Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 COMBLANGIN
Danu melangkah pergi
Ara masih duduk karena pesanannya belum lengkap. Santi sedang memberi topping keju dan cokelat pada pisangnya
Mak Eti menengok ke arah Danu yang menjauh
“Eh nak Danu ganteng ya sekarang. Badannya jadi juga. Kayak orang kota”
Ara cuma diam
Mak Eti melipat plastik sambil melanjutkan
“Tapi sayang… belum nikah kalo kamu sama nak Danu mau gak? nanti Mak comblangin kebetulan mamanya Mak kenal”
Ara langsung menoleh cepat
“Mak!”
“Kenapa? Mak dukung loh apalagi ibumu pasti dukung banget orang Danu punya usaha bengkel yang maju di kabupaten ini terus juga kerja jelas. Orangnya juga sopan, gak neko-neko dan Itu suami potensial tau”
Ara mendesah pelan
“Mak Ara baru pulang sehari pulang…”
“Justru itu. Mumpung masih segar” goda Mak Eti
Ara menahan senyum
“Mak ini ya…”
“Kamu gak tertarik?” tanya Mak Eti santai
Ara terdiam. Bukan karena tidak tertarik tapi karena tidak siap menjawab
“Ara belum mikir ke situ Mak”
Mak Eti mengangguk
“Mak cuma ingetin. Kadang yang cocok itu bukan yang paling jauh tapi yang paling dekat”
Ara terdiam
Mak Eti menaburkan keju terakhir
“Ingat gak? kamu dulu setiap dideketin orang selalu bilang mau cari CEO kaya raya”
Ara menutup wajahnya dengan tangan
“Mak masih ingat itu…”
“Sekampung juga ingat” jawab Mak Eti ringan sambil menyerahkan pesanan nya kemudian Ara menerima bungkusan membayar lalu berdiri
“Sudah sana pulang” kata Mak Eti “Nanti ibumu nanya lagi”
Sesampainya di rumah Ibu sudah menunggu di teras
“Lama juga”
“Ngobrol dikit Bu”
“Ngobrol sama siapa?” tanya Ibu cepat
Ara mendengus kecil “Bu…”
Ibu menyipitkan mata
“Tadi Mak Eti kirim pesan. Katanya kamu ketemu Danu”
Ara langsung berhenti
“Mak Eti cepat banget…”
“Anaknya Pak Hadi itu ya? Yang temennya Mas Raka?”
“Iya”
“Belum nikah kan?”
Ara memijat pelipis
“Bu juga baru sehari pulang…”
Ibu tertawa kecil
“Ibu cuma tanya tapi kalo ibu sih setuju soalnya dia orangnya kerja keras banget sampai punya bengkel yang lumayan besar”
Ara masuk sambil menggeleng
“Baru sehari pulang sudah begini” gumamnya
Sore datang pelan-pelan
Langit kampung berubah jingga. Ara berdiri di depan gudang bersama Ibu menatap tumpukan kardus yang berdebu
“Nah ini harta karunmu yang banyak banget sampai penuh nih gudang sangkin banyaknya” kata Ibu sambil membuka satu kardus besar
Ara berjongkok
Di dalamnya ada buku tulis bersampul bunga, map plastik berisi sertifikat lomba, dan satu kotak kecil warna biru
Ara mengambil buku paling atas
Tulisannya masih rapi
“Ara Aisyah – Kelas 2 SMA”
Ia tersenyum kecil
“Bu… ini masih disimpan?”
“Semua” jawab Ibu singkat “Ibu gak pernah buang”
Ara tersenyum kecil lalu mengambil satu buku kecil bersampul cokelat yang terlihat paling tua. Sudutnya sudah sedikit melengkung
Begitu melihatnya ingatannya seperti tersentak
Meja kayu di kelasnya dulu
Ia ingat sesuatu
“Bu…” Ara berhenti membuka halaman “Dulu sebelum kelulusan… Ara pernah nemu buku ini di bawah laci meja”
Ibu menoleh
“Di bawah laci?”
“Iya. Kayak ada yang sengaja selipin tapi waktu itu lagi ribet banget. Persiapan kelulusan daftar kuliah berkas-berkas…”
Ara menelan ludah pelan
“Ara gak sempat baca terus keburu pindah ke Jakarta. Buku ini gak kebawa”
Ibu terdiam beberapa detik
“Mungkin waktu bersih-bersih Ibu masukkan ke kardus. Ibu kira itu memang bukumu”
Ara membuka halaman demi halaman
Di tengahnya ada lipatan kertas tipis
Jantungnya berdetak lebih cepat
“Ini…” gumamnya pelan
Ia benar-benar tidak pernah membuka bagian ini sebelumnya
Dengan hati-hati Ara membuka lipatan kertas itu
Tulisan tangan rapi. Bukan tulisan yang langsung ia kenali
‘Kalau kamu baca ini mungkin kamu sudah lulus. Mungkin juga sudah pergi jauh’
Ara terdiam
Angin dari pintu gudang berhembus pelan
Ia lanjut membaca
‘Aku gak berani kasih langsung. Jadi cuma bisa selipin di tempat yang mungkin kamu temukan. Kalau ternyata gak pernah kamu baca… ya sudah. Yang penting aku pernah mencoba’
Tidak ada nama
Tidak ada tanda tangan
Hanya satu tanggal
Dua hari sebelum kelulusan
Ara mengerutkan kening
Berarti benar. Buku ini memang sengaja ditaruh di bawah laci mejanya
Dan ia… tidak pernah membacanya
Selama tujuh tahun
“Siapa ya Bu?” suaranya pelan, lebih seperti bertanya pada diri sendiri
Ibu mengangkat bahu
“Gak tau orang kamu dulu sering belajar bareng. Sering nongkrong di warung. Banyak temannya”
Ara mencoba mengingat
Wajah-wajah yang samar. Tawa yang dulu terasa biasa
Ia melanjutkan membaca
‘Aku gak tahu kamu bakal jadi apa di luar sana. Tapi semoga kamu gak lupa cara ketawa kamu yang dulu. Dan semoga suatu hari nanti kalau kamu pulang kamu gak merasa asing’
Kalimat terakhir membuat dadanya menghangat sekaligus sesak
Ia memang pulang
Dan ia memang merasa sedikit asing
Ara melipat kembali kertas itu dengan hati-hati
“Ara gak pernah tahu ada orang yang nulis begini”
Ibu menatapnya lembut
“Kadang ada orang yang perasaannya gak pernah sampai. Bukan karena gak ada tapi karena waktunya gak ketemu”
Ara terdiam
Ia memegang buku itu lebih erat
Tujuh tahun lalu ia terlalu fokus pergi
Tidak pernah sempat menoleh ke bawah laci mejanya sendiri
Malamnya Ara duduk di tepi kasur di kamarnya
Buku itu terbuka di pangkuannya
Ia membaca ulang surat itu sekali lagi
Bukan karena langsung jatuh hati pada sosok tak bernama itu
Tapi karena ada rasa penasaran yang tumbuh pelan
Siapa yang cukup berani menyelipkan surat
Tapi tidak cukup berani mencantumkan nama
Dan kenapa kalimatnya terasa… tulus
Ara merebahkan diri ke kasur
Plafon kamar masih sama
Hanya dirinya yang berubah
Di luar suara motor melintas di jalan depan rumah
Ara menutup mata
Entah kenapa untuk pertama kalinya sejak pulang ia merasa masa lalunya belum benar-benar selesai
Dan mungkin…
Ia baru saja membuka halaman yang seharusnya ia baca tujuh tahun lalu
Keesokan harinya jam menunjukkan pukul delapan pagi
Di kamar, Ara masih gulung selimut, mimpi lagi makan bakso gratis seumur hidup
Tiba-tiba…
“ARAAA! IHHH! JAM DELAPAN GAK BANGUN-BANGUN!”
Suara Ibunya menggema seantero rumah. Bahkan ayam tetangga mendadak diam, mungkin takut tersaingi
“Ibu tuh heran! Itu anaknya Santi jam segitu udah bersih-bersih rumah! Ngepel! Nyapu! Kamu mah? Makan tidur makan tidur!”
Ara cuma buka satu mata kemudian tidur lagi tapi mulut bicara
“Bu… ini kan hari Minggu…”
“Hari Minggu bukan hari jadi batu!”
Ibu lanjut ceramah mode toa masjid tanpa tombol off
“Kamu tuh ya! Perempuan harus rajin! Liat tuh anaknya Santi si Salsa udah rajin pagi pagi! Udah mandi, udah nyuci, udah masak! Kamu? Rambut aja belum bangun!”
Ara duduk pelan-pelan, rambutnya ngembang kaya singa baru bangun
“Bu, rambut aku bangun kok… Cuma mata Ara aja rasanya lengket banget kalo buka kaya ada lemnya”
“Halah banyak alasan. Ibu tuh ngomel karena sayang! Bukan karena hobi teriak! Dan Ibu gak akan teriak kalo kamu pagi pagi udah rajin”