Meila Ayunda Aksara, mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Dia membatalkan pernikahannya dengan tunangannya, Zayan Wijayakusuma. Dia tidak peduli jika keputusannya itu akan membuat nama baik keluarga Aksara rusak. Bagi Meila, keluarga itu sudah rusak sejak lama.
Sudah saatnya Meila membuka topeng keluarganya yang selalu memperlakukan dirinya dengan tidak adil. Selama ini, kedua orang tuanya dan kedua kakaknya menganggap Meila sebagai anak pembawa sial. Cacian dan makian menjadi makanan sehari-hari yang harus Meila terima.
Keputusan besar Meila itu justru membuatnya bertemu dengan Abyan Rayendra Hasan, pria yang siap memberikan Meila sebuah keluarga.
Bagaimana kehidupan Meila setelah dia meninggalkan keluarganya dan Zayan?
Bagaimana kehidupan Meila bersama Abyan?
Yuk simak kisahnya di Setelah Aku Pergi hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Bertemu Arbie
"Arbie, paman tahu kamu sangat ingin bertemu dengan saudara kembarmu. Tapi, sebelum kamu bertemu dia, biarkan paman, Ana dan Lusi menjelaskan terlebih dahulu siapa Meila sebenarnya. Apa hubungannya dengan kita dan Aksara."
"Arbie paham Paman. Arbie akan mengajak Serli dan bibi Anita untuk melihat-lihat desa." Narendra mengangguk.
Baru saja Arbie, Serli, dan tante Anita keluar dari halaman rumah bibi Ana, mobil yang ditumpangi Meila terlihat melaju ke arah rumah tersebut. Arbie menahan langkahnya, dia tidak sabar untuk melihat kembarannya itu.
"Kamu pasti sangat ingin bertemu dengan adikmu ya," ujar Anita.
"Kita bisa melihatnya terlebih dahulu Kak," timpal Serli.
Dari balik pohon yang tidak jauh dari rumah bibi Ana, Arbie melihat Meila turun dari mobil. Arbie tidak bisa melihat dengan jelas rupa adiknya itu, karena Meila berlari dan menabrakkan tubuhnya ke dalam pelukan bibi Ana.
"Kak, kita tunggu disini saja sampai mereka masuk." Serli sangat mengerti perasaan kakak sepupunya itu.
Jadilah mereka hanya berdiri di bawah pohon. Sesekali terdengar tangisan Meila. Arbie mengepalkan tangannya meski tidak tahu apa yang Meila ceritakan pada bibi Ana. Yang pasti hati Arbie ikut merasakan sakit.
"Mereka masuk. Ayo kita dengarkan percakapan mereka dari dekat." Serli memberikan saran. Anita setuju dengan pendapat Serli, karena dia juga penasaran ingin tahu reaksi Meila saat tahu suaminya adalah paman kandungnya.
Arbie ikut meneteskan air mata saat bibi Ana menceritakan kembali bagaimana tuan Saga Danunevra dan nyonya Zerlin Danunevra terluka demi menyelamatkan anak-anak mereka, Narendra dan Laura.
Narendra terpisah dari keluarganya dan ditemukan opa Alan. Sementata Laura, ibu mereka selamat dan tinggal di desa Mulya. Laura menjadi satu-satunya Danunevra yang tersisa, setelah mereka mendengar jasad Narendra ditemukan terbakar.
Dengan kepintarannya, Laura membangun desa Mulya bersama para pengawal dan pelayan yang setia. Laura menjalani hidup layaknya rakyat biasa bersama yang lain, padahal dia adalah putri bangsawan.
Sebagai seorang pemimpin, Laura kembali menyusun kekuatan. Untuk menambah jaringan, Laura pergi ke kota. Dia melanjutkan pendidikannya, sekaligus mencari tahu tentang Jimmy.
Di kota, Laura bertemu Barra. Pria yang tulus mencintainya dan ingin membantu Laura membalas perbuatan Jimmy. Setelah sama-sama menyelesaikan pendidikan mereka, keduanya memutuskan untuk menikah.
Tuan Aksara dan nyonya Aksara sangat menyayangi Laura. Hal tersebut membuat Hana iri dan cemburu. Dia mengadu pada Risa.
Risa mengetahui tentang putri keluarga Danunevra yang masih dicari oleh Jimmy. Dia memberitahu Hana tentang ciri-ciri putri Danunevra yang sangat mirip dengan Laura, kecuali mata. Itu karena Laura sama seperti Meila, menutupi matanya yang beda warna itu dengan lensa kotak.
Rasa benci Hana pada Laura, membuat istri Beni itu memberitahu Jimmy tentang ciri-ciri Laura yang kemungkinan adalah putri dari keluarga Danunevra yang Jimmy cari.
Laura yang sedang hamil tua merasakan akan adanya ancaman yang datang, karena Jimmy mulai mencium keberadabannya. Saat mengetahui anaknya kembar, Laura memisahkan mereka. Arbie, dia kirim ke desa Mulya. Sengaja dia sembunyikan keberadaan putranya itu. Karena Arbie akan menjadi putra mahkota Danunevra.
Sedangkan Meila terpaksa tinggal bersama Laura dan Barra di kota. Menjadi putri tunggal pasangan suami istri itu, menutupi keberadaan Arbie dari Jimmy dan yang lainnya.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah pada Meila, Arbie. Orang tua kalian melakukan hal tersebut demi kebaikan kalian berdua, agar kalian sama-sama selamat. Tidak diburu oleh Jimmy yang serakah. Karena dia butuh kalian berdua sebagai kunci, untuk mengambil harta keluarga Danuarta yang kakek kalian simpan di Swiss."
Tante Anita menepuk bahu Arbie. Mencoba menenangkan kembaran Meila itu. "Sekarang kalian dipertemukan. Karena kalian sudah memiliki kekuatan yang besar untuk mengalahkan Jimmy. Mengembalikan nama Danunevra menjadi keluarga terhormat seperti dulu."
Arbie membenarkan apa yang istri pamannya itu sampaikan. Dibantu pamannya dari klan Alamanda, menambah kekuatan Arbie yang selama ini melanjutkan apa yang sudah dibangun oleh kedua orang tuanya.
"Non Lala," panggil bibi Lusi.
"Apa ada yang ingin Bibi tambahkan?" tanya Meila. Bibi Lusi mengangguk.
"Tuan Arbie, dia...kalian saudara kembar."
Tubuh Meila terasa kaku. Dia kembali dikejutkan dengan kenyataan yang dia tidak tahu harus seperti apa menanggapinya. Hingga usapan lembut dari Abyan di punggung Meila, membuat istri Abyan itu kembali meneteskan air mata.
Di luar, Arbie pun sama tegangnya. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Meila. Bisa saja adiknya itu marah padanya, karena tidak berada di samping Meila saat dia membutuhkan keluarganya.
"Arbie, masuklah!" Suara Narendra membuat kedua saudara kembar itu sama-sama terkejut.
"Tidak apa-apa Arbie, temui adikmu. Bukankah kamu sejak tadi sudah tidak sabar ingin bertemu dia dan memeluknya." Anita mengusap bahu Arbie.
Dengan langkah tegap, pelan dan pasti, Arbie melangkah masuk ke rumah sederhana milik bibi Ana. Meila yang melihatnya berdiri. Wajah Arbie mirip dengan Beni. Itu artinya Arbie mirip ayah mereka. Yang membedakan adalah mata. Arbie memiliki mata yang sama dengan Meila dan Narendra.
Tubuh Meila gemetar melihat Arbie. "Kamu yang menyelamatkan Aku," ucap Meila. Arbi mengangguk.
"Kamu yang menjaga Aku," ucap Meila lagi. Arbie kembali mengangguk.
"Kamu yang melindungi Aku." Arbi kembali mengangguk.
Meila menabrakkan tubuhnya pada Arbie. Tangan Arbie yang berada disamping tubuhnya, berlahan terangkat, melingkar di punggung Meila, lalu memeluk saudara kembarnya itu dengan erat.
Meila menangis dalam dekapan Arbie. Dia mencari Arbie selama ini. Pria yang pernah menyelamatkannya dari orang-orang yang menghujaninya dengan peluru. Orang yang menjaganya saat dia terbaring lemah di rumah sakit. Orang yang melindunginya saat dirinya hampir saja dilecehkan oleh orang-orang suruhan Melisa.
"Kenapa tidak memberitahuku kalau kita saudara?" Tanya Meila lirih.
Air yang mata yang sudah menggenang itu akhirnya jatuh juga. Arbie kembali merasa bersalah mendengar pertanyaan Meila. Selama ini dia hanya bisa melindungi adiknya itu dari jauh, sejak Ana dan Lusi memberitahu tentang kebenarannya.
Jangan tanyakan semua orang yang ada bersama mereka. Tidak ada satu pun dari mereka yang tidak meneteskan air mata. Bahkan Abyan yang paling sulit menangis pun tidak sanggup menahan rasa harunya. Seperti yang Mariska katakan, kehadiran Meila mampu membuat Abyan kembali berekspresi, baik wajah maupun perasaanya. Seperti saat ini.
Sedangkan Mariska terpaku sejak pertama kali Arbie masuk dan berdiri dengan gagahnya. Dia, pria itu, orang yang pernah menolong Mariska dan membuat Mariska tidak bisa menerima kehadiran pria lain dekat dengannya.
Di rumah sakit, Beni belum juga sadarkan diri. Sementara keluarganya masih sibuk memaksa Mirza untuk menemui Meila. Mereka semua tidak ingin Aksara bangkrut dan mereka hidup miskin.
Mirza yang selama ini tidak terlalu suka dengan apa yang dilakukan keluarganya pada Meila, terus saja menolak.
"Mirza! Apa kamu mau jadi anak pembangkang seperti Meila?" Oma Risa memarahi cucunya itu.
"Kalau Aku memilih hidup seperti Meila, meninggalkan kalian. Apa Oma akan memerintahkan Mama meminta uang konpensasi pada ku, seperti yang kalian lakukan pada Meila?"
"Mirza, kamu harus sopan sama Oma kamu. Mama tidak pernah mengajarkan kalian untuk membantah orang tua."
Mirza menarik napasnya dalam. "Aku minta maaf, tapi jangan paksa Aku untuk meminta proyek itu pada Meila. Apa pun bentuknya."
Mirza bangkit dan keluar dari kamar rawat Beni. Dia tidak mempedulikan panggilan oma, opa dan mamanya. Dia tidak bisa menghadapi keluarga yang tidak memiliki hati dan perasaan itu.
Melisa yang membuat Aksara bangkrut, tapi masih saja dibela. Dan mereka masih saja ingin mengusik Meila yang sudah tidak ada hubungannya lagi dengan mereka setelah menerima uang dari keluarga Alamanda.
Setelah kepergian Mirza, Melisa sibuk dengan handphonenya. Dia sedang berbalas pesan dengan seseorang yang bisa membantunya dekat dengan Abyan.
Melisa masih saja menjadi Melisa yang terobsesi dengan semua yang dimiliki Meila. Dulu Zayan, dan sekarang Abyan. Sambil menunggu pesan balasan, Melisa menemukan berita yang mengejutkan.
Melisa menatap Risa. "Oma, aku baru saja membaca berita, Tuan Erik mengumumkan, kalau proyek besar itu ditunda hingga beberapa bulan kedepan."
Oma Risa mengepalkan tangannya, setelah melihat sendiri video Erik mengumumkan penundaan proyek Alamanda dan HAS yang akan dipegang Meila.
"Berani sekali mereka mempermainkan kita," ucap Risa.
"Oma tenang dulu. Bagaimana kalau kita datangi Abyan. Kita minta uang sama dia, seperti kita minta pada Alamanda."
Risa menatap Melisa dengan senyum merekah. "Ide kamu bagus juga Sayang. Kalau kita tidak bisa mendapatkan proyek dari mereka, kita bisa minta uang dalam jumlah yang banyak pada Abyan. Kalau Abyan tidak mau memberikan, kita bawa paksa saja Meila pulang."
"Apa Mama tidak takut berurusan dengan Abyan? Dia bukan orang yang mudah diintimidasi Ma. Jangan sampai dia melakukan sesuatu pada keluarga kita. Yang akan membuat keluarga kita semakin terpuruk." Hana mencoba mengingatkan ibunya itu.
"Mama yakin, Abyan tidak mempedulikan Meila. Paling diluar saja Meila terlihat bahagia menjadi istrinya. Di kediamannya, Meila tidak lebih seperti pelayan."
Hana ingin apa yang ibunya itu katakan adalah kebenarannya. Entah mengapa, Hana merasa hasil kerja mereka merebut Aksara dari tangan ayah mertuanya akan berakhir sia-sia.
tp yg lemah siap2 dapet sisa ny aja ,,🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
rumit juga yx hidup sebagai bangsawan ,,
byk yg iri ,,
gx cuma org lain ,,
saudara sndri pun saling memburu ,,
next kakak ,,
makiin seruu cerita ny ,,
tar klian bs kmpul d dlm sel y.....😝😝😝.....
makin penasaran ma kelanjutan ny
zayan msh ngarep sm meila,tp knp mau bkin meila celaka????smp byar orng pula.....emng udh ga wras sih otaknya....
belum aj tu kena Batu ny si duo keket ,,
greget banget si liat mereka berdua ,,
Wahai org2 yg bermuka Dua ,,
ayoo kasih ke zayan , melisa Dan Alexa yg lgi cari muka ,,
biar adil hancur ny ,,
Apa meilia lagi Hamidun 🤔?
Smngttttt....
baru x baca cerita penasaran sama visualny ,,
🤭🤭😁😁😁
next kk ,,