NovelToon NovelToon
Affer Gariad

Affer Gariad

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Percintaan Konglomerat
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#31

Salju yang jatuh di bulan Maret di Saint Petersburg terasa lebih lembut, seolah ikut merayakan transisi Theodore Volkov menuju kedewasaan. Hari ini, Theo genap berusia 18 tahun. Tidak ada pesta pora ala jetset Texas yang memekakkan telinga; hanya ada makan malam keluarga yang intim di rumah, dan sore hari yang ia habiskan bersama gadis yang telah mengisi hatinya selama sebulan terakhir, Stevie Zurcher.

Bagi Theo, usia 18 tahun bukan hanya soal angka atau legalitas. Ini tentang tanggung jawab. Itulah sebabnya, meskipun gairah masa muda seringkali mengetuk pintu hatinya saat ia sedang berdua dengan Stevie di apartemen kecil atau di taman sekolah yang sepi, Theo selalu menarik rem dengan sangat halus.

Pernah suatu malam, saat mereka sedang menonton film di ruang tengah dan suasana menjadi sangat sunyi, Stevie yang terbawa suasana sempat memberikan sinyal dan mengajak Theo untuk melangkah lebih jauh ke arah hubungan intim. Namun, Theo—dengan ketenangan yang ia warisi dari Nikolai, hanya tersenyum, mengusap puncak kepala Stevie, dan mengecup pipinya dengan lembut.

"Aku tidak ingin merusak mu, Stevie," bisik Theo saat itu. "Aku ingin menjagamu, sampai kau sendiri yakin bahwa kau tidak akan menyesali apa pun di masa depan."

Stevie sering merajuk karena hal itu. Baginya, penolakan Theo terasa seperti keraguan, padahal bagi Theo, itu adalah bentuk penghormatan tertinggi. Theo hanya berani mencium pipi kemerahan Stevie, membiarkan bibirnya singgah sejenak di sana sebagai janji kesetiaan, meski Stevie sering mengerucutkan bibirnya tanda tak puas.

Sore itu, mereka berada di sebuah kafe bergaya klasik di dekat kanal. Theo tidak berdua. Seperti biasa, Stevie mengajak sahabat karibnya, Felicya Thompson. Felicya adalah gadis dengan pembawaan yang sangat tenang, hangat, dan memiliki sepasang mata teduh yang seolah bisa membaca pikiran orang lain. Ia pintar—Theo tahu itu dari reputasi Felicya di klub debat, namun mereka tidak pernah berada di kelas yang sama.

"Theo, lihat! Ada noda di dahi Stevie," Stevie tiba-tiba menunjuk keningnya sendiri sambil melirik nakal ke arah Felicya.

Felicya hanya tersenyum tipis, menyesap cokelat panasnya tanpa suara. Theo tahu itu adalah kode. Stevie sedang memamerkan kemesraan mereka, atau lebih tepatnya, Stevie sedang menuntut ciuman di kening di depan sahabatnya.

Theo merasa telinganya mulai memanas. Ia adalah pria yang sangat tertutup soal afeksi di depan umum. "Stevie, tidak ada apa-apa di dahimu," gumam Theo pelan, mencoba menghindar.

"Ada! Aku merasakannya! Theo, cepat bersihkan!" Stevie mulai merajuk, melipat tangannya di dada dan membuang muka. Jika Theo tidak melakukannya sekarang, Stevie bisa mendiamkannya selama dua hari.

Dengan helaan napas panjang dan wajah yang memerah hebat, Theo memajukan tubuhnya. Di bawah tatapan lembut Felicya yang duduk tepat di depan mereka, Theo mendaratkan kecupan singkat namun penuh perasaan di kening Stevie.

"Puas?" bisik Theo saat ia menarik diri.

Stevie langsung tersenyum kemenangan, sementara Theo kembali duduk dengan kaku, mengaduk kopinya dengan cepat untuk menyembunyikan rasa canggungnya.

Meski Stevie selalu melibatkan Felicya dalam setiap pertemuan mereka, Theo merasa ia tidak benar-benar "mengenal" gadis itu. Felicya Thompson adalah sosok yang misterius bagi Theo. Setiap kali Stevie sedang sibuk berbicara dengan pelayan kafe atau menerima telepon dari ayahnya, Theo secara tidak sengaja sering bersirobok mata dengan Felicya.

Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Felicya. Jika Stevie adalah api yang ceria dan menuntut, Felicya terasa seperti air danau yang tenang di musim gugur. Setiap kali mata mereka bertemu, Theo merasakan sengatan canggung yang aneh. Ia akan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, begitu pula dengan Felicya yang langsung menunduk sambil merapikan tatanan bukunya.

Felicya adalah gadis yang sangat baik. Ia sering membantu Stevie mengerjakan tugas-tugas yang sulit, dan Theo sering memperhatikan betapa tulusnya Felicya mendengarkan keluh kesah Stevie tentang "ketinggalan zaman-nya" Theo dalam hal asmara.

"Theo itu sangat kuno, Fel," Stevie pernah mengeluh di depan Theo langsung. "Dia bahkan tidak mau mencium bibirku meski kita sudah sebulan pacaran. Dia bilang ingin 'menjagaku'. Bukankah itu terdengar seperti kakek-kakek?"

Felicya hanya tersenyum menatap Theo, lalu berkata dengan suara yang sangat tenang, "Mungkin itu karena Theo sangat menghargaimu, Stevie. Tidak semua pria punya pengendalian diri seperti dia."

Kata-kata itu membuat Theo tertegun. Ia merasa Felicya adalah satu-satunya orang yang benar-benar mengerti alasannya melakukan itu, bahkan tanpa perlu ia jelaskan. Ada sebuah pengertian tanpa kata di antara mereka berdua yang membuat Theo merasa sedikit... terganggu.

Di penghujung sore, Stevie mengeluarkan sebuah kotak kecil. "Selamat ulang tahun yang ke-18, Theo. Ini dariku... dan Felicya ikut membantu memilihnya."

Theo membuka kotak itu. Sebuah jam tangan mekanik tua yang sangat indah, jenis yang disukai oleh para kolektor barang antik—sesuai dengan selera Theo yang klasik.

"Terima kasih, Stevie. Terima kasih, Felicya," ucap Theo.

Saat ia menatap Felicya untuk mengucapkan terima kasih, gadis itu memberikan anggukan kecil. "Selamat ulang tahun, Theodore. 18 tahun adalah awal dari tanggung jawab yang besar. Aku yakin kau akan menjadi pria yang luar biasa, seperti ayahmu."

Lagi-lagi, Theo merasa ada kedalaman dalam kata-kata Felicya. Gadis itu seolah tahu bahwa beban di pundak Theo jauh lebih berat daripada sekadar tugas sekolah. Theodore merasa canggung, namun ia tidak bisa memungkiri bahwa kehadiran Felicya yang hangat memberikan keseimbangan di tengah hubungan enerjik-nya dengan Stevie.

Malam itu, saat Theo mengantar Stevie pulang, Stevie kembali merajuk karena Theo menolak ajakan untuk masuk ke rumahnya saat orang tuanya sedang tidak ada.

"Kau benar-benar membosankan, Theo!" Stevie masuk ke rumahnya dengan wajah kesal.

Theo hanya berdiri di depan pintu, tersenyum maklum. Ia berjalan pulang sendirian di bawah lampu jalanan Saint Petersburg yang kuning keemasan. Pikirannya melayang, bukan pada kemarahan Stevie, melainkan pada ucapan Felicya tadi sore.

Ia menyadari satu hal: meskipun ia mencintai Stevie dengan segala keceriaan dan tuntutannya, ada sebuah sudut di hatinya yang merasa tenang saat berada di dekat kehangatan sunyi milik Felicya. Theodore tidak pernah tahu bahwa di balik persahabatan Stevie dan Felicya, ada benang merah takdir yang mungkin akan menguji prinsip dan kesetiaannya di masa depan.

Bagi Theo, usia 18 tahun ini dimulai dengan cinta, rahasia, dan sepasang mata teduh yang membuatnya bertanya-tanya: siapakah sebenarnya Felicya Thompson dalam hidupnya nanti?

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
winpar
pokoknya siapun harus baca karya kk ini. d jamin psti seneng. kk pnulisnya punya karya2 yg bgus dan up nya jg bnyak2 jdi kita g nunggu lma2 u episode slnjutnya 🥰😍
ros 🍂: Terharu 😭 ma'aciww kak 🥰
total 1 replies
winpar
pokoknya ceritanya seru bngt. 🥰😍
winpar: sama kk thorr. smngt terus mnulisnya🥰😍
total 2 replies
💞DARRA💞💖
oh tak terduga alurnya kak author🤣🤣
ros 🍂: Harap tenang ini ujian 🤭🙏
total 1 replies
💞DARRA💞💖
Katherine
Manis
katherine
winpar
seru bgt ceritanya kk💪
ros 🍂: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
💞DARRA💞💖
terima kasih up nya kak😍
ros 🍂: Ma'aciww kembali kak🥰
total 1 replies
💞DARRA💞💖
kak aq nunggu bab permintaan maaf dan penyesalan dr ortu nikolai/kakek nenek theo.gak adil kan gara2 mereka kembaran theo meninggal
ros 🍂: baca nya malam saja habis buka kak🤣😭
total 3 replies
YuWie
lebay theo..laki2 lho kau ini
ros 🍂: kita harus memaklumi Daddy Theo kak🙏🤣
total 1 replies
YuWie
jare kau sdh mengucap kata putus tinggal stevie yg gak terima..kok masih menyebut kekasih..hmmm gimn mas theo nih
YuWie
kau hy candangan theo
YuWie
salah kau sendiri theo..udah tau gak cocok dg stevie yg menggebu2 dg tubuhmu..malah kau janjikan yg iya2.. bimbang kan
awesome moment
cinta mrk bgitu kuat
ros 🍂: Awet kakek nenek🤭
total 1 replies
Sulati Cus
jgn sp tar ada yg celakaun si feli
Sulati Cus
jgn sad ending, klu beneran sad, ku yg transmigrasi ke tubuh feli
ros 🍂: Hehe Harap tenang ini ujian 🙏🥰
total 1 replies
Ema Baktiani
ceritanya sangat bagus d tunggu kelanjutannya kak
Sulati Cus
slh baca🤔hrsnya baca pas buka😔msh ku menangis soalnya
Sulati Cus: neng sedih kan bgt thor
total 2 replies
💞Aulia Adriani💕
recommended
💞DARRA💞💖
setiap bab bikin candu
awesome moment
keteguhan nakhkoda kapal membuat navigator dan penumpang kapal aman..harta.tdk bisa membeli keteguhan hati dan loyalitas. nik sdh memilih..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!