Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan
"Hmm.. Aah! Faster baby!"
Lenguhan panjang dari dalam ruang tamu membuat tubuh Yuna membeku. Jari tangannya yang siap membuka handle pintu, tiba-tiba membatu. Suara jahanam itu kembali terdengar di telinganya. Yuna memejamkan mata, menarik nafas panjang untuk mengontrol emosi yang ingin meledak.
Ini bukan yang pertama kali, tapi ini yang kesekian kali. Sudah entah berapa kali, Yuna melihat dan menyaksikan perbuatan memalukan itu. Perbuatan yang dilakukan oleh Ibu kandungnya sendiri, bersama pria-pria muda yang Yuna sendiri sudah tidak ingat lagi berapa jumlahnya.
"Sial!" umpat Yuna sambil mengepalkan tangan.
Ia ingin berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Tapi sakit di perut akibat datang datang bulan. Membuatnya tidak berselera untuk pergi kemanapun.
Haaah!
Yuna menghela nafas panjang dan berat. Dalam hitungan ketiga, ia membuka pintu yangbsama sekali tidak terkunci.
Di depan matanya, terlihat sangat Ibu sedang beradu kelamin dengan seorang pria yang sangat ia kenali.
"Edo! Mama!" lengkingan suara Yuna, membuat penyatuan ala 4njing itu terlepas.
Pria muda yang tadi sedang menggagahi Ibunya langsung gelagapan. Melihat perbuatan kotornya di ketahui oleh sang kekasih!
"Yuna! Aku bisa jelasin semua ini sayang!" Edo, pacar sekaligus teman satu sekolah Yuna meraih dan memakai seragamnya cepat-cepat.
"Menjijikan!" maki Yuna.
Ia ingin menangis. Tapi entah mengapa tidak ada air matayang keluar.
"Kalian kenapa tega lakuin ini sama aku!" bentak Yuna. Wajahnya merah, matanya menatap tajam keduanya. "Kamu tahukan Do, dia itu Mama aku? Mama aku loh! Bisa-bisanya kamu gagahin dia?"
Yuna menatap benci, jijik, sekaligus malu melihat kelakuan keduanya.
"Sayang, Yuna, kamu jangan salah paham! Aku melakukan ini karena terpaksa!" Edo beralasan. Ia tidak mau kehilangan Yuna. Tapi ia juga tergoda dengan tawaran yang Ibu Yuna berikan.
"Kamu terlalu lebay Yuna! Mama dan Edo cuma sekedar bersenang-senang aja! Dia tetap pacar kamu!" kata Mala.
Di wajah wanita berusia 40 tabun itu sama sekali tidak terlihat rasa bersalah. Ia malah dengan santai duduk di sofa, menyulut rokok masih dalam keadaan tanpa busana. Tanpa memikirkan perasaan putrinya yang terluka.
"Aku terlalu lebay? Selama ini Mama berhubungan s3ks dengan siapapun aku gak peduli. Tapi kenapa harus sama pacar aku? Dari sekian banyaknya pria di dunia ini? Apa gak ada pria lain yang bisa mama ajak bercinta selain Edo?" nafas Yuna memburu, dadanya naik turun, merasakan emosi yang naik drastis bahkan nyaris meledak.
Edo yang sudah selesai berpakaian menghampiri Yuna. Ia meraih lembut tangan kekasihnya. tapi dihempas keras oleh Yuna.
"Jauhkan tangan busuk mu dari aku brengsek!" umpat Yuna! tidak ada lagi binar cinta yang terlihat di mata gadis imut yang saat ini duduk di kelas 3 SMA.
"Aku minta maaf Yuna? Aku khilaf? Aku menyesal! tolong maafin aku?" bujuk Edo. Ia menyesal, sangat menyesal sudah tergoda oleh rayuan Ibu dari kekasihnya.
Yuna tersanyum sinis. "Maaf? memangnya maaf kamu bisa mengembalikan keadaan? tidak Edo. Semuanya susah terlambat. Dan aku mau putus dari kamu!"
Yuna berlari, masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua.
"Yuna! Maafin aku Yuna!" Edo ingin mengejar, tepi pergelangan tangannya di cekal oleh Mala.
"Kamu mau kemana Edo? Permainan kita belum selesai loh!" kata Mala, dengan nada manja dan gerakan sensual yang menggoda.
Edo membeku, mulutnya menganga! Ia tidak habis pikir... bisa-bisanya ia malah minta lagi, disaat perbuatan busuk mereka diketahui oleh Yuna.
"Maaf Tante aku mau lanjutin hubungan ini?" tolak Edo, menjauhkan dirinya dari Mala.
"Gak mau lanjutin? Kamu yakin?" Mala tersanyum smirk. Ia menyalakan satu batang nikotin lagi. "Kamu rela kehilangan uang bulanan belasan juta dari tante?" lanjut Mala, tersenyum penuh kemenangan saat pertahanan Edo mulai goyah.
"Tapi aku sangat mencintai Yuna, Tante? Aku gak mau kehilangan dia?" kata Edo pelan.
Tubuhnya jatuh ke sofa. Memandang anak tangga menuju kamar Yuna yang masih tertutup pintunya.
"Kamu jangan khawatir, nanti Tante akan urus masalah ini! Selagi kamu masih bisa memuaskan Tante... Tante akan berikan semua yang kamu mau, termasuk Yuna!" bujuk Mala, kembali menggoda pria muda itu dengan dua bongkahan bulat miliknya.
Edo diam. Ia menatap Mala, lalu menatap anak tangga yang letaknya tidak jauh dari sana!
"Ayolah! Udah nanggung banget nih!" bujuk Mala lagi.
Edo yang pertahanannya memang lemah, akhirnya mengangguk. Ia kembali terlena, dalam rayuan dan godaan Mala yang memang ahlinya dalam urusan ranjang.
---
Sedangkan di lantai atas, Yuna sedang menyusun pakaiannya ke dalam koper. Ia sudah tidak tahan lagi tinggal di rumah ini. Tinggal bersama ibunya, sudah seperti tinggal di rumah prostitusi. Setiap hari, rumah berlantai dua itu selalu penuh dengan lenguhan, desahan, dan peraduan dua kulit dari sang Ibu dan berbagai pria yang sering ia bawa pulang. Namun, dari sekian banyaknya pria yang ibunya bawa pulang, mengapa salah satunya harus Edo?
Yuna dan Edo sudah berpacaran sejak mereka sama-sama kelas 10 SMA. Di sekolah Edo dikenal sebagai siswa teladan, berprestasi dan salah satu penerima beasiswa. Edo berasal dari sebuah desa yang jauh dari ibukota. Karena kepintaran yang ia miliki, Edo mendapatkan beasiswa dan bisa bersekolah di tempat yang sama dengan Yuna. SMA Cakrawala, sekolah swasta bergengsi yang tidak sembarangan orang bisa mendaftar.
"Arggh sial!" Yuna memaki, ia membanting lampu tidur di samping ranjang sampai pecah. "Seharusnya aku udah curiga dari lama! Pantes saja beberapa bulan belakangan ini Edo sering pakai bareng branded. Tenyata dia jadi simpanan... tapi kenapa harus jadi simpanan Mamaku!"
Yuna menarik rambutnya dengan keras. Ia memarahi, kesal, kecewa, sakit hati. Tapi entah kenapa, sampai detik ini tidak ada satu tetes air mata pun yang keluar!
Setelah memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Yuna tanpa ragu meninggalkan kamar yang sudah ia tempati selama 17 tahun. Hatinya terasa sesak! membayangkan rumah yang dulu penuh dengan kehangatan keluarga yang lengkap. Sekarang semuanya berubah, sejak Ayahnya ketahuan selingkuh dan menikah lagi dengan daun muda.
Sejak peristiwa itu, rumah bahagia Yuna berubah jadi neraka. Ayah, Ibu yang dulunya sangat peduli padanya. Sekarang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Bahkan mungkin lupa jika mereka punya anak.
Dengan koper besar yang ada ditangan, Yuna menuruni anak tangga. Lagi-lagi penyatuan antara Ibunya dan Edo kembali terlihat.
"Ciih! Menjijikan!" cibir Yuna, yang bahkan tidak ingin melihat ke arah mereka.
"K-kamu mau kemana Yuna? Aah!" tanya Ibunya disela desahan panasnya.
Yuna tidak mau menjawab. Ia sudah terlalu jijik dengan mereka berdua yang bahkan sudah tidak lagi memikirkan status.
duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya