Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Air mata Laura jatuh bukan karena sedih, melainkan karena kelelahan emosional melawan dirinya sendiri. Ia gagal. Lexi tidak perlu melakukan apa-apa lagi; hati Laura sendiri yang menjadi belenggunya.
Ia terpaksa menerima susu hamil dan vitamin yang diantar Suster Diah tak lama kemudian. Laura meminumnya, kini tak lagi sepenuhnya karena ancaman, tetapi karena ia tahu Lexi sedang memantau, dan ia ingin Lexi puas—suatu bentuk kepatuhan yang bercampur harapan untuk dilihat dan diakui.
Pagi Hari yang Menegangkan
Hari Jumat tiba. Pukul 10.30 pagi, Laura sudah bersiap. Ia mengenakan gaun hamil longgar berwarna cream yang indah.
Ia memastikan dirinya tampak tenang, rapuh, dan fokus hanya pada janinnya.
Alex masuk ke kamar, tampak bersemangat.
“Kamu cantik sekali, Sayang,” Alex mengecup kening Laura. “Kak Lexi akan mengantar kita. Dia bilang dia ingin memastikan kita berdua aman dan tepat waktu.”
Mendengar itu, jantung Laura berdegup kencang. Berada di mobil yang sama dengan Lexi, dalam ruang tertutup, selama perjalanan ke klinik, adalah ujian terberatnya.
Bagaimana kalau tiba tiba dia ingin menghirup aroma tubuh kakak iparnya? Bisa repot urusannya.
Mereka turun ke bawah. Lexi sudah menunggu di ruang tamu, berpakaian rapi dengan setelan jas mahal. Matanya, yang biasanya memancarkan dominasi, kini tenang dan formal.
“Sudah siap, Laura?” tanya Lexi, nadanya datar, tanpa emosi, seolah ia sedang menyapa rekan bisnis.
“Sudah, kak” balas Laura, suaranya berhasil terdengar lemah.
Laura berusaha menghindari bertatapan langsung dengan sang kakak ipar.
Perjalanan ke klinik terasa mencekam. Alex duduk di kursi penumpang depan, bersemangat menjelaskan rencana pembelian perlengkapan bayi yang sudah ia susun.
Lexi yang menyetir, sesekali merespons Alex dengan anggukan atau persetujuan singkat.
Lexi melirik kaca spion sekali. Tatapan mereka bertemu hanya sepersekian detik. Di mata Lexi, tidak ada kerinduan, hanya pengawasan yang dingin. Tatapan itu seolah berkata, Aku tahu kamu merindukanku, kamu milikku di sini, di bawah pengawasanku, di mana aku bisa mengendalikanmu.
Laura menjauhkan tatapannya setiap kali tatapan mereka bertubrukan melalui spion.
Lexi memecah kesunyian yang mencekam di belakang.
“Bagaimana tidurmu, Laura? Suster Diah bilang kamu terlihat kelelahan belakangan ini.”
“Aku... aku tidur nyenyak, kak. Hanya mualnya yang membuatku sering bangun,” jawab Laura.
“Kamu harus kuat. Pewaris butuh ibu yang sehat,” kata Lexi.
Laura mencibir dalam hatinya,dia tahu kemana arah kalimat nya.
"Dengar tuh apa kata kakak sayang," Alex menimpali.
Laura diam saja tanpa menanggapi.
Seolah ucapan mereka tidak ada sama sekali.
***
Di klinik, suasana kembali formal. Dr. Runa menyambut mereka. Alex merekam seluruh proses USG.
Saat Dr. Runa mengoleskan gel dingin ke perut Laura, dan monitor menyala, Alex langsung mencondongkan tubuh ke depan, matanya terpaku pada layar.
“Baiklah, Nyonya Alex. Janin sudah tumbuh besar dan kuat,” ujar Dr. Runa. “Usia kehamilan Anda sekarang sudah memasuki tiga bulan penuh, dan perkembangannya sangat baik.”
Alex mencium tangan Laura. “Tiga bulan, Sayang! Dia tumbuh sangat cepat!”
Lexi berdiri sedikit di belakang Alex. Laura bisa melihat bayangannya. Biasanya, Lexi akan mempertahankan sikap dinginnya. Namun kali ini, Lexi ikut melangkah maju, berdiri di samping Alex, menatap monitor USG.
Di layar, titik kecil yang dulunya samar kini terlihat jelas, membentuk siluet bayi yang sedang bergerak, berenang santai di dalam rahim Laura. Detak jantungnya terdengar jelas di ruangan itu.
Laura merasakan getaran aneh dari sampingnya. Ia melirik Lexi. Wajah Lexi yang biasanya sekeras batu, kini menunjukkan ekspresi yang belum pernah dilihat Laura—sebuah perpaduan antara keterkejutan, ketidakpercayaan, dan kelembutan yang mengerikan.
"Lihat, Tuan Alex, bayinya sehat dan kuat!" seru Dr. Runa sambil menunjuk. Janin itu bergerak gerak.
Saat janin itu bergerak, Laura melihat sesuatu yang membuat hatinya mencelos: Air mata Lexi menetes. Hanya satu tetes, yang dengan cepat ia hapus dengan gerakan kasar menggunakan ibu jarinya. Lexi menolehkan wajahnya dari Laura, kembali fokus pada monitor.
"Dia... dia nyata," bisik Lexi, suaranya serak, jauh dari nada dominasi yang biasa ia gunakan. Ini adalah suara seorang pria yang baru pertama kali menghadapi konsekuensi nyata dari perbuatannya, menghadapi darah dagingnya sendiri yang kini terlihat jelas dan hidup.
“Ya, Kak! Dia nyata!” Alex tertawa gembira, tidak menyadari kejatuhan emosional Lexi. “Bagaimana, Kak? Keren kan?" Alex dengan bangganya berucap.
Lexi mengangguk lemah.
Lexi berdiam diri di samping monitor itu selama beberapa saat, matanya terpaku pada janin yang bergerak. Ia telah melihat darah di tangannya saat perselingkuhan, tetapi ia tidak pernah melihat kehidupan. Dan kehidupan ini adalah miliknya.
Alex begitu bahagia melihat yang terjadi saat ini,dia tidak menyadari kalau kebahagiaan nya itu hanya menumpang,yang sebenarnya pemilik kebahagiaan itu adalah kakaknya sendiri,bukan dia.
Setelah Pemeriksaan..
Di perjalanan pulang, Alex terus-menerus berbicara tentang nama yang akan mereka pilih, baik untuk laki-laki atau perempuan.
Lexi mengemudi dengan tenang, tetapi ia tidak berbicara sama sekali. Ia mengabaikan semua pertanyaan Alex.
Laura meliriknya melalui kaca spion. Ia melihat keheningan yang berbeda dari Lexi. Bukan keheningan karena dominasi, melainkan keheningan karena guncangan.
Hoeekkk..!
Tiba tiba Laura mual,akhirnya memuntahkan cairan perutnya di mobil Lexi.
"Astaga sayang,kamu mengotori mobil kakak," Bukannya mengkhawatirkan istrinya,malah memikirkan mobil kakaknya.
Hoekkk..!!
Lagi lagi Laura muntah,tanpa menghiraukan ucapan suaminya.
Dia sengaja mengotori mobil Lexi dengan muntahannya,dia mau balas dendam dengan cara sederhana.
Lexi menghentikan mobilnya lalu turun dari mobil.
Sementara Alex tetap di tempatnya.
"Kamu yang menyetir!" Ucapnya lalu masuk ke kursi belakang,tepat di samping Laura.
Bukannya jijik,Lexi malah menyemprotkan perfume nya ke pakaian Laura.
"Hirup lah,kamu akan merasa tenang."
Lexi tidak mungkin memeluk wanitanya itu di hadapan pemilik nya.
"Tahan sayang,sebentar lagi kita akan sampai." Alex mengambil alih mengemudi.
Benar saja Laura tidak mual lagi setelah mencium aroma parfum milik Lexi.
"Ada apa dengan ku? Kenapa saat mencium aroma perfume Lexi,mualku malah hilang?"
Laura bingung dengan dirinya sendiri.
Laura menutup matanya rapat,tidak ingin melihat sosok yang membuatnya tersiksa selama ini.
***
Sore itu, setelah Alex kembali ke kantor, Lexi langsung menelepon sekretarisnya. Ia menciptakan krisis proyek tambang mendadak di luar kota dan memastikan Alex harus pergi malam itu juga.
Pukul delapan malam, Alex kembali ke rumah dengan tergesa-gesa, menyampaikan kepergiannya yang mendadak. Laura tahu ini ulah Lexi, dan setelah Alex pergi, rasa cemas bercampur antisipasi yang memalukan mulai menjalari dirinya. Lexi telah membersihkan semua saksi, termasuk Suster Diah.
Pintu kamarnya diketuk pelan. Laura tahu dia pasti Lexi, karena perawat nya sudah cuti mendadak.
Posturnya tegap, matanya tajam, memancarkan dominasi yang tidak pernah hilang.
Ia berjalan ke tengah ruangan, langsung menatap Laura yang duduk di ranjang.
“Kamu tidak membalas pesanku ,” kata Lexi, suaranya tenang, tetapi setiap kata terasa seperti hukuman. “Kamu menolakku. Kamu menolak pemilikmu.”
Laura tidak menjawab,wajahnya tenang,tidak ada ketakutan.
Lexi berjalan mendekati Laura, tetapi ia tidak duduk. Ia berdiri di sisi ranjang, membungkuk sedikit, memaksa Laura mendongak.
“Ancaman sudah selesai,” desis Lexi. “Sekarang, ini adalah klaim. Kamu menyembunyikan dirimu karena kamu takut pada dirimu sendiri, Laura. Kamu takut kamu merindukan sentuhanku, sentuhan yang menciptakan anak ini.”Lexi mencengkram dagu indah Laura.
Laura menepis tangan Lexi tanpa berniat menjawab.
“Aku melihatnya di klinik, saat anakku bergerak,” kata Lexi, matanya berkilat intens. “Dia nyata. Dan kamu adalah pembawanya. Aku tidak akan membiarkan pembawa pewarisku berkeliaran di luar pengawasanku, apalagi menderita karena kerinduan yang bodoh.”
Lexi mengulurkan tangan. Bukan untuk menyentuh Laura, tetapi untuk meletakkan tangan besarnya di belakang kepala Laura, di ranjang. Posisi itu mengunci Laura, tanpa sentuhan fisik.
“Aku mengirim Alex pergi karena aku ingin kamu berhenti melawan. Aku ingin kamu tahu, aku merindukan ibu anakku,” Lexi menatap lurus Laura.
"Dan sebagai konsekuensi dari kerinduanmu dan penolakanmu, kamu akan berbagi kehangatan denganku malam ini. Kehangatan yang hanya bisa kamu berikan padaku. Kehangatan yang pantas kamu dapatkan sebagai ibu dari pewarisku, yang sedang mengisolasi dirinya di kamar dingin.”
“Aku tidak mau!” bisik Laura, suaranya pecah karena pertarungan antara ketakutan dan dorongan terlarang. “Aku istri Alex kalau kamu lupa,”
Lexi tersenyum sinis. “Istri Alex yang mengandung anakku, di rumahku. Alex sudah tidur pulas di kota lain, mengurus perusahaan milikku. Kamu tidak punya suami di sini malam ini, Laura. Kamu hanya punya aku, pemilikmu.”
Lexi kemudian duduk di sisi ranjang, tetapi ia tidak menyentuh Laura. Ia menyentuh perut Laura yang masih rata dengan gerakan lambat dan penuh kepemilikan.
“Aku akan tinggal di sini malam ini. Kamu akan tidur di ranjang ini, dan aku akan berada di sampingmu. Kamu tidak perlu menyentuhku. Kamu hanya perlu mengizinkanku di sini. Biarkan aku mengawasi anakku. Jika kamu menolak, aku akan membongkar perselingkuhan kita di hadapan Alex. Pilihan ada padamu.”
Ancaman itu efektif. Jika Laura menolak, Lexi akan menghancurkan alibi isolasinya di depan Alex.
Laura menatap Lexi. Ia adalah monster yang mencintai, dan monster itu akan tidur di ranjangnya malam ini, sebagai hukuman sekaligus pemuas kerinduan.
"Apa yang kamu inginkan dariku, Lexi?" tanya Laura, pasrah namun marah.
"Kehadiranmu," jawab Lexi. Ia menggerakkan tangannya dari perut Laura, meraih tangan Laura, dan meletakkannya kembali di perutnya. "Aku hanya ingin berada di sini, denganmu, di samping anakku. Malam ini, kamu tidak akan lari. Kamu akan menjadi miliku sepenuhnya, meskipun hanya dalam diam."
"Aku tidak mau!"
"Kamu harus mau sayang,,jangan memisahkan ku dari anakku,malam ini akulah yang akan jadi suamimu,ingat! Suamimu! Dan kamu ibu dari anakku." Lexi tidak mengklaim Laura sebagai istrinya,hanya sebagai ibu dari anaknya.
Laura memejamkan mata. Ia tahu bentengnya telah roboh. Ia harus berbagi ranjangnya, kehangatannya, dan keheningannya dengan pria yang paling ia benci dan paling ia rindukan.
Bersambung...