NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Sepasang sepatu bot kulit yang sudah mulai aus di bagian tumitnya menghantam aspal jalanan Rue des Martyrs dengan bunyi yang berat dan ritmis. Mahesa berjalan dengan bahu yang sedikit membungkuk, menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku jaket denim yang aromanya bercampur antara bau tembakau kering dan sisa udara dingin malam Paris. Ia tidak lagi mengenakan topi baseball-nya; topi itu kini ia genggam di tangan kiri di dalam saku, membiarkan rambut hitamnya yang sedikit berantakan tertiup angin musim gugur yang kian menusuk.

Lampu-lampu neon dari kedai kebab dan bar-bar kecil di kawasan arondisemen ke-9 ini memberikan rona warna-warni yang kontras pada wajah Mahesa yang tampak lelah. Ia melewati sebuah gang sempit yang berbau sampah basah dan aroma bir basi, melangkah dengan pasti menuju sebuah gedung apartemen tua yang catnya sudah mengelupas di banyak bagian. Tangga kayu di dalam gedung itu berderit setiap kali ia menapakkan kakinya, menciptakan gema yang sepi di koridor yang hanya diterangi oleh satu lampu bohlam kuning yang berkedip-kedip.

Ia berhenti di depan pintu nomor 304. Mahesa tidak mengetuk, ia hanya mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci itu. Di dalam ruangan yang sempit dan pengap oleh asap rokok, seorang pria berkulit pucat dengan rambut pirang kusam sedang duduk di sofa yang kainnya sudah sobek. Pria itu, Pierre, sedang sibuk menghitung tumpukan uang kertas Euro di atas meja kayu yang permukaannya penuh dengan bekas lingkaran gelas.

Pierre mendongak saat melihat Mahesa masuk. Sebuah seringai muncul di wajahnya yang tirus. "Ah, mon ami. Kamu lama sekali. Bagaimana? Gadis itu tidak curiga?" tanya Pierre dalam bahasa Prancis yang kental dengan aksen jalanan.

Mahesa tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju meja, lalu menjatuhkan diri ke kursi kayu di seberang Pierre. Ia menarik napas panjang, meraba sakunya, dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar milik Felysha—bukan, ponsel itu masih ada di tas gadis itu, ia hanya mengeluarkan beberapa lembar uang yang ia simpan secara terpisah. Ia melempar uang itu ke atas meja, bergabung dengan tumpukan uang milik Pierre.

"Dia terlalu syok untuk curiga, Pierre. Kamu mendorongnya terlalu keras tadi. Dia terluka di lehernya," ucap Mahesa, suaranya terdengar datar namun ada nada dingin yang terselip di sana.

Pierre tertawa, suara tawanya terdengar parau dan tidak menyenangkan. Ia meraih tumpukan uang itu, mulai menghitungnya kembali dengan jari-jarinya yang kotor. "Itu hanya lecet kecil. Lagipula, dia tinggal di Passy. Gadis seperti itu punya banyak uang untuk membeli obat paling mahal di Paris. Lihat ini, Mahesa. Hasil malam ini lumayan besar. Dia target yang sangat mudah."

Mahesa hanya diam, matanya menatap kosong ke arah tumpukan uang itu. Ia teringat wajah pucat Felysha di bawah lampu jalan, cara gadis itu meremas paspor hijaunya seolah-olah itu adalah satu-satunya nyawa yang tersisa, dan bagaimana gadis itu berterima kasih padanya dengan suara yang bergetar. Rasa mual yang tipis muncul di ulu hati Mahesa, namun ia segera menekannya dalam-dalam. Di dunia yang ia jalani saat ini, perasaan kasihan adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli.

"Lain kali, jangan lakukan konfrontasi fisik kalau aku belum memberi kode," Mahesa meraih satu puntung rokok dari asbak, menyalakannya, dan menghirup asapnya dalam satu tarikan napas panjang. "Gadis itu punya supir pribadi. Untung tadi supirnya tidak ada di sekitar sana. Kalau tidak, kita berdua sudah berakhir di kantor polisi."

Pierre mengangkat bahu, tidak peduli. Ia membagi tumpukan uang itu menjadi dua bagian yang tidak sama rata, lalu mendorong bagian yang lebih kecil ke arah Mahesa. "Ini bagianmu. Kamu sudah melakukan bagianmu dengan baik. Pura-pura jadi pahlawan selalu berhasil untuk gadis-gadis Asia yang baru datang ke sini. Mereka terlalu polos untuk tahu bahwa orang yang menolong mereka adalah orang yang sama yang merencanakan semuanya."

Mahesa meraih uang itu, memasukkannya ke dalam saku jaket tanpa menghitungnya kembali. Ia berdiri, berjalan menuju jendela kecil yang menghadap ke arah jalanan bawah yang sepi. Ia menatap lampu-lampu Paris di kejauhan. Baginya, Paris bukan kota cahaya atau kota romantis. Paris adalah sebuah arena bertahan hidup yang sangat kejam. Ia sudah berada di sini selama dua tahun, awalnya datang dengan mimpi besar sebagai mahasiswa beasiswa yang gagal, dan berakhir di jalanan sebagai otak di balik aksi-aksi pencopetan kecil seperti ini.

"Gadis itu... namanya Felysha," gumam Mahesa pelan, nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Siapa peduli namanya?" Pierre menyahut sambil memasukkan uangnya ke dalam tas pinggang. "Besok kita cari target baru di dekat Louvre. Turis-turis Amerika biasanya lebih bodoh dan membawa lebih banyak uang tunai."

Mahesa tidak menyahut. Ia masih membayangkan cara Felysha menatapnya tadi—tatapan penuh harapan dan rasa syukur yang tulus. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan semenjak ia memutuskan untuk berhenti menjadi orang baik. Ia meraba sakunya, menyadari bahwa saputangan kesayangannya kini sudah tidak ada. Ia memberikannya pada gadis itu untuk menutupi luka yang sebenarnya disebabkan oleh temannya sendiri.

"Jangan terlalu banyak berpikir, Mahesa," Pierre berdiri, menepuk bahu Mahesa dengan kasar. "Dunia ini tidak adil. Kita hanya mengambil sedikit dari mereka yang punya terlalu banyak. Pergilah tidur. Besok pagi kita harus bangun awal."

Pierre berjalan menuju kamar tidurnya, meninggalkan Mahesa sendirian di ruang tamu yang temaram. Mahesa mematikan rokoknya di asbak, lalu menatap telapak tangannya sendiri. Ada sisa noda merah tipis di sana—darah Felysha yang sempat menempel saat ia membantu gadis itu berdiri tadi. Ia berjalan menuju wastafel dapur yang berkerak, menyalakan keran, dan menggosok tangannya dengan sabun sekuat tenaga.

Ia ingin menghapus jejak itu, ingin menghapus rasa bersalah yang mencoba menyelinap masuk ke dalam kepalanya. Namun, saat ia mematikan air, bayangan wajah Felysha masih tertinggal di sana. Mahesa menyadari satu hal yang menyakitkan: ia mungkin sudah berhasil mendapatkan uang malam ini, namun untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia merasa sangat muak dengan pantulan dirinya sendiri di cermin. Ia mematikan lampu, membiarkan kegelapan Rue des Martyrs menelan sisa-sisa nuraninya yang masih mencoba berbisik.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!