akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 – Gelombang dari Laut
Sirene peringatan berbunyi tanpa henti.
Di sepanjang garis pantai kota, langit berubah kelabu kehijauan. Laut yang biasanya bergelombang tenang kini bergejolak hebat, seolah sesuatu di bawah permukaannya sedang mendorong ke atas dengan kekuatan besar.
Di pusat komando pemerintah, layar-layar besar menampilkan gambar satelit.
Puluhan titik merah bergerak dari arah laut menuju pantai.
[PERINGATAN: GELOMBANG MONSTER MASSAL TERDETEKSI]
[JENIS: MONSTER LAUT – UKURAN SEDANG]
Rey berdiri bersama Sila, Leoni, dan Boy di markas Unit Khusus.
“Banyak sekali…” gumam Sila sambil menatap layar.
“Regu resmi sudah dikirim,” kata operator dari pengeras suara.
“Kalian diminta siaga di belakang.”
Boy mengepalkan tinju.
“Jadi kita nonton dulu?”
Rey menggeleng pelan.
“Ini kesempatan buat kita lihat kemampuan regu resmi.”
Di tepi pantai, barisan superhuman regu resmi sudah membentuk formasi tempur.
Pasir basah dipenuhi bekas rantai pertahanan dan kendaraan lapis baja. Di depan mereka, ombak besar menghantam daratan dengan suara menggelegar.
Lalu, satu per satu monster muncul.
Bentuknya menyerupai hewan laut, tetapi tubuhnya membesar hingga seukuran manusia.
Ada ikan dengan gigi tajam seperti gergaji.
Ada kepiting raksasa dengan capit sebesar perisai.
Ada belut hitam licin dengan mata merah menyala.
Seorang pria berambut biru melangkah maju.
“Kekuatan tipe air, maju!”
Ia mengangkat kedua tangan.
Air laut terangkat dari permukaan, membentuk gelombang yang berputar seperti dinding cair.
“Dorong mereka kembali ke laut!”
Gelombang air menghantam barisan monster terdepan dan melempar beberapa di antaranya kembali ke ombak.
Namun monster-monster lain tetap merangkak maju.
“Unit suara, sekarang!” teriak kapten regu resmi.
Seorang wanita dengan alat seperti pengeras suara besar di punggungnya maju.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak.
“AAAAA—!”
Gelombang suara tak terlihat menghantam udara.
Pasir beterbangan. Beberapa monster langsung terhempas dan tubuh mereka pecah seperti kaca retak.
Namun dari balik ombak, jumlah monster terus bertambah.
“Pemanah, tutup celah kiri!”
Seorang pria dengan busur energi melompat ke atas puing-puing beton. Anak panah bercahaya dilepaskannya bertubi-tubi.
DOR! DOR! DOR!
Setiap anak panah menembus kepala monster laut dengan presisi.
Di sisi lain, seorang superhuman bertubuh besar berlari ke depan.
Kekuatan: tenaga super.
Ia mengangkat seekor monster kepiting dan melemparkannya ke arah monster lain.
“Jangan maju ke kota!” teriaknya.
Seorang gadis dengan tubuh ramping bergerak cepat di antara monster.
Kekuatan: tipe kecepatan.
Ia memotong kaki monster satu per satu dengan pisau pendek, lalu menghilang sebelum darah hitam menyentuh tanah.
Pertempuran menjadi kacau.
Air bercampur darah hitam.
Pasir berubah licin.
Teriakan perintah bercampur suara monster.
Di kejauhan, dari atas gedung tinggi, Rey dan timnya mengamati.
“Mereka kuat…” kata Leoni.
“Ya,” jawab Rey.
“Formasi mereka rapi. Tapi…”
“Tapi monster terlalu banyak,” lanjut Boy.
Sila menatap laut dengan cemas.
“Kak… lihat itu.”
Di kejauhan, air laut berputar membentuk pusaran besar.
Tidak ada monster yang muncul dari sana…
namun ukurannya jauh lebih besar dari gelombang sebelumnya.
Di bawah permukaan laut, bayangan raksasa bergerak.
Beberapa tentakel hitam tampak sesaat, lalu menghilang lagi ke dalam air.
“Itu…” Leoni menyipitkan mata.
“Bosnya?”
Rey menegang.
“Gurita raksasa…”
Di medan tempur, regu resmi mulai terdesak.
Monster tidak lagi datang satu-satu, melainkan berkelompok.
“Unit air, kelelahan!”
“Unit suara, butuh waktu isi ulang!”
“Pemanah kehabisan energi!”
Kapten regu resmi mengangkat tangannya.
“Pertahankan garis! Jangan biarkan mereka masuk kota!”
Monster belut melompat ke arah barisan belakang.
Seorang prajurit terlempar.
“Perisai depan runtuh!”
Rey menggertakkan gigi.
“Kita tidak bisa diam.”
Boy menoleh padanya.
“Perintah kita masih siaga.”
Rey mengepalkan tangannya.
“Kalau garis mereka runtuh, warga di belakang mati.”
Ia menatap Sila dan Leoni.
“Siap?”
Sila mengangguk.
Leoni tersenyum tipis.
Boy sudah menyalakan api di telapak tangannya.
Namun sebelum mereka bergerak…
Suara peringatan dari pusat komando terdengar.
[PERHATIAN: OBJEK RAKSASA TERDETEKSI DI BAWAH PERMUKAAN LAUT]
[STATUS: BELUM NAIK KE DARATAN]
Di layar besar, bayangan gurita raksasa terlihat jelas.
Tubuhnya sebesar kapal.
Tentakelnya menjulur panjang, menggulung monster-monster kecil seperti pasukan.
Seorang analis gemetar.
“Monster kecil… hanya gelombang awal.”
“Bosnya…”
“Masih menunggu.”
Di pantai, ombak mendadak surut.
Laut seolah menarik napas panjang.
Monster-monster kecil tiba-tiba berhenti maju dan berbalik ke arah laut.
Kapten regu resmi terengah.
“Apa yang terjadi…?”
Rey menatap pusaran air itu.
“Dia memanggil mereka kembali.”
Boy mengertakkan gigi.
“Artinya… pertarungan sebenarnya baru dimulai.”
Sila merasakan listrik di tubuhnya bergetar lebih kuat dari biasanya.
“Kalau dia naik ke darat…”
“Setengah kota bisa hancur,” lanjut Leoni pelan.
Di kejauhan, dari balik kabut laut, bayangan tentakel raksasa kembali muncul…
lalu perlahan tenggelam lagi.
Seolah sedang mengamati.
Menilai.
Menunggu waktu yang tepat.
Rey menatap laut dengan wajah tegang.
“Monster kecil itu cuma prajurit.”
“Yang sebenarnya…”
“Belum turun ke medan perang.”