NovelToon NovelToon
Tante Sasa

Tante Sasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Tante / Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dutta Story_

Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Waktu terus berlalu, Abdul, Ryuken, dan Gea sudah berlalu pergi. Saat ini di rumah itu hanya ada Arif yang tertidur di ruang keluarga.

Di kamar Arif, Laras masih tertidur nyenyak. Tiba-tiba telepon genggam berbunyi.

Kring, kring, kring.

Telepon itu terus berdering. Panggilan dari mamanya yang terus-menerus panggilan masuk ke telepon genggam itu. Laras perlahan membuka matanya.

"Siapa sih yang menelepon berisik banget," Laras meraba mencari keberadaan telepon genggam itu.

Setelah telepon genggam berada di tangannya, hal pertama yang dia lihat adalah jam yang sudah menunjukkan pukul 06.30. Laras langsung duduk dan mengangkat panggilan telepon dari mamanya.

"Halo, Ma," ucap Laras refleks sambil menggerakkan tangan yang memegang telepon genggam ke telinganya.

"Laras, Mama dari tadi telepon enggak kamu angkat-angkat. Kamu lagi ngapain sih? kamu sekolah ga? ini udah jam setengah tujuh," suara mamanya dari telepon genggam.

"I-Ini, Ma, lagi di sekolah," jawab Laras sambil melihat sekeliling kamar Arif.

"Yang bener, jangan bohong, Nanti pulang sekolah, kamu langsung pulang ke rumah, Mama mau ngomong sama kamu."

"Mau ngomongin apa, Ma?"

"Nanti saja."

Panggilan telepon genggam itu dimatikan oleh Sasa. Laras masih saja tetap memanggil, "Ma, Mama," ucapnya.

Lalu dia menjauhkan telepon dari telinganya. Terlihat panggilan telepon itu berakhir. Laras berbicara pelan, "Yah, dimatiin sama Mama," ucapnya. Dia menaruh telepon genggamnya, dan dengan terburu-buru menurunkan kaki, lalu melangkah keluar dari kamar.

Saat keluar dari kamar itu, tatapannya begitu tajam ke Arif yang masih tertidur. Laras berbicara, "Gea, Abdul, sama Ryuken pada ke mana?" bisiknya pelan sambil melangkah mendekat ke Arif.

Dia pun duduk di depan Arif lalu membangunkannya, "Rif, bangun, udah siang, Rif," panggilnya. Tangannya bergerak untuk membangunkan Arif.

Arif perlahan membuka matanya, tatapannya lalu tertuju ke Laras. Dia pun berbicara, "Laras," Arif bangun hingga dia duduk, tatapannya melihat ke sekeliling.

Laras yang berdiri berbicara, "Kayaknya mereka udah pada pergi. Aku mandi dulu ya, kita kesiangan soalnya," Laras lalu melangkah menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap mengenakan pakaian seragam kemarin.

"Ha, siang?" Arif mencari telepon genggamnya, sampai dia memegangnya. Dia lalu melihat jam.

"Jir, udah jam setengah tujuh lewat," Arif langsung berdiri dan melangkah menuju kamarnya untuk bersiap-siap. walaupun dia belum mandi,

***

Sedangkan Ryuken yang sudah berada di parkiran bersama Abdul, memberhentikan kendaraannya. Abdul langsung berbicara, "Gimana nasib Arif sama Laras," tanya Abdul.

"Entahlah, kayaknya enggak bakal masuk sekolah deh. Lagian tidurnya kayak kebo," Ryuken sambil tersenyum menatap Abdul.

"Harusnya sih tadi tuh disiram pake air, pasti dia bangun."

"Haha, iya sih, udah ayok kita ke kelas dulu," Ryuken sambil memasukkan kunci kendaraan ke dalam sakunya. Dia melangkah pergi untuk menuju kelasnya.

***

Arif saat ini sudah terlihat rapi mengenakan seragam sekolahnya. Dia melangkah keluar dari kamarnya. Saat membuka pintu kamar itu,

Laras selesai mandi menatap Arif, tubuhnya diselimuti handuk. Arif mencium wangi sabun, sedangkan Laras langsung berbicara, "Kenapa bengong? Aku mau pakai seragam dulu," ucapnya.

Arif melangkah keluar kamar, sampai Laras masuk ke dalam, dan menutup pintu. Arif langsung berbicara, "Aku tunggu di luar ya," ucap Arif dengan keras dengan tatapan tertuju ke pintu kamarnya.

"Iya," jawab Laras dari dalam kamar dengan begitu keras.

Arif sambil tersenyum lalu melangkah pergi untuk keluar dari rumah. Saat keluar dari pintu depan rumah, Arif langsung menuju ke mobilnya.

Sedangkan Laras, dia selesai mengenakan pakaian langsung mengambil ransel dan melangkah keluar kamar Arif.

Dengan terburu-buru, Laras melupakan telepon genggamnya yang tertinggal di atas lemari.

Sampai dia keluar dari pintu depan rumah, Laras menutup pintu itu, lalu melangkah menuju mobil Arif.

"Ayo, kita ke sekolah, nanti malah kesiangan," ucap Laras sambil menutup pintu mobil.

"Gimana kalau kita telat?" tanya Arif dengan tatapannya tertuju ke Laras.

"Aku enggak mau dihukum sendirian, apalagi dilaporkan ke Mama, ayok jalan, Rif," ucap Laras begitu panik.

"Tenang, kamu enggak sendirian kok," Arif sambil tersenyum, lalu kembali berbicara, "Kita kan belum makan, gimana kalau mampir ke restoran dulu?" tanyanya.

"Udah nanti saja, yang penting kita enggak telat, Rif."

"Iya, iya," Arif lalu menarik gas, dan memundurkan mobilnya, sampai keluar dari halaman rumah, sampai mobil itu berada di sisi jalan, Arif langsung menarik gas dan melajukan kendaraannya.

"Rif!" Laras terkejut dengan tindakan Arif.

"Tenang aja, kita pasti tepat waktu, enggak bakal telat."

Arif melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, walaupun di jalanan penuh dengan kendaraan, dia mencoba menyelipkan kendaraannya.

Laras yang duduk sambil menatap ke kaca depan, karena dalam pikirannya dia ingin menghubungi orang tuanya untuk meminta uang.

Saat Laras mencari keberadaan telepon genggamnya, dari saku sampai ke tas, Laras menghela napas kasar sambil berbisik pelan, "Aduh, ketinggalan," bisiknya pelan.

"Ketinggalan apa?" tanya Arif, tanpa melihat ke arah Laras, melainkan dia begitu fokus ke arah depan, dan mengontrol kecepatan kendaraanya.

"HP aku."

"Ya udah nanti aja, yang penting kita bisa sampai ke sekolah dulu, biar enggak dihukum kan."

"Iya sih, tapi...."

"Tapi apa? Kamu enggak bisa ngasih kabar ke pacar?" tanya Arif sambil tersenyum.

"Ish, apa sih, enggak jelas banget, kok bilang gitu? Orang aku mau minta uang sama Mama, kalau enggak ada uang nanti siang aku makan apa?" Laras dengan wajah sedikit kesal.

"Hehe, maaf, nanti pakai uang aku."

"Kalau pakai uang kamu, jadi enggak enak rasanya, gimana kalau nanti lupa?"

"Enggak apa-apa dilupain juga asal jangan melupakan aku, haha."

"Ish, malah bercanda. Udah fokus dulu nanti malah celaka," Laras dengan tatapan begitu lekat ke arahnya.

"Iya, ini lagi fokus."

Dengan kecepatan tinggi, Arif melajukan kendaraannya itu, sampai hampir ke depan gerbang sekolah, laju kendaraanya mulai diturunkan.

Dia pun membelokkan kendaraanya, masuk gerbang dan langsung menuju ke parkiran, hingga kendaraan itu di parkiran, Arif memberhentikan.

Saat akan membuka pintu, Laras sudah lebih dulu membuka pintu dan berlalu keluar. Arif sambil menggelengkan kepala, dia pun membuka pintu dan berlalu keluar.

Arif kembali menutup pintu mobilnya, tetapi saat mengalihkan tatapan ke arah Laras, dia sama sekali tak melihatnya, melainkan Laras sudah berlari pergi meninggalkan Arif.

Arif melangkah pergi untuk menuju kelasnya, tangannya bergerak mengambil telepon genggam yang berada di sakunya. Saat melihat telepon yang dinyalakan, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 07.13.

Arif merasa tenang, karena dalam perjalanan dari rumah ke sekolah dia hanya melalui dengan waktu yang lumayan cepat.

Dia pun memasukkan telepon genggam ke dalam sakunya lalu melangkah masuk ke dalam kelas. Di dalam langkah Arif terhenti, tatapannya tertuju ke depan, Laras sedang berdiri di samping kursi guru.

"Arif, kesini," panggil Bu Guru.

Arif menghela napas lalu melangkah ke depan Bu Guru, sampai langkahnya terhenti, Arif berbicara, "Bu, ini kan belum jam pelajaran," ucapnya.

"Kamu lupa sama jam pelajaran Ibu?" ucap Bu Guru.

Arif tersenyum malu, dia baru mengingat dengan jam pelajaran hari ini, yang biasanya masuk jam 07.30, kini harus masuk jam 07.00. Arif mengalihkan tatapannya ke Laras.

Tatapan Laras begitu tajam ke Arif, Laras menggerakkan kakinya, hingga menginjak kaki Arif.

"Argh!" Arif berteriak, dia merasa kesakitan.

"Kenapa Arif? Kalian berdiri bersampingan dengan Laras," Bu Guru berdiri lalu menatap lekat ke mereka berdua, sambil berbicara, "Kalian berdua kompak banget, bisa telat bareng-bareng," ucapnya sambil tersenyum.

"Kayaknya jodoh, Bu," teriak Ryuken begitu.

"Diam!" Ucapnya guru dengan keras menatap ke arah murid murid yang sedang duduk,

1
sitanggang
sahabatnya me inggal malah pergi kencan dan hak ada mellow2nya, ini jalan ceritanya kok jelek bgt yaa🤣🤣🤣👎👎
DuttaStory_: Banyak ke Potong, 😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!