Ling Chen, pemuda cacat yang mati dalam kesepian, terbangun di dunia kultivasi sebagai pengawal rendahan di Kekaisaran Api Agung. Namun sebelum memahami takdir barunya, seorang putri kekaisaran tiba-tiba memilihnya sebagai suami di hadapan seluruh istana.
Di balik tubuh barunya tersembunyi Api Hitam kuno, kekuatan terlarang yang mampu mengguncang kekaisaran dan membakar langit. Terjebak dalam intrik politik, perebutan takhta, dan ambisi para pangeran, Ling Chen harus bangkit dari menantu yang diremehkan, menjadi penguasa yang ditakuti seluruh dunia.
Di dunia di mana kekuatan adalah hukum, ia akan membuktikan, yang hina hari ini, bisa menjadi Kaisar Agung esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Ling'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di usir dari istana - Paviliun Dewa Laut
Aula Utama Kerajaan masih bergema dengan kata-kata Kaisar Huo Tian yang dingin dan tegas.
“Ling Chen, demi menjaga kestabilan kekaisaran dan menghormati suara para jenderal setia, kau dan Yue Yan harus meninggalkan istana mulai hari ini juga. Kau tidak lagi diizinkan tinggal di wilayah kekaisaran sampai investigasi selesai dan kebenaran terungkap. Ini bukan pengusiran permanen… tapi untuk sementara waktu, kau harus pergi.”
Yue Yan bangkit berdiri, wajahnya pucat karena marah dan tak percaya. “Ayah! Ini terlalu jauh! Chen’er baru saja menyelamatkan kekaisaran! Bagaimana bisa—”
Kaisar mengangkat tangan, auranya menekan hingga Yue Yan terpaksa diam. “Ini keputusan akhir. Pergilah sekarang, sebelum aku terpaksa menggunakan kekuatan untuk mengusir kalian.”
Para pengawal maju, membentuk barisan di depan Ling Chen dan Yue Yan. Huo Zhan berdiri di belakang, senyum tipis penuh kepuasan tersembunyi di wajahnya.
Ling Chen menarik napas dalam, menahan amarah yang membara di dadanya. Dia menatap Kaisar sekali lagi, lalu berlutut hormat. “Terima kasih atas segala kebaikan Yang Mulia selama ini. Aku akan pergi… tapi aku bersumpah, suatu hari aku akan kembali dengan kepala tegak, membuktikan bahwa fitnah itu dusta.”
Dia bangkit, menggandeng tangan Yue Yan yang gemetar. Yue Yan menangis tanpa suara, tapi dia ikut berjalan keluar aula, diiringi tatapan campur aduk dari para pejabat dan elder.
Di luar gerbang istana, angin dingin menyambut mereka. Tak ada kereta mewah, tak ada pengawal pengiring. Hanya satu kuda hitam biasa yang disiapkan pelayan setia, serta tas kecil berisi pakaian ganti, beberapa pil penyembuh, dan gulungan teknik yang sudah mereka miliki.
Yue Yan memeluk Ling Chen erat di depan gerbang. “Chen’er… aku ikut kau. Aku tidak mau tinggal di sini tanpa kau.”
Ling Chen menggeleng pelan, suaranya lembut tapi tegas. “Tidak, Yan’er. Kau harus tetap di sini. Kau putri mahkota. Jika kau ikut pergi, kekaisaran akan semakin kacau. Aku akan pergi sendirian… dan aku janji, aku akan kembali lebih kuat. Tunggu aku.”
Yue Yan menangis tersedu, tapi akhirnya mengangguk. Mereka berciuman terakhir kali di bawah tatapan pengawal yang menjaga gerbang—ciuman penuh janji, penuh air mata.
Ling Chen naik ke kuda hitam itu, menoleh sekali lagi ke arah istana yang megah. “Tunggu aku, Yan’er.”
Lalu dia memacu kuda, meninggalkan gerbang kekaisaran seperti anjing yang diusir—tanpa gelar, tanpa kehormatan, hanya dengan tekad yang membara di dada.
Perjalanan ribuan mil dimulai. Ling Chen melintasi hutan api, padang gurun lava, pegunungan es yang membeku, dan lautan badai. Dia tidur di bawah pohon, makan buah liar, dan terus berlatih **Api Abadi Jiwa Tak Terbakar** setiap malam. Tubuhnya semakin kuat, tapi hatinya terluka dalam—kenangan Yue Yan, fitnah Huo Zhan, dan pengkhianatan yang terasa dari orang yang pernah dia hormati.
Suatu hari, di tepi tebing yang menghadap lautan tak berujung, kuda hitamnya tiba-tiba meringkik ketakutan. Tanah di bawah kaki mereka retak, dan sebuah lubang hitam kehampaan muncul—lingkaran kegelapan yang berputar seperti pusaran ruang angkasa.
“Kuda!” seru Ling Chen, tapi terlambat. Kuda itu terperosok, dan Ling Chen ikut terseret masuk. Dunia berputar gelap, ruang dan waktu terdistorsi, hingga akhirnya…
Dia terhempas ke pasir putih yang hangat.
Ling Chen membuka mata perlahan. Di depannya terbentang pantai biru kristal, ombak lembut menyapa pasir, dan di kejauhan, pulau hijau subur dengan gunung kabut yang menjulang. Udara terasa berbeda—lebih murni, lebih kaya qi, seolah dunia ini terpisah dari dunia luar.
“Di mana… ini?” gumamnya sambil berdiri. Kuda hitamnya tergeletak tak jauh, selamat tapi pingsan.
Dia berjalan menyusuri pantai, hingga tiba di sebuah desa kecil yang tersembunyi di balik tebing karang. Rumah-rumah dari kayu putih dan batu giok, atapnya berbentuk ombak, dan di tengah desa berdiri paviliun megah dengan tulisan emas: **Paviliun Dewa Laut**.
Seorang gadis berpakaian biru laut lembut mendekatinya. Rambutnya panjang hitam legam, matanya jernih seperti air laut, dan auranya lembut tapi kuat—Realm Inti Emas awal. Usianya sekitar 20 tahunan, wajahnya anggun dan penuh kelembutan.
“Kau… dari luar?” tanyanya pelan, suaranya seperti alunan angin laut. “Jarang sekali orang luar bisa sampai ke Pulau Dewa Laut. Namaku Qing Lin, murid inti Paviliun Dewa Laut.”
Ling Chen membungkuk hormat. “Aku Ling Chen. Aku… tersesat ke sini melalui lubang kehampaan. Maaf jika mengganggu.”
Qing Lin menatapnya lama, seolah bisa melihat jiwa di balik matanya. Lalu dia tersenyum tipis. “Kau membawa aura api yang kuat… tapi juga luka hati yang dalam. Guru pasti akan tertarik padamu. Ikut aku.”
Dia membawa Ling Chen ke paviliun utama. Di sana, seorang wanita cantik berusia tampak 30-an berdiri di teras, jubahnya putih biru mengalir seperti air. Auranya seperti lautan tak bertepi—Realm Raja Dewa awal. Itu adalah **Peri Qing Yi**, pemimpin Paviliun Dewa Laut.
Qing Yi menatap Ling Chen dengan mata yang bisa menembus segalanya. “Jiwa asing… dari dunia lain. Tapi hatimu murni, dan tekadmu seperti api yang tak padam meski diredam. Kau ingin menjadi muridku?”
Ling Chen berlutut. “Jika Guru bersedia, aku bersumpah akan belajar dengan sungguh-sungguh. Aku ingin menjadi lebih kuat… untuk kembali ke seseorang yang kucintai.”
Qing Yi tersenyum lembut. “Baiklah. Mulai hari ini, kau menjadi murid ketigaku. Qing Lin dan Bai Yue Chan adalah murid pertamamu dan keduamu. Kau… Ling Chen, murid ketiga Peri Qing Yi.”
Qing Lin tersenyum hangat menyambutnya. “Selamat datang, Saudara Ling. Di Pulau Dewa Laut ini, kau akan belajar teknik air dan laut yang bisa melengkapi apimu. Bersama, kita akan jadi lebih kuat.”
Ling Chen menatap langit biru di atas pulau yang tersembunyi ini. Dunia di dalam dunia, tempat yang tak sembarang orang bisa temukan. Di sini, dia akan mulai dari nol lagi—tapi kali ini, dengan harapan baru.
Yue Yan… tunggu aku. Aku akan kembali, lebih kuat dari sebelumnya.