gue mikir deh... kalau mereka Geng Red Snake, berarti mereka gigit dong baikal mati dong? Mending kalian Geng Thunder PLN dong?  logonya petir. Apa kalian sebenernya agen rahasia yang kerjanya benerin gardu listrik kalau mati lampu?"

DEG.

Axel yang baru saja menyusul ke perpustakaan dan berdiri di balik rak buku, langsung tersedak ludahnya sendiri sampai terbatuk-batuk. Nathan yang biasanya kalem, tiba-tiba harus pura-pura sibuk membetulkan letak kacamatanya padahal tangannya sudah gemetar menahan tawa.

Zeus mematung. Matanya menyipit, menatap Selena dengan tatapan paling tajam yang dia punya. "Lo... bilang apa tadi? PLN? Gk kapok Duluth dimarahin zeus ngatain geng kita"

"Ya habisnya," lanjut Selena dengan muka tanpa dosa. "Petir, rantai... itu kayak kabel-kabel yang lagi korslet tahu nggak. Makanya kalian sering marah-marah, mungkin karena tegangan tinggi? Coba deh, kalau mereka nyerang lagi, lo bilang aja: 'Jangan ganggu kita, atau listrik rumah lo gue cabut!'"

"SELENA!" bentak Zeus, tapi suaranya tertahan karena ini di perpustakaan.

Selena langsung bungkam, menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya. Dia melihat urat leher Zeus mulai keluar karena menahan emosi (atau mungkin menahan malu). Tapi mata Selena tetap berbinar jail, dan tubuhnya sedikit bergetar karena menahan tawa yang hampir meledak.

"Gak lucu," ketus Zeus sambil membuang muka, meski telinganya terlihat memerah.

"I-iya, maaf... Kanjeng Gusti Pangeran Petir PLN," bisik Selena di balik tangannya.

"Satu kata lagi soal listrik, gue suruh Damon ikat lo di atas tower pemancar," ancam Zeus sambil menarik paksa tangan Selena untuk keluar dari perpustakaan.

Sepanjang koridor menuju kelas, Selena benar-benar diam seperti patung, menuruti perintah Zeus. Tapi setiap kali dia melihat logo petir di jaket anggota Thunder yang berpapasan, bahunya naik turun menahan tawa yang tak kunjung padam.

Di sisi lain, Zeus merasa harga dirinya sebagai pemimpin geng motor paling ditakuti benar-benar runtuh berkeping-keping. Bayangan keren "The Thunder Alexandra" kini ternoda oleh bayangan petugas PLN yang sedang mengecek meteran listrik warga.

Bersambung.....

1
bochi to the light
minta dukungan nya ya biar aku lebih banyak up nya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!