Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Terbuang
Tara mengeluarkan tas berisi pakaian serta perlengkapan pribadi Abiyan dan meletakkannya di pinggir jalan. "Jaga diri Anda baik-baik."
Lalu kembali masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Abiyan tanpa memberinya kesempatan untuk protes.
"Tara, tunggu! Jangan tinggalkan aku di sini!" teriak Abiyan panik dan berlari mengejar mobil Tara yang semakin menjauh. Namun, sia-sia, mobil itu melaju terlalu cepat.
Abiyan menendang kerikil dengan kesal kala mobil itu menghilang di kejauhan. Dirinya merasa diperlakukan tidak adil. "Apa maksud semua ini? Kenapa ayah tega melakukan ini sama gue?"
"Apa ini hukuman buat gue karena nggak nurut sama ayah?" pikiran Abiyan sibuk berspekulasi.
"Aah...si*l!" Abiyan mengumpat dalam hati. "Nggak! Ayah nggak bisa berbuat semena-mena begini sama gua. Gue harus minta penjelasan, kenapa dia tega melakukan ini semua!"
Namun, tiba-tiba keraguan muncul menyelimuti benaknya. "Kalau gue pulang, bukankah itu sama saja artinya gue mengakui kekalahan...?" Abiyan menggelengkan kepalanya cepat.
Dia sangat tahu bagaimana karakter ayahnya yang meskipun tampak lembut tetapi sangat keras dan tegas. Apalagi jika itu berhubungan dengan prinsip. Ayahnya tidak akan mundur, dan dia pun tidak ingin terlihat lemah.
Abiyan lantas membuka tas ranselnya dan melihat apa saja isi di dalamnya. Matanya membelalak dengan lebar kala dirinya hanya mendapati beberapa lembar pakaiannya serta uang tunai yang tak seberapa. Jumlahnya bahkan tidak cukup untuk bertahan hidup selama seminggu.
Abiyan tertawa bodoh, merutuki kebodohannya yang tak berdaya melawan ayahnya. Dia mengacak-acak rambutnya kasar, merasa bingung dan frustrasi tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Akhirnya dia hanya bisa pasrah menerima konsekuensi dari apa yang telah dipilihnya, setidaknya untuk saat ini.
Abiyan menyandang tas ranselnya, wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya. "Lebih baik gue segera tinggalkan tempat ini. Gue nggak mungkin terjebak di tempat asing seperti ini sendirian."
Dia memperhatikan sekelilingnya, hamparan lahan kosong yang ditumbuhi rumput ilalang yang melambai-lambai seolah mengejeknya. Di kejauhan, dia melihat siluet pepohonan yang mungkin menandakan adanya kehidupan.
"Paling tidak, gue harus menemukan jalan raya atau pemukiman penduduk untuk keluar dari sini," sambungnya.
Abiyan ingin mengambil ponselnya untuk meminta bantuan, tetapi dia baru menyadari bahwa benda itu tidak ada di mana pun. "Si*l! Pasti tertinggal di kantor polisi, atau mungkin sengaja disita. Aah, benar-benar si*l gue!"
Dia pun memutuskan untuk berjalan ke arah matahari berada, berharap akan menemukan jalan keluar. Kini dia sendirian dan terbuang, tetapi ada tekad yang membara di dalam dirinya. Dia akan membuktikan kepada ayahnya bahwa dia bisa bertahan hidup meskipun tanpa bantuannya.
Abiyan melangkah maju, menyusuri padang ilalang yang luas dan sunyi. Setiap langkahnya adalah tantangan, setiap hembusan angin adalah ujian. Dia tidak tahu apa yang menantinya di depan sana, tetapi dia harus siap menghadapinya.
"Kenapa nggak ketemu orang sama sekali, sih? Sebenarnya tempat apa ini?"
Matahari mulai meninggi, peluh mulai membanjiri sekujur tubuh Abiyan. Tenggorokannya terasa kering dan kakinya mulai pegal. Hamparan padang ilalang seolah tak berujung, membuatnya putus asa.
Namun, di tengah keputusasaannya, ada harapan yang kembali menyala. Akhirnya dia melihat pemukiman penduduk di kejauhan. Dengan langkah yang dipaksakan, dia terus berjalan ke sana.
Semakin dekat, semakin jelas terlihat sebuah rumah sederhana. Seorang wanita tua duduk di teras, mengipasi diri dengan selembar karton.
"Permisi, Bu," sapa Abiyan dengan suara serak.
Wanita itu menoleh dan tersenyum. "Iya, ada apa ya, Nak? Sepertinya kamu bukan orang sini, ya?"
"Benar, Bu. Saya... saya mau tanya, ini daerah mana, ya?" tanya Abiyan.
"Ini masuk daerah RangkasBitung, Nak," jawab wanita itu.
"Rangkasbitung...?" Abiyan mengernyit. "Terus kalau mau ke Tangerang, ke arah mana, ya, Bu?"
Wanita itu menunjuk ke arah jalan berbatu. "Kamu terus saja ikutin jalan ini. Nanti juga sampai ke jalan raya. Dari sana, kamu bisa naik bus ke Tangerang."
"Bus-nya ada, Bu?" tanya Abiyan ragu.
"Ada, Nak. Tapi nggak tentu jamnya. Kadang ada, kadang nggak. Maklum, daerah sini memang sepi," jawab wanita itu.
Abiyan menghela napas. "Baik, Bu. Terima kasih banyak atas informasinya."
"Sama-sama, Nak. Mau minum dulu? Kasihan, mukamu pucat begitu," tawar wanita itu.
Abiyan tersenyum tipis. "Nggak usah, Bu. Terima kasih. Saya permisi dulu."
Abiyan melanjutkan perjalanan mengikuti jalan berbatu yang ditunjukkan wanita tua tadi. Langkahnya lebih bersemangat, membayangkan dirinya segera sampai di Tangerang.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya dia sampai pertigaan jalan raya. Tak lama kemudian terdengar suara klakson dan sebuah bus muncul dari balik tikungan. Abiyan melompat kegirangan dan melambaikan tangannya.
Angkot pun berhenti di depannya. "Ke mana, Mas?" tanya seorang pria kondektur bus tersebut.
"Ke Tangerang, Bang," jawab Abiyan.
"Ayo, naik!"
Abiyan segera masuk ke dalam bus dan duduk di dekat jendela. Bus kemudian melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan daerah itu dan membawanya menuju Tangerang. Abiyan menatap pemandangan di luar jendela dengan perasaan lega meskipun perjalanannya masih panjang.
.
.
.
Sementara itu, Tara telah sampai di depan kantor AW Corp. Setelah turun dari mobil, dia memasuki lobi kantor dengan langkah tegap menuju ruangan Bastian.
Tok
Tok
Tok
"Masuk." Terdengar suara berat Bastian dari dalam ruangan.
Tara segera masuk ke dalam lalu berdiri di depan Bastian. "Selamat siang, Tuan," ucapnya seraya menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Saya sudah melaksanakan sesuai perintah Anda," lapor Tara.
"Kerja bagus," Bastian memuji kinerja asistennya itu sambil tersenyum tipis.
"Aku ingin melihat sejauh mana anak itu mampu bertahan di luar sana, di dunia yang keras tanpa fasilitas yang dia nikmati selama ini."
Beberapa saat setelah Tara keluar dari kantor, Bastian memanggilnya kembali dan mengutarakan rencananya untuk memberikan efek jera pada Abiyan. Tara pun menyambut baik rencana itu serta melaksanakan sesuai yang diinginkan oleh tuannya.
"Lalu, bagaimana reaksinya setelah kamu menurunkannya di jalanan sepi?" tanyanya kemudian dengan penasaran.
"Tuan Muda Abiyan sangat marah dan frustrasi, Tuan," jawab Tara. "Tapi saya yakin, dia akan belajar dari pengalaman ini."
Bastian mengangguk-angguk puas. "Aku minta, tetap awasi dia dari jauh. Jangan sampai dia melakukan hal-hal bodoh yang bisa membahayakan dirinya."
"Baik, Tuan," jawab Tara patuh. "Apa ada perintah lain?"
Bastian berpikir sejenak. "Ya, ada satu lagi. Cari tahu siapa yang terlibat dalam balapan liar itu."
"Siap, Tuan. Saya akan segera melaksanakannya," jawab Tara. Dia menundukkan kepalanya sekali lagi sebelum berbalik dan keluar dari ruangan Bastian.
Usai Tara pergi, Bastian menyandarkan punggungnya di kursi, matanya menatap kosong ke arah jendela. Dia sadar, tindakannya ini mungkin akan membuat Abiyan semakin membencinya. Namun, dia yakin, ini adalah satu-satunya cara untuk membuat putranya itu menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab.
"Maafkan Ayah, Biyan," bisiknya pelan. "Ayah melakukan ini semata-mata demi kebaikanmu sendiri."
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....