Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Penguntit
...୨ৎ──── Q U I N N ────જ⁀➴...
Hari ini keajaiban kecil terjadi.
Akhirnya Papa memperbolehkan aku ke toko sendirian. Menyetir mobil rasanya aneh, tapi saat aku berjalan di antara rak toko, aku merasa lega, dan bebas.
Sampai akhirnya sensasi aneh yang aku rasakan sejak keluar dari rumah sakit itu lagi-lagi merambat naik di tulang belakangku.
Aku menggeleng keras, memaksa buat mengabaikan perasaan itu sambil mengambil tepung sama ragi dari rak.
Tapi aku enggak tahan. Aku menengok ke belakang, dan sepersekian detik aku melihat sosok cowok pakai setelan cokelat muda.
Seperti orang tolol, aku berdiri kaku di situ, memperhatikan rak.
Aku enggak gila.
Dan jelas enggak ada hantu.
Rasa takut mencengkeram perutku. Aku mengalihkan pandangan dan buru-buru dorong troli ke rak berikutnya.
Aku terus menengok ke segala arah, dan saat sampai di bagian buah sama sayur, aku mulai meragukan diri sendiri lagi.
Aku sedang memilih-milih zucchini, mencari yang paling besar, dan tiba-tiba ada seseorang muncul sedikit di belakangku. Dari sudut mata, aku melihat lagi setelan cokelat muda itu.
Tubuhku langsung membeku.
Jantungku berdetak kencang.
Aku meninggalkan zucchini itu, mundur beberapa langkah, dan saat aku menengok ke belakang, aku melihat punggung cowok itu. Dia jalan menjauh dari aku.
Ini jelas bukan imajinasiku.
Cowok ini … sedang mengawasi aku.
Merasa harus kabur dan kembali ke rumah, aku langsung ngebut ke kasir dan mengecek belanjaan secepat mungkin.
Setelah beres dan bayar semua belanjaan, aku keluar dari toko. Tapi saat mataku ke arah Mercedes, aku melihat seorang cowok sedang bersandar di mobil itu, tangannya menyilang di dada.
Sial.
Dia menatapku saat langkahku berhenti, lalu dia miringkan kepalanya dengan cara yang membuat bulu kudukku berdiri.
Jantungku langsung meledak di dada. Bibirku terbuka sedikit, napasku makin cepat.
Itu orang yang sama yang aku lihat di pemakaman. Dan aku seratus persen yakin, kalau dia juga orang yang aku lihat di rumah sakit.
Aku lagi distalking.
Dadaku naik turun mengikuti napas berat, rasa takut pun menyebar ke seluruh tubuhku. Aku hampir meninggalkan troli belanjaan dan balik masuk ke toko, tapi cowok itu malah menjauh dari Mercedes dan jalan ke arah Bentley hitam di parkiran.
Apa maunya dia?
Kenapa dia mengawasiku?
Begitu Bentley itu keluar dari parkiran, aku langsung lari ke mobil Papa dan buru-buru memasukkan belanjaan ke bagasi.
Jantungku masih berdebar kencang, dan aku langsung masuk ke balik kemudi.
Sepanjang perjalanan pulang, aku terus mengecek kaca spion. Baru saat mobil diparkir di garasi, aku bisa sedikit bernapas lega.
Begitu pintu garasi menutup, aku matikan mesin dan bersandar di kursi. Keringat mengalir di dahiku, dan aku cuma bengong menatap setir.
Setelah kejadian barusan, aku yakin, cowok ini memantau setiap gerak-gerikku.
Mataku melebar saat kepikiran semua momen di mana aku merasa diawasi. Saat masak, nonton TV, atau duduk sendirian di kamar.
Tapi ini gila. Rumah ini punya sistem alarm yang aktif tiap malam. Lagipula, setengah dari perasaan diawasi itu kejadiannya di siang bolong, saat semua orang terbangun.
Astaga.
Apa aku harus bilang ke Papa?
Bagaimana kalau dia malah menyuruhku ke terapis atau tarik lagi sedikit kebebasan yang baru saja aku dapatkan?
Bagaimana kalau aku cuma berlebihan dan bikin Papa khawatir tanpa alasan?
Enggak masuk akal ada cowok asing dan tampan, mengejar aku seperti ini.
Ini aneh banget.
Aku buka pintu mobil, turun, dan mengambil beberapa tas dari bagasi. Aku bawa belanjaan ke dapur sambil memikirkan bagaimana cara menghadapi situasi ini.
Sejujurnya, harusnya aku merasa tersanjung. Mungkin cowok itu tertarik sama aku dan lagi menunggu momen yang pas buat mendekatiku.
Jangan tolol.
Sebagai hukuman untuk diri sendiri, aku berdiri di samping kitchen island, sambil mengerutkan kening.
Enggak ada yang menyenangkan menjadi target penguntitan seperti ini.
Ini menyeramkan.
Aku mulai merapikan belanjaan, sementara pikiran soal cowok aneh itu terus berputar di kepalaku.
Setelah semuanya beres, aku meninggalkan dapur dan masuk ke kamar. Aku lepas gaun yang aku pakai ke toko, ganti celana pendek sama kaus.
Aku mengikat rambutku ke belakang, lalu duduk di pinggir tempat tidur.
Aku berpikir sebentar soal apa yang harus aku lakukan, lalu memutuskan untuk enggak bilang ke Papa. Aku enggak mau bikin dia khawatir tanpa alasan.
Kalau kejadian ini terulang lagi, baru aku bakal cerita.
Karena butuh santai, aku ambil bantal lalu keluar dari kamar. Saat aku turun, Papa lagi lewat dari pintu masuk menuju dapur.
Begitu melihatku, dia bertanya, “Kamu dapat semua yang kamu mau?”
Aku mengangguk.
“Kamu kelihatan capek,” gumamnya. “Istirahat bentar, ya?”
“Iya. Aku mau nonton TV terus tidur siang di sofa.”
Aku menyuruhnya untuk enggak khawatir.
Papa menatap wajahku, lalu bertanya, “Kamu mau pergi makan malam besok? Kamu yang pilih restorannya.”
Senyum langsung muncul di bibirku. “Aku mau banget.”
Sambil lanjut jalan ke dapur, dia bilang, “Ini kencan.”
Aku masuk ke ruang tamu, ambil remote dari meja kopi, lalu rebahan di sofa. Aku menyalakan TV, memutar episode Master Chef’s dan meringkuk sambil memeluk bantal.
Tapi aku susah fokus ke acara itu.
Pikiranku terus tertuju ke si penguntit. Jas yang dia pakai kelihatan mahal, dan dia selalu rapi.
Aku enggak melihat jelas matanya, tapi aku ingat banget, cokelat muda dengan lingkaran hijau gelap di sekelilingnya.
Dia terlalu tampan buat enggak mencolok di tengah keramaian.
Pikiranku kacau, mencoba mencari alasan kenapa dia menguntitku.
Aku enggak bisa rileks.
Kecemasan bergejolak liar di perutku.