NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARGA SEBUAH KEMENANGAN

Hari yang dinanti pun tiba. Aula Redhenvous penuh sesak, lebih padat dari hari-hari sebelumnya. Udara terasa panas oleh antisipasi ribuan penonton. Riezky melangkah masuk ke arena dengan perban yang masih melilit beberapa bagian tubuhnya. Di seberang sana, Hylos sudah berdiri tegak. Sosoknya begitu besar hingga bayangannya menutupi sebagian area pasir.

Riezky mengedarkan pandangannya ke arah tribun, mencari dukungan moral di tengah rasa sakitnya. Tiba-tiba, jantungnya berdesir. Di barisan kursi yang tidak jauh dari arena, ia melihat dua wajah yang sangat ia kenali.

Sabrina berdiri sambil berteriak lantang memberikan semangat, sementara di sampingnya,Lyra duduk dengan tangan bertaut di depan dada. Wajah ibunya memancarkan kecemasan yang mendalam, namun matanya berkaca-kaca penuh kebanggaan melihat putranya berdiri di panggung sebesar itu. Riezky tersenyum lebar dan melambai seru ke arah mereka, merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat. Kehadiran mereka adalah bahan bakar terakhir yang ia butuhkan.

Namun, perhatian Riezky segera terenggut kembali ke depan. Terompet agung dikumandangkan. TENGGG!

Hylos mulai melangkah. Ia tidak berlari, hanya berjalan pelan, namun setiap pijakan kakinya membuat permukaan arena bergetar hebat. Riezky menelan ludah. Ia membayangkan jika kepalan tangan sebesar martil itu mendarat di wajahnya, mungkin sejarahnya sebagai nelayan akan selesai hari ini.

"Makan ini!" Riezky melontarkan bola petir dan api secara beruntun.

BOOM! BOOM!

Ledakan terjadi tepat di tubuh Hylos, menciptakan asap tebal. Namun, saat asap menipis, Hylos terus berjalan tanpa luka berarti. Ledakan yang biasanya menjatuhkan lawan-lawannya hanya dianggap seperti gigitan nyamuk bagi sang raksasa. Hylos tersenyum kecil, sebuah senyum meremehkan.

"Habislah," gumam Riezky pelan.

Riezky tidak menyerah. Ia melesat cepat, menggunakan sisa tenaga di kakinya untuk melakukan terjangan udara. Ia menghantamkan tinju api terkuatnya tepat ke dada Hylos.

DUAK!

Sentakannya kuat, namun Hylos bahkan tidak bergeming satu inci pun. Masih dalam posisi Riezky melayang di udara, tangan raksasa Hylos bergerak kilat. Ia menggenggam lengan Riezky seolah-olah menggenggam seekor ikan teri, lalu dengan satu sentakan brutal, ia melempar Riezky ke pojok arena.

BRAKKK!

Punggung Riezky menghantam tembok batu arena hingga retak. Ia jatuh tersungkur ke pasir, terbatuk-batuk mencari oksigen yang seolah hilang dari paru-parunya.

"Dia kalau jadi kuli... cocok banget deh," rintih Riezky sambil memegang pinggangnya yang terasa mau patah.

Hylos berhenti melangkah di tengah arena. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membusungkan dada, seolah mengejek Riezky untuk datang dan memukulnya sesuka hati. Sebuah penghinaan total.

Riezky meludahkan sedikit darah, lalu menyeringai. "Ohh, gitu yaaa? Mau pamer otot?"

Riezky bangkit dan kembali merangsek maju. Ia melancarkan rentetan pukulan api bertubi-tubi ke perut dan dada Hylos. Puk-puk-puk-puk! Suaranya bergema di seluruh aula, namun Hylos justru tertawa. Tawa raksasa itu menggelegar, sangat menyeramkan hingga membuat sorakan penonton terhenti karena ngeri.

Tiba-tiba, tangan Hylos menjulur dan mencengkeram kepala Riezky, mengangkat tubuh pemuda itu hingga kakinya menggantung di udara.

"Kecoa," ucap Hylos dengan nada rendah yang bergetar.

Riezky meronta-ronta, mencoba melepaskan cengkeraman tangan besi itu, namun sia-sia. Dalam posisi terdesak dan nyaris pingsan karena tekanan di kepalanya, Riezky menarik napas panjang.

"Maaf ya, aku harus pakai cara ini," ucap Riezky dengan nada pasrah.

Dengan sisa koordinasi tubuhnya, Riezky mengayunkan kakinya ke belakang, mengambil ancang-ancang kuda-kuda udara, lalu melepaskan sebuah tendangan swing yang sangat kuat, tepat ke arah selangkangan Hylos, dibarengi dengan ledakan elemen murni di ujung kakinya.

Dhuarrrr!

Seketika, tawa Hylos terhenti. Matanya menjulang ke belakang, mulutnya menganga tanpa suara, dan wajahnya berubah pucat pasi. Pegangannya di kepala Riezky terlepas. Sang raksasa terdiam kaku selama dua detik sebelum akhirnya tumbang ke depan, menghantam pasir dengan bunyi dentuman yang paling keras yang pernah didengar di aula itu. Hylos pingsan seketika.

Riezky mendarat dengan tidak rapi, mengusap-usap kepalanya yang pening. Ia menatap tubuh raksasa yang sudah tak berdaya itu.

"Kau mungkin kuat," ucap Riezky terengah-engah, "tapi semua laki-laki punya satu kelemahan yang sama."

Aula Redhenvous senyap seketika. Para penonton, termasuk para petinggi kerajaan, tertegun melihat pemandangan absurd di depan mereka. Sang Hercules Modern tumbang oleh satu tendangan di titik paling vital.

Para prajurit penjaga arena saling pandang dengan senyum tidak percaya, sebelum akhirnya salah satu dari mereka meniupkan terompet kemenangan dengan penuh semangat. Ia berlari ke arah Riezky dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara.

"Pemenang turnamen tahun ini... RIEZKY, DARI AETHELGARD!"

Sorakan penonton meledak lebih keras dari ledakan api Riezky. Sabrina melompat-lompat kegirangan di tribun, sementara Lyra menangis haru sambil menutup mulutnya. Sang nelayan dari desa terpencil itu kini telah menjadi juara di tanah para ksatria.

Setelah riuh rendah di arena mulai mereda, Riezky dituntun oleh para pejabat turnamen menuju sebuah lorong megah di balik Aula Redhenvous. Di sana berdiri sebuah dinding marmer hitam raksasa yang dipenuhi ukiran emas. Itu adalah Papan Nama Abadi, tempat di mana nama para jawara turnamen diukir untuk selamanya.

Mata Riezky menyisir deretan nama tersebut. Benar saja, nama Seith mendominasi daftar di tahun-tahun sebelumnya, tertulis berulang kali seolah menunjukkan dominasi yang tak terpatahkan.

"Ternyata gini ya..." ucap Riezky pelan, menyadari betapa besarnya sosok yang baru saja ia kalahkan.

Seorang pengukir kerajaan maju dengan pahat perak. Dengan gerakan yang penuh wibawa, ia mulai menggoreskan nama baru di barisan paling bawah.

'RIEZKY AETHELGARD'

Riezky tersenyum lebar melihat nama desanya bersanding dengan nama-nama ksatria hebat. Ia segera berbalik dan merangkul Lyra serta Sabrina yang sudah menunggunya dengan mata berbinar. Belum sempat mereka berbagi kata, sekumpulan penonton dan petarung lain merangsek maju. Mereka menarik Riezky ke belakang, mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi, dan melemparkannya ke udara berulang kali sambil meneriakkan namanya. Sang Nelayan kini telah menjadi Sang Legenda.

Kepulangan Sang Juara

Pemberian hadiah berlangsung dengan sangat khidmat di bawah tatapan mata raja. Selain kantung kulit yang berat berisi 20.000 koin emas, kerajaan Astranova memberikan penghormatan khusus. Mereka tidak membiarkan sang juara pulang berjalan kaki; sebuah kereta kuda mewah berlambang kerajaan disiapkan khusus untuk mengantar Riezky, Lyra, dan Sabrina kembali ke Aethelgard.

Sesampainya di desa, suasana yang biasanya sepi berubah menjadi pesta rakyat. Kabar kemenangan Riezky telah mendahului kecepatan kereta mereka. Orang-orang kampung, mulai dari kuli tambang hingga para nelayan tua, mengerumuni rumah kecil Riezky. Mereka bersorak, menepuk bahunya, dan merayakan keberhasilan anak muda yang dulu dianggap "aneh" itu.

Malam harinya, setelah kerumunan mulai bubar, Aethelgard kembali tenang. Riezky duduk sendirian di depan teras, menatap laut yang memantulkan cahaya bulan. Suasana itu terpecah saat ia melihat ibunya, Lyra, berjalan pulang membawa beberapa tas belanjaan.

Riezky segera berdiri dan mencegat ibunya di depan pintu. Tanpa banyak bicara, ia menyodorkan kantung kulit yang sangat berat ke tangan ibunya.

"Ini bu, pakai semau Ibu ya," ucap Riezky pelan namun tulus.

Lyra hampir terjatuh karena beratnya kantung itu. Saat ia membukanya dan melihat tumpukan emas yang berkilau, ia ternganga. "Ini kebanyakan nak! Kamu memangnya sudah ambil bagianmu?" tanya Lyra dengan nada panik, tangannya gemetar.

Riezky tersenyum tenang. Ia menepuk tangan ibunya yang memegang kantung itu, memaksanya untuk tetap menggenggamnya. "Namaku yang diukir di papan tadi itu sudah cukup buatku, Bu. Yang ini untuk Ibu. Tapi kalau bisa... aku mau ikan marlin ya besok, hehe," ucap Riezky sambil bergurau untuk mencairkan suasana.

Mata Lyra berkaca-kaca. Ia mengusap pipi putranya dengan penuh kasih sayang. "Terima kasih, nak. Dan ya, besok Ibu akan carikan ikan marlin yang paling besar untukmu. Ayo masuk, Ibu mau masak makanan kesukaanmu malam ini," ucap Lyra sambil mengusap bahu Riezky yang masih lebam, lalu berjalan masuk ke rumah dengan hati yang meluap.

Riezky hendak menyusul masuk, namun tepat di depan pintu, Sabrina tiba-tiba muncul dan menaruh dua kantung belanjaan berat ke pelukan Riezky.

"Nih, bawain! Makasihhh!" ucap Sabrina dengan nada cuek namun ada senyum tipis di wajahnya saat ia melenggang masuk begitu saja ke dalam rumah.

Riezky melongo melihat tumpukan belanjaan di tangannya. "Hhhh, dasar..." ucap Riezky sedikit jengkel, namun ia tak bisa menahan senyumnya.

Malam itu, di dalam rumah kayu yang sederhana di tepi pantai, aroma masakan mengepul hangat. Di balik tawa dan kehangatan itu, Riezky tahu bahwa petualangannya baru saja dimulai. Uang itu mungkin bisa membeli kenyamanan, tapi nama yang terukir di Redhenvous telah menarik perhatian mata-mata dunia luar terhadap siapa sebenarnya "Riezky dari Aethelgard".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!