NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Kalah Jumlah

Taman selatan kediaman Demak itu sangat rimbun, dipenuhi pohon-pohon beringin tua dan semak belukar yang belum dipangkas.

Udara malam terasa lembap dan pekat, menyembunyikan jalan setapak berbatu yang berkelok-kelok.

Sawitri melangkah tanpa suara di balik bayangan dedaunan, instingnya menyala siaga.

Raden Cakrawirya berjalan beberapa langkah di depannya, pedang panjangnya masih tergenggam erat, membelah kegelapan malam dengan kewaspadaan yang luar biasa.

Meski pemuda itu telah menyelamatkannya dari kepungan prajurit Demak, Sawitri tak serta-merta percaya padanya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Ndara Tabib," bisik Cakrawirya tiba-tiba, tanpa menoleh.

"Bagaimana caramu membungkam dua penjaga di lorong sel tadi tanpa membuat mereka menjerit?"

"Aku melihat leher mereka... tidak ada luka memar bekas pukulan."

Sawitri mengatur ritme napasnya, menjaga stamina tubuhnya yang mulai menurun setelah aksi pelarian itu.

"Kulo hanya menekan saraf vagus mereka dengan ujung jarum perak."

"Sedikit tekanan di sana akan memicu refleks vasovagal akut, membuat detak jantung melambat drastis dan menyebabkan pingsan instan," jawab Sawitri datar.

"Sederhana."

"Mboten perlu menggunakan pedang dan membuat keributan seperti yang kau lakukan tadi."

Cakrawirya tertawa pelan.

"Kejam dan efisien."

"Kau benar-benar wanita paling mengerikan yang pernah kutemui."

Langkah Cakrawirya terhenti.

Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada Sawitri, Nyi Inggit, dan Ndari untuk berhenti.

Di depan mereka, berdiri sebuah pendopo kecil yang sudah tak terawat.

Atap ijuknya sebagian sudah runtuh, namun dari dalam pendopo itu, terdengar suara erangan tertahan.

"Ada seseorang di dalam sana," gumam Cakrawirya, matanya menyipit tajam menembus kegelapan.

Sawitri mendengarkan erangan itu dengan saksama.

"Suara itu... asalnya dari rongga dada yang tertekan."

"Bukan dari tenggorokan," analisis Sawitri cepat.

"Dia sedang kesulitan bernapas."

"Pneumotoraks, mungkin."

"Tunggu di sini," perintah Cakrawirya.

Ia melesat maju, menyelinap ke dalam pendopo itu bagai bayangan.

Tak lama, ia kembali dengan raut wajah tegang.

"Itu salah satu batur istana."

"Dia terluka parah."

"Ada luka tusuk di dadanya."

"Bawa aku padanya," ucap Sawitri tanpa ragu.

Dokter forensik di dalam dirinya tak bisa membiarkan pasien sekarat begitu saja, bahkan di tengah pelarian.

"Kita sedang diburu, Sawitri!"

"Prajurit Demak akan menyisir taman ini sebentar lagi," protes Cakrawirya.

"Jika kita meninggalkannya, erangannya akan menarik perhatian prajurit Demak lebih cepat dari yang kau perkirakan," bantah Sawitri rasional.

"Lagipula, batur ini mungkin tahu jalur rahasia untuk keluar dari istana ini."

"Bawa aku padanya sekarang."

Cakrawirya menghela napas pasrah, menyadari ia tak akan bisa menang berdebat dengan gadis keras kepala ini.

Ia menuntun Sawitri masuk ke dalam pendopo yang pengap itu.

Seorang pemuda berpakaian batur tergeletak di lantai papan yang berdebu.

Napasnya tersengal-sengal pendek, tangannya mencengkeram dada kirinya yang bersimbah darah gelap.

Sawitri langsung berlutut di samping pemuda itu.

"Pegang bahunya, jangan biarkan dia bergerak," perintah Sawitri pada Cakrawirya.

Ia merobek kain kembennya sendiri, lalu memeriksa luka tusuk itu.

"Darah berbuih."

"Udara masuk ke rongga pleura."

"Paru-parunya kolaps," gumam Sawitri cepat, otaknya membedah anatomi cedera itu dalam hitungan detik.

"Aku butuh sesuatu untuk menutup luka ini agar udara tidak masuk lagi, tapi udara yang terperangkap di dalam harus bisa keluar."

"Kulo punya getah pohon damar di sakuku," sela Cakrawirya, merogoh kantong surjannya dan mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berisi getah yang lengket.

"Sempurna," sahut Sawitri efisien.

Ia mengambil sepotong daun pisang yang lebar dari luar pendopo, mengolesinya dengan getah damar, lalu menempelkannya di atas luka tusuk pemuda itu.

Ia hanya merekatkan tiga sisi daun itu, membiarkan satu sisi bawahnya terbuka sedikit.

"Katup satu arah improvisasi," jelas Sawitri saat melihat tatapan bingung Cakrawirya.

"Udara bisa keluar dari paru-parunya saat dia membuang napas, tapi udara luar mboten bisa masuk saat dia menarik napas."

"Paru-parunya akan mengembang perlahan."

Benar saja, beberapa detik kemudian, napas pemuda itu mulai lebih teratur.

Wajahnya yang semula membiru mulai memerah kembali.

"M-matur nuwun..." rintih pemuda itu dengan sisa tenaganya, menatap Sawitri dengan mata berkaca-kaca.

"Jangan banyak bicara."

"Siapa yang menyerangmu?" tanya Sawitri datar, mengusap darah di tangannya dengan kain perca.

"R-Raden Mas Dhaniswara... beliau mengamuk... mengira kulo yang menyembunyikan N-Ndara Ayu..."

"Beliau menusuk kulo dan membuang kulo ke sini..."

Sawitri dan Cakrawirya saling berpandangan.

Dhaniswara benar-benar sudah lepas kendali akibat racun kecubung itu.

"Kowe tahu jalan keluar rahasia dari istana ini?" tanya Cakrawirya cepat, mendengar suara derap langkah prajurit yang mulai menyisir taman selatan.

"A-ada... di balik pohon beringin kembar di ujung taman... ada terowongan air bawah tanah yang menuju ke Kali Tuntang..." jawab pemuda itu lemah.

"Bagus."

"Kita bergerak sekarang," putus Cakrawirya.

Ia mengangkat pemuda yang terluka itu ke bahunya dengan mudah, menunjukkan kekuatan fisiknya yang luar biasa.

Sawitri memimpin jalan, diikuti Nyi Inggit dan Ndari yang terus merapal doa pelan.

Mereka menyelinap di antara semak-semak lebat, menghindari cahaya obor prajurit Demak yang mulai berpatroli.

Jantung Ndari berdegup kencang, namun melihat ketenangan majikannya, gadis itu memaksa kakinya untuk terus melangkah.

Pohon beringin kembar itu akhirnya terlihat, menjulang angker di batas tembok istana.

Di sela-sela akar gantungnya yang besar, terdapat sebuah mulut terowongan batu bata yang digenangi air setinggi lutut.

"Masuklah," perintah Cakrawirya, menurunkan pemuda batur itu.

"Terowongan ini sempit."

"Kulo akan berjaga di belakang kalian."

"Mboten."

"Kau yang bawa pemuda ini."

"Tenagaku mboten cukup untuk menyeretnya di dalam air," tolak Sawitri efisien.

"Nyi Inggit dan Ndari, kalian jalan lebih dulu."

Cakrawirya menatap Sawitri dengan tajam.

"Lalu kau?"

"Kulo akan menutup pintu masuk ini dari luar dengan semak-semak agar jejak kita tidak terlihat, lalu menyusul di belakang kalian."

"Terlalu berbahaya."

"Biar kulo saja—"

"Kulo mboten butuh perlindunganmu, Raden," potong Sawitri dingin, matanya menantang tatapan pemuda itu.

"Kulo butuh kau untuk memastikan batur-baturku selamat sampai ke luar."

Cakrawirya terdiam, rahangnya mengeras.

Ia sadar gadis ini memiliki ego yang sama besarnya dengan ketajamannya.

Tanpa membantah lagi, ia masuk ke dalam terowongan, disusul Nyi Inggit dan Ndari.

Sawitri bergerak cepat, menarik sulur-sulur tanaman rambat dan dahan-dahan patah untuk menutupi mulut terowongan.

Namun, saat ia baru saja akan melompat masuk ke dalam terowongan, sebatang anak panah melesat menembus kegelapan dan menancap di batang pohon beringin, hanya beberapa inci dari kepalanya.

"Di sana dia! Raden Ajeng Sawitri!" seru seorang prajurit Demak, menunjuk ke arah pohon beringin.

Puluhan prajurit dengan obor menyala berhamburan dari balik pepohonan, mengepung area itu.

Sawitri berdiri mematung.

Ia kalah jumlah, dan terowongan di belakangnya terlalu sempit untuk melarikan diri dengan cepat.

Jika ia masuk sekarang, prajurit itu akan mengejarnya dan membunuh mereka semua di ruang tertutup.

"Logika memintaku menyerah," batin Sawitri, tangannya meraba sisa jarum peraknya yang tinggal tiga batang.

"Tapi kulo mboten pernah menyerah pada pria yang memegang senjata lebih panjang dariku."

"Jangan bergerak, Ndara Ayu!" bentak pimpinan prajurit, mengarahkan tombaknya.

"Raden Mas Dhaniswara menginginkan Anda hidup-hidup."

"Beliau ingin menyiksa Anda dengan tangannya sendiri."

1
SENJA
ada anak tiri ada anak haram 😄
gina altira
Sukmawati itu dalangnya atau masih ada dalang yang lebih besar lg
SENJA
jadi ngebunuh perlahan? atau malah jadi kebal racun?
SENJA
adiknya juga jahat kok yowes biar aja 🤣
SENJA
wakaaka wandira cuma buat bayar utang 🤭
Betharia Anggita Dominique
mantap👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
maksud?
Betharia Anggita Dominique
seru nih👍
fredai
Hadir Thor semangat 💪
gina altira
yang diperebutinnya lempeng ajahhh,,
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dua pangeran saling merebut sang tabib 🤣
SENJA
lu berdua debat mulu kadang hal ga penting di debatin berdua😤
SENJA
pusing hidup penuh intrik 😅
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya
Allea
aku ga ngudeng bahasa Jawa Thor 😑🤭
SENJA
udah sih biar aja kan sudara tiri dan mereka jahat sama kamu 😤
SENJA
kalian malah debat hadeeh 😤
Dewiendahsetiowati
setan aja kalah sadisnya sama Sukmawati
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dasar laki laki gilaa😤
SENJA
sukur lu 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!