Setiap hari sebelum fajar menyingsing, dapur kecil itu sudah mengepulkan asap. Di sana, seorang ibu bergelut dengan tepung, mentega, dan panasnya oven tua untuk menciptakan ribuan keping kue. Bagi orang lain, itu hanyalah camilan manis, namun bagi sang ibu, setiap loyang adalah taruhan untuk masa depan anaknya.
tangan yang melepuh terkena minyak panas, punggung yang semakin membungkuk karena beban keranjang, dan jam tidur yang dikorbankan demi recehan rupiah. Melalui sudut pandang sang anak, kita diajak melihat bagaimana sebuah pengorbanan tanpa pamrih perlahan-lahan merajut mimpi yang mustahil menjadi nyata. Sebuah kisah melankolis tentang cinta yang dipanggang dalam kesabaran dan ketulusan yang tak bertepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menyiapkan dekor pernikahan
Tangan Satria dan Alana kini sibuk dengan gulungan kain tule, rangkaian bunga kering, dan botol-botol kaca bekas yang mereka kumpulkan selama sebulan terakhir. Karena mereka sepakat mengusung konsep DIY (Do It Yourself) untuk pernikahan di halaman rumah, setiap sudut dekorasi adalah hasil keringat mereka sendiri.
"Han, menurutmu ini terlalu tinggi tidak?" tanya Alana sambil berusaha mengikat untaian foto polaroid mereka pada seutas tali rami yang membentang di antara dua pohon mangga.
Satria melangkah mundur, menyipitkan mata untuk menilai. "Sedikit ke kiri, Al. Nah, pas! Foto itu... itu kan saat kita pertama kali makan bakso setelah bertemu lagi?"
Alana tertawa. "Iya, mukamu masih terlihat sangat tegang di situ."
Di sudut lain, Ibu Alana ikut membantu. Beliau dengan telaten merangkai bunga sedap malam ke dalam vas-vas kecil. Wanginya mulai memenuhi udara, menciptakan suasana magis yang tak bisa dibeli di gedung mewah mana pun.
"Dekorasi yang dibuat dengan tangan sendiri itu punya nyawa," ujar Ibu lembut. "Setiap simpul yang kalian ikat adalah doa agar ikatan kalian juga kuat."
Malam sebelum hari-H, Satria memasang lampu-lampu gantung kecil (fairy lights) yang melilit batang pohon. Saat sakelar dinyalakan, halaman belakang yang biasa saja seketika berubah menjadi taman kunang-kunang yang sangat cantik.
Satria menghampiri Alana yang sedang duduk kelelahan di bangku taman. Ia menyodorkan segelas teh hangat. "Kita berhasil, Al. Besok, di bawah lampu-lampu ini, aku akan memintamu menjadi teman hidupku selamanya."
Alana menyandarkan kepala di bahu Satria, menatap dekorasi sederhana namun penuh cinta di hadapan mereka. Rasa lelahnya hilang seketika, digantikan oleh debar jantung yang tak sabar menanti hari esok.
********
Pagi hari sebelum acara dimulai, halaman belakang sudah berubah total. Namun, sebuah "drama kecil" terjadi saat Satria mencoba memasang papan kayu bertuliskan “Welcome to Our Beginning” di gerbang depan.
"Satria, pakunya jangan di sana! Nanti kayunya retak," seru Alana dari teras, sambil membawa buket bunga yang baru saja ia rapihkan.
Satria berhenti sejenak, mengelap keringat di dahinya dengan lengan baju. "Tenang, Al. Ini teknik arsitek, aman!" candanya, meski sebenarnya ia juga sedikit gugup.
Saat ia sedang memukul paku terakhir, tiba-tiba terdengar suara krak! Papan kayu itu sedikit miring. Satria mematung, Alana menahan napas.
Namun bukannya marah, mereka berdua justru meledak dalam tawa. Ketegangan menjelang akad seolah luruh bersama tawa itu.
"Sudahlah, miring sedikit tidak apa-apa. Itu seninya," ujar Satria sambil merangkul bahu Alana.
Mereka kemudian beralih ke area pelaminan sederhana—sebuah kursi kayu panjang dengan latar belakang kain putih bersih yang dihiasi daun eucalyptus hijau. Di sana, mereka meletakkan dua kursi kosong untuk mendiang ayah mereka masing-masing, lengkap dengan sekuntum bunga mawar putih di atasnya. Sebuah penghormatan bisu yang membuat suasana seketika menjadi syahdu.
Ibu Alana datang membawa nampan berisi camilan pasar. Beliau memandang sekeliling dengan mata berkaca-kaca. "Ibu tidak menyangka, halaman rumah yang biasanya sepi bisa jadi secantik ini. Kalian benar-benar membuatnya dengan hati."
Sore itu, saat sinar matahari mulai berubah menjadi warna emas (golden hour), dekorasi hasil buatan tangan mereka tampak bersinar. Lampu-lampu kecil mulai berkedip, bunga-bunga menebar harum, dan jalan setapak dari kelopak melati sudah siap dilewati. Segala persiapan telah usai. Yang tersisa hanyalah janji yang akan diucapkan di hadapan Tuhan.
*******
Pukul dua dini hari, suasana makin sunyi, tapi energi di halaman belakang itu belum habis. Satria masih memanjat tangga lipat, mencoba memasang sisa juntaian kain putih di dahan pohon yang paling tinggi.
"Turun, Satria! Kamu sudah naik-turun tangga itu sepuluh kali. Nanti kakimu gemetar saat ijab kabul," bisik Alana, khawatir suaranya membangunkan tetangga.
Satria hanya terkekeh, tangannya sibuk mengikat simpul terakhir. "Satu sudut lagi, Al. Aku ingin besok saat kamu keluar dari pintu itu, kamu merasa sedang masuk ke dunia yang berbeda. Dunia kita."
Setelah turun, Satria mengajak Alana berdiri di tengah halaman. Mereka memandang sekeliling. Di sudut kiri, ada "Sudut Kenangan"—meja kayu kecil berisi tumpukan surat lama dan botol berisi pasir dari pantai tempat mereka pertama kali bertemu dulu. Di sudut kanan, ada deretan kursi kayu yang dihias pita goni sederhana.
"Al, lihat," Satria menunjuk ke arah jalan setapak.
Rupanya, Satria telah menata batu-batu kecil membentuk jalur menuju pelaminan. Di setiap batu, Satria menuliskan satu kata dengan spidol permanen. Jika dibaca berurutan, batu-batu itu membentuk kalimat: Setiap. Langkah. Adalah. Kepulangan. Menujumu.
Alana terdiam, tenggorokannya tercekat. Ia tidak menyangka di sela-sela kesibukan memasang tenda dan lampu, Satria sempat memikirkan detail sekecil itu.
"Ini dekorasi paling mewah yang pernah aku lihat," bisik Alana sambil menggenggam tangan Satria yang kasar karena bekas memegang kayu dan kawat.
Mereka pun duduk di rumput, di bawah lampu gantung yang sudah menyala sempurna, menikmati hasil kerja keras mereka sebelum fajar menjemput hari besar itu. Bau tanah basah dan harum bunga melati seolah menjadi restu alam bagi keikhlasan mereka membangun pelaminan sendiri.
********
Satria ingin setiap sudut halaman memiliki cerita. Ia tidak hanya memasang hiasan, tapi menyisipkan makna di setiap jengkal dekorasi yang mereka sentuh malam itu.
Di tengah halaman, terdapat sebuah pohon tua yang menjadi pusat dekorasi. Satria melilitkan ribuan lampu micro-led pada batangnya hingga pohon itu tampak bersinar seperti dalam dongeng. Di dahan-dahannya yang rendah, ia menggantungkan puluhan toples kaca kecil berisi lilin elektrik dan potongan kecil bunga baby’s breath. Saat tertiup angin, toples-toples itu berdenting pelan, menciptakan melodi alami yang menenangkan.
"Al, sini lihat bagian ini," panggil Satria sambil menunjuk ke arah meja tamu.
Alih-alih menggunakan buku tamu biasa, Satria menyiapkan selembar papan kayu besar yang sudah diamplas halus. Di sampingnya tersedia spidol warna-warni dan potongan kayu berbentuk hati. "Aku ingin orang-orang menuliskan doa di potongan hati ini, lalu menempelkannya di sini.
Jadi, setelah acara selesai, kita bisa menjadikannya hiasan dinding di rumah baru kita nanti," jelas Satria.
Tak berhenti di situ, Alana menambahkan detail pada area pelaminan. Di belakang kursi kayu mereka, ia merangkai tirai dari kertas origami berbentuk burung camar yang jumlahnya mencapai seratus buah. Burung-burung itu melambangkan kebebasan dan kesetiaan untuk selalu kembali ke sarang yang sama.
"Ingat saat kita melipat ini bersama akhir pekan lalu?" tanya Alana sambil merapikan satu burung yang agak miring. Satria mengangguk, mengingat jemari mereka yang sempat kaku namun tetap telaten melipat satu per satu.
Di sudut paling gelap, mereka memasang sebuah proyektor tua yang diarahkan ke dinding samping rumah yang bercat putih. Satria sudah menyiapkan slide foto-foto hitam putih yang diambil secara sembunyi-sembunyi selama masa pendekatan mereka kembali. Foto-foto itu akan diputar tanpa suara, menjadi latar belakang yang emosional selama jamuan makan malam.
Terakhir, mereka menaburkan kelopak bunga mawar kering di sepanjang jalan setapak. Bukan bunga segar yang mahal, melainkan bunga-bunga yang sudah dikeringkan sendiri oleh Alana selama berbulan-bulan, memberikan aroma klasik dan tampilan vintage yang sangat estetik.
"Sempurna," bisik Satria. "Halaman ini bukan lagi sekadar tempat tinggal, tapi saksi bisu perjuangan kita."