NovelToon NovelToon
Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: BundaNazwa

Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.

"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."

Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.

Yuk simak cerita selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehormatan Rumah Tangga Yang Dihancurkan

Ramadhan pertama di Jerman datang dengan tantangan yang tak pernah Qais bayangkan sebelumnya. Di koridor Rumah Sakit Charité Berlin, aroma kopi dari kantin lantai bawah seolah menguji keteguhan hatinya. Matahari musim semi di Jerman masih menggantung tinggi meski jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Waktu berbuka masih dua jam lagi.

Qais baru saja menyelesaikan observasi pada seorang pasien pasca-operasi katup jantung. Ia mencatat instruksi medis dalam bahasa Jerman yang kini sudah fasih ia ucapkan.

"Alles gut, Herr Schmidt. Gute Besserung," (Semoga lekas sembuh) ucap Qais lembut, memberikan senyum penyabar khasnya kepada pasien lansia itu sebelum melangkah keluar.

Ia berjalan menuju loker pribadinya. Di sana, terselip sebuah sajadah kecil dan Al-Qur'an saku. Di Jerman, waktu seakan berjalan lebih lambat bagi perut yang kosong, namun berjalan sangat cepat bagi tangan yang sibuk bekerja.

Saat waktu berbuka tiba, tak ada suara bedug atau adzan yang bersahutan dari pengeras suara masjid seperti di pesantrennya dulu. Qais hanya duduk di bangku taman rumah sakit yang dingin. Ia membuka botol minumnya, meneguk air dengan takzim sambil menatap menara Berliner Fernsehturm di kejauhan.

"Selamat berbuka, Qais," bisiknya lirih. Ia tersenyum tipis, beralih memandangi botol di tangannya.

Pikirannya melayang pada suasana pesantren yang hangat dan ramai, para santri yang berebut takjil ketika berbuka bersama. Dia rindu semua itu, dan tentunya…… pada wanita yang sampai saat ini masih memegang kedudukan tertinggi di hatinya.

Meskipun ia tahu mencintai wanita yang sudah mempunyai kehidupan sendiri adalah sebuah dosa. Namun terkadang dia sudah mencoba, tapi hatinya seolah menolak melepaskan cinta itu.

Qais mengambil sebutir kurma, mengunyahnya pelan, lalu segera bangkit. Shift malamnya baru saja dimulai. Di Jerman, ia belajar menyembuhkan raga manusia, sembari terus memohon pada Allah agar menyembuhkan luka batinnya sendiri, mengikhlaskan apa yang sudah menjadi kehendak-Nya.

***

Malam semakin larut, namun Aiza belum juga bisa memejamkan mata. Sudah puluhan kali ia menghubungi nomor Arjuna, namun hanya suara operator yang menyahut.

Ya, sejak sore semalam Aiza selalu merasa cemas terhadap suaminya. Hingga sore ini pun dia masih berusaha menghubungi Arjuna, tapi hasilnya tetap sama. Nihil.

Ingin bertanya pada mertuanya Aiza pun tak berani mengingat Agatha yang selalu sinis padanya

Alhasil, Aiza pun memutuskan untuk memasak saja sambil menunggu waktu berbuka puasa. Mengingat malam ini Arjuna akan pulang. Dia berharap benar-benar tak terjadi apa-apa terhadap sang suami.

Usai memasak, Aiza lantas menata semua makanan itu di atas meja makan. Dia duduk disana sambil menunggu Arjuna pulang.

Adzan magrib dari pengeras masjid sudah terdengar. Aiza beranjak, mengintip di balik jendela kaca itu, berharap suaminya sudah pulang. Tapi sayangnya belum ada tanda-tanda.

Aiza lantas kembali duduk, menuangkan air putih untuk ia minum, tanpa menyentuh makanan di depannya sedikitpun.

Keinginannya untuk menunggu Arjuna cukup teguh, tak peduli seberapa lama itu, namun cukup untuk membuat hidangan favorit suaminya mulai mendingin, sedingin hatinya yang mulai didera firasat buruk.

“Ya Allah, lindungi suamiku. Semoga tidak terjadi apa-apa di jalan,” batin Aiza cemas. Ia bahkan sudah menyiapkan handuk hangat dan pakaian ganti, berjaga-jaga jika Arjuna pulang dalam keadaan lelah.

Tak lama kemudian, suara deru mobil terdengar berhenti di depan rumah. Aiza bernapas lega. Dengan langkah tergesa, ia membuka pintu depan, siap menyambut suaminya dengan senyum terbaik meski matanya sembab karena menahan kantuk.

"Mas, alhamdulillah kamu pul—"

Kata-kata Aiza tertahan di tenggorokan. Senyumnya luntur seketika.

Di hadapannya, Arjuna berdiri dengan kemeja yang sedikit berantakan. Namun, bukan itu yang membuat jantung Aiza seolah berhenti berdetak. Tangan Arjuna dengan erat menggenggam tangan seorang wanita bergaun hijau muda yang tampak sangat mesra bersandar di bahunya.

"Mas... ini siapa?" suara Aiza bergetar, nyaris hilang.

Arjuna tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Ia justru tersenyum sinis, seolah pemandangan di depannya adalah hal yang lumrah.

"Kenalkan, ini Briana. Pacarku sebelum kita menikah. Oh, ralat... dia masih pacarku sampai sekarang," jawab Arjuna dengan nada santai yang menyakitkan.

Briana, wanita itu, menatap Aiza dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan meremehkan. "Jadi ini istri pilihan keluarga kamu, sayang? Kuno sekali," ucapnya sambil tertawa kecil, sengaja mempererat pelukannya di lengan Arjuna.

Aiza mundur selangkah, tangannya berpegangan pada daun pintu agar tidak jatuh. "Mas, kamu sadar apa yang kamu lakukan? Aku ini istrimu, Mas! Kamu malah bawa perempuan lain ke rumah?”

Arjuna melangkah masuk tanpa permisi, menarik Briana bersamanya melewati Aiza yang hancur. "Ini rumahku, Aiza. Dan Briana akan sering di sini mulai sekarang. Urus saja makan malammu itu, jangan mengaturku.”

Aiza memejamkan mata, menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang baru saja diinjak-injak. Ia menghapus air matanya dengan kasar, lalu berbalik, menatap lurus ke arah Briana yang masih bergelayut manja di lengan suaminya.

“Tunggu!" panggil Aiza dengan sisa suara yang bergetar.

Kedua orang itu menoleh, Briana tersenyum mengejek, "Kenapa? Kamu mau marah? Harusnya kamu sadar diri, Arjuna nggak akan pernah puas kalau cuma sama wanita membosankan kayak kamu.”

Aiza tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang penuh dengan penekanan. Ia tidak membalas dengan teriakan, melainkan dengan suara tenang yang justru terasa lebih tajam dari sembilu.

"Aku baru sadar satu hal," ucap Aiza sambil melirik Arjuna dan Briana bergantian.

"Memang benar, manusia itu tidak akan pernah merasa puas dengan makanannya sendiri. Dia akan merasa makanan orang lain jauh lebih enak, meskipun itu hanya dengan menu ikan asin.” Aiza melirik pada Arjuna. "Benar kan, Mas?”

Suasana ruang tamu mendadak sunyi. Wajah Briana berubah merah padam, menyadari bahwa dirinya baru saja disamakan dengan 'ikan asin'—sesuatu yang murah dan hanya enak karena hasil mencuri milik orang lain.

Arjuna mendelik tajam, "Maksud kamu apa, Aiza?!"

Aiza tidak gentar. Ia menatap Arjuna dengan tatapan yang belum pernah Arjuna lihat sebelumnya—tatapan kemarahan yang sudah mencapai puncaknya.

"Maksudku sederhana, Mas. Hanya orang yang tidak punya rasa syukur yang akan mengais sampah di pinggir jalan, padahal di rumahnya sudah disediakan hidangan yang halal dan bersih. Silakan nikmati 'ikan asin' itu, kalau memang itu level seleramu."

Tanpa menunggu jawaban, Aiza berbalik arah menuju kamarnya. Meninggalkan Arjuna yang terpaku dan Briana yang meradang karena harga dirinya baru saja dipukul telak oleh kata-kata wanita yang tadinya ia anggap lemah.

Aiza menutup pintu kamar dengan rapat, lalu menguncinya dari dalam. Tubuhnya merosot, bersandar pada kayu pintu yang dingin. Kekuatan yang tadi ia paksakan di depan Arjuna dan wanita itu luruh seketika.

Suara tawa Clarissa dan nada manja wanita itu masih terdengar sayu-sayu dari luar, menembus celah pintu, menusuk ulu hati Aiza.

"Ikan asin..." bisik Aiza pada kegelapan kamar. Ia menertawakan getirnya nasib sendiri. Ternyata benar, menjadi wanita terhormat tidak menjamin seorang pria akan menetap jika dasarnya memang tidak pernah punya rasa syukur.

Ia berjalan gontai menuju meja kecil di sudut kamar. Di sana, masih tersimpan sebuah buku pemberian Qais dengan judul ‘Sabar Tanpa Batas’.

Dengan mata sembap, Aiza membuka halaman pertama. Di sana, di balik sampul, ada tulisan tangan Qais yang sangat ia kenal—rapi, tegas, namun memancarkan kelembutan.

"Untuk calon penjaga hatiku, Aiza…

Di dunia ini, kecantikan adalah ujian, dan kehormatan adalah mutiara yang paling berharga. Teruslah menjadi wanita yang membuat bidadari cemburu karena ketaatanmu. Aku menitipkan hatiku pada Allah, agar Dia menjagamu saat aku tak ada di sampingmu. Teruslah bersinar dalam balutan adabmu."

— Qais.

Aiza mengusap tulisan itu dengan ujung jarinya. "Kamu menitipkan aku pada Allah, Gus... tapi kenapa Allah justru membiarkan aku diuji seberat ini?" bisiknya perih.

Kalimat "menjaga kehormatan" dalam catatan Qais terasa seperti tamparan bagi Aiza saat ini. Di luar sana, Arjun, laki-laki yang menyandang status suaminya—sedang menghancurkan kehormatan itu dengan membawa wanita lain masuk ke rumah mereka.

Sangat kontras dengan Qais. Dulu, bahkan saat mereka masih bertunangan, Qais tak pernah sekali pun lancang menyentuh tangannya. Qais memperlakukannya seperti mutiara yang sangat mahal harganya. Sedangkan Arjuna? Arjuna memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah yang bisa ia injak-injak perasaannya kapan saja.

Di tengah dinginnya malam dan suara tawa Arjuna yang masih sesekali terdengar dari ruang tengah. Aiza memeluk kitab itu erat di dadanya. Kitab dan catatan manis itu adalah satu-satunya bukti yang tersisa bahwa ia pernah begitu dicintai dan dimuliakan oleh laki-laki sehebat Gus Qais.

1
Mila Mulitasari
nah loh ayo otw baju orange tu Briana, moga gak ngedrama lg, Arjuna menjemput penyesalan yg hakiki🤣
yuli anti
uhh qais lope lope 😍😍😍
di tunggu up lgi ka 😍
Mila Mulitasari
karma sudah mulai menuju sasaran yg menyakiti pasti akan menerima kesakitan yg setimpal
BundaNazwa: Iya, Kak. Setiap kejahatan pasti ada balasan ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
saat karma itu datang kamu akan sangat menyesal Arjuna..
BundaNazwa: Tul, Kak ☺️
total 1 replies
yuli anti
uuhh bkalan brlayar lgi kan ka 😍😍
BundaNazwa: In Syaa Allah. Jalani aja dulu tapi 😁
total 1 replies
Mila Mulitasari
hidih pasangan lucnut🤭 karma tdk akan salah sasaran
BundaNazwa: Aamiin 😅
total 1 replies
yuli anti
uhhh bkin greget aja

up lgi dong ka😍
BundaNazwa: OTW hari ini, Kak 😁
total 1 replies
Sartika
Ada iklan nya engga klo baca nie
BundaNazwa: Kayaknya ada, tapi nggak banyak ☺️
total 1 replies
BundaNazwa
OTW besok, kak ☺️
yuli anti
gk sbar nunggu slanjutnya 😍
Winarti Bekal
ya'allah ujian aiza berat sekali 🥺
BundaNazwa: Bukti kalau Allah sayang sama hambanya, pasti sering diuji☺️
total 1 replies
Nurul Uyun
Arjuna itu punya istri lain ya
BundaNazwa: Pacar, Kak ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
gara" kak othhor aku lari kesini juga🤭
BundaNazwa: Asik, akhirnya Kakak sampai juga kesini 🤣
Makasih Kak udah bela-belain ke sini 🤭🙏
total 1 replies
Aira Zaskia
Suka banget,liat ditiktok langsung otw kesini
BundaNazwa: Terimakasih sudah mampir, Kakak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!