NovelToon NovelToon
2 Hari 1 Malam

2 Hari 1 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kriminal
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: M. A. K

Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.

Kecuali Karina.

Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.

Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19 - Kamulah Orangnya

Pukul 06.03 pagi.

Televisi di ruang tengah kantor kepolisian menyala tanpa suara. Running text di bagian bawah layar bergerak cepat, seolah takut kehilangan momentum kemarahan publik.

Pembunuhan kembali terjadi.

Pelaku masih bebas.

Kapan kepolisian bertindak?

Potongan gambar garis polisi. Wajah keluarga korban. Mikrofon yang dijejalkan ke arah pejabat yang tak siap menjawab.

Seorang reporter bersuara tegas, hampir menuduh.

“Jika huruf A memang petunjuk, mengapa hingga kini belum ada penangkapan?”

Huruf itu kembali muncul di layar.

A

Namun kali ini, di TKP terbaru, di sampingnya ada tambahan kecil—

sebuah tanda tanya.

A?

Seperti ejekan.

Seperti tawa yang tak terdengar.

Karina berdiri memandangi layar itu. Tangannya terlipat. Wajahnya datar. Tapi di dalam kepalanya, sesuatu bergerak cepat.

Pelaku bukan hanya membunuh.

Ia sedang mengarahkan opini.

...----------------...

Ruang rapat terasa lebih panas dari biasanya.

“Publik sudah tidak sabar,” ujar salah satu atasan dengan nada tertahan.

“Kita punya inisial. Kita punya kemiripan serat kain. Kita punya waktu kejadian yang beririsan. Kita tidak bisa diam.”

Semua mata perlahan beralih pada satu nama.

Arga.

Karina tidak langsung bicara.

Ia membuka map tipis di hadapannya. Bukti-bukti itu memang ada. Tidak kuat. Tidak mutlak. Tapi cukup untuk membangun narasi yang masuk akal.

Dan di dunia ini, terkadang narasi lebih cepat dipercaya daripada kebenaran.

“Kalau kita salah?” seseorang bertanya pelan.

Ruangan hening.

Karina akhirnya bicara.

“Kalau kita tidak bertindak, akan ada korban berikutnya.”

Kalimat itu seperti palu.

Keputusan dibuat.

...----------------...

Sore hari, Karina memanggil Arga ke ruang interogasi.

Ruangan itu sederhana. Meja logam. Dua kursi. Lampu putih yang terlalu terang.

Arga masuk tanpa ekspresi panik. Ia bahkan masih sempat tersenyum kecil.

“Ada apa?”

Karina tidak membalas senyum itu.

“Kita perlu klarifikasi beberapa hal.”

Ia menyodorkan foto TKP terbaru. Huruf A dengan tanda tanya.

Arga menatapnya lama.

“Kamu mulai percaya itu?”

“Kami menemukan serat kain yang cocok dengan jaketmu.”

Arga terdiam sepersekian detik.

Lalu tertawa pelan.

“Serius?”

“CCTV menunjukkan mobil yang mirip dengan mobilmu di radius dua kilometer dari lokasi.”

“Mirip?” Arga mengangkat alis. “Atau memang milikku?”

Karina tidak terpancing. Ia hanya menatap.

“Di mana kamu pukul 00.17 malam itu?”

“Di rumah.”

“Sendiri?”

Hening.

“Iya.”

Karina mencatat sesuatu di dalam mapnya. Gerakan kecil. Terlalu formal.

Arga mulai menyadari arah pembicaraan ini.

“Kamu curiga padaku?”

“Aku mengikuti bukti.”

Arga menatapnya lama. Tidak marah. Tidak membentak.

Hanya kecewa.

“Karina… kamu tahu aku tidak kenal Adelia. Kamu tahu aku tidak pernah terlibat di awal semua ini.”

“Kamu juga tahu pelaku mengenal kita.”

Kalimat itu keluar tanpa sengaja.

Dan keduanya menyadarinya.

Ruangan mendadak terasa sempit.

...----------------...

Arga mencondongkan tubuh ke depan.

“Dengar baik-baik. Kalau kamu tangkap aku sekarang, kamu baru saja memberikan apa yang pelaku mau.”

Karina menahan napas.

“Dia ingin kamu percaya pada huruf itu. Dia ingin kamu memilih satu nama.”

“Bukti mengarah ke kamu.”

“Bukti itu terlalu rapi.”

Nada suara Arga tidak naik. Justru semakin tenang.

“Karina, kamu sudah kehilangan Adelia. Jangan kehilangan akalmu juga.”

Kalimat itu menancap lebih dalam daripada tuduhan apa pun.

Untuk sepersekian detik, mata Karina goyah.

Tapi bayangan berita pagi tadi muncul di kepalanya. Wajah keluarga korban. Tanda tanya di samping huruf A.

Dan rasa bersalah karena terlalu lama ragu.

Ia berdiri.

“Bawa dia.”

Pintu terbuka.

Dua petugas masuk.

Arga menatapnya tak percaya.

“Kamu serius?”

Tak ada jawaban.

Borgol terpasang.

Logam itu berbunyi kecil—

klik.

Suara yang terlalu ringan untuk keputusan sebesar ini.

Saat dibawa keluar, Arga berhenti.

Ia menoleh.

“Pelakunya masih bebas di luar sana.”

Tatapannya tajam sekarang.

“Dan setelah ini… dia akan melakukan sesuatu yang lebih gila.”

Langkahnya menjauh.

Pintu tertutup.

Karina berdiri sendiri di ruangan itu.

Tangannya mulai gemetar.

...----------------...

Lampu kamera terasa seperti interogasi kedua.

Ruang konferensi pers penuh. Mikrofon berjajar seperti barisan moncong senjata yang mengarah pada satu target: Karina.

Logo media nasional. Portal berita online. Bahkan beberapa jurnalis internasional.

Narasi sudah terbentuk sebelum ia membuka mulut.

“Polisi akhirnya menangkap pelaku berinisial A.”

Kata akhirnya diucapkan dengan penekanan. Seolah mereka sudah terlambat terlalu lama.

Karina berdiri di podium. Seragamnya rapi. Rambutnya tertata. Wajahnya nyaris tanpa cela.

Tapi di balik itu, ia seperti berdiri di atas lantai tipis yang bisa retak kapan saja.

“Kami telah mengamankan satu orang terduga pelaku yang memiliki keterkaitan dengan rangkaian pembunuhan sebelumnya,” ucapnya tenang.

Seorang wartawan langsung menyela.

“Apakah benar terduga merupakan anggota internal kepolisian?”

Pertanyaan itu membuat ruangan berdesis pelan.

Karina tidak berkedip.

“Kami tidak bisa mengungkap detail tersebut demi kepentingan penyidikan.”

“Apakah motifnya pribadi? Ataukah ada unsur balas dendam terhadap institusi?”

“Apakah ini berarti kasus selesai?”

Tembakan-tembakan itu datang tanpa jeda.

Karina menjawab terukur. Singkat. Profesional.

Tapi lalu—

Seorang jurnalis perempuan berdiri.

“Komisaris Karina, publik melihat huruf ‘A’ di setiap TKP. Apakah Anda tidak merasa ini terlalu jelas? Seolah pelaku ingin ditangkap?”

Pertanyaan itu seperti jarum kecil yang tepat mengenai titik saraf.

Karina menatapnya beberapa detik lebih lama.

“Setiap pelaku memiliki pola. Tidak semua pola berarti jebakan.”

Jawaban yang aman.

Terlalu aman.

Tapi di dalam kepalanya, kalimat itu berbalik menyerangnya.

Tidak semua pola berarti jebakan.

Bagaimana jika ini justru satu?

Flash kembali menyala.

Seorang reporter lain bersuara lebih tajam.

“Apakah Anda 100% yakin orang yang ditangkap adalah pelakunya?”

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Karina menjawab:

“Kami yakin berdasarkan bukti yang ada.”

Kata “100%” sengaja ia hindari.

Dan wartawan itu tahu.

Konferensi berakhir dengan tepuk tangan tipis. Bukan apresiasi—lebih seperti formalitas.

Saat ia turun dari podium, terdengar bisik-bisik kecil.

“Cepat sekali.”

“Semoga bukan kambing hitam.”

“Kalau salah tangkap, habis reputasinya.”

Karina berjalan melewati mereka tanpa menoleh.

Namun satu kalimat terus terngiang—

Semoga bukan kambing hitam.

...****************...

Sebuah ruangan gelap.

Dindingnya dipenuhi foto.

Foto Karina di kantor.

Foto Arga di parkiran.

Foto Adelia di kafe.

Benang merah menghubungkan semuanya.

Televisi kecil di sudut ruangan menampilkan konferensi pers tadi.

“Penangkapan telah dilakukan…”

Seseorang duduk di kursi kayu tua.

Cahaya layar memantulkan senyum di wajahnya.

Tangannya bergerak ke papan.

Foto Arga dicoret dengan garis merah tebal.

Di bawahnya ditulis satu kata:

SELESAI.

Lalu matanya beralih ke foto Karina.

Lebih lama.

Lebih dalam.

Ia mengambil spidol.

Menulis perlahan di bawah nama itu:

SENDIRI.

Ia bersandar.

Menghela napas puas.

“Permainan yang indah,” gumamnya pelan.

...****************...

Di apartemennya—

tidak, di rumahnya yang kini terasa terlalu luas—

Karina duduk sendirian.

Semua sudah tenang.

Telepon tidak lagi berdering.

Media memuji langkah cepatnya.

Tapi di dalam kepalanya, suara Arga masih terulang.

Dia akan melakukan sesuatu yang lebih gila.

Karina membuka kembali foto TKP terakhir.

Huruf itu.

A?

Mengapa tanda tanya?

Jika pelaku ingin menyalahkan Arga, mengapa menambahkan keraguan?

Mengapa bukan hanya “A” saja?

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia berdiri.

Berjalan ke jendela.

Lampu kota berpendar jauh di bawah.

Dan untuk pertama kalinya—

Ia merasa benar-benar sendirian.

Adelia sudah tiada.

Arga kini di tahanan.

Antono menjauh sejak lama.

Lingkarannya mengecil.

Atau mungkin…

Memang itu yang direncanakan.

Teleponnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Karina menatap layar itu lama sebelum mengangkat.

Sunyi.

Lalu suara itu.

Tenang. Hampir lembut.

“Kamu cepat belajar.”

Napas Karina tercekat.

“Tapi kamu memilih jawaban yang salah.”

“Siapa kamu?” suaranya tetap datar.

Terdengar tawa kecil.

“Sekarang tinggal kamu dan aku.”

Klik.

Sambungan terputus.

Karina berdiri tanpa bergerak.

Di sel tahanan, Arga menutup mata.

Di ruangan gelap itu, seseorang mematikan televisi.

Dan dalam kegelapan, ia tersenyum.

Permainannya berhasil.

Ia tidak hanya membunuh.

Ia memisahkan.

Ia mengisolasi.

Ia membuat Karina sendiri di tengah sorotan.

Dan ketika seseorang sudah sendirian—

Ia lebih mudah dihancurkan.

1
Amelia
Bab ini sangat menegangkan 😢
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y
Amelia
😱😱😱😱😱
Amelia
😱😱😱
Amelia
Udah terjawab. Jangan tamat dl dong
Amelia
Dari awal emang udah curiga sama orang ini. Semangat thor
Amelia
Antono😱
Amelia
Semangat ya author 👍
Amelia
Semangat up thor👍
Emily
Alur ceritanya seru. Penulisan juga udah rapi, kata2nya hampir nggak ada yg typo. Semangat ya
Delyana.P
Terjawab sudah. ternyata tebakan ku benar siapa yg jahat thor 😂 Karina ibumu dalam bahaya, buruan selamatkan 🤔
Dinda Wei
Next
Dinda Wei
Aduhh masih juga mikir Agra pelakunya. keburu kamu yang di gorok Antono 😂 aku ngarah ya sipelaku ya Antono 🤔
Dinda Wei
Polisinya persis di Konoha, mudah terkecoh wkwk
Dinda Wei
Kayaknya sengaja bikin agra di tahan trus pelaku bebas ngancem karin. artinya yg di buru pelaku itu ya karin, korban2 itu hanya pengalihan
Amiera Syaqilla
semangat author
Amelia
Agra harus bebas, takut banget Karina di habisin psikopat gila
Dinda Wei: yup 👍
total 1 replies
Amelia
Agra harus di lepas. Bisa jd skenario pelaku buat ngabisin karina. Jd nggak ada yg bantu karin. Waspada lah karinaa
Amelia
Kok aku curiga sama atasan karina ya. Mencurigakan 🤔
Dinda Wei: sepemikiran. Antono mencurigakan
total 1 replies
Amelia
Hati2 Karina, pembunuh sebenarnya masih berkeliaran di luar sana. Kamu pasti masuk targetnya juga
Dinda Wei: iya takut banget, pelakunya nyasar ke kariin😡
total 1 replies
Amelia
Next 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!