Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Ayah menghilang
Pagi itu dimulai seperti hari-hari penuh kewaspadaan yang sudah menjadi rutinitas baru keluarga Bima.
Rumah kecil mereka masih dijaga dua petugas kepolisian yang bergantian berjaga di depan pagar. Setelah berbagai teror yang terjadi, pengamanan itu menjadi prosedur wajib. Meski begitu, kehidupan harus tetap berjalan.
Bima bangun lebih awal dari biasanya. Ia berniat pergi ke rumah sakit untuk menemui ayahnya sebelum melanjutkan rapat dengan Kirana dan Sinta mengenai perkembangan penyelidikan.
Namun ketika ia sampai di rumah sakit, sesuatu terasa berbeda.
Lorong di lantai tempat ayahnya dirawat tampak lebih sepi dari biasanya. Seorang perawat yang baru selesai mengganti infus di kamar sebelah berjalan tergesa, seolah sedang mencari seseorang.
Bima mengetuk pintu kamar.
Tak ada jawaban.
Ia membuka pintu perlahan.
Tempat tidur di dalam kamar itu kosong.
Seprai masih kusut, seolah seseorang baru saja bangun. Infus tergantung di sisi ranjang, namun selangnya telah dilepas dengan tergesa. Kursi tempat ibunya biasa duduk juga kosong.
Jantung Bima berdegup keras.
Ia berlari keluar ke lorong. “Perawat! Di mana pasien di kamar 312?”
Perawat yang ditanyainya tampak bingung. “Bukankah keluarganya yang membawa pulang pagi tadi?”
Bima merasa dunia seolah berhenti berputar.
“Tidak. Kami tidak menjemputnya.”
Perawat itu mulai terlihat panik. Ia segera memanggil kepala perawat, dan dalam hitungan menit suasana di lantai itu berubah kacau. Catatan pasien diperiksa, rekaman CCTV diminta, dan pihak keamanan rumah sakit dipanggil.
Beberapa menit kemudian, seorang petugas keamanan datang membawa kabar yang membuat darah Bima terasa membeku.
Dalam rekaman kamera di pintu belakang rumah sakit, terlihat seorang pria berjaket hitam mendorong kursi roda keluar dari gedung. Di kursi itu duduk seseorang yang mengenakan masker dan selimut rumah sakit.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Namun bentuk tubuh itu sangat dikenali.
Itu ayahnya.
Bima memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan napas yang mulai tak teratur. Pikiran terburuk langsung menyerbu: penculikan.
Ia segera menghubungi Inspektur Raka.
Tak butuh waktu lama, beberapa mobil polisi tiba di rumah sakit. Raka datang sendiri, wajahnya tegang saat menatap rekaman CCTV yang diputar berulang-ulang di ruang keamanan.
“Ini terjadi sekitar pukul enam pagi,” kata petugas rumah sakit.
“Kenapa tidak ada yang curiga?” tanya Raka tajam.
Petugas itu menelan ludah. “Orang itu mengenakan seragam petugas medis… kami kira pasien dipindahkan.”
Tipuan sederhana, tapi efektif.
Raka menatap layar dengan mata menyipit. Mobil yang membawa kursi roda itu sempat tertangkap kamera parkiran yaitu sebuah van putih tanpa plat depan yang jelas.
“Profesional,” gumamnya.
Bima berdiri di belakangnya, rahangnya mengeras. Ia mencoba menahan kepanikan yang merambat di dadanya.
“Ini karena kasus itu, kan?” suaranya serak.
Raka tidak langsung menjawab.
Namun diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Beberapa jam kemudian, berita tentang hilangnya ayah Bima mulai beredar di kalangan tertentu. Meski belum dipublikasikan ke media, informasi itu dengan cepat menyebar di lingkaran dalam penyelidikan.
Kirana datang ke rumah sakit dengan wajah pucat.
“Ini sudah bukan intimidasi lagi,” katanya pelan. “Ini perang terbuka.”
Sinta berdiri di samping Bima, menatap layar CCTV dengan mata berkaca-kaca. “Mereka tahu ayahmu adalah titik paling lemah.”
Bima mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Selama ini, semua ancaman masih berupa bayangan seperti foto, pesan, teror kecil.
Kini mereka mengambil sesuatu yang nyata.
Seseorang yang ia cintai.
Tim kepolisian segera melacak kamera lalu lintas di sekitar rumah sakit. Van putih itu terlihat melaju ke arah utara kota sebelum akhirnya menghilang di kawasan pelabuhan lama.
Tempat yang sama yang pernah menjadi pusat proyek yang menghancurkan keluarga mereka.
Seolah masa lalu sedang mengejek mereka.
Di ruang komando kecil yang didirikan sementara, peta kota ditempel di dinding. Titik-titik kamera ditandai dengan garis merah yang menunjukkan rute pelarian kendaraan itu.
“Jika mereka menuju pelabuhan lama,” kata Raka, “mereka bisa berpindah kendaraan atau bahkan keluar kota lewat jalur laut.”
Kata-kata itu membuat udara terasa semakin berat.
Bima menatap peta itu dengan perasaan bercampur antara putus asa dan kemarahan yang mendidih.
“Ayahku sakit,” katanya pelan. “Dia bahkan belum pulih.”
Tak ada yang menjawab.
Semua orang di ruangan itu tahu satu hal: jika ini benar penculikan oleh pihak yang sama dengan jaringan fitnah, maka tujuan mereka jelas.
Menekan Bima.
Membungkam penyelidikan.
Atau mungkin sesuatu yang lebih gelap.
Malam mulai turun ketika pencarian masih belum menemukan jejak baru. Polisi menyisir beberapa gudang tua di sekitar pelabuhan, namun semuanya kosong.
Seolah orang yang membawa ayahnya telah menghilang begitu saja dari peta.
Bima berdiri sendirian di luar kantor polisi saat angin malam bertiup dari arah laut. Kota Sagara tampak tenang dari kejauhan, lampu-lampu jalan menyala seperti biasa.
Namun bagi Bima, kota itu kini terasa seperti labirin gelap.
Ia menatap langit yang tanpa bintang.
Untuk pertama kalinya sejak perjuangan ini dimulai, ketakutan benar-benar mencengkeram hatinya.
Bukan untuk dirinya.
Melainkan untuk ayahnya.
Satu-satunya orang yang sejak awal menjadi alasan ia bertarung.
Dan kini, orang itu menghilang tanpa jejak.
Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan hanya karena ayah tidak ada di kursinya yang biasa di ruang tamu, tetapi karena ada sesuatu yang hilang dari udara di rumah itu, sebuah rasa aman yang selama ini mereka anggap selalu ada.
Ibu berdiri di dekat jendela sejak subuh. Tirai tipis bergerak pelan tertiup angin pagi, tetapi matanya tetap terpaku ke jalan depan rumah seolah berharap sosok ayah akan muncul dari tikungan.
“Ayah biasanya tidak pernah pergi tanpa memberi kabar,” gumam ibu lirih.
Aku duduk di meja makan bersama Raka. Cangkir teh di depanku sudah dingin, tetapi aku tidak menyentuhnya.
“Teleponnya masih tidak aktif?” tanyaku.
Raka menggeleng.
“Sejak semalam.”
Semalam adalah terakhir kali kami melihat ayah. Ia keluar rumah setelah menerima sebuah telepon yang membuat wajahnya berubah tegang.
“Ini penting,” katanya waktu itu. “Ayah harus memastikan sesuatu.”
Kami mengira ia hanya pergi sebentar. Tetapi malam berganti pagi, dan ia belum kembali.
Aku membuka kembali pesan terakhir yang ia kirim.
Jangan khawatir. Ayah hanya ingin memastikan sesuatu tentang kasus lama itu.
Kasus lama.
Kata-kata itu terasa seperti gema dari semua yang terjadi beberapa hari terakhir.
Kasus yang selama ini terkubur.
Kasus yang mulai kami bongkar kembali.
Kasus yang mungkin membuat seseorang merasa terancam.
“Aku tidak suka ini,” kata Raka akhirnya.
“Aku juga.”
Kami sudah mencoba menghubungi beberapa kenalan ayah. Tidak ada yang tahu di mana ia berada.
Tetapi yang membuatku semakin gelisah adalah satu hal lain.
Mobil ayah masih ada di garasi.
Artinya ia pergi bukan dengan mobil.
“Ayah dijemput?” bisikku.
Raka tidak menjawab, tetapi wajahnya menegang.
Sekitar pukul sembilan pagi, aku dan Raka memutuskan untuk memeriksa kamar kerja ayah.
Ruangan itu jarang dimasuki orang lain selain dirinya. Rak-rak penuh dengan buku, map dokumen, dan beberapa kotak arsip lama.
Meja kerjanya masih rapi seperti biasanya.
Tetapi ada satu hal yang langsung menarik perhatian kami.
Laci meja terbuka sedikit.
“Ayah tidak pernah meninggalkan lacinya terbuka,” kata Raka.
Ia perlahan menariknya.
Di dalamnya ada beberapa dokumen yang sudah kami lihat sebelumnya seperti catatan mengenai kasus lama yang sedang kami selidiki.
Namun ada sesuatu yang hilang.
Map merah.
Map yang berisi bukti paling penting tentang hubungan antara beberapa tokoh berpengaruh di kota ini dengan kejadian misterius dua puluh tahun lalu.
Map itu tidak ada.
“Berarti ayah membawa itu,” kataku.
“Atau seseorang mengambilnya.”
Aku menelan ludah.
Kami baru saja keluar dari kamar kerja ketika ponselku bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Aku ragu beberapa detik sebelum menjawab.
“Halo?”
Tidak ada suara beberapa saat.
Lalu terdengar napas pelan di ujung telepon.
“Jika kalian ingin ayah kalian tetap aman…”
Jantungku langsung berdegup keras.
“Siapa ini?”
Suara itu terdengar datar, dingin.
“Berhenti menggali kasus lama.”
Raka langsung mendekat, mencoba mendengar percakapan.
“Di mana ayah kami?” tanyaku tegas.
“Pertanyaan yang salah.”
Suaranya hampir terdengar seperti sedang tersenyum.
“Pertanyaan yang benar adalah… apakah kalian cukup peduli pada keluarga kalian untuk berhenti sekarang.”
Aku merasakan tanganku mulai gemetar.
“Kalau kalian terus mencari kebenaran,” lanjut suara itu, “maka orang yang kalian sayangi akan terus menghilang… satu per satu.”
Klik.
Telepon terputus.
Raka langsung mengambil ponselku.
“Nomornya?”
“Aku tidak kenal.”
Ia mencoba menelepon kembali, tetapi nomor itu sudah tidak aktif.
Ibu yang mendengar keributan keluar dari kamar.
“Ada apa?”
Aku dan Raka saling berpandangan.
Untuk beberapa detik kami tidak tahu harus berkata apa.
Tetapi ibu sudah cukup mengenal wajah kami.
“Ini tentang ayah, bukan?”
Aku akhirnya mengangguk pelan.
“Ada seseorang yang menelepon,” kataku.
“Dia bilang ayah dalam bahaya.”
Wajah ibu memucat.
“Ya Tuhan…”
Ia duduk perlahan di kursi, mencoba menenangkan diri.
“Ayah kalian tahu risiko membuka kembali kasus itu,” katanya pelan. “Tapi ia selalu bilang… ada kebenaran yang tidak boleh dibiarkan terkubur.”
Raka mengepalkan tangan.
“Kalau mereka pikir kita akan berhenti karena ancaman seperti ini…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Aku tahu apa yang ia pikirkan.
Tetapi situasinya sekarang berbeda.
Ini bukan lagi hanya tentang kebenaran.
Ini tentang keluarga kami.
Siang harinya kami kembali memeriksa kamar kerja ayah dengan lebih teliti.
Kali ini kami mencari sesuatu yang mungkin terlewat.
Dan akhirnya kami menemukannya.
Sebuah catatan kecil tersembunyi di balik buku tebal di rak paling atas.
Tulisan tangan ayah.
Aku membacanya dengan suara pelan.
Jika sesuatu terjadi pada ayah, pergilah ke tempat yang dulu kita kunjungi ketika kalian masih kecil.
Di sana ada jawaban yang kalian cari.
Di bawah catatan itu hanya ada satu kata:
Danau.
Raka langsung mengangkat kepala.
“Danau Arwana.”
Tempat itu berada di pinggiran kota. Tempat yang dulu sering kami kunjungi ketika masih kecil.
Tempat yang menurut ayah selalu tenang.
Tetapi sekarang, kata itu terasa seperti petunjuk dalam permainan yang jauh lebih berbahaya.
Aku melipat catatan itu perlahan.
“Kalau ayah meninggalkan ini…”
“Berarti ia tahu sesuatu akan terjadi,” kata Raka.
Aku menatapnya.
“Dan berarti jawabannya ada di sana.”
Di luar rumah, langit mulai mendung.
Angin bertiup lebih kencang dari biasanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, aku menyadari satu hal yang membuat dadaku terasa berat.
Kami tidak hanya sedang mencari kebenaran.
Kami sedang berjalan langsung ke dalam perang yang sudah dimulai jauh sebelum kami menyadarinya.
Dan di tengah semua itu....
ayah kami adalah orang pertama yang menghilang.