Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Pena di tangan Ziva menari di atas kertas undangan berwarna krem yang elegan. Nama demi nama ia tulis dengan kaligrafi yang rapi—buah dari ketekunannya sebagai lulusan ekonomi terbaik yang terbiasa dengan ketelitian. Namun, entah mengapa, ujung penanya sesekali bergetar. Ada denyut kecemasan yang tidak beralasan merayap di balik dadanya.
"Ziv, ini daftar nama dari tante kamu jangan lupa dimasukin juga ya," ucap Bunda sambil meletakkan selembar kertas tambahan di samping tumpukan undangan.
Ziva mendongak, matanya beralih ke arah Kirana yang sedang bercermin, mematut diri dengan blus satin berwarna soft pink. Kakaknya itu tampak sangat bahagia. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya sejak Baskara melamarnya tiga bulan lalu.
"Kak, beneran harus hari ini banget fitting-nya? Kan bisa besok atau lusa, mumpung hari kerja juga biar nggak macet," cetus Ziva tiba-tiba.
Kirana tertawa kecil, ia berbalik dan menghampiri adiknya. "Jadwal desainernya cuma kosong hari ini, Ziva sayang. Lagian cuma ke luar kota satu jam perjalanan lewat tol, bukan mau pindah pulau."
Di depan pintu, Baskara—atau yang akrab dipanggil Kak Bas oleh Ziva—sudah menunggu sambil menjinjing kunci mobil. Pria itu tersenyum tenang, tipe laki-laki yang memang sangat bisa diandalkan. "Tenang aja, Ziva. Kakak bakal jaga Kirana baik-baik. Kita pergi nggak lama kok."
Ziva meletakkan penanya. Ia berdiri dan melangkah mendekati mereka berdua di ambang pintu. "Kak hati-hati ya. Kak Bas, tolong banget ini mah jangan ngebut. Perasaan aku beneran nggak enak kalian berangkat," seru Ziva dengan nada yang lebih serius dari biasanya.
Kirana memutar bola matanya sambil mencubit pelan pipi Ziva. "Iya bawel, kakak pergi tuh cuma satu jam, Ziva. Kamu di rumah bantuin Bunda, jangan bengong terus."
"Kabarin kalau udah nyampe, Kak! Awas kalau nggak!" teriak Ziva lagi saat keduanya mulai berjalan menuju mobil di halaman.
Mobil hitam milik Baskara perlahan bergerak meninggalkan gerbang rumah. Ziva tetap berdiri di sana, memandangi asap knalpot yang perlahan menghilang di tikungan jalan. Angin sore berembus dingin, membuat bulu kuduknya meremang. Ia mengusap lengannya sendiri, mencoba mengusir rasa dingin yang tidak wajar itu.
Ziva kembali ke ruang tengah, duduk bersila di samping Bunda yang masih sibuk memisahkan kartu ucapan terima kasih. Suasana rumah terasa lebih sepi setelah keberangkatan Kirana. Hanya terdengar suara detak jam dinding dan gesekan pena Ziva di atas kertas.
"Kamu kenapa sih, Ziv? Dari tadi gelisah terus. Bunda perhatiin tulisan kamu jadi agak miring," tegur Bunda lembut.
Ziva menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya ke sofa. "Nggak tahu, Bun. Rasanya kayak ada yang ganjal di hati. Kayak ada sesuatu yang ketinggalan, tapi aku nggak tahu apa."
"Itu mungkin karena kamu terlalu sayang sama Kirana. Kan bentar lagi dia mau nikah, mau dibawa suaminya. Kamu pasti ngerasa bakal kehilangan temen berantem di rumah," hibur Bunda sambil tersenyum simpul.
Ziva mencoba membenarkan perkataan Bunda. Mungkin itu hanya sindrom pre-wedding yang justru dirasakan oleh sang adik. Ia memaksa dirinya untuk fokus kembali pada undangan. Satu jam berlalu. Ziva melirik jam di ponselnya. Harusnya mereka sudah sampai.
Ia meraih ponselnya, mengetikkan pesan singkat di grup WhatsApp keluarga.
Ziva: Kak, udah sampe belum?
Lima menit. Sepuluh menit. Tidak ada tanda-tanda centang biru, bahkan centang dua pun tidak. Ziva mencoba menelepon Kirana.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...
Jantung Ziva berdegup dua kali lebih kencang. Ia mencoba menelepon Baskara. Hasilnya sama. Suara operator yang dingin itu justru membuat suasana hatinya semakin kacau.
"Bun, Kak Kirana nggak bisa dihubungi. Ponsel Kak Bas juga mati," lapor Ziva, suaranya mulai bergetar.
Bunda menghentikan aktivitasnya. Wajahnya yang semula tenang kini menunjukkan sedikit gurat kekhawatiran, namun ia mencoba tetap rasional. "Mungkin lagi di jalan yang susah sinyal, Ziv. Atau mungkin mereka langsung sibuk fitting baju begitu nyampe."
"Tapi ini udah lewat dari satu jam, Bun. Perasaan aku beneran makin nggak enak."
Ziva berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja. Mungkin baterai ponsel mereka habis bersamaan—walaupun kemungkinannya sangat kecil. Atau mungkin mereka mampir makan dulu dan lupa memberi kabar.
Tepat saat Ziva hendak mencoba menelepon untuk yang kesepuluh kalinya, ponsel di genggamannya bergetar hebat. Sebuah nomor tidak dikenal muncul di layar.
Ziva menelan ludah. Ia mengangkat telepon itu dengan tangan yang gemetar.
"Halo?"
"Halo, apa benar ini dengan keluarga dari pemilik kendaraan dengan plat nomor B 1234 XYZ?" suara di seberang sana terdengar riuh, ada suara sirine ambulans yang meraung-raung di latar belakang.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Ziva. "I-iya, benar. Saya adiknya. Ada apa ya, Pak?"
"Saya dari kepolisian wilayah Bandung Barat, ingin mengabarkan bahwa kendaraan tersebut mengalami kecelakaan beruntun di KM 92. Korban sudah dibawa ke RS terdekat. Mohon keluarga segera menuju ke lokasi."
Ponsel di tangan Ziva terjatuh ke atas tumpukan undangan pernikahan yang belum selesai ia tulis. Kertas-kertas putih itu kini berhamburan, sama hancurnya dengan perasaan Ziva saat itu juga.
"Ziva? Ada apa, Nak?" suara Bunda terdengar jauh, seolah tertutup oleh kabut tebal.
Ziva tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa melihat undangan pernikahan bertuliskan nama "Kirana & Baskara" yang kini tergeletak di lantai, seolah-olah menjadi saksi bisu atas firasat yang sedari tadi ia takutkan. Harapan untuk melihat kakaknya memakai gaun pengantin itu kini tertutup oleh bayang-bayang sirine dan jerit kecemasan yang mendalam.
***
Lorong rumah sakit yang serba putih itu terasa begitu panjang dan mencekam. Aroma disinfektan yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan hawa dingin dari pendingin ruangan yang seolah membekukan aliran darah Ziva. Langkah kakinya, Ayah, dan Bunda terdengar terburu-buru, menciptakan gema yang menyakitkan di sepanjang selasar menuju ruang ICU.
Di ujung lorong, Ziva melihat sosok yang sangat ia kenali. Baskara. Laki-laki itu masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang ia pakai saat berpamitan tadi siang, namun kini kemeja itu kusut dan bercak noda merah kecokelatan terlihat di bagian lengan. Baskara tampak mondar-mandir dengan gelisah di depan pintu kaca ganda yang tertutup rapat. Di dekatnya, orang tua Baskara—Papa dan Mamanya—duduk dengan wajah pucat pasi, terus merapal doa.
Baskara menoleh saat mendengar langkah kaki keluarga Ziva. Wajahnya sembap, matanya merah padam, dan ada plester kecil menempel di pelipisnya. Ia tampak utuh. Ia selamat.
"Ayah... Bunda..." suara Baskara parau, nyaris tak terdengar.
Namun, sebelum Ayah atau Bunda sempat merespons, Ziva melangkah maju. Seluruh ketakutan dan firasat buruk yang ia rasakan sejak sore tadi kini meledak menjadi kemarahan yang membabi buta. Ia berdiri tepat di depan Baskara, menatap pria itu dengan pandangan menghujam.
"Kak, kenapa bisa sih? Aku kan udah bilang hati-hati! Kenapa Kak Bas nggak dengerin aku?!" teriak Ziva. Suaranya melengking, memecah kesunyian lorong rumah sakit.
Baskara tertunduk lesu, bahunya bergetar. "Ziva, maaf... tiba-tiba ada truk dari jalur lawan yang..."
"Cukup! Aku nggak mau denger alasan!" potong Ziva dengan napas tersenggal. Air mata kemarahan mengalir deras di pipinya. "Kenapa Kak Bas selamat? Kenapa Kak Bas cuma luka kecil kayak gitu sementara Kak Kirana ada di dalam sana berjuang sendirian?! Kenapa bukan kakak aja yang celaka!"
"Ziva! Jaga bicara kamu, Nak!" tegur Ayah dengan suara rendah namun tegas, sambil merangkul bahu Ziva yang bergetar hebat. Namun, Ziva tidak peduli. Logikanya sudah tertutup oleh rasa sakit yang luar biasa.
Tepat saat ketegangan itu memuncak, pintu ICU terbuka. Seorang dokter dengan raut wajah kelelahan melangkah keluar, melepas maskernya perlahan. Suasana seketika hening. Hanya suara detak jantung Ziva yang terasa memekakkan telinganya sendiri.
"Keluarga saudari Kirana Ayu?" tanya dokter itu pelan.
"Saya ibunya, Dok. Bagaimana anak saya?" tanya Bunda dengan suara gemetar, menggenggam tangan Ayah sangat erat.
Dokter itu menghela napas panjang, sebuah gestur yang bagi Ziva adalah lonceng kematian. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Benturan di bagian kepala dan dada pasien terlalu hebat. Mohon maaf... saudari Kirana sudah berpulang tepat pukul sembilan malam tadi."
Hening.
Dunia seolah runtuh seketika. Bunda merosot ke lantai, teriakan histerisnya tertahan oleh tangis yang pecah begitu saja. Ayah mencoba menopang Bunda, meski air mata juga mulai membasahi pipi pria paruh baya yang biasanya tegar itu.
Ziva mematung. Kepalanya mendengung hebat. Kalimat dokter itu terus berputar seperti kaset rusak di otaknya. Berpulang. Meninggal. Pergi.
"Nggak... ini nggak mungkin," bisik Ziva lirih. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Dokter bohong, kan? Kak Kirana janji bakal nemenin aku. Kita baru aja nulis undangan tadi sore! Kak Kirana mau nikah, Dok! Ayah... Bunda... Kak Kirana cuma tidur, kan?"
Ziva mundur selangkah demi selangkah. Matanya yang sembap kini melotot lebar, menatap lurus ke arah Baskara yang sedang menangis tersedu-sedu sambil dipeluk oleh mamanya. Bagi Ziva, pemandangan Baskara yang masih bernapas adalah sebuah ketidakadilan.
"Ini semua salah kamu, Kak!" tunjuk Ziva dengan jari gemetar. "Kalau aja kamu dengerin aku... kalau aja kamu nggak maksa pergi hari ini... kalau aja kamu bisa jaga dia!"
Baskara hanya bisa menangis, tak mampu membela diri. Rasa bersalah di matanya justru membuat kemarahan Ziva semakin membara.
"Kamu yang udah ngebunuh kakak aku! Kamu pembunuh, Kak Bas! Pergi dari sini! Aku nggak mau liat muka kamu!" teriak Ziva histeris. Ia mulai memukul-mukul dada Baskara dengan tinju kecilnya. "Pergi! Aku bilang pergi, Kak!"
"Ziva, nak... istighfar, ini musibah," Ayah mencoba menarik Ziva menjauh, namun gadis itu meronta.
"Nggak, Yah! Dia yang bawa Kak Kirana pergi! Dia yang nyetir mobil itu! Harusnya dia yang ada di dalam sana, bukan Kak Kirana!" Ziva terus berteriak sampai suaranya serak. "Pergi kamu, Baskara! Jangan pernah berani muncul di depan aku lagi! Pergi!"
Mama Baskara mencoba mendekat ingin menenangkan, namun Ziva menepisnya dengan kasar. Baskara akhirnya mundur, dengan langkah gontai dan hati yang hancur, ia terpaksa menjauh dari keluarga yang seharusnya menjadi keluarga barunya dalam hitungan minggu.
Setelah Baskara menghilang di balik lift, pertahanan Ziva runtuh total. Ia jatuh berlutut di depan pintu ICU yang masih tertutup. Ia memeluk dirinya sendiri, meraung meratapi kenyataan pahit yang harus ia telan di hari kelulusan terbaiknya.
"Kak... kenapa kakak ninggalin aku sendirian?" isak Ziva pilu. Suaranya kini mengecil, penuh dengan keputusasaan. "Kakak janji bakal nemenin aku cari kerja... Kakak janji bakal ngeliat aku pake baju kerja pertama kali dan kita bakal makan malam ngerayain gaji pertama aku... Kenapa kakak ingkar janji?"
Ziva teringat tumpukan undangan di rumah. Nama Kirana dan Baskara yang baru saja ia tulis dengan tinta emas. Nama yang seharusnya membawa kabar bahagia, kini justru terasa seperti nisan yang menusuk jantungnya. Kakak yang biasanya cerewet, yang suka meminjam bajunya tanpa izin, yang selalu menjadi pelindung sekaligus teman terbaiknya, kini sudah menjadi kenangan dalam satu detik kecelakaan yang mengerikan.
"Kak Kirana... pulang... aku mohon pulang..." gumam Ziva di sela tangisnya yang sesak, sementara koridor rumah sakit tetap dingin, tak memberi jawaban atas duka yang begitu dalam.