Elang Erlangga seorang mafia kejam berdarah dingin. Suatu malam Erlangga di kepung oleh para musuhnya di kota Jogja, saat sedang menjalankan sebuah misi untuk mencari ibu nya. Karena kebocoran informasi pada tentang keberadaan nya, dia nyaris mati. Untung nya dia di selamatkan oleh seorang gadis desa baik hati. Tersentuh akan kebaikan dan kelembutan sang gadis desa. membuat Elang ter obsesi untuk bisa memiliki gadis desa tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Adegan kekerasan, mohon tidak untuk di tiru. Jika merasa tidak nyaman untuk membacanya bisa di skip. Bijak lah dalam membaca.
Elang berjalan gagah di sebuah bangunan hotel termewah di jakarta The Ritz-Carlton ia menuju sebuah kamar vip, ia menekan bel di kamar VIP tersebut. Tak perlu menunggu lama kamar mewah itupun terbuka perlahan. Seorang pria paruh paya yang sangat ia kenali sedang berdiri tegap dengan angkuhnya. Memandang Elang dengan sorot mata penuh amah.
Chao Jinggou berdiri dengan amah meluap-luap ke arah Elang. " Masuk!!!" perintah nya yang penuh penekanan dan tidak ingin di bantah.
Elang berjalan masuk kedalam kamar mewah, yang mungkin akan menjadi saksi bisu penderitaan yang akan segera ia terima. Baru saja chao Jinggou menutup pintu kamar nya dia sudah langsung menendang Elang, hingga tersungkur di lantai.
Plak..!!
"Berhenti main-main Elang, segera kembali ke Beijing malam ini, tau kah kau berapa banyak waktu yang ku habiskan untuk, hanya mencari mu? kau membuang-buang waktu ku saja!! Aku rugi miliaran karena mu. Kau sudah bertemu wanita busuk itu, dan jangan harap kau bisa kembali bertemu dengan nya lagi!!" Teriak Chau Jinggou, sambil menampar keras wajah Elang.
Elang menyeka ujung bibirnya yang mengeluarkan darah akibat tamparan dari sang Daddy. Seolah itu bukan lah apa-apa baginya. Seperti ini lah Elang di didik. Penuh kekerasan dan kekejaman.
Elang tersenyum meremehkan sang Daddy. Seolah kata-kata yang baru terucap oleh Daddy nya itu, adalah sebuah lelucon. "Wanita yang kau sebut busuk itu, nyatanya masih memiliki nilai tinggi di hati mu. Kau hanya merasa gengsi, karena mommy memilih pergi, dari pada bertahan dengan mu yang di kelilingi kemewahan. Ego mu terluka, karena nyatanya dia ingin kamu berhenti dari dunia gelap itu!!" Kata Elang, tanpa rasa takut sedikitpun.
Bug.. !! Brak.. !!"
Chao Jinggou amat murka mendapatkan bantahan dari mulut putra nya, ia kembali menendang perut Elang dengan keras, lalu melemparkan meja ke arah Elang. Yang tentu saja Elang menghindar agar tidak terkena meja tersebut. "Kurang ajar!! beberapa Minggu jauh dari ku, kau mulai berani menantang ku, sepertinya kau mulai mau membangkang ku seperti ibu mu!!" Teriak Chao Jinggou dengan penuh amarah dan mengambil sebuah tongkat besi, lalu memukul Elang dengan tongkat besi itu secara membabi buta.
Elang tak tinggal diam, dia mulai menghindar dan melawan, Chau Jinggou sampai kualahan di buatnya. Mereka saling pukul tonjok dan tendang. Chao Jinggou yang terkenal akan kehebatan dan kekuatan nya bisa di buat tak berkutik oleh putra nya sendiri. Ia terkapar di lantai dengan tubuh penuh memar, keadaan Elang pun tak kalah baik, dia juga mendapatkan memar di sekujur tubuh dan wajahnya. Bahkan bibir nya masih mengeluarkan darah segar.
Chao Jinggou tertawa lepas." ha ha ha, akhirnya putraku dapat mengalahkan ku juga, ternyata aku terlalu meremehkan mu, kau semakin tangguh, tapi jika kau berencana untuk meninggalkan Daddy, jangan salah kan Daddy jika berbuat kejam pada mu. Kau tau tanpa kekuasaan, kekuatan mu bukan lah apa-apa."
Elang termenung sejenak, apa yang Daddy nya bilang memang ada benarnya, tanpa kekuasaan orang lain akan lebih mudah menginjak nya, meski dia memiliki kekuatan yang baik.
*
*
*
Sema bukti keburukan Dwika telah di kirim ke alamat Meisya. Meisya sangat syok mendapati kenyataan itu. Namun dengan bodohnya Meisya malah menanyakan langsung pada Dwika. Tentu saja dwika menyangkalnya dan membujuk Meisya, dan mengatakan bahwa itu adalah orang yang tidak suka dengan hubungan mereka.
Wah wati pun ikut terkejut dengan semua bukti itu, karena saat paket itu di antar Meisya membuka nya bersama dengan mbah wati. meski mbah wati sudah bisa menebak, bahwa Dwika itu bukanlah pria yang baik. Tetapi mbah wati tidak menyangka. Bahwa Dwika sebegitu brengs*k nya.
Meisya saking cintanya pada Dwika, membuat dia buta, bukti-bukti se lengkap itu tetap membuat Meisya lebih percaya pada Dwika. Prinsipnya, jika dia tidak melihat nya sendiri dengan mata kepala nya, maka dia akan Lebih memilih Dwika.
Tentu saja Dwika bersorak bahagia dalam hati. Karena Meisya ini begitu bodohnya di bodohi oleh nya. Tapi Dwika juga bingung, siapa sebenarnya orang yang menyebarkan semua keburukan nya itu pada Meisya.
*
*
Sore itu mbah wati sedang duduk di teras, kebetulan Dwika lewat di sana. Mbah wati menghentikan langkah Dwika. " Hei anak kurang ajar, kesini kau!!" teriak mbah wati.
Dwika yang mendengar mbah Wati memanggil nya, dia hanya cuek saja dan mengabaikan nya, tapi mbah wati mengejar dwika dengan tongkat nya, "Ada apa sih mbah?" tanya Dwika kesal.
"Kau itu, sampai kapan mau memperalat cucuku! Kau tidak pantas sama sekali untuk nya!!" Teriak mbah wati penuh amarah.
"Cucumu saja yang terlalu bodoh, hingga percaya saja dengan ku. Hadi jangan salah kan aku, karena cucu mu yang begitu mencintai ku!!" Kata Dwika dengan enteng nya.
Mendengar jawaban Dwika yang semakin membuat amarah mbah wati berkobar, hingga membuat nafas tua nya terasa berat dan sesak di dada. Mbah wati memukulkan tongkatnya ke arah Dwika, tentu saja Dwika tak tinggal diam. Ia menangkap tongkat itu dan mencoba merebut nya paksa. Hingga membuat mbah Wati terpelanting jatuh ke tanah. kepala nya terbentur batu yang tergeletak di sana.
Dwika panik melihat mbah Wati yang tak sadarkan diri. Dia pergi begitu saja, dengan membawa tongkat mbah Wati. Kebetulan Elang yang baru pulang dari Jakarta dengan wajah yang masih penuh lebam berencana mau mampir ke tempat mbah Wati. Elang sangat terkejut melihat mbah wati yang tidak ada di rumah nya, Meisya pun belum pulang dari kantor. Akhirnya Elang mencari mbah wati di sekitar situ, dan mendapati mbah Wati yang tergeletak tak sadarkan diri, dengan kepala yang mengeluarkan darah yang terus mengalir.
"Mbah !!!" Teriak nya, karena rumah mbah wati itu berada di belakang gunung, membuat warga sekitar tidak tau, bahwa mbah wati tengah celana, Elang segera mengangkat tubuh mbah wati. Dan mencoba mencari pertolongan, agar mbah wati di bawa ke layanan kesehatan setempat. Baru lah warga berbondong-bondong ke sana, menyaksikan mbah Wati yang sudah tak sadar kan diri, di gendongan Elang.
ada seorang warga yang prihatin dan mau mengantar kan mbah wati ke puskesmas terdekat, mbah wati sempat saat sebentar saat tiba di puskesmas. Tetapi dia ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba nafas nya menjadi sangat berat. Belum sampai suara mbah Wati keluar, mbah Wati sudah menghembuskan nafas terakhirnya saat itu juga.
Untuk setelah dialog ada dialog tag, itu pakai huruf kecil ya. Akhiran dialog itu pakai koma, jika bukan tanda tanya atau tanda seru, kecuali selanjutnya adalah aksi setelah dialog jika pakai titik.
Pliss namanya aestheticc bgt lhoo🫣
Contoh:
Dadanya bergedup kencang dan wajahnya peluh oleh keringat dingin yang membasahinya.
Ini contoh sederhana yang masih bisa disempurnakan.
→ Dengan hasutan...
→ Karena hasutan...
Tanpa menyebut lagi pun ini sudah menjelaskan.