Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keadilan yang Melampaui Samudra
Pelabuhan Quanzhou tampak berkabut, namun ketegangan terasa di setiap sudut dermaga. Pasukan pengawal kekaisaran di bawah perintah Kasim Wei Zhong telah memeriksa setiap kapal yang bersandar. Namun, mereka mencari seorang pendekar yang membawa pedang tipis dan berpakaian lusuh—mereka tidak mencari seorang saudagar muda dengan jubah lurik kasar khas Nusantara yang membawa peti kayu panjang.
Lin Feng berhasil mendarat dengan selamat. Ia kini telah berada di tanah kelahirannya, namun rasanya begitu asing. Setiap langkah yang ia ambil adalah langkah menuju sarang serigala.
Berminggu-minggu Lin Feng bergerak di balik bayang-bayang, melakukan perjalanan darat menuju ibu kota Beijing. Ia tidak lagi menggunakan teknik Langkah Awan yang mencolok, melainkan bergerak senyap layaknya hembusan angin malam yang ia pelajari di pegunungan Jawa.
Malam itu, salju turun dengan lebat, menutupi atap-atap melengkung Kota Terlarang. Di dalam salah satu paviliun termegah, Kasim Wei Zhong sedang mengadakan perjamuan rahasia dengan para menteri yang ia suap. Mereka sedang merencanakan bagaimana cara memalsukan laporan diplomatik dari Majapahit agar kaisar tetap percaya bahwa Lin Feng adalah pengkhianat.
"Besok pagi, kita akan membakar dokumen asli dari Majapahit ini," ucap Wei Zhong sambil mengangkat gulungan surat berstempel emas dari Prabu Hayam Wuruk. "Dan sejarah hanya akan mencatat apa yang aku tulis!"
DHUAARR!
Tiba-tiba, pintu besar paviliun itu hancur berantakan. Bukan karena ledakan mesiu, melainkan karena tekanan energi yang begitu padat hingga kayu jati setebal satu jengkal itu pecah menjadi debu.
Di tengah pusaran salju dan serpihan kayu, berdirilah seorang pemuda. Matanya berkilat bukan karena dendam, tapi karena ketegasan keadilan yang murni. Di punggungnya, sebuah senjata raksasa terbungkus kain hitam memancarkan getaran yang membuat cawan-cawan di meja para menteri bergetar dan retak.
"Wei Zhong," suara Lin Feng bergema, rendah namun memekakkan telinga karena diperkuat tenaga dalam Manunggaling Rasa. "Sejarah tidak ditulis oleh tinta emasmu, sejarah ditulis oleh bumi yang kau injak. Dan malam ini, bumi menolakmu."
Para pengawal elit Wei Zhong, yang merupakan pendekar kelas atas dari berbagai sekte, segera mengepung Lin Feng. "Tangkap dia! Dia adalah buronan Lin Feng!" teriak Wei Zhong yang mulai gemetar.
Lin Feng tidak menghindar. Ia justru melangkah maju dengan tenang. Saat para pengawal menyerang serentak, ia mencabut Pedang Naga Bumi.
SREEEETTT!
Cahaya hitam legam bercampur emas meledak memenuhi ruangan. Tanpa perlu mengayunkan pedang secara brutal, Lin Feng hanya menancapkan ujung Naga Bumi ke lantai marmer paviliun.
BUMMM!
Seluruh lantai paviliun retak hebat. Gelombang kejut gravitasi membuat semua pengawal jatuh berlutut, tak mampu menahan berat tubuh mereka sendiri seolah-olah dipaksa oleh beban gunung. Inilah kekuatan yang ia pelajari di Jawa—kekuatan untuk menundukkan tanpa harus membantai.
Lin Feng berjalan perlahan melewati para pengawal yang tak berdaya menuju Wei Zhong. Sang kasim agung itu kini tersudut di singgasananya, wajahnya pucat pasi.
"Kau... kau menggunakan ilmu hitam dari selatan!" teriak Wei Zhong histeris.
"Ini bukan ilmu hitam, Wei Zhong. Ini adalah kekuatan dari tanah yang tidak bisa kau beli dengan emas," ucap Lin Feng dingin. "Surat di tanganmu itu adalah tiket menuju liang lahatmu sendiri."
Tepat saat itu, serombongan pasukan berpakaian kuning keemasan—Pengawal Pribadi Kaisar—masuk ke ruangan dipimpin oleh seorang Jenderal Tua yang jujur. Rupanya, Lin Feng telah lebih dulu mengirimkan bukti-bukti suap Ra Tanca kepada sang Jenderal sebelum ia masuk ke sana.
"Kasim Wei Zhong!" gertak sang Jenderal. "Atas perintah Kaisar, kau ditahan atas tuduhan pengkhianatan dan manipulasi hubungan antarnegara!"
Wei Zhong terduduk lemas. Kekuasaan yang ia bangun selama puluhan tahun runtuh hanya dalam satu malam oleh seorang pemuda yang ia anggap remeh.
Lin Feng menyarungkan kembali Pedang Naga Bumi. Ia menatap ke luar jendela, ke arah langit malam. Di sana, ia seolah melihat senyum Ki Ageng Bang Wetan dan tawa Joko di kejauhan. Tugasnya telah usai. Keadilan telah kembali pada tempatnya, baik di tanah Jawa maupun di tanah leluhurnya.