NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dansa di Balik Cahaya Lilin

Hujan gerimis di luar paviliun kini berubah menjadi rintik yang lebih menderu, menciptakan simfoni alami yang membungkus Paviliun Sanctuary dalam kesunyian yang intim. Di dalam ruangan, api di perapian meletup kecil, menyebarkan rona jingga yang hangat ke seluruh sudut kamar.

Eisérre baru saja pulang dari markas. Alih-alih seragam militer kaku yang penuh lencana, ia kini hanya mengenakan kemeja linen putih dengan kancing atas yang terbuka, memperlihatkan sisi dirinya yang jarang dilihat orang lain: sisi yang rapuh namun berbahaya.

Geneviève sedang duduk di permadani tebal, jemarinya membalik halaman buku tua. Namun, konsentrasinya buyar setiap kali ia mencium aroma kayu cendana dan dinginnya sisa hujan yang dibawa Eisérre masuk ke ruangan itu.

"Kau terus menatapku, Ève," ucap Eisérre tanpa menoleh. Ia sedang menuangkan cokelat hangat ke dalam dua cangkir porselen. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mematikan. "Apa ada sesuatu di wajahku yang lebih menarik daripada buku itu?"

Geneviève tersipu, buru-buru menutup bukunya. "Tidak... hanya saja, kau terlihat sangat berbeda malam ini. Tanpa pedang dan lencana itu, kau terlihat seperti pria yang bisa... tersenyum lebih sering."

Eisérre berjalan mendekat, langkah kakinya tidak bersuara di atas permadani. Ia meletakkan cangkir cokelat di meja, lalu duduk tepat di samping Geneviève—begitu dekat hingga Geneviève bisa merasakan panas tubuh pria itu.

"Aku punya sesuatu untukmu," bisik Eisérre. Ia mengeluarkan sebuah kotak musik kecil dari kayu mahoni yang diukir sangat halus. "Aku menemukannya di sebuah toko antik. Saat tuasnya berputar, aku langsung tahu nada ini milikmu."

Eisérre memutar tuas kotak musik itu. Melodi piano yang lambat, manis, namun sedikit melankolis mulai memenuhi ruangan. Geneviève terpaku, matanya berbinar melihat detail kotak musik itu.

"Ini indah sekali, Eisérre," gumam Geneviève, tanpa sadar memanggil nama pria itu secara langsung.

Eisérre tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berdiri dan mengulurkan tangannya yang kokoh. "Maukah kau berdansa denganku, Ève? Tanpa penonton, tanpa protokol, hanya kita berdua."

Geneviève tertawa kecil, meskipun jantungnya mulai berdegup tidak karuan. "Aku tidak yakin bisa, Eisérre. Aku merasa kakiku sedikit kikuk."

"Ikuti saja langkahku," jawab Eisérre lembut.

Ia menarik Geneviève berdiri. Satu tangan Eisérre melingkar erat di pinggang Geneviève, sementara tangan lainnya menggenggam jemari gadis itu, menguncinya dengan mantap. Mereka mulai bergerak perlahan, berputar dalam ruang sempit di antara tempat tidur dan perapian.

Eisérre membawa tubuh Geneviève semakin merapat hingga tidak ada jarak di antara mereka. Geneviève bisa merasakan setiap napas Eisérre di keningnya. Dalam gerakan yang sangat halus, Eisérre menunduk, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Geneviève sejenak—menghirup aroma vanila dan sabun yang selalu menenangkan jiwanya yang liar.

"Eisérre," panggil Geneviève lirih, suaranya hampir hilang ditelan derak api perapian. "Kenapa detak jantungmu terdengar begitu... cemas? Apa kau takut aku akan menghilang?"

Langkah Eisérre terhenti. Ia menjauhkan sedikit wajahnya untuk menatap mata cokelat Geneviève. Tatapannya kini bukan lagi tatapan seorang Jenderal yang berkuasa, melainkan tatapan seorang pria yang sangat takut kehilangaN hartanya.

"Aku takut kau akan menyadari bahwa dunia di luar sana jauh lebih luas daripada paviliun ini," bisik Eisérre. Ia mengangkat tangannya, mengusap pipi Geneviève dengan ibu jari, lalu jemarinya turun menyentuh bibir bawah gadis itu dengan sangat lembut.

"Tetaplah seperti ini, Ève. Tetaplah menjadi gadis kecilku yang hanya tahu namaku."

Geneviève menatapnya dengan penuh perasaan. Pada saat itu, ia memilih untuk melupakan semua kecurigaannya. Ia melupakan suntikan di lehernya, ia melupakan rasa pahit di susunya semalam. Ia hanya ingin menikmati kehangatan ini. Ia berjinjit kecil dan menyandarkan kepalanya di bahu Eisérre, membiarkan tangan kokoh itu mendekapnya seolah ia adalah satu-satunya alasan pria itu tetap hidup.

Malam itu, di bawah temaram cahaya lilin, mereka berputar dalam sebuah kebohongan yang sangat indah—sebuah dansa yang manis, namun berujung pada jurang yang sangat dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!