NovelToon NovelToon
DIPANGGIL KE DUNIA LAIN UNTUK MENJADI RAJA IBLIS LEON KE-9

DIPANGGIL KE DUNIA LAIN UNTUK MENJADI RAJA IBLIS LEON KE-9

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Sistem
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lorenzo Leonhart

✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at, pukul 19.00 wib ✨


Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.

Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.

Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.

dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pahlawan dari Dunia Lain

Pagi hari di Vargos tidak lagi dimulai dengan kabut kematian yang menyesakkan dan bau busuk rawa yang menyengat. Sebaliknya, udara kini terasa berdenyut dengan energi mana yang stabil, hasil dari pemurnian kanal-kanal air yang terus bekerja tanpa henti.

Di bawah kepemimpinan Ren Akasa, Vargos perlahan-lahan menanggalkan citranya sebagai "kuburan terbuka" dan mulai bertransformasi menjadi sebuah ekosistem yang hidup, meskipun tetap menyimpan aura kegelapan yang kental.

Ren berdiri di balkon Menara Regulus, menatap ke arah bawah di mana kesibukan mulai terlihat. Dari ketinggian ini, ia bisa melihat bagaimana struktur sosial yang ia rancang mulai berjalan. Ia bukan lagi sekadar seorang pemuda yang terjebak dalam permainan sistem, ia adalah seorang arsitek peradaban.

Ia membuka antarmuka [Territory Management] yang melayang di depannya. Layar berwarna emas itu kini dipenuhi dengan grafik populasi dan alokasi sumber daya yang jauh lebih kompleks dari sebelumnya.

[Sistem: Mengonfigurasi Hierarki Sosial Wilayah Vargos...]

"Mika," panggil Ren, suaranya tenang namun bergema di sepanjang balkon.

"Hamba di sini, Tuanku," jawab Mika, yang muncul dari bayang-bayang pilar obsidian di belakang Ren. Rambut hijau pastelnya sedikit bergoyang tertiup angin rawa yang kini terasa lebih segar. "Semua faksi telah dikumpulkan sesuai instruksi Anda. Mereka menunggu titah pertama Anda mengenai pembagian permanen."

Ren mengangguk, matanya masih terpaku pada layar sistem. "Vargos tidak bisa hanya mengandalkan kekuatanku dan kalian para jenderal. Kita butuh fondasi ekonomi dan logistik yang mandiri. Mulai hari ini, setiap ras di sini memiliki peran yang tidak bisa diganggu gugat."

Ren mulai menjelaskan pembagian tugas tersebut, yang secara otomatis diperbarui ke dalam sistem wilayah:

* Kaum Lizardman Jantan (Swamp Vanguard): Di bawah komando Zosma, mereka kini resmi menjadi kekuatan militer reguler Vargos. Mereka dilatih untuk bertarung dalam formasi, menggunakan zirah perak suci yang telah dilebur ulang dan dimodifikasi menjadi zirah anti-cahaya. Mereka adalah benteng pertama yang akan ditemui musuh di garis depan rawa.

* Kaum Lizardman Betina (Agronomis Rawa): Mereka dialokasikan ke Sektor Barat. Berkat aliran air jernih dari kanal Valeria, mereka bertugas mengelola ladang-ladang pertanian. Bukan padi atau gandum biasa, melainkan tanaman pangan yang telah dimodifikasi secara magis untuk tumbuh cepat di tanah rawa, serta budidaya tanaman obat untuk kebutuhan alkimia.

* Klan Dark Elf Nightshade (Shadow Operatives & Research): Elara dan klan-nya ditempatkan di sektor intelijen. Mereka adalah mata dan telinga Ren di luar batas rawa. Selain itu, mereka bertugas membantu Valeria dalam riset mana di Menara Regulus, memanfaatkan pengetahuan kuno mereka tentang tanaman kegelapan untuk memperkuat sistem pertahanan kastil.

"Struktur ini sudah bagus untuk awal," gumam Ren. "Tapi kita punya satu lubang besar, Mika. Peralatan tempur kita. Gorn memang kuat dalam menempa secara kasar, tapi kita butuh presisi. Kita butuh ahli mesin dan pertukangan yang sesungguhnya."

Mika membungkuk sedikit. "Jika itu yang Anda cari, hanya ada satu ras yang mampu memenuhi standar Anda. Para Dwarf. Namun, mereka adalah ras yang paling sulit diajak bekerja sama. Mereka membenci iblis dan tidak mempercayai manusia."

"Silas menemukan catatan tentang klan Deepforge di Pegunungan Ironfist, bukan?" tanya Ren. "Siapkan rencana ekspansi kecil. Aku tidak ingin menyerang mereka jika tidak perlu, tapi aku ingin mereka tahu bahwa bekerja di bawah Vargos jauh lebih menguntungkan daripada bersembunyi di dalam lubang gunung yang gelap."

Sementara itu, ribuan kilometer di utara, suasana di Ibu Kota Arthemis sedang diliputi kemuraman. Di dalam Katedral Agung yang megah, aroma kemenyan yang biasanya menenangkan kini terasa menyesakkan bagi Saintess Selene. Ia berdiri di depan pintu ruang audiensi pribadi milik Paus Richard Stride, pemimpin tertinggi gereja sekaligus penguasa spiritual kerajaan.

"Anda tidak boleh berangkat, Selene. Keputusan ini sudah final," suara Paus Richard terdengar dari balik pintu kayu ek yang tebal.

Selene mendorong pintu itu, masuk dengan wajah yang dipenuhi kecemasan. "Paus, saya mohon! Arthur masih hidup, saya bisa merasakannya. Detak jantungnya tersiksa oleh energi kegelapan yang sangat pekat. Jika saya pergi bersama unit 'Matahari Tersembunyi', saya bisa memurnikan rawa itu dan menyelamatkannya!"

Paus Richard, seorang pria tua dengan jubah putih megah berpalet emas, berbalik perlahan. Matanya yang keriput menatap Selene bukan dengan kasih sayang, melainkan dengan perhitungan dingin.

"Kau adalah satu-satunya Healer Rank S di seluruh Arthemis, Selene. Keberadaanmu adalah pilar stabilitas bagi moral rakyat kita. Jika kau pergi ke rawa Vargos dan Dewi melarangmu jatuh ke tangan Raja Iblis Leon, maka Arthemis akan runtuh. Aku tidak akan membiarkan satu-satunya aset penyembuhan terbaik kita menjadi tawanan iblis," ujar Paus Richard dengan nada yang tidak bisa dibantah.

"Tapi Arthur"

"Arthur adalah kegagalan yang harus kita bersihkan," potong Paus Richard kejam. "Untuk menggantikannya, aku telah memutuskan untuk menggunakan metode yang lebih... drastis."

Selene tersentak. Ia tahu apa yang dimaksud Paus. Ritual pemanggilan pahlawan dari dunia lain adalah sesuatu yang sangat jarang dilakukan karena membutuhkan biaya mana yang sangat besar dan seringkali mendatangkan individu yang tidak stabil.

"Paus, ritual itu... kita tidak tahu siapa yang akan datang," bisik Selene ngeri.

"Itu tidak masalah. Yang penting adalah kekuatannya," jawab Paus Richard. Ia memberi isyarat pada para pendeta agung di belakangnya untuk memulai ritual di ruang bawah tanah katedral.

Beberapa jam kemudian, di tengah lingkaran sihir raksasa yang berpendar cahaya putih yang menyakitkan mata, udara di katedral seolah terbelah. Petir-petir suci menyambar pilar-pilar batu saat sebuah lubang dimensi terbuka. Dari dalam cahaya itu, muncul seorang pemuda.

Ia tidak mengenakan zirah. Ia mengenakan jaket kulit hitam, celana kargo, dan sepatu bot yang terlihat sangat asing bagi orang-orang Aetheria. Di punggungnya tersampir sebuah bilah kristal yang berdenyut dengan energi merah yang tidak stabil. Namanya adalah Kenji Sato.

Kenji menatap sekeliling dengan mata yang kosong namun tajam. Tidak ada ketakutan di wajahnya, hanya ada rasa bosan yang mendalam.

"Jadi... ini dunia fantasi yang kalian bicarakan?" Kenji bertanya dengan suara rendah. "Siapa target yang harus kuhancurkan agar aku bisa mendapatkan 'hadiah' yang kalian janjikan?"

Paus Richard tersenyum puas. "Seorang pria yang menyebut dirinya Raja Iblis Leon di rawa Vargos. Dia memiliki sesuatu yang kami inginkan, dan dia memegang salah satu pahlawan kami sebagai sandera."

Kenji menyeringai, sebuah ekspresi yang membuat Selene merinding. Aura Kenji bukanlah aura seorang pahlawan yang melindungi, melainkan aura penghancur yang tidak peduli pada sekitar.

"Raja Iblis, ya? Kedengarannya seperti bos level rendah," ucap Kenji sambil menghunuskan pedang kristalnya. Seketika, tekanan udara di katedral menurun drastis. "Akan kuselesaikan dalam satu malam. Tapi ingat orang tua, jika hadiahnya tidak sesuai... akulah yang akan menghancurkan tempat ini."

Di Vargos, Ren tidak membuang waktu. Ia tahu bahwa Arthemis pasti sedang merencanakan sesuatu yang besar setelah kekalahan Arthur. Ia melangkah menuju [Altar of the Stars] yang baru saja selesai dibangun di tengah halaman kastil.

Altar itu dikelilingi oleh tujuh pilar kristal yang merepresentasikan jenderal-jenderal rasi bintangnya. Saat ini, hanya beberapa pilar yang menyala dengan cahaya redup.

"Zosma, Shallan, mendekatlah," perintah Ren.

Kedua jenderal itu berlutut di depan altar. Ren meletakkan tangannya di atas batu altar yang dingin. Seketika, sistem memberikan notifikasi yang sangat masif.

[Sistem: Memulai Protokol Sinkronisasi Jiwa Raja...]

[Sistem: Mentransfer 15% Kapasitas Mana Permanen kepada Jenderal Terpilih.]

[Sistem: Membuka Skill Evolusi untuk Zosma dan Shallan.]

Cahaya emas dari tubuh Ren mengalir melalui pilar-pilar kristal dan masuk ke dalam tubuh kedua jenderalnya. Zosma meraung saat tubuhnya yang sudah raksasa mengalami transformasi. Kulit emasnya yang keras kini ditumbuhi oleh duri-duri obsidian yang membara dengan lava di sela-selanya. Ukurannya bertambah hingga hampir setinggi sepuluh meter.

Shallan juga mengalami perubahan. baju ksatria Succubusnya yang robek kini berubah menjadi zirah merah marun yang elegan namun mengerikan. Pada gagang cambuknya kini memiliki permata jiwa yang berdenyut selaras dengan detak jantung Ren.

"Kekuatan ini..." Shallan menatap tangannya yang kini dialiri energi ungu pekat. "Tuan Leon, saya merasa seolah-olah saya bisa membangkitkan seluruh pasukan dari dasar rawa hanya dengan satu pikiran."

"Gunakan kekuatan itu untuk memperkuat pertahanan," kata Ren. "Shallan, aku ingin kau menempatkan pasukan kerangka dalam formasi 'Jaring Kematian' di bawah permukaan air kanal. Jangan biarkan ada pergerakan sekecil apa pun yang luput dari pantauanmu."

Ren kemudian menoleh ke arah sektor pertanian. Ia melihat para Lizardman betina sedang bekerja keras menanam Gloom Flower.

"Valeria, pastikan tanaman-tanaman itu mendapatkan suplai mana yang cukup dari menara kondenser. Jika tanaman itu mekar dengan sempurna, seluruh rawa ini akan menjadi satu lingkaran sihir raksasa yang akan menghisap mana siapa pun yang masuk tanpa izinku," instruksi Ren kepada sang penyihir yang sedang melayang-layang.

"Siap, Tuan Leon! Aku akan menjadikan tempat ini sebagai taman bermain paling mematikan bagi para manusia suci itu!" jawab Valeria dengan tawa kecilnya yang khas.

Ren kembali ke ruang petanya. Ia memandangi Pegunungan Ironfist. Ia tahu, Kenji Sato atau siapa pun pahlawan baru itu bukanlah ancaman biasa. Jika Arthemis sampai melakukan ritual pemanggilan pahlawan, itu berarti mereka sudah benar-benar terdesak.

"Mika, aku akan memimpin ekspansi ke Pegunungan Ironfist secara pribadi. Kita butuh para Dwarf untuk membangun sistem pertahanan yang lebih otomatis. Menara kondenser kita saat ini masih terlalu manual," ucap Ren sambil mengenakan jubah hitamnya.

"Apakah bijaksana meninggalkan kastil saat Arthemis mungkin sedang mengirimkan pasukan elit, Tuanku?" Mika bertanya dengan nada khawatir.

"Itulah sebabnya aku memperkuat kalian semua hari ini. Alice dan ilusi bayangannya akan menjaga gerbang depan. Kagehisa akan tetap di sini sebagai pedang terakhir di aula utama. Dan kau, Mika, kau akan ikut bersamaku. Kita butuh kecepatanmu untuk melewati lembah Shadowfell dengan cepat."

Ren menatap ke arah utara sekali lagi. Ia merasakan getaran aneh di dalam sistemnya. Getaran yang hanya muncul jika ada dua "Pengguna Sistem" yang berada di dunia yang sama.

"Jadi, Paus Richard mengirimkan orang sepertiku, ya?" gumam Ren. Bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang menantang. "Mari kita lihat, apakah 'pahlawan' pilihanmu bisa bertahan di dunia yang sudah mulai aku kuasai ini."

Ren melangkah keluar dari Menara Regulus, langkah kakinya mantap. Di belakangnya, Vargos kini sudah bukan lagi sekadar tempat tinggal, itu adalah sebuah organisme hidup yang siap menelan siapa saja yang berani mengusik kedamaian barunya.

Pertemuan antar pahlawan dari dunia lain sudah di depan mata, dan Ren Akasa tidak berniat untuk menjadi pihak yang kalah dalam permainan yang baru saja dimulai ini.

Bersambung.

1
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻 ❤️❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya ✨❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻 ❤️
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan ✨ makasih sebelumnya 🙏🏻
Lorenzo Leonhart
Jangan lupa rate bintang 5 nya ya kawan, biar aku makin semangat ✨
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Lorenzo Leonhart: siaap💪
total 1 replies
Frando Wijaya
jd begitu....alasan jd kejam gara2 mahkota itu ya? bner2 berbahaya
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩...sgt seru Thor
Frando Wijaya
itulh gw anggap mereka gagal
Frando Wijaya
sesuai dugaan saintess....bch tengkik ini penghancur
Frando Wijaya
di anggap NPC bneran wkwkwkwkwkwkwk 🤣🤣🤣
Frando Wijaya
dh mirip seperti berserker
Frando Wijaya
yare2 🙄.... kemampuan terbang emng mutlak...tpi begitu lwn lo ada sniper.... hanya mslh wkt aja klian mendptkn keklhan mutlak
Frando Wijaya
huh?! bch tengkik ini punya system jg!?
Frando Wijaya
jantung chimera? jgn blg...ingin jd monster??
Frando Wijaya
HA! bner2 konyol
Lorenzo Leonhart
ya kurang lebih seperti itu ✨
Frando Wijaya
hmph 🙄... ternyata janji palsu...mah...itulh kebiasaan buruk manusia... kebiasaan selalu janji palsu
Frando Wijaya
jika berurusan ttg pengrajin senjata...mah....gw dh terbiasa lht bertengkar gara2 mslh kecil
Frando Wijaya
yg penting kekuatan? heh 😏😈❄️...gk ada bedany seperti binatang Dan iblis liar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!