NovelToon NovelToon
Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.

Claire mendapatkan sebuah notifikasi..

[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]

Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.

Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wanita Itu?

Pintu geser ruang ganti terbuka dengan bunyi klik yang halus. Claire melangkah keluar, menyapu lantai marmer dengan kain sutra yang jatuh sempurna di tubuhnya. Gaun itu berwarna biru midnight dengan detail kristal yang menangkap cahaya lampu gantung di langit-langit, membuatnya tampak seperti sedang memeluk rasi bintang.

Pegawai butik itu terpaku, tangannya yang memegang meteran kain jatuh begitu saja ke samping. "Nyonya Claire... ini... saya belum pernah melihat potongan gaun yang menyatu begitu sempurna dengan pemakainya," bisiknya dengan nada memuja.

Claire menatap pantulan dirinya di cermin raksasa. Ia memutar tubuh perlahan, lalu senyum tipis—hampir dingin—muncul di wajahnya. "Gaun ini sempurna," gumam Claire pelan, suaranya tenang namun tajam. "Sangat pas jika digunakan untuk membuat sedikit drama di rumah itu nanti malam."

Di sudut ruangan, Mikael yang sedari tadi sibuk dengan majalah—mendongak. Detik itu juga, matanya terpaku. Ada jeda napas yang tertahan, sebuah kekaguman murni yang tak bisa ia bendung. Namun, begitu menyadari ibunya melirik ke arahnya, Mikael berdehem keras dan memalingkan muka, kembali memasang topeng acuh tak acuhnya.

"Biasa saja," cetus Mikael datar, meski telinganya sedikit memerah. "Tidak ada yang istimewa. Hanya kain mahal yang menempel di badan."

Claire tidak tersinggung. Ia justru tersenyum miring, sudah hafal dengan gengsi putranya. Namun, saat ia memperhatikan sekeliling, ada sesuatu yang kurang. "Mikael," suara Claire berubah serius. "Di mana adikmu?"

Mikael terdiam sejenak. Ia melirik ke arah pintu kaca butik yang terbuka lebar. "Tadi dia bilang ingin ke toilet. Padahal toilet ada tepat di samping butik ini, tapi dia malah berlari keluar dan menghilang di antara kerumunan mal."

"APA?" Claire tersentak, rasa bangga akan gaunnya menguap seketika. "Kenapa kau membiarkan dia keluar sendirian? Bagaimana jika dia diculik? Bagaimana jika dia hilang di tempat seluas ini, Mikael?!"

Mikael mengedikkan bahu dengan santai, seolah pembicaraan ini hanya membahas tentang barang yang tertinggal. "Jika hilang, beli saja yang baru. Apa susahnya?"

Mata Claire membelalak. "HEH! SEMBARANGAN! Kau kira adikmu itu barang koleksi?! Dia manusia, Mikael! Cepat kita cari dia sebelum Mommy benar-benar membuat drama yang sebenarnya di sini!"

Claire menyambar tasnya, masuk kembali ke ruang ganti dengan gerakan kilat. Hanya butuh tiga menit baginya untuk berganti pakaian dan menyelesaikan transaksi dengan kartu kreditnya tanpa melihat angka di struk.

Claire melangkah dengan langkah lebar yang terburu-buru, matanya menyisir setiap sudut koridor, sementara Mikael mengekor di belakang dengan santai.

Napas Claire memburu. "Adek mu tadi bilang mau ke toilet lantai berapa? Jangan-jangan dia turun ke lantai bawah karena panik?"

Mikael mengangkat bahu."Mana kutahu, dia langsung lari begitu saja. Wajahnya sudah pucat pasi karena tidak tahan dengan kecepiritnya itu. Mungkin dia cari toilet yang paling jauh supaya tidak ada yang kenal baunya."

" Astaga," Claire menepuk kening nya.

Tiba-tiba, ponsel di tas Claire berdering nyaring. Nama 'Si Bungsu Michel' muncul di layar. Claire langsung mengangkatnya dengan tangan gemetar.

"Halo! Michel? Kamu di mana, Sayang?!"

Suara tangisan Michel pecah dari seberang telepon, sangat kencang hingga terdengar ke telinga Mikael. "HUWAAAAA! MOMMYYY! KECEPILIT NA! Kotolannya nempel di celana... hiks... Micel ndak bica kelual ini. MALUUU! Takut ada olang liat! Cudah ndak ada halga dili na Micel ini.. gala - gala kotolan, hiks hiks."

Claire tepok jidat, ekspresinya antara ingin marah, tertawa, dan lega. "Astaga... dia membawa ponsel! Kenapa tidak dari tadi aku menghubunginya?"

Mikael menahan tawa sambil memutar bola mata. "Nah, setidaknya barang yang hilang itu masih bisa menelepon untuk minta ganti popok."

Claire menghela nafas, setelah Michel memberitahu letak toilet nya. Claire langsung berlari kecil menuju area toilet di ujung lorong. Namun, tepat di persimpangan jalan, ia tidak sempat mengerem langkahnya.

BRUK!

Claire menabrak bahu seorang wanita yang sedang menggandeng anak laki-laki seusia Mikael. Tas belanjaan wanita itu hampir terjatuh.

Claire terengah-engah, merapikan rambutnya yang berantakan. "Maaf! Maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja, aku sedang terburu-buru!"

Claire hanya melirik sekilas lalu bersiap melanjutkan langkah, namun wanita itu mematung. Wajahnya pucat, matanya menatap Claire dengan tatapan yang sulit diartikan—antara takut, benci, dan tidak percaya.

Wanita itu sedikit gemetar pada tubuh nya. " Astaga... Kenapa dia ada di sini? Setelah sekian lama... Kenapa dia harus muncul sekarang di hadapanku?"

Claire melihat wanita itu diam saja."Sekali lagi maaf, ya. Saya duluan."

Claire menarik Mikael pergi begitu saja tanpa menoleh lagi. Sementara itu, wanita yang ditabraknya masih terpaku di tempatnya, meremas tangan anaknya sendiri dengan kencang sampai anak itu terlihat menahan sakit.

Wanita itu bergumam lirih, nyaris tak terdengar. "Dia... tidak mengenalku? Benar-benar tidak ingat, atau dia hanya pura-pura tidak kenal setelah apa yang terjadi 5 Tahun lalu?"

Di dalam kabin mobil mewah itu, udara terasa begitu statis, seolah oksigen pun enggan bergerak. Ares duduk dengan punggung tegak, memancarkan aura dingin yang membuat interior mobil terasa beberapa derajat lebih rendah. Di depannya, Albert—asisten yang biasanya cekatan—berulang kali melirik spion tengah. Gerakannya gelisah, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme yang tidak beraturan, menciptakan kontras tajam dengan ketenangan Ares yang mematikan.

Suara klakson dari kemacetan kota di luar sana terdengar sayup, gagal menembus lapisan kedap suara kabin yang mencekam. Sampai akhirnya, Ares memecah keheningan tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari layar iPad.

"Kau sudah mencuri pandang lewat spion itu sebanyak dua belas kali dalam lima menit, Albert. Kau ingin mengatakan sesuatu?"

Albert tersentak, bahunya sedikit melonjak. "T—tidak, Tuan... maafkan saya. Saya hanya... apa Anda benar-benar yakin ingin menghadiri jamuan keluarga Lergan malam ini?"

Ares menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Setidaknya aku harus menghormati keluarga ibu tiriku, bukan? Wanita itu harus melihat dengan matanya sendiri bahwa aku masih berdiri tegak, meski dia sudah mencoba segala cara untuk meruntuhkanku."

"T—Tuan Muda!" suara Albert memelan, sarat akan keraguan.

Ares akhirnya menurunkan iPad-nya. Ia melirik tajam ke arah spion, mengunci tatapan asistennya. "Apa lagi sekarang?"

"Sebenarnya... saat saya di Mall tadi untuk mengambil setelan Anda, saya tidak sengaja melihat seorang anak perempuan," Albert menelan ludah, suaranya bergetar. "Wajahnya... fitur wajahnya hampir identik dengan Anda, Tuan."

Ares mendengus pendek, sebuah tawa kering yang meremehkan. "Aku belum menikah, Albert."

"Tapi Tuan..." Albert menguatkan hati, suaranya kini lebih stabil namun penuh penekanan. "Bagaimana jika anak itu adalah putri dari wanita yang tidur bersama Anda lima tahun lalu? Wanita yang selama ini Tuan cari tanpa sisa jejak, seolah dia hilang ditelan bumi?"

Suasana di dalam mobil mendadak membeku. Ares terdiam, jemarinya yang panjang berhenti mengetuk pinggiran iPad. Ingatan tentang malam badai lima tahun lalu kembali menghantamnya—sebuah kesalahan yang menjadi obsesi terbesarnya.

"Kirimkan semua rekaman CCTV dari Mall itu ke ponselku sekarang juga," perintah Ares, suaranya kini rendah dan berbahaya. "Aku harus melihatnya sendiri. Jika kau benar, maka malam ini keluarga Lergan bukan lagi masalah utamaku."

Ares kembali menyandarkan punggungnya, menatap keluar jendela di mana lampu-lampu kota mulai mengabur. Dalam hati, ia berbisik pada dirinya sendiri, "Benarkah kejadian malam itu sungguh menumbuhkan janin di rahim wanita itu? Jika benar begitu dan kau membawa darah dagingku... aku tidak akan membiarkanmu lolos untuk kedua kalinya."

BERSAMBUNG

1
Murni Dewita
double up lah thor
Sulati Cus
knp g cb tes DNA dg si twins🤔
Murni Dewita
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Murni Dewita
👣
Siti Sa'diah
wah jangan2 clair iniii
Musdalifa Ifa
WOW
Musdalifa Ifa
seru banget, selalu suka sama peran wanita yg kuat, tegas dan punya banyak kelebihan begini👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!