NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Pesona dari Langit

Setelah guncangan hebat yang disebabkan oleh kehadiran Colette, perlahan-lahan ritme kantor mulai kembali normal, meski atmosfernya terasa jauh lebih tegang dari sebelumnya. Bisik-bisik masih terdengar di balik bilik meja kerja, namun satu per satu karyawan mulai kembali menghadap layar monitor mereka.

Colette sendiri sudah tenggelam dalam tumpukan data. Meskipun ia sadar dirinya menjadi pusat semesta di ruangan itu, ia memilih untuk menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Baginya, angka dan laporan adalah pelarian paling aman dari tatapan-tatapan yang menghakimi—meskipun kini tatapan itu telah berubah menjadi kekaguman yang nyata.

Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya di mejanya. Colette tersentak, refleks bahunya menegang karena trauma masa lalunya yang belum sepenuhnya pulih. Namun, saat ia mendongak, ia tidak menemukan sorot mata jahat.

Di sana berdiri Jude.

Jude adalah satu-satunya rekan kerja yang selama ini paling gigih mencoba mendekati Colette. Berkali-kali ia mengajak Colette mengobrol, menawarkan kopi, atau sekadar bertanya tentang akhir pekan. Namun, selama ini Colette selalu membentengi diri dengan tembok tebal; ia lebih suka dengan kesendiriannya, lebih nyaman tenggelam dalam dunianya sendiri tanpa gangguan siapa pun.

Jude tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat. Ia hanya berdiri mematung, mengamati bagaimana rambut wolf cut itu membingkai sempurna wajah Colette yang seputih pualam, dan bagaimana mata hazel itu berkilau tertimpa lampu kantor.

Jude kemudian perlahan mengangkat kedua tangannya, memberikan dua jempol mantap ke arah Colette sambil tersenyum lebar. Matanya memancarkan binar yang tak bisa disembunyikan.

"Luar biasa, Colette. Kamu... kamu benar-benar berbeda. Sangat mengagumkan," gumam Jude tulus.

Dalam hati, Jude merasa jantungnya berdebar kencang. Tak salah ia selama ini mengagumi Colette secara diam-diam. Di matanya, Colette hari ini nampak seolah-olah baru saja turun dari langit. Semua tebakan Jude tentang kecantikan di balik "tirai hitam" itu ternyata benar, bahkan jauh melebihi ekspektasinya.

Colette yang melihat reaksi Jude hanya bisa memberikan senyum tipis yang canggung. "Terima kasih, Jude," jawabnya pendek.

Meskipun penampilannya berubah drastis, sifat Colette tetap sama. Ia tetaplah gadis yang mencintai keheningan dan menjaga jarak. Setelah membalas pujian Jude, ia segera kembali menatap layar komputer, memberikan sinyal halus bahwa ia ingin kembali ke dunianya sendiri. Jude yang sudah terbiasa dengan penolakan halus itu hanya mengangguk paham, meski kali ini ia kembali ke mejanya dengan semangat yang jauh lebih membara.

Ingatan tentang makan siang berdua beberapa hari yang lalu sempat melintas di benak Colette. Saat itu, Jude dengan gigih mengajaknya ke kedai ramen di seberang kantor. Colette yang memang menyetujui itu karena ia tidak enak, Colette selalu menolak ajakan jude. Hingga pada akhirnya ia meng-iyakan, meski sepanjang makan ia lebih banyak menunduk dan menjawab dengan satu atau dua kata.

Bagi Colette, Jude hanyalah orang baik yang merasa kasihan padanya. Ia sama sekali tidak peka bahwa Jude sengaja memilihkan tempat duduk yang paling tenang, atau bagaimana pria itu selalu memastikan Colette mendapatkan tisu lebih dulu. Di mata Colette yang tertutup trauma, semua itu hanyalah keramahan antar rekan kerja biasa. Ia tidak tahu bahwa Jude selalu mencuri pandang, mengagumi garis wajahnya yang tersembunyi di balik rambut panjangnya yang lama.

Setelah interaksi singkat namun penuh makna itu, suasana di sekitar meja Colette perlahan mencair. Jude kembali ke mejanya sendiri dengan senyum yang sulit hilang dari wajahnya, sementara Colette menarik napas panjang untuk menenangkan degup jantungnya.

Mereka kembali bekerja masing-masing.

Suara denting papan ketik dan gemerisik kertas kembali memenuhi ruangan. Colette menenggelamkan diri di depan monitor, jemarinya menari lincah menyusun laporan yang sempat tertunda. Meski kini ia tak lagi bersembunyi di balik rambut panjangnya, ia tetap menjadi Colette yang fokus dan pendiam.

Hari itu terasa begitu sureal bagi Colette. Entah karena aura baru yang ia pancarkan atau memang semesta sedang berpihak padanya, semua pekerjaan terasa jauh lebih ringan. Laporan yang biasanya menumpuk dan penuh revisi, kali ini selesai dengan sangat mulus. Bahkan rekan-rekan yang biasanya ketus, entah mengapa seolah segan untuk mengganggunya.

Waktu berlalu tanpa ia sadari. Colette yang biasanya merasa setiap jam di kantor adalah siksaan, kini merasa waktu mengalir begitu cepat. Jemarinya yang menari di atas keyboard mendadak terhenti ketika ia melirik ke arah jendela besar di ujung ruangan. Cahaya keemasan mulai menyeruak masuk, memantul di meja kayu dan helaian rambut wolf cut-nya.

Matahari mulai condong ke barat.

Colette merapikan meja kerjanya dengan gerakan pelan. Ia menatap pantulan dirinya di layar monitor yang sudah mati; ia masih tak percaya bahwa gadis yang tampak berani di sana adalah dirinya.

"Pulang sekarang, Colette?" suara Jude memecah lamunannya.

Colette menoleh, melihat Jude yang juga sedang berkemas. Pria itu menatapnya dengan binar yang masih sama—penuh kekaguman yang tak sempat terucap.

"Ah, iya, Jude. Pekerjaanku sudah selesai," jawab Colette singkat namun lebih luwes dari biasanya.

"Mau kubantu bawakan tasmu sampai ke bawah?" tawar Jude penuh perhatian. "Atau... mau mampir minum kopi sebentar? Hari ini rasanya sangat tenang."

Baru saja Colette hendak membuka mulut untuk membalas ucapan Jude, tiba-tiba langkahnya terhenti. Seorang pria berkacamata dengan langkah terburu-buru menghampirinya. Itu adalah Asisten Yone, orang kepercayaan dari departemen manajemen yang dikenal sangat disiplin.

"Nona Colette, tunggu sebentar!" panggil Yone sambil terengah. Tanpa banyak basa-basi, ia menyodorkan dua map tebal ke arah Colette. "Ada dua fail data inventaris yang harus diperbarui sore ini juga. Ada kesalahan input di sistem pusat, dan Tuan Caspian meminta ini selesai sebelum besok pagi."

Colette tertegun sejenak, menatap dua fail di tangannya. Di satu sisi, ia merasa sedikit kesal karena beban kerja tambahan ini muncul tepat saat ia ingin segera pulang. Namun, di sisi lain, sebuah perasaan lega yang aneh menyelinap di hatinya.

Ia menoleh ke arah Jude yang masih berdiri menunggunya dengan wajah penuh harap.

"Maaf, Jude," ucap Colette, kali ini dengan nada yang terdengar lebih tegas karena memiliki alasan yang nyata. "Sepertinya kopi itu harus ditunda. Aku harus menyelesaikan ini sekarang juga."

Jude tampak sedikit kecewa, bahunya merosot kecil, namun ia tetap memaksakan senyum ramah. "Ah, begitu ya? Sayang sekali. Tapi pekerjaan memang lebih penting. Semangat ya, Colette. Jangan sampai terlalu malam."

Setelah Jude berlalu, Colette kembali ke meja kerjanya. Suasana kantor mulai sepi, hanya menyisakan beberapa lampu yang menyala di atas divisinya. Ia menghela napas panjang. Fail di tangannya ini seolah menjadi "penyelamat" sementara dari kecanggungannya dengan Jude.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!