Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 Terima Kasih, tante
Rayhan sudah mendapat pertolongan medis. Zella menunggu di lorong, tepat di depan ruangan di mana Rayhan tengah dirawat. Keadaanya yang basah kuyup tak memungkinkan dirinya untuk mendekat.
"Tante! Adik aku gimana?"
Zella menoleh kearah suara itu. Terlihat Rihana berlari begitu cepat kearahnya.
"Rayhan masih ditangani tim medis. Kita berdo'a semoga Rayhan nggak kenapa-napa." Zella mengusap lembut sisi wajah Rihana.
"Gara-gara aku ninggalin Rayhan, dia jadi kayak gini." sesal Rihana.
"Nggak begitu. Kamu nggak salah."
"Aku nggak bisa maafin diri aku sendiri kalau Rayhan kenapa-napa."
"Rayhan pasti baik-baik aja. Kamu harus tenang dan kuat." Zella mengusap lembut pundak Rihana.
"Tante ...." Rihana menangis Melihat keadaan Zella, dia sangat terharu mengetahui bagaimana perjuangan Zella menyelamatkan adiknya.
"Bukan tante nggak mau kamu peluk, tapi badan tante basah. Nanti kamu ikut basah kalau meluk tante."
"Nggak apa-apa. Makasih tante."
Zella membiarkan Rihana memeluknya dan menumpahkan air matanya. Tangis Rihana perlahan mereda. Zella mengusap sisa cairan bening yang masih membasahi pipi mulus gadis remaja itu. "Kamu kesini sama siapa?"
"Diantar sama supir aku. Tadi udah ajak Ayah sekalian. Tapi mobil kami nggak secanggih mobil Ayah. Kata Ayah, kasian Pak Jaja yang udah tua harus gendong Ayah. Jadi Ayah nunggu om Abi."
"Semoga Ayahmu cepat datangnya. Soalnya pasti dokter akan mendiskusikan beberapa hal tentang adikmu. Dengan keadaan tante sekarang, tante nggak bisa masuk ruangan dokter, kalau dokter memanggil.
Zella dan Rihana menunggu di ruang tunggu.
***
Mobil yang dikemudikan Miko melaju di tengah jalanan yang semakin ramai.
"Siapa yang dihubungi pengacara laknat itu setelah menerima perintah membuat surat wasiat?" tanya Abi.
"Entah, nomor asing dan suara yang difilter sedemikian rupa. Anak buahku sudah berusaha keras melacak pemilik nomor itu, tapi nihil."
"Bukan wanita tua itu?"
"Bukan. Bu Melvita saat ini malah masih sibuk dengan grup arisannya."
"Bukan anak emas wanita tua itu?"
"Bukan. Pak Tom seperti biasa, sibuk dengan--" Miko melanjutkan penjelasannya dengan bahasa isyarat.
Abi berdecih mengetahui kegiatan Thom, anak emas ibunya itu.
"Pak Abi. Apa sebaiknya pikirkan ulang tentang rencana kematian yang Pak Abi susun. Lihat kejadian saat ini, surat hibah belum ditanda tangani, Anda belum mati. Tapi nyawa Rayhan dan Rihana dalam bahaya. Aku yakin kejadian barusan ulah seserang yang ingin mencelakai Rihana dan Rayhan."
"Surat hibah tetap disahkan. Tapi rencana kematianku dibatalkan. Saat aku masih ada saja mereka berani macam-macam dengan anakku. Apalagi jika aku tiada."
"Jadi, Anda tetap menjalani pernikahan dengan Nyonya Zella?"
"Kamu dengar sendiri jawaban Zella, walau dia dipaksa menikah denganku tapi dia akan berusaha menjadi istri yang baik buatku."
Abi dan Miko akhirnya sampai di Rumah Sakit. Abi memandang haru kearah dua wanita yang duduk berdampingan. Abi terbayang kembali bagaimana usaha Zella yang rela terjun dari jembatan balkon lantai dua ke kolam renang hanya demi menyelamatkan Rayhan. "Dia membuktikan perkataannya, Miko" Abi menceritakan pada Miko bagaimana perjuangan Zella menyelamatkan Rayhan.
"Oh ternyata itu sebab keadaan Nyonya Zella basah kuyup."
"Astaga!" Abi baru mengingat kalau saat ini Zella masih basah kuyup. "Miko minta orangmu buat belikan baju yang nyaman dipakai. Kasian Zella kelamaan memakai baju basah, nanti dia bisa sakit, dan sekalian set kebutuhan bagian dalam."
"Bagaimana memerintahkan ukurannya?" tanya Miko.
"Jika utusanmu seorang wanita dia bisa memperkirakan ukuran Zella." Abi menatap tajam kearah Miko. "Kamu jangan memikirkan ukuran calon istriku!"
"Saya memandang Nyonya bukan memperkirakan ukuran! Tapi memperkirakan badan Nyonya patokan seseorang yang dikenal bawahan saya."
"Jangan banyak mikir! Cepat sana perintahkan!"
"Siap Pak Abi." Miko langsung mengambil handphone dan menitahkan perintah Abi pada orangnya.
Abi kembali fokus pada kedua orang di sana. Dia langsung mendekati dua orang itu. "Rihana. Bagaimana keadaan kamu? Perutnya masih sakit?" tanya Abi.
"Rihana kenapa?" sambar Zella.
"Rihana sepertinya salah makan, kata pelayan restoran Rihana lama dalam toilet."
"Sayang, ayok periksa keadaan kamu sekarang!" Zella langsung menarik Rihana masuk ruangan di depan mereka.
"Nggak usah, aku nggak kenapa-napa tante."
"Gimana keadaan kamu, biar tim medis yang memastikan." Zella meminta petugas medis memeriksa Rihana.
Zella keluar dari UGD sendirian. Dia berdiri di samping Abi, sedang matanya menatap sayu kearah ruangan besar di depannya.
"Kenapa keluar? Bagaimana Rihana?"
"Lihat bajuku basah. Aku tak nyaman berada lama di sana. Sebaiknya Anda yang masuk temani Rihana."
Abi segera meluncur dengan kursi rodanya menuju UGD di depan matanya. Di sana dia melihat Rayhan yang terbaring di brangkar. Tak jauh dari Rayhan, Rihana juga menjalani pemeriksaan.
"Keluarga pasien atas nama Rayhan!" panggil salah satu petugas.
"Saya!" Abi mengangkat tangannya agar perawat melihatnya.
"Adek Rayhan akan kami bawa ke ruang ICU. Silakan Bapak urus di administrasi kami." perawat mengisyarat sebuah meja yang ada di ujung ruangan.
"Iya baiklah, lakukan apa saja yang terbaik buat anak saya," pinta Abi.
"Keluarga pasien atas nama Rihana!"
Abi belum sampai menuju meja administrasi, kini dia harus kembali mendekati perawat lain yang memanggilnya.
"Saya, ada apa sus?"
"Pasien sepertinya memakan sesuatu yang dicampur obat pencuci perut. Pasien harus dirawat inap untuk membersihkan sisa obat yang masih tersisa."
"Lakukan yang terbaik buat anak saya!"
Dua brangkar itu perlahan meninggalkan UGD. 1 brangkar menuju kamar perawatan, sedang 1 kamar menuju ruang ICU. Abi memandang kedua brangkar yang melaju ke arah yang berbeda.
"Tuan Abi ikuti Rihana saja ke kamar perawatan. Saya akan tunggu di ruang tunggu ICU. Pak Abi tenang semua saya akan urus," ucap Miko.
"Bagaimana Zella?"
"Jika dia sudah menerima baju ganti, saya akan meminta dia menyusul Anda ke ruang perawatan Rihana."
Hari yang berat, semula ingin bersantai tapi berakhir di Rumah Sakit.
"Miko, cari tahu siapa yang mencelakakan kedua anakku. Jika sudah ketemu lakukan hal yang sama pada mereka dengan ganjaran yang berkali lipat tentunya! Agar mereka merasakan penderitaan kedua anakku."
"Siap Pak Abi."
Di suatu tempat.
Anjani menerima telepon dari Abi. Abi menjelaskan kalau dia menerima Zella sebagai istrinya. Tentu ini hal yang membahagiakan buat Anjani. Setelah menutup panggilan teleponnya, Anjani berteriak kegirangan. "Akhirnya rencana ku bisa lanjut dijalankan!"
"Ada apa sayang?" Seorang pemuda langsung memeluk Anjani dan menghujaninya dengan ciuman.
"Akhirnya Abi menerima wanita pilihanku!"
"Baru kali ini aku melihat seorang istri bahagia melihat suaminya akan menikah lagi."
"Suami? Pret!" sambar Anjani.
"Walau lumpuh gitu dia sangat bermanfaat bagi kita, tapi kamu aneh malah minta dia nikah lagi."
"Sebenarnya rencana menikahkan Abi itu milik ibumu Thom sayang. Tapi aku curi!"
"Wah jahat sekali kamu curi rencana dan curi start pula!"
"Aku carikan wanita terbaik yang aku temui. Caraku berbeda dengan ibumu. Kalau ibumu mencari wanita yang mudah dia kendalikan. Dengan memilihkan wanita yang baik, ku harap Abi akan merasa hutang jasa padaku."
"Kerjamu berperan sebagai istri yang patuh, sangat baik kau perankan." Pujian itu berakhir dengan sebuah kecupann yang begitu dalam.
"Ehemm. Aku hebat kan bisa mengalihkan harta perusahaan dengan begitu halus."
"Ya rencanamu halus dan sukses dengan hasil nyata. Sedang rencana ibuku terlalu lamban! Aku sangat puas dengan hasil kerja kerasmu selama ini, sayang."
"Saatnya kita senang-senang adik iparku tersayang ...."
"Setelah Abi menikah, kita akan pergi kan?" Thom memastikan.
"Tentu, kita akan pergi yang jauh, hanya berdua. Rencana ini sudah lama aku susun. Akhirnya bisa juga mewujudkannya, aku bisa pergi meninggalkan Abi dengan alasan berobat! Padahal kita bersenang-senang!"
"Aku bahagia, karena kita bisa menjelajahi dunia berdua sayang." laki-laki itu kembali melumatt bibir Anjani.
"Ya, kita berdua bisa senang-senang sambil menikmati hasil rampokan kita di perusahaan Abi yang sudah bangkrut itu!" Anjani lansung berdiri dan melompat kegirangan.
"Jangan terlalu semangat sayang, nanti kamu malah lupa kalau pura-pura cacat."
"Ah aku pegal sekali duduk lama di sana, biarkan aku melepaskan kebahagiaanku sayang." Anjani melompat kearah pria yang dia panggil sayang.
"Apa rencanamu berikutnya, sayang?"
"Aku belum tahu yang mana akan aku jalankan lebih dulu, susunan rencanaku dikacaukan oleh wanita itu."
"Perlu bantuanku untuk membereskan wanita itu?"
"Jangan dibereskan, dia tameng yang aman untuk mendapat pengampunan dari Abi jika kesialan menimpa kita."
"Lalu apa yang bisa aku bantu?"
"Biarkan dulu semua berjalan seperti ini, semakin baik Zella di mata abi, semakin kuat perisai kita. Bagaimana rencanaku kedepan, yang jelas aku ingin menguras semua harta Abi untuk kita berdua."
"Kamu sangat licik sayang, di luar kamu terlihat begitu lemah dan tak berdaya, tapi di depanku kamu begitu nakal!"
"Bukankah kamu suka hal ini?"
"Aku sangat suka! Apalagi jika melihatmu menjerit di atas sana." laki-laki itu mengisyarat kearah sofa tantra, sofa yang menjadi saksi bisu kegilaan mereka berdua selama ini.
Keadaan langsung memanas, kedua orang itu begitu semangat saling bantu melepas kain yang melekat pada tubuh mereka.
"Semula rencanaku setelah kita puas senang-senang, ingin menjatuhkan mental Zella dengan menuduhnya pelakor. Rencana ini langsung ku coret, gagal diwujudkan karena Zella meminta dinikahkan secara resmi dan harus ku hadiri."
"Simpan dulu rencanamu itu, kita lama banget nggak ketemu. Aku kangen ... banget sama kamu." Laki-laki itu mendalami kegiatan panasnya.