Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.
Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------
Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.
AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.
---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--
nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demo, Hamil, dan Lunas
Ternyata itu adalah siswa-siswi Kwee Lan.
Mereka yang kursus 2 tahun di perguruan daerah—karena sebelumnya udah punya basic bantu keluarga yang sinseh—baru aja lulus ujian daerah.
Cuma 5 yang lulus. 2 wanita, 3 pria.
Massa demo itu? Keluarga mereka.
Mereka datang bukan buat protes, tapi buat bersyukur. Lompatan kemampuan anak-anak mereka dalam 4-5 bulan terasa jauh banget. Dan semua karena Sinseh Kwee.
"SINSEH! KAMI MAMPU! " teriak salah satu ibu.
"ANAK GUE LULUS, SINSEH! " teriak yang lain.
Kwee Lan melongo. Tangannya masih pegang perut. Otaknya masih mikir: "Hamil... hamil... hamil..."
---
Di tengah kerumunan, salah satu tabib muda wanita—lulusan baru—iseng meraba nadi Kwee Lan.
Matanya membelalak.
"Temen-temen... " bisiknya.
"HAMIL DOOONG SINSEH KITA! "
Seketika massa berubah dari aksi syukur jadi pesta kejutan.
"WAH, SINSEH HAMIL, KEMBAR! "
"KABAR BAIK DOBEL! "
"INI REZEKI NOMPLOK! "
Kwee Lan cuma bisa diem. Tangannya masih di perut. Mulutnya udah gak bisa ngomong.
Beng Liong di sampingnya cuma garuk-garuk kepala—antara seneng, bingung, dan masih mikirin deposit kemarin.
---
Akhirnya massa pulang. Tapi nggak pulang tangan kosong.
Kwee Lan kasih mereka setumpuk oleh-oleh—teh jahe sereh, manisan plum, dan resep-resep ringan buat bekal.
Mereka pergi dengan gosip liar yang udah pasti bakal nyebar ke seluruh penjuru:
"Sinseh Kwee hamil!"
"Jenderal Naga jagoannya!"
"Katanya pake jurus rahasia Bu Ki Sut!"
“Tokcer, serang satu dapat 2”
---
Sidang Kilat di Ruang Tamu
Begitu massa bubar, Go Bun Kiat langsung narik Beng Liong ke ruang tamu.
"Jadi? "
"Jadi apa, Pa?"
"JADI YANG HAMIL ITU MANTU GUE? "
Beng Liong garuk kepala. "Iya, Pa."
Go Bun Kiat melongo. Matanya melotot kayak baru liat hantu—padahal mantunya sendiri lebih serem dari hantu.
"LO APAIN ANAK ORANG KOK HAMIL? " teriaknya, saking shock-nya.
Beng Liong nunduk. Wajahnya merah. Bukan malu, tapi bego.
"Ya... anu, Pa... digandeng, peluk, cium, dan rajin digosok."
Go Bun Kiat:
"DIEM!"
Nyonya Nyoo yang dari dapur denger, langsung ngakak.
"RAJIN DIGOSOK?! "
"IYA, MA! RAJIN! "
Ayah Go sangat menyesal. Bukan karena anaknya bikin mantunya hamil. Tapi karena dia gak bisa jaga mulut.
Malam itu, seisi rumah denger cerita "rajin digosok" dari Go Bun Kiat yang ternyata gak bisa diem.
---
Di Sudut Lain...
Ah Niu duduk di teras, minum teh jeruk sisa Sangjit.
Dari kejauhan, dia liat Kwee Lan—wanita yang dulu pernah dia harapkan—lagi senyum-senyum sambil pegang perut.
Senyum Kwee Lan. Bukan senyum hantu. Bukan senyum mitologi. Tapi senyum asli.
Ah Niu narik napas panjang.
Udah.
Lunas.
Hatinya yang dulu perih, sekarang lega.
Dia lihat Tan Eng dari jendela, lagi sibuk ngatur-ngatur meja. Wanita yang dulu dia kira cuma pengganti, ternyata jadi rumah yang nyata.
Ah Niu tersenyum.
Ia selama ini merasa jadi pengkhianat akibat jatuh cinta pada pandangan pertama sama adik jendral Go. Dia masih ingat bagaimana rombongan itu turun dari karavan. Dan ia menolong gadis yang terpeleset dari karavan yang sekarang jadi istrinya itu.
Dia senang bicara panjang dengan gadis itu sambil menunggu antrean pasien Kwee Lan. Terlanjur dekat, sampai paginya, ketika gadis itu bicara panjang lebar dengan Jendral Go. Pria yang membuat Kwee Lan seperti mainan.
Tangannya menggenggam. Air matanya keluar. Hatinya sudah menerima semua.
"Cin-cai lah, " bisiknya pelan. "Yang penting semua ho-ho-si."
[Bersambung]