Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing Kehilangan
Malam pertama setelah pemakaman adalah malam yang paling sunyi di rumah nomor 5. Biasanya, di jam seperti ini, suara gesekan sikat sepatu Hamdan di teras atau tawa renyahnya saat menonton berita televisi akan mengisi sudut-sudut ruangan. Namun sekarang, hanya ada detak jam dinding yang terdengar seperti palu yang menghantam keheningan.
Fatimah sudah tertidur di kamarnya, lelap karena kelelahan fisik dan batin yang luar biasa setelah ditenangkan dengan bantuan obat dari dokter poliklinik Korem. Sementara itu, Nina duduk meringkuk di sofa ruang tamu, memeluk bantal sofa yang masih menyisakan aroma parfum khas ayahnya—perpaduan antara aroma tembakau tipis dan sabun antiseptik.
Arya tidak pulang ke hotel. Ia telah meminta izin khusus kepada komandannya untuk tetap tinggal di lingkungan asrama guna menjaga keluarga mendiang. Ia duduk di kursi kayu di seberang Nina, masih mengenakan seragamnya yang kini tampak lecek. Ia sengaja tidak banyak bicara, memberikan ruang bagi Nina untuk memproses duka yang masih terasa panas.
"Kak Arya tidak lelah?" bisik Nina memecah kesunyian. Suaranya serak, matanya yang sembab menatap kosong ke arah pintu depan.
Arya menggeleng pelan. "Latihan di hutan Papua mengajariku cara terjaga berhari-hari, Nin. Jangan khawatirkan Kakak. Kamulah yang harus istirahat. Kamu belum makan apa pun sejak tadi pagi."
Nina hanya menggeleng. Lidahnya terasa pahit, seolah semua rasa di dunia ini telah menguap bersama kepergian ayahnya. "Nina masih tidak percaya, Kak. Tadi pagi Ayah masih memanggil Ibu... tadi pagi Ayah masih tersenyum melihat Kakak datang. Kenapa secepat itu?"
Arya bangkit, berpindah duduk ke samping Nina. Ia tidak langsung memeluk, melainkan hanya menyodorkan segelas air putih hangat. "Kematian memang pencuri yang tidak pernah mengetuk pintu, Nin. Tapi ingat apa yang Ayah katakan padaku kemarin pagi? Beliau bangga padamu. Beliau ingin melihatmu sukses. Itulah warisan yang harus kamu jaga."
Nina menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Ia menatap Arya, satu-satunya sosok yang tampak stabil di dunianya yang sedang runtuh. "Kakak akan pergi, kan? Masa dinas Kakak di Jogja tinggal beberapa hari lagi."
Pertanyaan itu menggantung di udara, penuh dengan ketakutan akan kehilangan yang berulang. Arya menatap mata Nina dalam-dalam. Janji sepuluh hari yang ia ucapkan di Kaliurang semalam kini terasa seperti nubuat yang kejam.
***
Keesokan harinya, pagi buta, Maya dan Sari sudah berada di depan rumah Nina. Mereka datang membawa sarapan dan energi yang penuh empati. Mereka tertegun melihat sosok Kapten Arya yang sedang membantu membersihkan teras rumah, menyapu sisa-sisa kelopak mawar yang terbawa angin dari pemakaman kemarin.
"Selamat pagi, Pak Kapten," ucap Maya dengan nada yang jauh lebih hormat dan pelan dari biasanya.
Arya mengangguk sopan. "Terima kasih sudah datang. Nina ada di dalam, tolong temani dia. Dia butuh teman bicaranya."
Kedua sahabat itu segera menghambur masuk ke dalam, memeluk Nina yang sedang membantu ibunya melipat pakaian. Di sana, di antara isak tangis yang kembali pecah, Maya dan Sari menceritakan betapa seluruh jurusan tari di ISI ikut berduka. Bahkan, Bu Ambar berencana akan datang berkunjung sore nanti.
"Nin, soal Shinta... jangan dipikirkan ya. Tadi pagi dia kena tegur keras dari Kaprodi karena gosipnya kemarin sampai ke telinga dosen. Kamu fokus saja di sini," bisik Sari menenangkan.
Nina hanya mengangguk lemah. Baginya, drama kampus terasa sangat jauh dan tidak relevan sekarang. Kehilangan ayahnya telah mengubah perspektifnya tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup.
***
Selama tiga hari berikutnya, Arya membuktikan kata-katanya. Ia tidak lagi bertindak seperti perwira yang harus dilayani; ia menjadi tangan kanan bagi keluarga Nina. Ia yang mengurus administrasi pensiun janda untuk Fatimah di kantor Korem, ia yang memastikan air dan listrik rumah berjalan baik, bahkan ia yang menjemput bahan makanan ke pasar agar Fatimah tidak perlu keluar rumah di tengah masa berkabungnya.
Tetangga asrama menatap dengan takjub. Seorang perwira muda, putra seorang Jenderal, mau melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar untuk keluarga seorang bintara. Namun bagi Arya, ini bukan soal pangkat. Ini soal membayar hutang nyawa dan hati kepada pria yang dulu memaafkannya saat ia menyebabkan luka di kepala seorang anak kecil.
Suatu sore, saat matahari mulai tergelincir di ufuk barat, Nina mendapati Arya sedang berdiri di depan foto ayahnya yang dipasangi pita hitam di sudut bingkai. Arya memberikan hormat sempurna di depan foto itu, sebuah pemandangan yang membuat dada Nina sesak.
"Ayah sangat menghargai Kakak," ucap Nina dari balik pintu.
Arya menurunkan tangannya, berbalik menatap Nina. "Dan Kakak sangat menghormati beliau melebihi atasan mana pun. Beliau adalah orang yang mengajarkan Kakak bahwa keberanian sejati bukan terletak pada senjata, tapi pada pengampunan."
Nina berjalan mendekat, berdiri di samping Arya. "Kakak benar-benar harus pergi lusa?"
Arya menghela napas panjang. "Tugas memanggil ke Jakarta, Nin. Ada persiapan untuk penugasan luar negeri singkat. Kakak tidak bisa menolaknya."
Nina menunduk. Bayangan kesepian di rumah ini tanpa sosok pelindung mulai menghantuinya. Ibunya masih sering termenung, dan ia sendiri harus kembali ke kampus untuk menyelesaikan ujian akhirnya yang sempat tertunda.
"Tapi," lanjut Arya, memegang kedua bahu Nina agar gadis itu menatapnya. "Kakak sudah meminta izin pada orang tua Kakak. Dan... Kakak juga sudah bicara dengan Komandan Korem di sini. Beliau setuju untuk terus memantau rumah ini. Kakak akan meneleponmu setiap malam, tanpa absen. Kakak janji."
***
Malam sebelum keberangkatan Arya, suasana rumah sedikit lebih tenang. Fatimah sudah mulai bisa tersenyum meski tipis, dan beberapa kerabat jauh mulai pulang ke kota masing-masing.
Nina mengajak Arya duduk di taman kecil di samping rumah, di bawah pohon mangga yang dulu sering dipangkas ayahnya.
"Kak soal pernyataan Kakak di Kaliurang..." Nina memulai dengan suara pelan.
Arya menahan napas. "Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, Nin. Dalam kondisi duka seperti ini, Kakak tidak ingin kamu mengambil keputusan karena merasa berutang budi atau karena merasa butuh perlindungan."
"Bukan karena itu," sela Nina. Ia menatap ke langit yang berbintang. "Kepergian Ayah menyadarkan Nina satu hal. Hidup ini sangat singkat. Kita tidak pernah tahu kapan garis takdir kita akan diputus."
Nina menatap Arya, kali ini dengan tatapan yang lebih berani dan dewasa. "Nina takut, Kak. Nina takut kalau Nina menolak hanya karena gengsi atau takut omongan orang, Nina akan menyesal seumur hidup kalau sesuatu terjadi pada Kakak di medan tugas nanti."
Arya terdiam, menunggu kelanjutan kalimat Nina.
"Jadi... Nina ingin jujur. Nina juga mencintai Kakak. Mungkin sejak Nina mulai memakai kalung pemberian Kakak bertahun-tahun lalu. Tapi, Nina mohon satu hal. Biarkan Nina membuktikan dulu kalau Nina bisa berdiri sendiri. Nina ingin lulus kuliah, Nina ingin jadi penari mandiri agar tidak ada orang yang bisa bilang kalau Nina cuma 'menumpang' di nama besar keluarga Kakak."
Senyum Arya merekah, senyum paling tulus yang pernah Nina lihat. Ia menarik Nina ke dalam pelukannya, kali ini tanpa keraguan. Ia mencium puncak kepala Nina dengan lembut.
"Kakak akan menunggumu, Nin. Seberapa lama pun itu. Jadilah penari hebat yang kamu impikan. Kakak akan menjadi penonton setiamu dari barisan paling depan, entah itu di panggung megah atau di tepi lapangan asrama."
***
Pagi harinya, sebuah mobil jemputan dari pangkalan udara sudah menunggu di depan pagar. Arya sudah siap dengan koper dan perlengkapan militernya. Ia menyalami Fatimah dengan takzim.
"Tante, saya pamit. Jaga kesehatan. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya atau piket Korem. Saya sudah titip pesan pada mereka," ujar Arya.
Fatimah memeluk Arya bagai anaknya sendiri. "Terima kasih, Mas Arya. Kamu sudah sangat membantu kami. Hati-hati di jalan, Nak."
Kini giliran Nina. Mereka berdiri di samping mobil. Tidak ada pelukan dramatis di depan umum, karena mereka masih berada di lingkungan asrama yang menjunjung tinggi tata krama. Namun, tatapan mata mereka bicara lebih banyak dari ribuan kata.
"Ingat janji kita?" tanya Arya.
"Lulus kuliah, jadi penari hebat," jawab Nina tegas.
"Dan satu lagi," Arya mendekat, berbisik pelan. "Jaga hati untuk perwira yang satu ini."
Nina tertawa kecil di tengah sisa sedihnya. "Siap, Komandan!"
Saat mobil itu bergerak meninggalkan asrama Korem, Nina tidak menangis seperti saat ayahnya dimakamkan. Ia melambaikan tangan dengan kepala tegak. Luka di hatinya karena kehilangan ayah memang masih ada, namun kini ada sebuah harapan baru yang tumbuh di atas puing-puing kesedihan itu.
Ia kembali masuk ke dalam rumah, menatap ruang tamu yang kini tampak lega. Ia mengambil sepatu tarinya yang sudah beberapa hari tergeletak di sudut.
"Ayah," bisiknya pada angin. "Nina akan terus menari. Dan Nina akan baik-baik saja, karena ada seseorang yang menjaga Nina dari kejauhan, persis seperti yang Ayah titipkan padanya."
Garis takdir mereka kini membentang melintasi pulau sekali lagi. Namun kali ini, tidak ada lagi keraguan. Hubungan yang dimulai dari kecelakaan di bawah hujan, tumbuh dalam persahabatan di asrama, dan dikukuhkan dalam duka yang mendalam, kini telah bertransformasi menjadi janji masa depan yang kokoh.
Nina mulai menggerakkan kakinya, melakukan pemanasan kecil di ruang tengah. Ia tahu, panggung besar menantinya di depan, dan ia akan menari dengan seluruh jiwanya, untuk Ayah, dan untuk cinta yang baru saja ia temukan di tengah badai.