Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bubuk Cabai
Ale menunjuk ke arah peta, tepat di titik distribusi logistik yang berafiliasi dengan Dizan Holding. "Rini menggunakan jalur legal perusahaan Ayahmu untuk menyelundupkan barang-barang milik kartel Kolombia. Itu kelemahannya. Kita nggak bisa lawan dia di pengadilan yang sudah dia beli. Kita harus hancurkan fondasi bisnisnya. Kita buat dia tidak berguna lagi bagi kartel itu. Saat dia kehilangan perlindungan dari mereka, dia hanyalah wanita gila yang sendirian."
Nirmala berdiri, melangkah mendekati meja. Ia menyentuh logo Dizan Holding yang ia gambar sendiri di sudut peta. "Aku akan mengambilnya kembali, Ale. Bukan cuma perusahaannya, tapi kehormatan Ayah dan Ibu. Aku akan membuat Rini merangkak di lantai yang dia lumuri dengan darah Januar."
"Langkah pertama adalah membebaskan Januar," Ale menatap Nirmala dalam-dalam. "Dia kunci untuk menggerakkan faksi keluarga Suteja yang masih tersisa. Tanpa dia, kita nggak punya cukup kekuatan untuk melakukan serangan balik."
Nirmala mengangguk. Sumpah itu kini telah terpatri. Di tengah kesunyian malam, seorang putri yang jatuh dan seorang mahasiswa yang tak punya apa-apa mulai menyusun simfoni kehancuran untuk sang ratu iblis.
****
Di penthouse pribadinya yang berada di puncak gedung Dizan Holding, Rini Susilowati sedang merayakan kesunyiannya. Ia tidak butuh teman, ia tidak butuh keluarga. Baginya, rasa takut orang lain adalah nutrisi terbaik.
Ia berdiri di balkon yang menghadap kerlip lampu Jakarta, membiarkan angin kencang mempermainkan selendang sutra hitamnya. Di belakangnya, berdiri seorang pria bertubuh besar dengan tato melingkar di lehernya—perwakilan tingkat tinggi dari kartel Kolombia.
Rini berbalik, menatap pria itu dengan binar mata yang tidak stabil. Ia menyesap sampanyenya, lalu mulai berbicara dalam bahasa Spanyol yang patah-patah namun penuh penekanan.
"¿Viste sus caras, Carlos? Estaban aterrorizados. Como ratas en una jaula," (Kau lihat wajah mereka, Carlos? Mereka ketakutan. Seperti tikus dalam kandang).
Pria bernama Carlos itu hanya mengangguk dingin, tangannya tetap berada di gagang senapan yang tergantung di bahunya.
Rini tertawa, tawa histeris yang kini menjadi ciri khasnya. Ia menarik selendang sutranya, menutup mulutnya saat tubuhnya mulai mengejang karena tawa yang tak terbendung. "Hmph... Mmph... Hahahaha!"
Ia mendekati Carlos, membelai kain jas pria itu dengan jari-jarinya yang gemetar. "Dile a tus jefes que la ciudad es nuestra. Januar está bajo tierra, y esa pequeña perra de Nirmala... ella morirá de hambre en las calles," (Katakan pada bosmu bahwa kota ini milik kita. Januar sudah berada di bawah tanah, dan pelacur kecil itu, Nirmala... dia akan mati kelaparan di jalanan).
Rini melepaskan tawanya sekali lagi, suara melengking yang menembus kegelapan malam Jakarta. Ia mengambil selembar tisu mahal, menyeka ingus dan air mata bahagianya yang tumpah ruah. Baginya, setiap kata dalam bahasa Spanyol itu adalah mantra kemenangan. Ia merasa telah melampaui batas kemanusiaan. Ia merasa telah menjadi satu dengan kegelapan yang selama ini ia puja.
"Elias!" teriak Rini tiba-tiba, memanggil suaminya yang gemetar di sudut ruangan. "Ambilkan aku dokumen pengalihan aset Suteja yang baru! Aku ingin menandatanganinya dengan tinta merah! Aku ingin mereka tahu siapa yang memegang pena takdir!"
Elias berlari patuh, sementara Rini terus tertawa. Selendang sutranya melambai-lambai ditiup angin, seolah sedang menari mengikuti irama kegilaan yang kini menguasai takhta Dizan Holding.
****
Di pinggiran kota, Ale mematikan lampu bohlam. Kegelapan menyelimuti mereka, namun Nirmala tidak lagi merasa takut. Ia tahu, di gedung pencakar langit sana, bibinya sedang tertawa di atas penderitaan orang lain. Namun ia juga tahu, tawa itu tidak akan bertahan selamanya.
"Besok kita mulai, Ale?" tanya Nirmala dalam gelap.
"Besok kita mulai," jawab Ale tegas.
Perang gerilya telah dipicu. Dari hotel-hotel mewah hingga gang-gang sempit, Jakarta kini sedang menahan napas, menunggu saat di mana tawa histeris Rini akan berubah menjadi jeritan penyesalan.
****
Malam di pesisir utara Jakarta terasa seperti napas monster yang lembap dan asin. Di sebuah gudang tua berkarat yang tersembunyi di balik tumpukan kontainer terbengkalai, Januar Suteja disekap. Di luar, suara deburan ombak yang menghantam beton dermaga menjadi musik latar bagi kekejaman yang sedang berlangsung. Dua orang penjaga kartel bertubuh raksasa berdiri di depan pintu baja, rokok mereka menyala di kegelapan, sama mematikannya dengan senapan serbu yang tersampir di bahu.
Mereka tidak menyadari bahwa di balik bayangan kontainer, dua sosok sedang bergerak dengan keheningan maut.
Nirmala Dizan mencengkeram tas kain kecil di pinggangnya. Isinya bukan lagi kosmetik mahal atau parfum Prancis, melainkan puluhan bungkus bubuk cabai merah yang dicampur lada hitam, dan ratusan petasan banting yang ia beli dari pasar tradisional. Matanya yang dulu sayu kini berkilat dengan kegilaan yang dipelajari dari rasa sakit.
"Sekarang, Ale," bisik Nirmala.
****
Aleandra Nurdin melesat seperti anak panah. Dengan kecepatan seorang atlet, ia muncul dari kegelapan. Sebelum para penjaga itu sempat mengangkat laras senjatanya, Ale sudah berada di ruang pribadi mereka. Satu tendangan memutar menghantam rahang penjaga pertama, sementara tangan kirinya memiting lengan penjaga kedua.
TARR! TARR! TARR!
Nirmala tidak tinggal diam. Ia melemparkan segenggam besar petasan banting ke arah lantai beton di sekitar para penjaga. Ledakan kecil yang beruntun menciptakan suara seperti rentetan tembakan, memicu kepanikan dan kebingungan. Di tengah asap petasan yang menyesakkan, Nirmala berlari mendekat. Saat salah satu anggota kartel mencoba bangkit, Nirmala menyemburkan satu plastik penuh campuran bubuk cabai tepat ke arah matanya.
"¡Maldición! ¡Mis ojos!" teriak pria itu, menjatuhkan senjatanya dan mencakar wajahnya sendiri dalam perih yang luar biasa.
"Rasakan itu, Iblis!" desis Nirmala. Suaranya tidak lagi bergetar.
Ale terus bertarung dengan brutal. Ia menggunakan berat tubuh lawan untuk menjatuhkan yang lain. Tangannya bergerak seperti mesin, mematahkan tulang dan melumpuhkan saraf. Namun, lebih banyak orang keluar dari dalam gudang.
"Nirmala, cari Januar! Gue tahan mereka di sini!" raung Ale sambil menangkis hantaman pipa besi dengan lengan bawahnya yang dibalut pelindung kulit.
****
Nirmala menembus kepulan asap dan debu. Ia berlari melewati lorong-lorong yang berbau amis dan anyir. Di ujung ruangan, ia melihat Januar terikat di kursi besi. Wajah pria itu hampir tidak dikenali; bengkak, berdarah, dan hancur.
"Januar!" Nirmala menjerit tertahan.
Ia menggunakan pisau dapur yang ia bawa untuk memutus tali nilon yang menjerat tangan Januar. "Bangun, Januar! Kita harus pergi!"
Januar mendongak, matanya yang bengkak menatap Nirmala dengan tidak percaya. "Nirmala...? Kau... kau datang?"
"Jangan banyak bicara! Cepat!" Nirmala memapah tubuh Januar yang lemas. Berat pria itu hampir membuatnya jatuh, namun amarah di dalam dadanya memberikan kekuatan yang tidak masuk akal.
Di luar, Ale sedang bergulat dengan pemimpin penjaga. Sebuah pisau menggores bahu Ale, namun pemuda itu tidak mundur. Ia menghantamkan kepala pria Kolombia itu ke dinding baja hingga tak sadarkan diri. Begitu ia melihat Nirmala muncul dengan memapah Januar, Ale segera menyambar kunci mobil van yang tergantung di dinding.
"Masuk! Sekarang!"