NovelToon NovelToon
Milik Sang Ketos Dingin

Milik Sang Ketos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kasychan_A.S

Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.

​Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.

​Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.

​Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.

follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15-​"MAMPUS! GUE TELAAAAAT LAGIIII!!!"

​"Dih, kepedean banget! Tapi emang bener sih, lo itu cantik," balas Sesya sambil tetap telaten meratakan warna di bibir Aluna.

​Aluna hanya bisa tertawa pasrah, menikmati momen hangat bersama kedua sahabatnya. Sambil meminum minuman yang dia pesan, mereka bertiga asyik bercanda, menertawakan hal-hal sepele yang terjadi sepanjang hari ini.

​Sementara itu, di sebuah bangunan tua terbengkalai yang disulap menjadi markas besar yang luas, bau asap rokok dan deru mesin motor yang dipanaskan memenuhi udara. Markas itu adalah jantung dari The Shadow, geng motor paling ditakuti di kota ini.

​Di sudut ruangan yang agak gelap, Arlan duduk di sebuah kursi kayu besar, terlihat seperti seorang raja di singgasananya. Ia mengenakan jaket kulit hitam dengan logo bayangan hitam yang tampak mengancam di punggungnya. Ekspresinya dingin, jauh lebih mengintimidasi daripada saat ia berada di sekolah.

​"Lan, anak-anak geng sebelah mulai buat masalah lagi," lapor Barra, tangan kanan Arlan yang punya bekas luka kecil di alisnya. Barra melemparkan sebuah kunci motor ke meja dengan kasar.

​Arlan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap kosong ke depan sambil memutar-mutar korek api di tangannya.

​"Gue rasa mereka nantangin," timpal Darrel, si otak di balik strategi The Shadow yang sedang sibuk mengelap belatinya. "Gimana? Perlu kita kasih pelajaran malam ini?"

​Arlan akhirnya mendongak. Matanya yang tajam menatap kedua sahabatnya itu bergantian. "Jangan gegabah. Biarin mereka main dulu. Kalau udah kelewat batas, gue sendiri yang turun tangan," suaranya berat dan penuh penekanan, membuat Barra dan Darrel bungkam seketika.

​"Ngomong-ngomong soal turun tangan," Barra tiba-tiba menyeringai, mencoba mencairkan suasana. "Besok lo ada jadwal jaga gerbang sekolah lagi, kan? Jadi Ketua OSIS Idaman lagi?"

​Arlan hanya mendengus pelan. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah lewat tengah malam. "Gue balik duluan."

​"Yaelah, Lan! Buru-buru amat. Takut kesiangan buat ngaaih hukuman si Aluna?" goda Darrel sambil tertawa kecil, yang langsung dibalas tatapan tajam oleh Arlan.

"Gua takut nanti nyokap sama bokap gua nyariin"

"Santai bro, oke deh"

Arlan bangkit dari kursi kayunya, menyambar kunci motor sport hitam yang tergeletak di meja kayu penuh goresan itu. Tanpa pamit dua kali, ia melangkah membelah barisan anggota The Shadow yang sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Begitu mesin motornya menderu, Arlan langsung memacu kendaraannya membelah dinginnya angin malam.

​Arlan memarkirkan motornya di garasi dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara bising. Begitu ia membuka pintu depan menggunakan kunci cadangan, suasana rumah sudah sangat sunyi. Namun, langkahnya terhenti saat melihat lampu ruang tengah masih menyala remang.

​Di sana, di atas sofa, Bundanya sedang duduk sambil menyandarkan kepala, seolah menunggunya pulang.

​"Arlan? Baru pulang, Nak?" suara lembut itu memecah keheningan.

Arlan yang tadi di markas terlihat seperti singa yang siap menerkam, mendadak berubah. Bahunya meluruh, wajahnya yang kaku melunak. Ia mendekat ke arah Bundanya, lalu tanpa ragu duduk di karpet dan menyandarkan kepalanya di pangkuan sang Bunda.

​"Maafin Arlan, Bun. Tadi ada urusan sama Barra dan Darrel," gumamnya pelan, sangat manja.

​Bundanya tersenyum tipis, mengelus rambut hitam putranya yang sedikit berantakan karena helm. "Urusan apa pun itu, jangan sampai kamu telat bangun besok. Kamu kan Ketua OSIS, harus jadi contoh buat teman-temanmu."

​Arlan memejamkan mata menikmati usapan lembut tangan Bundanya. "Iya, Bunda. Arlan cuma sebentar kok tadi. Arlan kangen Bunda," jawabnya sambil memeluk pinggang Bundanya erat, benar-benar sisi yang tidak akan pernah dibayangkan oleh siapa pun di sekolah maupun di The Shadow.

​"Sudah, sana masuk kamar. Mandi air hangat terus tidur," perintah Bundanya lembut. Arlan mengangguk, mencium tangan Bundanya, lalu beranjak ke kamar dengan perasaan tenang.

​Di sisi lain kota.

​Berbeda dengan ketenangan di rumah Arlan, Aluna justru disambut dengan sidang darurat. Begitu kakinya melangkah masuk ke ruang tamu, Papah dan Mamahnya sudah duduk di sofa dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.

​"Bagus ya, Aluna. Baru sembuh, sudah pulang jam dua pagi?!" Papahnya membuka suara dengan nada rendah namun penuh penekanan.

​Aluna mematung. "E-eh, Papah belum tidur? Tadi Aluna keasyikan ngobrol sama Sesya dan Belva, Yah..."

​"Mamah telepon berulang kali kenapa tidak diangkat? Kamu tahu Ibu hampir lapor polisi karena takut kamu kenapa-napa di jalan?!" Ibunya menimpali dengan mata berkaca-kaca karena cemas.

​Aluna menunduk dalam, merasa bersalah. Ia mendekat, lalu berlutut di depan kedua orang tuanya. "Maafin Aluna, Mah, Pah... Tadi HP Aluna lowbatt, terus kafe itu suasananya enak banget jadi Aluna lupa waktu. Aluna janji nggak bakal ulangi lagi."

Melihat wajah putrinya yang tampak benar-benar merasa bersalah ditambah sisa-sisa wajah lelahnya yang baru pulih dari sakit pertahanan Papah Aluna akhirnya runtuh. Beliau menghela napas panjang, mencoba membuang sisa amarahnya ke udara.

​"Al, Papah sama Mamah marah karena peduli. Kamu itu anak perempuan satu-satunya, sudah jam dua pagi masih di jalanan. Kalau ada apa-apa, yang repot siapa?" tanya Papahnya dengan nada yang sudah jauh lebih lembut.

​Aluna mendongak, matanya berkaca-kaca. Ia langsung beranjak dari posisi berlututnya dan menghambur memeluk Papahnya dari samping, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu sambil mengerucutkan bibir manja. "Iya, Pah... Aluna tahu Aluna salah. Maafin Aluna ya? Papah ganteng deh kalau nggak marah."

​"Halah, bisa saja kamu ngerayu," gumam Papahnya, tapi tangannya tetap terulur mengusap rambut Aluna.

​Tak mau kehilangan momen, Aluna juga meraih tangan Mamahnya dan menariknya ke dalam pelukan. "Mamah juga, jangan nangis lagi ya? Aluna janji bakal selalu kabarin kalau mau pulang telat. Jangan lapor polisi, nanti Aluna malu dikira anak ilang."

Mamahnya akhirnya tertawa kecil meski matanya masih sedikit sembab. Beliau mencubit hidung Aluna dengan gemas. "Kamu itu ya, bener-bener pinter bikin hati Mamah luluh. Sudah, sana masuk kamar. Mandi dan langsung tidur. Besok jangan sampai kesiangan, ini sudah hampir jam tiga!"

​"Siap, Bos Mamah!" seru Aluna girang. Ia memberikan kecupan singkat di pipi kedua orang tuanya sebelum berlari kecil menuju kamarnya di lantai atas.

Sinar matahari menyelinap melalui celah gorden, namun Aluna masih terbungkus rapat di balik selimut baby blue-nya. Tidur yang baru dimulai pukul tiga pagi benar-benar membuatnya kehilangan kesadaran akan dunia luar.

​"ALUNAAAAA!!! BANGUN! SUDAH JAM BERAPA INI?! GERBANG SEKOLAH BENTAR LAGI TUTUP!" teriakan Mamah dari bawah dibarengi suara dentuman sutil di penggorengan dapur.

​Aluna mengerang, matanya terbuka sedikit demi sedikit. Ia meraba meja nakas dan mengambil ponselnya. Begitu layar menyala, jantungnya serasa melompat keluar.

​06.47.

​"MAMPUS! GUE TELAAAAAT LAGIIII!!!"

1
j_ryuka
lalat aja kepeleset apalagi hatinya kakak😭
j_ryuka
gue Tabok juga mulut Lo
Blueberry Solenne
Wkwkwk gila aja ngepel lg. 4. mau sekolah apa jadi OB di suruh ngepel mulu
Blueberry Solenne
Uhuk uhuk cie cie ada yang lagi sating tuhhh, udah pacaran aja kalian
pojok_kulon
Apa sekolahnya akan fokus, apa mereka nggak takut anaknya jadi nggak semangat untuk sekolah laki
pojok_kulon
wah jangan jangan Arlan tuh
Kim Umai
ada aja gebrakan nya tiap hari 🤣
Blueberry Solenne
asiik, serahkan smuanya sama Arkan ketimbang kecoa doang wkwkwk
Blueberry Solenne: Arlan, typo😭😭😭
total 1 replies
Blueberry Solenne
Ett dah udah kek bocil, eh emang bocil ya🤭
Suo
wahh jadi aluna berharap nya lain nih/CoolGuy/
Panda%Sya🐼
Enggak usah marah. Toh si Arlan bukan pacar kamu /Facepalm/
j_ryuka
akhirnya cieeee cieeeee
j_ryuka
hey awas aja kau lyra
Hafidz Nellvers
edyan bisa sama gitu 😱
Hafidz Nellvers
keren orang tuanya 🥳
pojok_kulon
jangan terlalu benci Aluna takutnya Arlan akan menjadi jodoh kamu dimasa depan 🤭🤭🤭
pojok_kulon
Pasti si ketua osis
ininellya
nahh loo siapa tau masa depan nya ya si tuu
Ria Irawati
Suka banget sama ceritanya.. lebih berwarna
Ria Irawati
nah kan cewe gk kuat godaan shopping.. 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!