Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Serangan
Jauh dari kemewahan mansion, suasana di rumah kecil Tarno dan Marni justru terasa berbeda. Marni duduk di kursi plastik di teras, tangannya sibuk mengipas-ngipas wajah dengan kipas tangan. Di sampingnya, segelas teh hangat sudah mulai dingin.
“Anak itu…” gumamnya pelan.
Tarno yang duduk di kursi sebelah menghembuskan asap rokok. “Kenapa lagi?”
Marni melirik tajam. “Lu santai banget sih! Anak kita sekarang tinggal di rumah gede begitu!”
Tarno mengangkat bahu. “Ya bagus dong.”
“Bagus dari mana?!” Marni langsung emosi. “Gue malah takut!”
Tarno mengernyit. “Takut apaan?”
Marni menatap lurus ke depan. “Takut dia berubah…”
Hening sejenak. Tarno tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap jalanan sepi di depan rumah.
“Ge itu…” lanjut Marni pelan, “…anaknya emang bandel. Tapi hatinya nggak pernah aneh-aneh.”
Tarno mengangguk kecil. “Iya.”
“Kalau dia masuk dunia orang kaya begitu…” Marni menggigit bibirnya. “Gue takut dia jadi orang lain.”
Tarno menghela napas panjang. “Ge bukan tipe begitu.”
Marni menoleh. “Lu yakin?”
Tarno menatapnya. “Yakin.”
Beberapa detik mereka saling diam.
“Tapi…” Tarno melanjutkan, “…tetap aja gue juga mikir.”
Marni langsung menatapnya. “Nah kan!”
“Bukan soal dia berubah,” kata Tarno. “Tapi soal dunia yang dia masukin sekarang.”
Marni terdiam.
Tarno menatap ke depan. “Dunia orang kaya itu… nggak sesimpel yang kita kira.”
Belum sempat mereka lanjut bicara, suara langkah tergesa terdengar dari ujung gang.
“PAK!”
Marni dan Tarno langsung menoleh. Empat orang pria muncul dengan kondisi berantakan. Wajah lebam, baju kusut, beberapa bahkan terlihat berdarah di bagian pelipis.
Marni langsung berdiri. “Astaga! Bang Jali?!”
Bang Jali berjalan pincang sedikit, napasnya berat. Di belakangnya tiga orang lain juga tidak kalah parah.
“Kenapa ini?!” tanya Tarno langsung, berdiri.
Bang Jali berhenti di depan mereka. Wajahnya penuh luka.
“Pak…” suaranya serak. “Kita… diserang…”
Marni langsung panik. “Diserang siapa?!”
Bang Jali menelan ludah. “Orangnya Johan…”
Nama itu langsung membuat wajah Tarno berubah.
“Johan?” ulangnya pelan, tapi nadanya mulai berat.
Salah satu anak buah lain menyela, “Dia nggak terima kita nagih utang di wilayah dia, Pak.”
Bang Jali mengangguk. “Katanya itu daerah kekuasaannya.”
Tarno mengepalkan tangan.
“Terus Bang Ucup…” lanjut Bang Jali, suaranya melemah. “…masuk rumah sakit, Pak.”
Marni langsung menutup mulutnya. “Astaga…”
Tarno menatap tajam. “Parah?”
Bang Jali mengangguk pelan. “Lumayan… dipukulin rame-rame.”
Suasana langsung berubah tegang. Tarno berjalan beberapa langkah ke depan, lalu berhenti. Tangannya mengepal kuat.
“Si Johan itu…” gumamnya.
Marni menatapnya khawatir. “No… jangan bilang lu mau—”
“Kurang ajar dia!” potong Tarno keras.
Bang Jali langsung menunduk. “Maaf, Pak… kita nggak nyangka bakal diserang begitu.”
Tarno menggeleng. “Ini bukan salah kalian!” Dia menatap ke arah gang, matanya tajam. “Dia yang mulai duluan.”
Marni langsung berdiri di depan Tarno, menghadang. “Lu mau ke mana?”
Tarno menatapnya. “Ya ketemu sama Johan lah!”
“JANGAN!” Marni langsung memegang lengannya. “Lu mau cari mati?!”
Tarno mengeraskan rahangnya. “Dia udah berani nyentuh anak buah gue!”
Marni menggeleng keras. “Dia itu beda, Tarno! Lu sendiri bilang dia lebih gede!”
Bang Jali ikut menambahkan, “Iya, Pak… usaha dia gede banget. Bukan cuma nagih utang biasa.”
Salah satu anak buah lain menyahut, “Dia juga punya sistem online sekarang, Pak. Nasabahnya banyak banget.”
“Bukan itu doang,” lanjut Bang Jali. “Katanya dia lagi nyalon jadi wakil rakyat tahun ini.”
Tarno langsung tertawa kecil. Tapi tawanya dingin.
“Wakil rakyat?” ulangnya sinis. “Preman jadi wakil rakyat?”
Marni semakin cemas. “Makanya! Lu jangan macam-macam sama dia!”
Tarno menatapnya. “Kalau gue diem… kita diinjek terus!"
Marni menggenggam lengannya lebih erat. “Tapi kalau lu lawan sekarang… kita bisa hancur!”
Hening. Tarno terdiam beberapa detik.
Bang Jali menunduk. “Maaf, Pak… kita jadi beban…”
Tarno langsung menoleh. “Bukan kalian!”
Dia menghela napas dalam. Emosinya masih terlihat jelas. “Ini bukan soal kalian,” katanya. “Ini soal harga diri.”
Marni menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Harga diri nggak bisa buat bayar rumah sakit, Tarno…”
Kalimat itu membuat Tarno terdiam. Beberapa detik suasana hening. Tarno akhirnya mengusap wajahnya kasar. Dia terlihat menahan diri.
“Tapi gue nggak bakal diem aja,” katanya pelan, tapi tegas.
Marni menatapnya khawatir. “Lu mau ngapain?”
Tarno menoleh ke Bang Jali dan yang lain. “Istirahat dulu kalian. Obatin luka.”
Bang Jali mengangguk. “Siap, Pak…”
Mereka perlahan masuk ke dalam rumah.
Marni masih berdiri di depan Tarno. “Jangan pergi!"
Tarno menatapnya beberapa detik. Tanpa berkata apapun, dia beranjak begitu saja dari rumah dengan langkah cepat. Tujuannya cuma satu, memberi pelajaran pada Johan.