Aira Putri Manggala tidak tahu arti kata menyerah. Sudah 99 kali ia menyatakan cinta, dan 99 kali pula Leonel menolaknya tanpa ragu.
Cowok paling cuek di sekolah itu seperti tembok es. Sulit didekati, mustahil ditaklukkan.
Tapi Aira bukan tipe gadis yang mundur hanya karena ditolak.
Bagi Aira, cinta bukan soal harga diri. Ini soal perjuangan.
Seluruh sekolah mengenal obsesinya. Sebagian menertawakan, sebagian menunggu keajaiban.
Yang tidak pernah mereka tahu…
AIRA-LEONEL DI SINI!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. pengakuan ke-99
Seluruh kelas XII IPS 2, Manggala High School berkumpul di lapangan upacara. Tidak ada guru, hanya seluruh murid yang sedang mengerjakan sesuatu dengan kompak.
Jam kosong untuk kelas mereka menjadi waktu yang tepat. Lihatlah sekarang, mereka hilir mudik bekerja sama, beberapa orang menabur kelopak mawar merah yang kontras dengan lantai semen lapangan, hingga membentuk sebuah gambar berbentuk love besar di tengah-tengah.
Beberapa lainnya mensejajarkan papan bunga besar di area pinggir lapangan, sementara yang lain lagi memegangi spanduk yang masih tergulung. Dua laki-laki berdiri kaku seperti pagar, tangan mereka sudah bersiap di ujung tali, menunggu komando untuk membentangkan spanduk itu nantinya.
Sejenak lapangan itu berubah total. Bukan lagi lapangan upacara yang gersang dan membosankan, melainkan terlihat seperti taman bunga romantis yang dihias sedemikian rupa. Sebuah pemandangan yang menunjukkan betapa niatnya pekerjaan mereka demi satu orang.
Di sisi lain lapangan, seorang gadis cantik berseragam putih abu-abu dengan name tag "Aira Putri Manggala" tengah menggenggam pengeras suara. Ia berjalan mondar-mandir, menciptakan suara derit sepatu yang bergesekan dengan lantai kasar lapangan. Aira tersenyum, tapi hanya senyum tipis yang menyamarkan degup jantungnya yang berpacu jauh lebih cepat dari biasanya. Suara sepatunya yang ritmis itu membuat teman-temannya berdecak malas.
“Ayolah, Aira. Kamu bisa tidak berdiri diam di situ? Kalau memang tidak mau mempermalukan diri sendiri, mending kita udahin semua ini, ya. Mumpung kelas IPA 1 masih ada guru!” Anya Pricila berujar setengah membujuk, sambil sesekali melirik jam tangan.
"Ya! Mana bisa begitu, Anya. Aku loh sudah seeffort ini menyediakan semuanya. Menyiapkan bunga, meminta waktu teman-teman... mana mungkin harus selesai tanpa dimulai? Oh, no way!" ujar Aira menolak keras, matanya berkilat penuh tekad.
"Ya kalau begitu diam, Aira! Enek aku dengan gesekan sepatumu yang tidak jelas itu. Kamu seperti cacing kepanasan sejak tadi!"
"Ish, Anya... aku begini tuh karena gugup tahu. Sini deh, kamu rasain detak jantungku. Seperti mau copot karena deg-degan!" Aira menarik paksa tangan Anya, meletakkannya tepat di atas dadanya agar sahabatnya itu bisa merasakan debaran yang menghentak-hentak di balik seragamnya.
“Ck. Seorang Aira ternyata bisa gugup juga,” Nathaniel, sahabat cowok Aira dan Anya, ikut bergabung dalam pembicaraan mereka.
“Kamu mana mengerti. Orang jomblo gak akan mengerti rasanya jatuh cinta,” jawab Aira santai, membuat kedua sahabatnya hanya memutar bola mata malas.
“Kayak kamu bukan orang jomblo saja!” timpal Anya, lalu membalikkan badannya, menatap tajam ke balkon lantai dua. Di sana, jendela kelas XII IPA 1 terlihat terbuka,namun pintu ruangan masih tertutup rapat, tanda perjuangan Aira akan segera dimulai saat pintu itu terbuka.
“Ingat, kalau kali ini ditolak lagi, kamu harus berhenti, Aira! Tapi kalau diterima, jangan lupa traktir kami makan di kantin selama tiga bulan berturut-turut. Seluruh orang yang terlibat hari ini!” Nathaniel mengingatkan dengan nada menuntut yang bercanda.
“Iya, iya, diingat, Nathaniel!” jawab Aira terlampau santai, meski tangannya dingin karena cemas.
“Ayo sekarang, Aira! Pintu kelasnya sudah terbuka!” ujar Anya tiba-tiba, menarik lengan sahabatnya itu untuk segera mengambil posisi di tengah lapangan.
“Ih, gimana bilangnya ya? Gugup nih,” ujar Aira, suaranya mengecil seiring makin kencangnya degup jantung di dadanya.
“Jangan gugup lah. Biasanya juga malu-maluin,” sahut Anya pedas, lalu membiarkan Aira berdiri seorang diri tepat di tengah kelopak mawar berbentuk love.
Beberapa teman kelasnya berdiri tak jauh dari lapangan, membentuk barisan pendukung yang solid. Beberapa lainnya sudah bersiap di sisi kiri dan kanan spanduk, mata mereka semua tertuju pada satu titik, pintu kelas XII IPA 1, menunggu sosok yang di tunggu itu muncul.
☘️
☘️
☘️
Di lantai dua gedung sekolah, pintu kelas XII IPA 1 akhirnya terbuka. Seorang guru melangkah keluar, menandakan kelas itu telah usai. Aira bersiap mengangkat pengeras suaranya, menempelkan benda itu tepat di depan mulut. Pandangannya terkunci ke atas, pada sosok cowok tampan yang baru saja keluar dan tampak digiring oleh beberapa sahabatnya ke pinggir pembatas.
Wajah cowok itu tetap datar, tanpa ekspresi apa pun yang bisa dibaca. Ia berdiri di antara pagar pembatas dengan raut bingung saat Rizky dan Nando, dua sahabatnya, menahannya agar tetap diam di sana.
“Leonel Bimantara…!”
Suara cempreng Aira yang menggema lewat megaphone sukses membuat Leonel tersentak. Cowok itu menunduk ke bawah, ke arah lapangan. Seketika, rahangnya mengeras. Matanya menangkap pemandangan lapangan yang telah disulap menjadi zona merah jambu yang mencolok mata.
“Untuk kesembilan puluh sembilan kalinya Aira mengatakan cinta Aira! Maukah kamu menjadi pacar Aira?!”
Teriakan itu memantul di sudut-sudut gedung sekolah. Beberapa siswa menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan kenekatan Aira yang sudah di luar nalar. Siswa-siswi lain ada yang tertawa remeh, melontarkan makian karena merasa Aira terlalu berani menjadi saingan mereka. Namun, sebagian besar lainnya justru bersorak penuh dukungan.
“Terima! Terima! Terima!”
Detik itu juga, spanduk raksasa diangkat tinggi-tinggi oleh teman-teman Aira. Tulisan
I LOVE YOU, LEONEL BIMANTARA terpampang nyata, beradu dengan teriknya matahari, dan terbaca sangat jelas dari lantai dua.
Leonel bergeming di posisinya. Meski wajahnya tetap sedingin es, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Sekali lagi, ia dipermalukan secara publik oleh gadis yang sama. Si pengacau itu, Aira.
“Shit!” desisnya rendah.
Tanpa memberikan jawaban atau bahkan sepatah kata pun, Leonel berbalik. Langkah kakinya lebar dan tegas, menuruni anak tangga dengan deru napas yang memburu. Wajahnya memerah, perpaduan antara rasa malu yang luar biasa dan amarah yang mulai berkobar.
Saat kakinya menginjak lantai dasar dan berjalan menuju lapangan, sorakan massa justru makin kencang, memekakkan telinga. Aira masih berdiri di sana, menyambut kedatangannya dengan mata yang berbinar dan wajah bercahaya, seolah sedang menunggu hadiah besar.
Namun, saat jarak mereka menipis, aura yang dibawa Leonel terasa mencekam. Bukannya kata-kata manis atau jawaban yang dinanti, Aira justru merasakan pergelangan tangannya dicengkeram kuat oleh tangan dingin cowok berkarisma itu.
“Sini kamu!” ujar Leonel datar, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia langsung menyeret Aira keluar dari pusat lapangan.
Seketika, sorakan di lapangan terhenti. Sunyi. Namun, hal itu berbanding terbalik dengan siswa-siswi yang menonton dari pembatas lantai dua. Mereka tertawa mengejek, kompak meneriakkan sorakan, “Huuuu... malu...!”
Cemoohan itu tidak membuat Aira tersinggung sedikit pun. Alih-alih sedih karena diseret kasar, di sudut bibir gadis itu justru terbit seulas senyum tipis yang tak disadari siapa pun. Bagi Aira, diseret pun tak masalah. Karena pada akhirnya, Leonel menyentuhnya begitu dekat meski dengan cara yang kasar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...