Tiga tahun menikah, Tania hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri. Baginya, Rey adalah semesta, tapi bagi Rey, Tania hanyalah 'obat penawar' saat hatinya hancur ditinggal masa lalu.
Tania sudah memberikan segalanya, sampai dia sadar—di hati suaminya, tetap ada nama wanita lain yang tak sanggup dilepaskan.
Saat Tania berhenti peduli dan berpapasan tanpa lagi menatap mata suaminya, Rey baru merasakan dingin yang sesungguhnya.
"Apakah mencintai harus sesakit ini? Jika kau cinta, mengapa tak menahannya, Rey?"
Terinspirasi dari lagu Arvian Dwi(Hatimu Milik Dia)
Dukung Authir yaa,,like,komen,gift hehehe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Karma Tidak Pernah Salah Alamat
Rumah mewah di kawasan elit itu kini tak lebih dari sebuah bangunan besar yang dingin dan berantakan. Rey melangkah masuk dengan bahu yang merosot setelah kejadian memalukan di parkiran apartemen Maya tadi pagi. Bekas tamparan Tania di pipinya waktu itu mungkin sudah tidak merah lagi, tapi bekas "tamparan" kata-kata istrinya masih terasa panas dan berdenyut di dalam jantungnya.
Saat pintu depan terbuka, Rey tidak lagi disambut wangi lilin aromaterapi jeruk purut yang menenangkan. Sebaliknya, bau sampah dapur yang menumpuk dan aroma masakan gosong menyeruak menyambut indra penciumannya.
"Rey! Kamu dari mana saja sih? Aku lapar tahu!"
Suara melengking Bianca terdengar dari arah ruang makan. Wanita itu duduk di sana, masih mengenakan piyama sutra, dikelilingi kotak-kotak makanan delivery yang berserakan. Tidak ada piring bersih di meja. Tidak ada gelas yang tertata.
Rey menatap Bianca dengan pandangan kosong.
"Kenapa rumah ini berantakan sekali, Bi? Kenapa sampahnya nggak dibuang ke depan?"
Bianca mendengus, ia sibuk memoles kuku jarinya.
"Ya ampun, Rey. Aku kan bukan pembantu. Aku sudah coba panggil layanan pembersih, tapi mereka baru bisa datang besok. Lagipula, biasanya kan Tania yang urus semua ini? Kenapa kamu nggak telepon dia saja suruh pulang sebentar buat beresin?"
Mendengar nama Tania disebut dengan begitu entengnya sebagai "tukang beres-beres", darah Rey mendidih. Ia teringat bagaimana Tania selalu memastikan setiap sudut rumah ini berkilau tanpa pernah mengeluh satu kali pun. Tania yang tangannya halus tapi rela berkutat dengan sabun cuci demi kenyamanan Rey.
"Tania bukan pembantu, Bianca! Dia istriku!" bentak Rey tiba-tiba.
Bianca tersentak, botol kuteksnya hampir jatuh. "Loh, kok kamu bentak aku? Bukannya selama ini kamu juga anggap dia begitu? Kamu sendiri yang bilang kalau dia itu cuma 'pajangan' pilihan ibumu!"
Rey terdiam. Kata-kata Bianca telak menghantam kesadarannya. Benar. Dia sendiri yang menciptakan monster ini. Dia yang membiarkan Bianca merasa lebih tinggi dari istrinya sendiri. Dan sekarang, monster itu sedang memakan dirinya hidup-hidup.
Rey melangkah ke dapur, ingin mengambil minum. Ia membuka kulkas, berharap ada botol air dingin yang sudah tersedia. Tapi kulkas itu kosong melompong. Hanya ada beberapa botol soda milik Bianca dan bahan makanan mentah yang sudah mulai layu karena tidak ada yang mengolahnya.
Rey teringat setiap pagi, Tania akan mengisi botol kaca dengan air alkali dan irisan lemon agar Rey tetap sehat. Hal-hal kecil yang selama tiga tahun ini ia anggap sebagai "hal yang memang seharusnya ada", ternyata adalah bentuk cinta yang luar biasa besar yang kini telah hilang.
"Rey, kartu kredit yang kamu kasih kemarin kok limitnya sudah habis sih? Aku tadi mau beli tas keluaran terbaru buat ngilangin stres, tapi malah ditolak," Bianca muncul di pintu dapur, wajahnya merengut manja yang kini terlihat sangat memuakkan bagi Rey.
Rey berbalik, menatap Bianca dengan tatapan tajam. "Limitnya habis karena kamu sudah belanja lebih dari seratus juta dalam dua hari, Bianca! Kamu pikir aku mesin pencetak uang?"
"Ih, kamu kok perhitungan banget! Dulu pas kita pacaran kamu nggak begini!"
"Dulu itu dulu! Sekarang aku sedang dalam proses cerai, asetku sedang diawasi, dan rumahku berantakan! Bisa nggak kamu diam dan berhenti mengeluh?"
Bianca terperangah. Ia tidak menyangka Rey akan sekasar itu. "Oh, aku tahu. Kamu menyesal kan karena Tania pergi? Kamu kangen sama dia? Kamu kangen sama pelayan pribadimu itu?"
"Keluar," ucap Rey pendek.
"Apa?"
"Keluar dari rumahku sekarang, Bianca. Aku mau sendiri."
"Rey! Kamu nggak bisa usir aku! Aku nggak punya tempat tinggal lain! Ayahku masih marah!" Bianca mulai menangis, tapi kali ini Rey tidak melihatnya sebagai kesedihan yang tulus. Ia melihatnya sebagai manipulasi yang menjijikkan.
"Pakai uang dari tas-tas mewah mu itu buat sewa hotel. Aku nggak peduli. Keluar sekarang sebelum aku panggil satpam untuk menyeret kamu!"
Rey berteriak begitu keras hingga suaranya bergema di seluruh ruangan. Bianca, yang menyadari bahwa Rey tidak sedang bercanda, segera berlari ke kamar tamu dengan wajah merah padam, menyambar barang-barangnya dengan kasar.
Setelah Bianca pergi dengan suara pintu yang dibanting, rumah itu kembali sunyi. Tapi sunyi kali ini terasa mencekik. Rey duduk di lantai dapur yang kotor, menyandarkan punggungnya di pintu kulkas yang dingin.
Ia meraih ponselnya, membuka folder tersembunyi yang berisi foto-fotonya bersama Tania. Ada satu foto saat mereka merayakan ulang tahun pernikahan yang kedua. Tania tersenyum sangat manis ke arah kamera, sementara Rey hanya menatap datar, seolah keberadaan wanita itu hanyalah sebuah kewajiban.
"Maafin aku, Tan..." bisik Rey parau. Air matanya jatuh, menetes ke layar ponselnya.
Ia teringat lirik lagu yang sering didengar Tania: Jika kau cinta, mengapa tak menahannya?
Kini ia mengerti. Menahan bukan soal paksaan fisik atau ancaman di parkiran. Menahan adalah soal menjaga hati agar orang tersebut tidak punya alasan untuk pergi. Dan Rey telah memberikan ribuan alasan bagi Tania untuk menjauh.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan dari pengacaranya.
Pengacara: "Pak Rey, pihak Bu Tania bersikeras untuk mempercepat sidang perdana. Mereka menolak mediasi di luar pengadilan. Sidang pertama dijadwalkan hari Selasa depan jam 10 pagi."
Rey menatap pesan itu dengan tangan gemetar. Selasa depan. Itu berarti lima hari lagi. Lima hari menuju hari di mana ia harus berdiri di depan hakim dan melihat wanita yang dulu selalu melayaninya dengan tulus, kini berdiri di seberang ruangan sebagai lawannya.
Rey teringat sosok Adrian di parkiran tadi. Cara Adrian memandang Tania, cara Adrian melindungi Tania dari amarahnya. Rey tahu, Adrian tidak akan membiarkan Tania kembali padanya dengan mudah. Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa Tania tampak lebih "hidup" saat berada di dekat Adrian.
Di sisi lain kota, Tania sedang duduk di ruang kerja apartemen Maya yang kecil tapi nyaman. Di depannya ada tumpukan berkas yang harus ia tinjau untuk proyek interior terbarunya. Adrian duduk tidak jauh darinya, sedang membaca buku sambil sesekali melirik Tania untuk memastikan wanita itu tidak melamun terlalu lama.
"Kamu gugup buat hari Selasa?" tanya Adrian pelan.
Tania meletakkan penanya, ia menyandarkan punggungnya di kursi. "Sedikit. Aku cuma pengen ini cepat selesai, Yan. Aku pengen benar-benar lepas dari bayang-bayang Rey."
"Aku akan ada di sana, Tan. Di belakangmu. Kamu nggak perlu takut menatap matanya lagi," Adrian memberikan senyum penyemangat yang selalu berhasil membuat Tania merasa tenang.
Tania mengangguk. Ia tidak lagi merasa sedih. Rasa sakit itu sudah berubah menjadi ketetapan hati yang kuat. Ia teringat masa-masa ia memohon perhatian Rey, masa-masa ia menangis di pojok dapur karena Rey pulang terlambat dan bau parfum wanita lain. Semua itu sudah berakhir.
"Aku nggak takut lagi, Yan. Aku cuma kasihan," ucap Tania pelan.
"Kasihan kenapa?"
"Kasihan sama Rey. Dia punya segalanya, tapi dia nggak punya siapa-siapa. Dia baru akan sadar kalau rumah semegah itu nggak ada artinya kalau isinya cuma ego dan kesepian."
Tania kembali fokus pada pekerjaannya. Ia tidak tahu bahwa di rumah mewahnya, Rey sedang mencoba memasak mi instan untuk dirinya sendiri, tapi malah berakhir dengan panci yang gosong karena ia tidak tahu bagaimana cara mengatur api kompornya.
Sebuah gambaran ironis bagi seorang pria yang merasa bisa menaklukkan dunia, tapi ternyata tak mampu mengurus dirinya sendiri tanpa tangan seorang wanita yang ia sia-siakan.
Selasa depan akan menjadi hari penghakiman. Dan bagi Rey, itu adalah awal dari penyesalan seumur hidup yang tidak akan pernah bisa ia hapus, meskipun ia memiliki seluruh harta di dunia ini.