NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penculikan

Udara siang kota terasa lebih hangat daripada taman mansion. Bau roti panggang, keringat kuda, dan debu jalanan bercampur dalam satu tarikan napas.

Elenna melangkah keluar dari butik setelah Lilith tersenyum manis dan berkata, “Tolong belikan kue almond di toko yang kemarin, yang di ujung jalan itu.”

Nada itu ringan. Seolah permintaan kecil yang tidak berarti.

Ia tidak membantah.

Namun, setelah berjalan cukup jauh, Elenna mulai menyadari sesuatu.

Toko yang dimaksud tidak ada.

Ia berhenti di depan persimpangan kecil, memandang deretan papan nama yang menggantung. Tidak satu pun bertuliskan kue almond seperti yang Lilith sebutkan.

Ia bertanya pada seorang pedagang buah.

“Maaf, apakah ada toko kue almond di sekitar sini?”

Pedagang itu menggeleng. “Di sini? Tidak ada, Nona. Mungkin di jalan besar sebelah sana.”

Elenna mengangguk pelan. Mungkin ia salah dengar. Ia berjalan lebih jauh, menyusuri jalan yang semakin sempit. Bangunan mulai rapat. Suara keramaian utama perlahan meredup, digantikan suara percakapan kasar dan tawa pria-pria yang terdengar kurang menyenangkan.

Ia mulai merasa tidak nyaman.

Di ujung jalan kecil itu, ada gang sempit yang terlihat seperti jalan pintas menuju area yang lebih ramai. Elenna berhenti sejenak.

Ia seharusnya kembali.

Namun, jaraknya sudah cukup jauh dari butik. Kembali berarti menjelaskan mengapa ia terlalu lama. Ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan.

Ia masuk ke gang itu.

Langkahnya bergema pelan di antara dinding batu yang tinggi dan lembap. Cahaya matahari hanya masuk tipis dari atas.

Separuh jalan, suara langkah lain terdengar dari arah depan.

Bukan hanya satu langkah.

Melainkan beberapa langkah.

Ia menoleh dengan cepat. Lima pria berdiri di ujung gang. Tubuh mereka besar. Tatapan mereka tidak ramah. Elenna mundur satu langkah.

Di belakangnya, dari arah yang berlawanan, dua pria lain muncul.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Salah jalan, Nona?” salah satu dari mereka berkata sambil menyeringai.

Elenna tidak menjawab. Ia mencoba melangkah ke sisi lain, mencoba mencari celah.

Salah satu pria mendekat.

Ia langsung berbalik dan mencoba berlari ke arah sebaliknya, tetapi tangan kasar menangkap pergelangan tangannya.

Elenna tidak berteriak.

Ia menggigit tangan pria itu sekuat mungkin.

Pria itu mengumpat keras. “Sialan!”

Ia menendang tulang kering pria lain, membuatnya terhuyung jatuh.

Untuk sesaat, ia berhasil lepas.

Namun, gang itu terlalu sempit. Seseorang menarik rambutnya ke belakang. Sakitnya tajam.

Ia memukul membabi buta dengan siku dan kuku, merasakan kulit tergores di bawah kukunya.

“Pegang dia!” teriak seseorang.

Ia hampir mencapai ujung gang ketika sebuah benda keras menghantam tengkuknya.

Pandangan Elenna bergetar.

Langit dan dinding batu bercampur menjadi satu. Suara mereka terdengar semakin jauh.

Lalu kegelapan menderanya, dan kesadarannya menghilang saat itu juga

Beberapa saat kemudian kesadarannya kembali perlahan. Kepalanya terasa berat. Tengkungnya berdenyut nyeri. Ia membuka mata perlahan-lahan, mencoba mencerna situasi yang terjadi.

Langit-langit kayu tua terlihat di atasnya. Ruangan itu redup, hanya diterangi lampu minyak kecil. Bau debu dan kayu lembap memenuhi udara.

Tali kasar mengikat kedua pergelangan tangan Elenna di belakang sandaran kursi kayu. Seratnya tajam, menggesek kulit setiap kali ia mencoba menggerakkan jari. Kursi itu berat, kakinya sedikit tidak rata, membuatnya harus menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh bersama seluruh tubuhnya.

Ia menggerakkan pergelangan tangannya perlahan, menguji simpulnya. Terlalu kencang. Mereka tahu cara mengikat orang, seperti seorang ahli.

Ruangan itu sempit dan pengap. Dindingnya dari papan kayu tua dengan celah-celah tipis tempat angin malam menyelinap masuk. Bau lembap bercampur asap tembakau memenuhi udara. Di sudut, sebuah lentera menggantung, cahayanya kekuningan dan bergetar setiap kali salah satu pria bergerak.

Lima pria duduk berjaga.

Satu bersandar di dinding sambil mengasah pisau pendek dengan gerakan lambat, berirama. Suara gesekan logam terdengar teratur, menciptakan tekanan yang disengaja. Dua lainnya duduk di peti kayu, bermain kartu dengan setumpuk koin kecil di tengah. Yang keempat berdiri dekat pintu, sesekali mengintip keluar melalui celah. Dan yang paling tua duduk di kursi terbalik, tangannya terlipat di sandaran, sikapnya lebih tenang dibanding yang lain.

“Kapan beliau akan datang?” tanya pria yang memegang pisau tanpa menoleh.

“Tunggu saja,” jawab yang bermain kartu sambil menguap lebar. “Bayaran kali ini cukup mahal. Jangan sampai kita membuatnya kecewa.”

Koin beradu pelan di atas kayu.

“Gadis bangsawan ya?” pria ketiga bangkit dan mendekat beberapa langkah. Tatapannya turun-naik tanpa rasa malu. “Kulitnya halus. Pantas saja.”

Perut Elenna mengencang, tetapi wajahnya tetap dingin.

“Sudahlah,” pria tua itu mendengus. “Beliau sebentar lagi tiba. Jangan gegabah"

Ada nada peringatan di sana, bukan karena moral, tetapi karena uang.

Elenna menarik napas pelan. Ia merasakan detak jantungnya di pelipis, namun ia paksa ritmenya melambat. Panik tidak akan membantu.

“Kenapa kalian melakukan ini?” suaranya serak, tenggorokannya kering, tetapi tetap stabil.

Lima pasang mata langsung menoleh.

Yang memegang pisau tersenyum miring. “Dia sudah sadar ternyata."

“Apa kalian tahu siapa aku?” lanjut Elenna, menatap satu per satu.

“Justru itu,” jawab pria tua itu. Tatapannya tajam, penuh perhitungan. “Kami tahu.”

Jawaban itu lebih berat daripada ancaman. "Siapa yang menyuruh kalian?”

Sejenak, hanya suara angin dari celah papan yang terdengar. Mereka saling berpandangan, cepat, singkat, penuh kode yang tak diucapkan.

“Kami cuma bekerja, nona,” kata pria yang tadi mendekat terlalu dekat. Ia membungkuk sedikit agar wajahnya sejajar dengan Elenna. Nafasnya berbau alkohol. “Tidak ada yang mengharuskan kami menjawab pertanyaan nona.”

Elenna menahan dorongan untuk memalingkan wajah. Ia justru menatap balik, meneliti garis rahang yang kasar, bekas luka tipis di pipi kiri, mata yang tidak menyimpan dendam, hanya kepentingan.

Ia memindahkan pandangannya ke yang lain.

Tidak ada kebencian pribadi, tidak ada kemarahan.

Hanya keserakahan. Dan ketidakpedulian.

Artinya ini bukan soal emosi. Ini soal transaksi.

“Jika ini tentang uang,” katanya pelan, memilih kata dengan hati-hati, “aku bisa memberi lebih.”

Tawa pecah dari sudut ruangan.

“Kau?” pria berpisau itu terkekeh. “Kau pikir kau lebih kaya dari beliau?”

Elenna membeku sepersekian detik.

Kata itu menggantung di udara, beliau.

Bukan “dia”. Bukan “mereka”. Kata beliau nampak seperti seseorang yang dihormati, yang mempunyai posisi cukup penting.

Ia mengangkat dagu, meski rambutnya masih kusut dan pergelangan tangannya terikat erat di belakang kursi kayu yang kasar.

“Beliau?” ulangnya pelan.

Pria tua itu menyipitkan mata, sadar bahwa lidahnya nyaris terpeleset. Ia berdeham, lalu berpaling.

“Jangan banyak bicara.”

Ruangan itu lembap dan sempit. Bau kayu basah bercampur karat memenuhi udara. Satu lampu minyak tergantung miring di langit-langit, cahayanya redup, berayun pelan mengikuti angin dari celah papan dinding.

Elenna menelan ludah. Tenggorokannya kering. Ada darah tipis di sudut bibirnya yang mulai mengering.

“Aku tidak punya musuh,” katanya lagi, kali ini lebih tenang. “Tidak yang cukup membayar kalian untuk menculikku.”

Pria yang tadi menarik rambutnya mendekat. Ia jongkok hingga wajah mereka sejajar.

“Kadang,” katanya pelan, “orang tidak perlu menjadi musuh untuk disingkirkan.”

Jantung Elenna berdetak lebih cepat, tapi wajahnya tetap datar.

“Jadi aku mengganggu sesuatu,” gumamnya.

Ia benar.

Elenna mengingat kembali hari-hari terakhir. Tatapan yang terlalu lama. Bisikan yang terputus saat ia lewat. Pintu yang tertutup sedikit lebih cepat dari biasanya.

Debutante.

Nama itu muncul di benaknya seperti kilatan cahaya. Langkah sepatu terdengar di luar ruangan. Semua pria itu langsung berdiri.

1
Ran
up thorr
Ran
cie elena mulai suka 🤭
Ran
Lilith ini keknya punya gangguan jiwa atau kelainan berpikir ya/Speechless/, stress banget jadi orang
Ran
ayo berlayar kapal elena dan tuan pengawal
Anonymous
semangat thor
VanGenZ: Terima kasih atas dukungannya🙏
total 1 replies
Ran
Lilith play victim jir
Ran
up thorr
Ran
itu mah akal akalan Lilith aja
Ran
sakit banget jadi elena
Ran
Lilith sok gatel lagi sama Kael
Ran
yahh, ayang beb udah mau pergi
Ran
mampus dimarahin ga tuh
Ran
kill aja tuh count
Ran
curiga sama lilith
Ran
buat apa dikasih tau kalau sejak awal udh ditentuin perannya, dasar marquess ga punya hati
Ran
semua gada yang bisa dipercaya kecuali elenna sendiri jir
Ran
Lilith sok baik/Panic//Pooh-pooh/
Ran
lumayan sih. walaupun minim dialog, tetap berkarya thor
Ran: sama-sama thor
total 2 replies
Ran
pengen deh bejek2 Lilith manusia ular itu/Panic/
Ran
kasian banget jadi Elenna/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!